Lima Hari Pertama di Cianjur: Sebuah Catatan Awal

Hari Pertama, Sabtu, 9 September 2006

Saya berangkat dari rumah di Pancoran Jakarta Selatan sekitar jam 8 pagi, jalan kaki sebentar, kemudian naik mikrolet 34, turun di Kalibata, kemudian naik Kopaja 57, turun di Terminal Kp. Rambutan. Setelah menunggu-nunggu dan bertanya ini itu tentang bis yang ke jurusan Cianjur, akhirnya saya putuskan untuk naik bis “Doa Ibu” jurusan Tasik. Kata seorang tukang warung, bis itu nanti akan lewat cianjur. Ongkosnya murah, demikian tukasnya. Saya segera bergegas, tanya lagi kondektur bis yang juga mengiyakan bahwa bis ini nanti akan lewat Cianjur. Kemudian saya naik dan duduk di bangku jajaran kedua. Bis itu ber-AC, sehingga pada awalnya saya merasa nyaman, tapi segera saja perasaan itu berubah setelah puluhan tukang asong menjajakan berbagai macam barang dan makanan ke atas bis. Saya jengkel tapi harus bagaimana lagi, sebab itulah fakta paling riil tentang Indonesia. Setelah menunggu beberapa saat, bis itu akhirnya berangkat. Penumpang hanya beberapa orang saja, tidak sesak. Plong rasanya.

Mendekati pintu keluar terminal, ternyata sudah menunggu puluhan penumpang yang akan ke Cianjur. Salah satunya seorang pemuda berkopyah merah dengan gaya sangat dewasa yang duduk disamping saya. Dia membawa travel bag teramat besar berwarna hitam merk “Polo”. Saya awalnya jengkel, karena bagaimanapun travel bag itu pastilah akan menyesaki ruang. Dan yang lebih menjengjkelkan, suara pemuda itu menggeleger, serak-serak basah, dan dalam. Ditambah suara-suara berisik para pedagang, suara pemuda itu benar-benar membuat saya jengkel. Tetapi itu awalnya, sebab selang beberapa saat setelah bis keluar dari daerah Rambutan dan sudah mulai mendekati gerbang tol Jagorawi di Cibubur, saya sudah mulai mampu menetralisir kejengkelan. Saya akhirnya memberanikan diri bertanya pada pemuda berkopyah merah itu tentang tujuan perjalanannya. Dia jawab bahwa dia akan pergi ke Cianjur. Saya tanya ongkosnya berapa, dia jawab mungkin sekitar 15 ribu. Murah sekali, demikian pikir saya. Beberapa lama kemudian kita saling berkenalan. Lalu keadaan pun cair.

Pemuda berkopyah merah itu ternyata seorang santri kelana yang sekarang sudah jadi kyai muda sukses di Pekanbaru, Riau. Dia lahir di Cianjur. Umurnya baru 21 tahun tapi hebatnya dia sudah beristri. Gila, saya pikir, berani benar pemuda ini. Tapi setelah ngobrol kesana-kemari, saya akhirnya mulai paham siapa sebenarnya pemuda berkopyah merah yang belakangan saya ketahui bernama Muhammad Bandan itu. Dia cerita bahwa selepas SD dia segera saja di kirim orang tuanya yang seorang kyai sufi di daerah Cianjur Selatan ke Demak, kemudian Sragen, dan akhirnya mondok di Lirboyo. Setelah menyelesaikan pendidikan pesantren setingkat aliyah di Lirboyo, dia belajar untuk tingkat ma’had ali di Tebuireng, Jombong. Di pesantren terkemuka itu dia hanya setahun, kemudia mondok lagi di Pasuruan. Akhirnya sekira dua tahun yang lampau dia dipanggil gurunya di Lirboyo untuk pergi ke Pekanbaru dan mendirikan pesantren di sana. Dia cerita itulah satu-satunya pesantren cabang Lirboyo di luar Jawa, diresmikan bahkan oleh Walikota Pekanbaru dan Gubernur Riau. Dia tambahkan, insya Allah, setelah lebaran besok, Kyai Idris Marzuki, pimpinan Lirboyo, akan datang langsung ke pesantrennya dan akan meresmikannya.

Sambil ngobrol, bis tak terasa sudah sampai di Ciawi Bogor. Menjelang Ciawi dari kejauhan sudah terlihat bis-bis yang antri. Wah pasti macet. Dan ternyata benar, Puncak sudah macet total, sehingga kendaraan dari arah Jakarta dialihkan semuanya ke jalur Sukabumi. Wah gila, demikian pikirku, jam berapa akan sampai di Cianjur kalau begini, padahal saya sudah bikin janji dengan Kang Asep Muslih untuk ketemu di Masjid Agung Cianjur sekira Asyar Tetapi yang lebih mengejutkan, dan sudah pasti bikin jengkel, bis yang saya tumpangi kemudian memutar arah dan kembali lagi ke Cibubur. Kita akan lewat Jonggol, kata si kondektur. Akhirnya saya kembali ke Cibubur. Menjelang gerbang tol di Cibubur, kemacetan sudah terlihat dari kejauhan. Bis yang saya tumpangi memutari Cibubur Junction, lalu masuk di jalan alternatif Cibubur yang ke arah Jonggol. Bis benar-benar merayap. Lalulintas baru sedikit lengang setelah keluar Cibubur, hampir belokan yang akan ke arah Cikeas. Tetapi jalan yang sempit, berliku-liku, kemudian menanjak dan menurun curam, bikin perjalanan jedi deg-degan. Belum lagi supir sialan yang rada ugal-ugalan. Wah pokoknya tidak menyenangkan!

Bis baru sampai di Cianjur sekira jam 2.30 siang. Saya naik lagi angkot, turun di Masjid Agung. Tetapi ternyata ada salah kaprah, sebab maksud kang Asep Muslih adalah Masjid Al-Ghofur milik Ahmadiyah yang di daerah By Pass. Akhirnya saya naik lagi angkot, turun persis di by pass. Dari sini saya berjalan sekitar 100 meter ke Masjid Al-Ghofur. Saya masuk gerbangnya, di teras sudah nunggu seorang pemuda dewasa. Pasti itulah Kang Asep Muslih, begitu pikirku. Dan ternyata benar. Kami bersalaman, ngobrol sebentar, lalu terpotong adzan asyar. Saya segera mengambil air wudhu, lalu sholat berjama’ah.

Setelah selesai shalat, saya diperkenalkan dengan seorang muda berjenggot yang menjadi imam shalat berjamaah. Belakangan saya ketahui bahwa orang muda tersebut adalah muballigh Ahmadiyah yang ditugaskan ke Cabang Cianjur. Namanya Abdul Karim, berasal dari Tasikmalaya. Dia adalah alumni pendidikan kader muballigh/ahli agama di Kampus Mubarrak, Parung, Bogor. Perawakannya kecil, cenderung kerempeng, berkacamata, dan selalu berusaha untuk senyum. Setelah diperkenalkan maskud kedatangan saya ke Ahmadiyah oleh Asep Muslih, saya diajak ke rumah Abdul Karim yang persis berada di depan masjid. Kami ngobrol agak serius, mulai dari soal konsepsi keagamaan Ahmadiyah sampai konstelasi politik lokal yang menjadi latarbelakang peristiwa penyerangan terhadap Ahmadiyah pada Sepetember tahun lalu. Dia secara implisit menyebut momentum pilkada sebagai faktor penting untuk memahami masalah tersebut. Sebab, kalau hanya soal paham keagamaan, kenapa kejadiannya baru meletus sekarang, demikian dia bertanya retoris.

Ketika ngobrol dengan Abdul Karim, Asep Muslih lebih banyak mendengarkan, hampir affirmatif. Saya sesekali memancing pertanyaan yang sifatnya lebih politis, mungkin konspirasional, di balik peristiwa-peristiwa yang menimpa Ahmadiyah di Cianjur. Mereka berdua tampak menyepakatinya, meski kadang dengan mimik yang agak segan. Saya bertanya tentang figur Wasidi, bupati yang berkuasa ketika peristiwa September tahun silam tetapi dalam Pilkada Februari kemarin. Mereka cuma tersenyum, ya begitulah, mereka menukas. Mereka cerita bahwa setelah Pilkada selesai, tampaknya kasus Ahmadiyah seperti hilang begitu saja. Sekarang hampir tidak ada lagi berita di media massa lokal atau dalam omongan-omongan publik, demikian kata mereka, yang menyangkut Ahmadiyah. Ketika saya tanya tentang nasib SKB (Surat Keputusan Bersama) yang melarang kegiatan Ahmadiyah di Cianjur, mereka jawab bahwa SKB itu belum dicabut, tetapi mereka pun hampir tidak peduli. Karena, begitu kata Abdul Karim, SKB itu bukan produk hukum, yang menandatangani cuma Bupati, Kakandepag, dan Kajari. Ketiga-tiganya sekarang sudah tidak lagi berkuasa, bahkan Kakandepag sedang dalam proses hukum karena terbukti melakukan korupsi.

Selanjutnya, kedua tokoh muda Ahmadiyah Cianjur ini bercerita tentang anggota Jemaat Ahmadiyah yang sebenarnya hidup membaur bersama dengan masyarakat lain. Asep Muslih cerita bahwa banyak dari masyarakat yang kemarin ikut menyerang masjid-masjid, rumah-rumah, dan properti-properti lain milik warga Ahmadiyah sekarang merasa menyesal kenapa mereka dulu sampai bisa melakukan hal tersebut. Mereka ketika itu merasa terprovokasi oleh para muballigh-muballig beberara gerakan Islam garis keras yang memang pada waktu itu sedang bermunculan. Salah satu yang paling menonjol ketika itu adalah Garis (Gerakan Islam Reformis) yang sekarang kabarnya entah bagaimana, seperti hilang ditelan bumi seiring selesainya proses Pilkada.

Setelah pembicaran di antara kami semakin hangat, saya bertanya tentang permintaan saya untuk tinggal di rumah warga Ahmadiyah. Mereka, kedua tokoh muda itu, belum berani mengambil keputusan, menunggu Ketua Ahmadiyah yang sedang pergi ke Bandung. Nanti tunggu pak ketua saja sehabis maghrib, kata Asep Muslih. Saya mengiyakan sambil melanjutkan pembicaraan.

Lalu adzan Maghrib pun berkumandang. Saya pamit untuk bersih-bersih dan istirahat sejenak. Setelah itu segera saja saya pergi ke masjid. Beberapa jamaah tampak memperhatikan saya, barangkali saya dipandang asing, karena memang jamaah yang shalat di masjid al-Ghafur itu hampir semuanya orang Ahmadiyah. Warga sekitar kelihatannya jarang shalat berjama’ah di masjid ini. Setelah salam, komat-kamit sebentar, saya segera keluar, mencari rumah makan karena perut sudah begitu lapar. Saya makan di warung tenda pinggir jalan tidak jauh dari masjid. Menunya ayam presto yang empuk. Setelah itu kembali ke rumah, ternyata Pak Ahmad Garnida telah menunggu.

Pak Ahmad kelihatannnya cukup berpengaruh di kalangan warga Ahmadiyah Cianjur, terlepas dari posisi formalnya sebagai ketua. Dia menyapa saya dengan ramah, basa-basi seperlunya, lalu bertanya tentang maksud penelitian saya. Saya menjelaskan apa adanya, bahwa maksud penelitian saya benar-benar baik, paling tidak berdasar rasa subjektif saya. Saya berbicara tentang konsepsi multikulturalisme yang menjadi landasan teoritis penelitian saya. Juga tentang maksud lebih jauh dari itu, semisal advokasi kebijakan kaum minoritas di Indonesia, termasuk Ahmadiyah. Pak Ahmad tampak setuju dengan apa yang saya bicarakan dan memang dia setuju. Dia mengizinkana saya secara senang hati untuk menginap di rumah Kang Abdul Karim yang sebenarnya rumah inventaris Ahmadiyah. Setelah itu dia minta maaf karena tidak bisa ngobrol lebih panjang lebar karena masih lelah. Dia baru saja datang dari Bandung untuk sebuah acara Ahmadiyah di sana. Saya mengiyakan karena saya juga begitu lelah.

Akhirnya saya tidur…

Hari Kedua, Minggu, 10 September 2006

Saya bangun jam 5 pagi, langsung mandi, shalat shubuh. Setelah nulis sebentar, saya dipanggil Abdul Karim untuk sarapan pagi. Ternyata Pak Ahmad Garnida telah menunggu di bawah, mengajak sarapan pagi bersama. Kami makan di ruangan tamu yang merangkap ruang kumpul keluarga. Saya dan Pak Ahmad duduk di kursi sudut berwarna merah pucat, sambil makan nasi sop dan tahu goreng. Sementara itu, di depan kursi sudut digelar karpet lebar. Di sana ada istri Abdul Karim yang sedang mengasuh anaknya yang masih bayi, juga istri Pak Ahmad yang ternyata berasal dari Tasikmalaya. Diawali dengan pembicaraan ringan, kami akhirnya terlibat dalam pembicaraan serius.

Pak Ahmad mulai ngobrol tentang konsepsi kenabian dalam Ahmadiyah. Bagi Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi yang berusaha menghidupkan kembali syari’at Muhammad. Saat yang sama, Ahmadiyah percaya bahwa Mirza adalah al-Masih yang dijanjikan dalam al-Qu’an itu. Ini jelas berbeda dengan keyakinan ummat Islam yang lain, yang justeru terbesar. Pada titik ini pertengkaran-pertengkaran antara kelompok paham dalam Islam hampir tak mungkin lagi terhindarkan. Yang mengejutkan, Pak Ahmad bilang bahwa bagaimanapun kebenaran adalah satu, dan itu adalah Ahmadiyah. Di luar itu salah, tapi, demikian Pak Ahmad segera menambahkan, Ahmadiyah akan mengajak kepada kebenaran dengan cara-cara damai tanpa paksaan. Itu adalah prinsip kami, tukas Pak Ahmad. Saya kembali bertanya, itu benar-benar prinsip atau sekedar strategi karena Ahmadiyah sekarang masih minoritas, misalnya. Pak Ahmad segera menjawab, itu prinsip, sebab bahkan jika Ahmadiyah sudah besar dan dominan, Ahmadiyah akan tetap bergerak pada tataran kultural dengan cara-cara damai. Islam rahmat lil-‘alamin, demikian kata Pak Ahmad.

Sewaktu saya ngobrol dengan Pak Ahmad, datanglah seorang tua yang belakangan saya ketahui adalah salah seorang sesepuh Ahmadiyah. Hari sebelumnya saya ketemu dia di masjid sewaktu berjama’ah Maghrib dan Isya. Dia awalnya tampak bertanya-tanya, barangkali curiga, sebab kok ada jama’ah baru yang shalat di sana. Kang Asep menjelaskan bahwa saya adalah peneliti yang bermaksud baik. Nah, minggu pagi saya kembali ketemu dia, kebetulan saya sedang ngobrol dengan Pak Ahmad yang juga menjelaskan siapa saya dan apa maksud kedatangan saya ke komunitas Ahmadiyah. Dia, saya tidak sempat mengetahui namanya, tampak manggut-manggut, dan begitu ramah. Setelah sebentar basa-basi, dia kembali pamit karena maksud kedatangan dia ke rumah itu sekedar tanya tentang ibu-ibu jemaah Ahmadiyah, sekira sepuluh orang, yang memang menginap di rumah Abdul Karim. Ibu-ibu itu adalah jemaat Ahmadiyah dari wilayah Selatan yang pada September tahun kemarin menerima dampak terburuk dari represi dan teror terhadap Ahmadiyah. Kemarin mereka dari Bandung, menghadiri pengajian muslimat Ahmadiyah, Pak Ahmad dan istri ikut serta dalam rombongan ibu-ibu itu untuk mengiringi.

Kemudian, saya dan Pak Ahmad kembali berbicang sambil disuguhi pisang sale yang digoreng kering. Dia bercerita tentang konstelasi politik lokal, terutama seputar proses Pilkada kemarin. Dia yakin bahwa peristiwa kekerasan terhadap Ahmadiyah kemarin adalah bagian dari proses politik itu. Dia menyebut pewacanaan politik identitas yang dilakukan Warsidi, bupati Cianjur yang telah dikalahkan oleh H. Tjetjep pada Pilkada kemarin. Wasidi adalah figur yang menggunakan isu-isu politik identitas agar dia menjadi populis, kata Pak Ahmad. Proyek terbesar dia adalah Gerbang Marhamah yang memang benar-benar sekedar gerbang dalam pengertian sebenarnya. Memang begitulah, di semua pelosok Cianjur dibuat papan-papan nama bertuliskan berbagai macam kata-kata atau idiom yang mereferensi pada identitas Islam, yang secara formal dirumuskan dalam konsep Gerbang Marhamah itu. Akan tetapi, kasus VCD porno SMA 2 Cianjur dan isu kristenisasi di Lembah Karmel yang diizinkan oleh oleh Wasidi telah benar-benar menjadi bumerang bagi dia. Lawan-lawan politiknya, termasuk dari kubu Pak Tjetjep yang sekarang jadi bupati, telah berhasil secara efektif menggunakan issu-issu tersebut untuk menjatuhkan reputasi Wasidi. Dan akhirnya Wasidi kalah.

Yang menarik, Pak Ahmad cerita tentang diskriminasi terhadap orang-orang Ahmadiyah di birokrasi Cianjur. Dia menjadi salah satu korbannya. Dia cerita bahwa sudah tiga kali atasannya di dinas pendidikan meminta dia agar keluar dari Ahmadiyah kalau ingin selamat atau dapat kedudukan. Terakhir, dia ditawari menjadi kepala SMA 1 Cianjur yang dipandang paling favorit di kota itu, tetapi dengan syarat harus keluar dari Ahmadiyah. Pak Ahmad jelas menolak, tetap menjadi kepala SMA Cibeber sebagaimana sebelumnya. Tetapi, sewaktu kekerasan terhadap Ahmadiyah terjadi pada September tahun kemarin, Pak Ahmad diberhentikan dari jabatannya dan diberi jabatan yang tanpa kekuasaan: menjadi pengawas. Tetapi Pak Ahmad menerima saja hal itu, apalagi di tengah kondisi ketika dia sebagai Ketua Ahmadiyah Cianjur harus lebih banyak kompromi. Sampai sekarang dia masih menjadi pengawas di lingkungan Dinas Pendidikan Cianjur, tidak pernah mencoba untuk semacam merehabilitasi nama agar kembali mendapatkan jabatannnya. Selain Pak Ahmad, sepengetahuan dia, ada dua orang guru perempuan yang Ahmadiyah di lingkungan dinas pendidikan Cianjur menerima nasib serupa. Mereka tidak diberi jam mengajar, bahkan ada yang dialihkan tugasnya dari guru menjadi staf TU. Mereka, kata Pak Ahmad, menangis dan meminta pertolongan pada Pak Ahmad, tapi Pak Ahmad terus terang tidak bisa membantu apa-apa, karena memang begitulah keadaannya. Dia berpesan kepada kedua ibu guru itu agar tetap bersabar dan berdo’a, karena do’a orang tertindas itu akan dikabulkan Tuhan.

Kami berbincang sampai sekira jam 7.30 pagi, karena Pak Ahmad dan istrinya mau pergi hadiri acara keluarga. Kebetulan saya juga mau pergi ke Kebun Raya Cibodas, sudah bikin janji dengan teman LIPI di sana. Setelah pamit, saya segera pergi, naik dua kali angkot, ke Cipanas dulu, sebelum akhirnya sampai di Cibodas sekira jam 8.30. Ternyata teman yang saya maksud masih di rumahnya, sehingga saya terpaksa menunggu di sebuah warung kopi di depan area parkir Cibodas. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya saya ketemu dengan teman yang dimaksud. Teman itu tentu saja perempuan, kalau laki-laki mana mau saya menunggu begitu lama. Saya jalan-jalan dan ngobrol tentang ini itu di sana sampai jam 11.30. Setelah itu saya kembali pulang ke Cianjur.

Sore hari saya berkunjung ke teman-teman PMII Cianjur di daerah Sayang, sebuah nama yang agak aneh. Sebelumnmya saya sudah bikin janji dengan Adul, nama lengkapnya Abdul Rahman, ketuanya, seorang Sumatera yang terdampar di Cianjur. Ada sekira sepuluhan aktifis PMII yang kebetulan sedang ada di sekretariat pada waktu itu. Setelah basa-basi, saya kemudian terlibat pembicaraan agak serius, terutama seputar konstelasi politik pasca pilkada kemarin. Saya bertanya tentang posisi dan peran Ahmadiyah dalam konstelasi tersebut. Adul dan beberapa kawan bercerita bahwa Ahmadiyah sebenarnya hanya dijadikan komoditas politik. Ada kekuatan-kekuatan politik tertentu yang mengambil dampak manfaat dari peristiwa itu. Akan tetapi, ini baru sekedar asumsi, susah dibuktikan secara faktual. Paling tidak, dari beberapa fakta pasca kekerasan terdapat beberapa kesimpulan kasualitas yang sifatnya subjektif yang bisa menjelaskan asumsi tersebut. Misalnya dengan melihat peran LSM Garis dalam kasus Ahmadiyah dan rangkaian peristiwa seputar Pilkada. Beberapa tokohnya, demikian kata Adul, seperti Ust. Nurul yang bekas aktifis HMI itu, ternyata pada akhirnya merapat ke kubu Wasidi, padahal sebelumnya mereka tampak beroposisi dengannya.

Setelah ngobrol ngalor-ngidul, terdengarlah kumandang adzan Maghrib. Kami sebera beringsut mempersiapkan diri untuk shalat berjam’ah di sekretariat PMII. Setelah selesai, saya segera pamit untuk pulang….

Hari Ketiga, Rabu, 13 September 2006

Saya berangkat dari Jakarta jam 8.30 pagi. Setelah naik Mikrolet 34 dan Kopaja 57, akhirnya saya sampai di Kp. Rambutan. Seperti kemarin, saya naik Doa Ibu, tapi sekarang yang non-AC, dan, sungguh, saya tidak ingin sekali lagi naik bis jenis ini. Saya sampai di Cianjur jam 12.30 siang, langsung makan di sebuah warung di depan Mayofield Plaza, dulu namanya Harimart, tapi katanya bangkrut dan dijual. Setelah itu, saya segera bergegas ke rumah Kang Abdul Karim di belakang Masjid al-Ghafur. Saking lelahnya, setelah bersih-bersih sebentar, saya langsung tertidur…

Sore harinya, saya berangkat ke sekretariat PMII di daerah Sayang untuk menemui Adul, ketua PMII Cianjur. Sebelumnya saya sudah SMS dia tentang rencana wawancara dengan tokoh-tokoh NU. Dari sekretariat PMII di gang yang sempit dan kumuh itu, saya jalan kaki menyusuri pekampungan penduduk. Dan saya benar-benar melihat Cianjur yang sebenarnya: rumah-rumah padat dan kumuh, serta bau khas kaum miskin kota yang pasti akan mengganggu selera makan orang-orang kelas menengah. Saya melewati Pasar Bojong Indah yang baru saja terbakar, isunya dibakar, tetapi sekarang sudah dibangun lagi. Di Pasar ini, yang dimaksud kios ternyata hanyalah deretan kayu-kaya rapuh yang akan mudah dibuldozer kapan saja. Bau menyengat dari sampah-sampah di pasar tersebut hampir-hampir membuat saya lupa bahwa saya sedang melakukan penelitian akademis yang serius dan akan menemui seorang tokoh penting di kota ini. Saya seakan melewati Cianjur, tetapi memang itulah Cianjur. Saya bertanya-tanya dalam hati, lalu, dimanakah Gerbang Marhamah itu?

Pertanyaan itu sebenarnya telah muncul sedari hari pertama saya datang ke Cianjur. Saya terus terang berharap untuk menemukan gagasan tentang Islam dalam bentuk yang paling simbolis. Saya, misalnya, berharap ketemu perempuan-perempuan muda Cianjur yang cantik dan berjilbab, karena begitulah kira-kira seharusnya perempuan Islam berpakaian sebagaimana ditulis di plang-plang yang dapat ditemukan dengan mudah hampir di semua pelosok jalan di Cianjur. Tapi harapan itu gagal bahkan sedari hari pertama saya datang ke Cianjur. Sebagaimana sore itu, saya seperti sedang jalan-jalan di mall-mall di Jakarta saja. Perempuan-permpuaan, apalagi ABG, berpakaian gaul, seksi, minimalis, casual, dll. Pokoknya, pikiran saya sebagai lelaki bujangan benar-benar terganggu, lebih tepatnya, terangsang. Dan saya benar-benar lupa bahwa sore ini saya sedang berada di sebuah kota santri yang mempunyai perda-perda Islami.

Akhirnya saya sampai di rumah Ustadz Koko. Rumahnya berada di gang sempit yang sore itu sedang sesak oleh ibu-ibu yang baru pulang dari pengajian. Di jendela kaca rumah-rumah sekitar tempat tinggal Ustadz Koko, terlihat stiker-stiker bekas pemilu dan pilkada berlogo PKB atau gambar pasangan bupati Wasidi yang kalah. Daerah itu adalah basis NU dan PKB. Ust. Koko adalah anggota DPRD dari daerah pemilihan itu. Selain menjabat Rois Syuriah di PCNU Cianjur, dia adalah pengurus PKB dan sekarang duduk sebagai anggota DPRD. Usianya 70 tahun, tampak sudah ringkih, dan memang telah sakit-sakitan. Saya yang ditemani Adul harus menunggu beberapa lama sebelum akhirnya Ust. Koko menemui kami di ruang tamu rumahnya yang penuh dengan kitab-kitab kuning. Terlihat juga foto KH Abdullah bin Nuh, seorang kyai terkemuka di masa lalu yang sangat berpengaruh di Cinajur dan Bogor. Namanya bahkan diabadikan menjadi nama salah satu jalan utama di Kota Cianjur. Tampak juga seperangkat mesin tik elektronik.

Sore itu Ust. Koko mengenakan baju piayama berwarna biru langit, bersarung hijau, dan berkopyah putih. Setelah berbasa-basi tentang maksud kedatangan saya, Ust. Koko kelihatan enggan untuk merespon. Setelah dia bilang bahwa dia baru pulang dari RS, saya baru paham kalau dia sedang sakit. Dia baru pulang dari sebuah RS di Bandung. Kakinya harus dioperasi. Kaki yang satu mengalami kerapuhan tulang, sementara yang satunya lagi mengalami semacam pembengkakan akibat bekas tabrakan yang dialaminya sekira 20 tahun lampau. Dia bilang biaya operasinya mungkin sekira 120 juta. Sangat mahal, katanya, dan saya tidak punya uang, demikian dia menukas. Karena kondisi seperti itu dia tidak bersedia untuk diwawancara lebih lanjut. Saya harus istrirahat, demikian ujarnya. Akan tetapi, ada satu pernyatan dia yang menarik. Ketika saya tanya pendapatnya tentang keberadaan Ahmadiyah di Cianjur, di bilang begini, “Ya, mereka harus dibabat habis…”

Begitulah, saya akhirnya pamit, dan langsung menuju rumah KH. Abdul Halim, ketua MUI Cianjur. Saya dan Adul kembali berjalan menyusuri sudut-sudut kota Cianjur. Tampak banyak anak-anak muda sedang nongkrong atau berlalu lalang dengan sepeda motor. Akhirnya saya sampai juga di rumah KH. Abdul Halim, atau kerap dipanggil Ust. Elim atau Ajengan Elim. Saya uluk salam dan muncullah seorang lelaki tua berkaos putih, berkopyah putih, bersarung hijau, berkacamata. Saya kira dialah Ust. Elim itu. Dan kamipun ngobrol tentang segala macam, dari mulai Gerbang Marhamah sampai Ahmadiyah. Saya berhasil merekam semua pembicaraannya. Di tengah pembicaraan, saya baru tahu bahwa lelaki tua di depan saya itu bukan Ust. Elim. Saya tidak sempat tahu siapa namanya, semoga besok saya sudah tahu siapa dia sebenarnya. Yang pasti dia masih saudaranya Ust. Elim, sebab dia menyebut Ust. Elim dengan panggilan “pun lanceuk”. Tetapi terlepas dari siapa dia sebenarnya, yang pasti juga dia adalah salah seorang pengurus NU dan MUI Cianjur. Pandangannya tentang relasi Islam-negara kiranya lebih tepat disebut relasi kyai-bupati. Dia salut atas gagasan Wasidi tentang Gerbang Marhamah, dan dia mendukungnya. Begitu juga dengan ummat Islam di Cianjur, dia berharap mereka mendukung gagasan itu. Menurutnya, gagasan itu jangan dianggap sebagai usaha mendirikan negara Islam, sebab itu tidak mungkin. Indonesia adalah negara Pancasila, demikian ujarnya. Tetapi, dia menambahkan, Islam harus memeberi pengaruh dominan terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah, termasuk dalam hal anggaran pembangunan. Dia bersyukur bahwa bupati Wasidi menganggarkan alokasi yang cukup besar untuk melaksanakan gagasan Gerbang Marhamah-nya, termasuk, demikian kata lelaki tua itu, memberikan bantuan-bantuan pada pengembangan pesantren dan sarana-sarana keagamaan.

Selanjutnya, ketika saya tanya tentang Ahmadiyah, dia pada awalnya cuma senyum-senyum. Menurutnya, Ahmadiyah itu sudah jelas sesat dan menyesatkan. Dia mengemukakan satu dua dalil berdasarkan tafsir al-Qur’an yang diyakininya. Dia juga menyebut keputusan Rabithah Alam Islami yang telah memutuskan fatwa bahwa Ahmadiyah bukan bagian dari Islam, karena Ahmadiyyah percaya akan adanya nabi setelah Muhammad. Ini adalah prinsipil dalam Islam, katanya, tidak bisa diperdebatkan lagi. Akan tetapi, buru-buru dia melanjutkan, Ahmadiyah di Indonesia sebenarnya punya hak hidup asalkan mereka tidak mengembangkan ajarannya kepada orang Islam lainnya. Tetapi kenyataannya Ahmadiyah melakukan hal itu, kata dia, seperti yang terjadi di Cianjur. Dia menerima laporan dari daerah Cianjur Selatan tentang banyaknya orang-orang di sana yang masuk Ahmadiyah setelah dibujuk-bujuk, bahkan oleh diiming-imingi materi. Ini meresahkan masyarakat, katanya, dan oleh karena itu harus diambil tindakan tegas oleh pemerintah, sebab itu urusannya pemerintah. Ketika saya tanya pendapatnya tentang kasus kekerasan kemarin, dia bilang memang tidak setuju dengan kekerasan, tapi memang itu adalah kesalahan Ahmadiyah sendiri. Itu adalah reaksi, dia bilang, dari sikap Ahmadiyah selama ini yang ekspansionis dan ekslusif.

Pembicaraan pun mengalir, termasuk menyangkut kehidupan pribadi pria berkaos dan berkopyah putih tersebut. Belakangan saya tahu bahwa pria tersebut bernama KH Muhyiddin, adik dari KH Abdul Halim. Menjelang Maghrib, saya akhirnya pamit untuk pulang….

Hari keempat, Kamis, 14 September 2006

Pagi itu Cianjur berwajah cerah, seakan-akan memanggil siapa saja untuk sekedar jalan-jalan di sana. Tetapi jalan raya di depan saya menginap sudah ramai dan berisik sedari jam 4 pagi, sebelum adzan Shubuh berkumandang. Saya bangun pagi-pagi sekali, menyiapkan diri untuk beribadah kepada ilahi. Dan memang saya sedari kemarin pingin ikut Shalat Shubuh berjama’ah dengan orang-orang Ahmadiyah. Setelah mandi dan ini itu, saya berangkat ke masjid yang tepatnya berada persis di samping rumah. Segera saja saya ikut berjama’ah, menjadi masbuk. Setelah selesai, saya ikut semacam pengajian singkat. Yang menyampaikan ceramah adalah Kang Abdul Karim, sang muballigh. Materi ceramahnya seputar nabi Isa dan Siti Maryam, sebuah wacana yang cupuk sentral dalam Ahmadiyah. Jamaah yang hadir sekira 5-6 orang, termasuk saya. Mereka tampak mendengarkan secara khidmat, sambil manggut-manggut. Saya mengikuti pengajian itu sampai selesai. Setelah itu kembali pulang ke rumah.

Pagi-pagi sekira jam 7-an saya ngobrol dengan Kang Idrus, seorang muballigh Ahmadiyah kelahiran Karawang yang sekarang ditugaskan ke Kalimantan Timur. Dia sedang dalam perjalanan ke Garut untuk mengikuti semacam pelatihan di bidang hukum dan perundang-undangan bagi para muballigh Ahmadiyah. Dia berbicara sambil mengistrika baju kokonya, juga diselingi guyon-guyon khas Sunda. Awalnya saya bertanya soal ajaran Ahmadiyah. Setelah itu berbincang tentang perkembangan Ahmadiyah di Indonesia. Juga tentang peristiwa kekerasan teradap Ahmadiyah yang terjadi belakangan ini. Sewaktu ngobrol, datang Kang Aang, Edi, juga sesekali Abdul Karim. Kami ngobrol kesana-kemari. Tetapi ada satu hal yang menarik. Ternyata hampir semua muballigh Ahmadiyah di Luar Jawa adalah orang Sunda, dan anggota Jemaat-nya pun kebanyakan orang Sunda. Ini, demikian kata mereka, bahkan dimulai sejak di Parung yang menjadi tempat pendidikan bagi kader-kader muballigh Ahmadiyah. Mahasiswa di Kampus Mubarrok Parung Bogor kebanyakan, bahkan hampir semua, adalah orang-orang Sunda. Ketika saya coba berguyon, bahwa jangan-jangan Ahmadiyah itu identik dengan Sunda, seperti NU identik dengan Jawa, mereka hanya tertawa-tawa. Para muballigh yang orang Sunda itu ternyata mengambil istri dari Sunda juga.

Ngomong-ngomong tentang pernikahan, orang Ahmadiyah ternyata sangat ekslusif dalam hal ini. Menurut Kang Edi, muballigh Ahmadiyah Cianjur Tengah, orang Ahmadiyah tidak boleh nikah dengan orang luar Ahmadiyah. Orang yang melanggar ini akan kena sanksi organisasi. Ini adalah kewajiban, demikian kata Kang Edi. Oleh karena itu, pengurus Jemaat kadang seperti biro jodoh, bahkan memang selalu begitu. Seperti yang dialami Kang Edi, baru-baru ini dia diminta oleh temannya di Lampung untuk mencarikan istri orang Ahmadiyah Cianjur. Dan pengurus, kalau sudah mendapatkan informasi cukup tentang masing-masing pihak, merasa berkewajiban memandu kisah kasih ini sampai jenjang pernikahan. Akan tetapi, karena inilah Ahmadiyah sering dipandang ekslusif, bahkan mungkin faktor ini berperan juga dalam memicu konflik tahun kemarin yang berujung pada kekerasan. Menurut Kang Edi, prinsip perjodohan dan pernikahan seperti yang berlaku di Ahmadiyah adalah untuk menjaga tujuan-tujuan terbentuknya rumah tangga sebagaimana yang dipahami oleh Ahmadiyah. Ini, kata Edi, terjadi juga pada komunitas-komunitas lain, tetapi mungkin dengan cara-cara dan bentuk-bentuk yang berbeda.

Selain itu, keberhasilan Ahmadiyah membangun fasilitas-fasilitas keagamaan seringkali dipahami secara salah kaprah oleh orang luar Ahmadiyah, demikian kata Kang Edi. Mereka tidak paham bahwa kami punya sistem candah, semacam iuran tetapi lebih tepatnya pengorbanan ekonomi anggota, yang mampu memobilisasi dan sekaligus mendistribusi aset untuk kepentingan organisasi. Masjid Ciparay yang tahun kemarin dibakar habis sekarang telah dibangun kembali dengan kualitas yang lebih baik. Juga rumah muballigh. Masyarakat kadang menganggap bahwa kami dapat dana dari pusat, bahkan dari luar negeri, dari Inggris, demikian kata Kang Edi, padahal semua itu dibangun oleh kami sendiri, dengan dana kami sendiri. Anggota Ahmadiyah berkewajiban menyerahkan 1/16 dari seluruh pendapatannya per tahun. Sistem ini telah dijalankan secara profesional. Hampir semua kegiatan Ahmadiyah didanai oleh organisasi lewat yang memang memiliki sumberdaya memadai lewat sistem ini.

Menjelang jam 10-an pagi, saya pamit untuk pergi ke Kantor Depag Cianjur. Di sana, saya pingin cari data statistik keagamaan Kabupaten Cianjur. Akan tetapi, bahkan sebelum ke sana saya sebenarnya sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi di kantor birokrasi agama itu. Setelah tanya sana-sini, saya masuk ke ruang bagian umum Depag. Ada dua orang pegawai, ibu-ibu, sedang duduk-duduk sambil nonton TV. Mereka tampak menyelidiki kedatangan saya. Setelah mendengar maksud kedatangan saya, mereka mencoba menampilan diri menjadi pegawai yang terampil menunjukan prosedur ini itu agar saya dapat mengakses data yang diperlukan. Meskipun agak kesal, saya mencoba mengikuti prosedur itu. Akan tetapi, setelah saya melengkapi segala macam prosedur itu, seperti menujukan surat tugas penelitian, mereka bilang bahwa data yang saya perlukan tidak dapat diperoleh hari itu, karena orang yang menyimpan data itu sedang tidak ada di kantor. Juga belum ada izin dari kepala, dan kabarnya memang belum ada kepala yang definitif karena kepala Depag sebelumnya dipecat gara-gara korupsi.

Saya meninggalkan Depag dengan tangan kosong. Selanjutnya segera saja saya berangkat ke rumah KH Abdul Halim, ketua MUI Cianjur, di daerah Bojongherang. Udara sangat panas, Cianjur sudah berbulan-bulan tidak dibasahi air hujan. Saya naik angkot, turun di pertigaan ke arah rumah Ajengan Elim, demikian KH Abdul Halim biasa dipanggil. Untuk ke sana saya harus jalan kaki terlebih dulu, barangkali sekitar setengah kilo meter. Tetapi perut sudah kerocongan, saya putuskan makan dulu di warung nasi “Sudi Mampir” yang berada persis di depan kantor Telkom Cianjur. Ada dua orang lelaki berusia 40-an di pojok kanan dan tiga perempuan muda, sepertinya masih gadis, di pojok kiri warung. Ketiga perempuan muda itu sepertinya pegawai KPU Cianjur, terlihat dari pin yang tersemat di baju mereka. Kantor KPU hanya beberapa meter dari warung tersebut. Mereka, ketiga perempuan muda itu, memakai jilbab, seperti kebanyakan perempuan dewasa yang lalu lalang di depan warung nasi pada siang hari itu. Tetapi sebenarnya mereka cukup seksi, maksud saya cara berpakainnya, paling tidak saya bisa melihat lekuk tubuh mereka dengan jelas. Saya berpikir barangkali inilah yang disebut perjumpaan Islam-Sunda, paduan ganjil yang berhasil, dan yang pasti, sedap dipandang mata. Maksudnya mata lelaki.

Setelah makan, segera saja saya bergegas. Udara sangat panas. Sepanjang jalan menuju rumah Aj. Elim, sebuah jalan bernama Jl. KH Marzuki yang tak lain adalah ayahanda Aj. Elim, para pedagang tampak masih sibuk membongkar kios dadakan mereka. Mereka, para pedagang itu, berjualan segala macam, dari mulai boneka, buku-buku agama, sampai celana dalam. Saya baru tahu kemudian bahwa hari itu ada “Kemisan”, di mana sudah berpuluh-puluh tahun Aj. Elim menyampaikan ceramah-ceramah agama di masjid pesantern al-Muthmainnah yang diasuhnya. Waktu saya datang, pengajian sudah bubar. Tetapi dari sampah-sampah yang ditinggalkan, juga sisa-sisa keramaian para pedagang, saya yakin bahwa jamaah pengajian Aj. Elim sangat banyak. Dan dari beberapa orang yang berbicara kepada saya, saya menyimpulkan Aj. Elim adalah kyai berpengaruh, mungkin paling berpengaruh, di Cianjur. Ketika saya wawancara langsung dengan dia, saya akhirnya tahu bahwa dia telah menjabat ketua MUI Cianjur lebih dari 20 tahun!

Jam di tangan saya menunjukan pukul 12.30. Saya putusukan shalat dhuhur dulu di masjid pesantren yang persis berada di samping rumah Aj. Elim. Masjidnya masih kotor oleh debu dan sampah-sampah kecil tinggalan jamaah pengajian. Atau juga memang begitulah sehari-harinya, saya belum bisa pastikan. Setelah selesai shalat, saya segera bergegas ke rumah Aj. Elim. Saya uluk salam, ketik-ketuk pintu berkali-kali, tetapi tidak ada jawaban. Wah dasar kyai, begitu pikir saya ketus, sebab kemarin saya sudah dijanjikan bisa ketemu dia sehabis dhuhur. Selanjutnya saya coba ketuk-ketuk pintu lewat samping yang ternyata adalah dapur. Pintunya kebetulan terbuka. Saya kembali uluk salam, lalu muncul seorang nenek tua yang sudah hampir bongkok. Saya tanya, pak kyai-nya ada tidak? Nenek tua itu menjawab tidak tahu, tapi segera saja bergesas ke ruang depan untuk memastikan. Lalu dia muncul kembali, mengabarkan bahwa Aj. Elim sedang tidur, tidak bisa diganggu. Saya bilang bahwa saya akan kembali lagi nanti sehabis ashar, dan tolong disampaikan kepada pak Ajengan. Nenek tua itu kembali ke depan, lalu muncul lagi, mengabarkan bahwa saya bisa menemui sang Kyai sehabis ashar.

Setelah gagal bertemu Aj. Elim, saya pergi ke base camp PMII di daerah Sayang. Di sana ada sepuluhan anak muda sedang ngobrol ini itu, sebagian kelihatannya sedang diskusi agak serius tentang dana BOS dan korupsi di Cianjur. Saya ketemu Adul, sang ketua umumnya. Setelah ngobrol sebentar, kami segera berangkat lagi ke Paguyuban Pasundan, sambil jalan kaki menyusuri jalan-jalan sesak oleh PKL di Kota Cianjur, untuk menemui Abah Ruskawan, seorang tokoh budaya Cianjur. Akan tetapi, ketika sampai di Pasundan, saya segera tahu bahwa Abah sedang keluar, entah kemana. Saya putuskan untuk istirahat dulu, sambil minum “sop buah” di depan Masjid Agung Cianjur yang megah itu. Sambil minum, saya dan Adul ngobrol kesana-kemari, terutama tentang problem yang dihadapai aktifis sosial politik, termasuk aktifis mahasiswa, di Cianjur. Adul cerita mengenai intervensi-intervensi yang dilakukan senior-seniornya di PMII, terutama yang aktif di partai politik, untuk meneguhkan legitimasi mereka di depan adik-adik yuniornya. Kenyataan itu hampir niscaya, demikian kata Adul, ditengah ketiadaan preferensi lain yang menjanjikan sumberdaya.

Cianjur menjelang sore, udara sudah tidak begitu panas lagi. Lapangan di depan Masjid Agung yang berfungsi sebagai alun-alun kelihatannya cukup nyaman untuk pacaran. Begitulah pengamatan saya sore itu. Beberapa anak muda tampak sedang memadu kasih, seolah menemukan tempat di depan Masjid Agung yang terhormat. Tetapi kebanyakan diantara mereka adalah ABG, tampak dari seragam putih abu yang dipakainya. Satu pasangan yang persis duduk berdua di bangku seberang saya jelas kelihatan sudah dewasa. Si perempuan, yang memakai jilbab dan tampak cukup berpakaian sopan, tampak sedang tersedu, mungkin sedang sedikit berantem dengan pacarnya. Saya kurang begitu melihat dengan jelas, sebab sop buah yang materinya campur aduk itu benar-benar telah berhasil membetot selera saya.

Setelah itu saya segera bergegas untuk mewawancarai KH.R Abdul Halim sebagaimana telah dijanjikan. Langit Cianjur mendung, tanda hujan akan turun. Saya kembali jalan kaki menyusuri jalan-jalan yang sudah agak sepi. Akhirnya saya sampai di Pesantren al-Muthmainnah yang diasuh oleh Aj. Elim. Adzan asyar berkumandang, saya putuskan untuk shalat berjamaah terlebih dulu. Ternyata Aj. Elim tampak dalam jamaah, berdiri di shaf pertama, persis di belakang imam, KH Muhyiddin. Setelah bubar, saya nenunggu sang kyai di luar. Tapi sang kyai ternyata shalat ba’da ashar terlebih dahulu, entah shalat apa, sebab setahu saya tidak ada shalat sunnat setelah ashar. Akhirnya sang kyai selesai juga sholatnya. Tapi ternyata ada tamu lain yang telah menunggu, tampaknya seorang habib karena tampangnya yang Arab. Dan ternyata memang benar, tamu itu adalah seorang habib dari Jakarta, tepatnya Tanah Abang.

Saya uluk salam, mengenalkan diri sebagai peneliti dari Jakarta yang sedang penelitian tentang Islam di Cianjur, khusunya tentang Ahmadiyah. Sang kyai tampak paham, dan segera saja kami ngobrol-ngobrol. Dimulai dari tema Gerbang Marhamah yang dipahami oleh Aj Elim sebagai solusi atas persoalan yang ada di Cianjur. Kalau Aceh saja yang propinsi bisa menegakkan syari’at Islam, kenapa Cianjur yang kabupaten tidak. Tetapi saya paham, demikian kata Aj. Elim, kita hidup di Indonesia yang Pancasila. Tetapi, justeru pemerintah pun mendukung Gerbang Marhamah, bahkan konsep ini datang dari bupati yang dulu, kata Aj Elim berargumentasi. Meski begitu, ini bukan politis, ini adalah kewajiban moral ummat Islam, dia menambahkan. Pelaksanaannya harus pelan-pelan, tidak bisa langsung dan menyeluruh, tetapi pada akhirnya harus begitu.

Lalu tentang Ahmadiyah, Aj. Elim dengan tegas menyebut bahwa mereka adalah sesat dan menyesatkan, oleh karena itu harus dilarang. Di tempat asalnya saja, di Pakistan, demikian kata Aj. Elim, mereka sudah dilarang dan diputuskan sebagai penduduk non-Islam. Makanya mereka lari ke London, Inggris, karena mungkin mendapatkan bantuan finansial di sana. Mereka, Ahmadiyah, sengaja disusupkan diantara ummat Islam agar Islam hancur. Ini adalah skenario Barat untuk hancurkan Islam dari dalam, kata Aj Elim. Mereka harus diajak kembali masuk Islam, atau jangan mengaku Islam. Kalau begitu, mereka pasti tidak akan mendapatkan gangguan. Tapi, kata Aj. Elim melanjutkan, kalau masih seperti sekarang, mengajak orang Islam yang sudah “benar” masuk Ahmadiyah, ini akan meresahkan masyarakat. Ini terjadi di Cianjur. Jadi, aksi kekerasan kemarin adalah akibat kegiatan mereka yang meresahkan. Ini adalah resiko yang harus mereka tanggung.

Setelah panjang lebar berbicara tentang Islam dan Ahmadiyah di Cianjur, saya pamit untuk pulang. Tetapi ternyata di luar hujan, titik-titik airnya berjatuhan di atap garasi rumah Aj Elim yang terbuat dari seng, menimbulkan bunyi berisik yang nyaring. Akhirnya saya menunggu terlebih dahulu, sambil menyicipi kurma yang disuguhkan belakangan oleh Aj. Elim. Ini kurma Makkah, kata Aj. Elim, baru saja dibawa sebagai oleh-oleh salah seorang jamaahnya yang pulang umrah. Dan memang kurma itu begitu enak, kulitmya empuk, tidak terlalu manis, dan basah. Sambil diselingi teguk air aqua gelas yang juga disuguhkan belakangan, ketika saya hampir hendak pulang, sore ini serasa penuh dengan selera. Dari mulai sop buah sampai kurma…

Akhirnya hujan reda, saya kemudian pamit untuk segera menuju kantor Paguyuban Pasundan, sebab setelah saya lihat HP, Abah ternyata kirim SMS bahwa dia telah menunggu di Pasundan. Saya dan Adul kembali menyusuri jalan-jalan yang basah oleh hujan yang sebenarnya belum benar-benar reda, bahkan agak menderas, sehingga memaksa saya untuk sedikit berlari-lari agar pakaian saya tidak basah. Akhirnya saya sampai juga di Pasundan, dengan baju yang agak basah. Tapi tak apalah, begitu pikir saya, asalkan saya dapat ngobrol dengan Abah yang menurut Adul dipandang tokoh budaya yang kritis di Cianjur.

Dan ternyata Adul benar, sebab lelaki yang biasa dipanggil Abah—nama aslinya Ruskawan—itu, memang benar-benar kritis. Islam jangan hanya jadi slogan, kata Abah bersemangat. Itulah yang terjadi di Cianjur, konsep Gerbang Marhamah yang sebenarnya bagus, tetapi kebanyakan slogan, akhirnya menjadi guyonan, kata Abah. Abah kemudian bercerita tentang masyarakat Cianjur yang mampu menyelaraskan antara budaya dan agama, antara kesundaan dan keislaman. Sejak dulu, demikian kata Abah, hampir tidak pernah terjadai ketegangan yang saling merusak antara Islam dan Sunda. Para ajengan mengajarkan agama melalui cara-cara yang juga bersifat kultural. Mereka tidak menolak mentah-mentah segala sesuatu yang dipandang bid’ah, asalkan tidak menjurus pada syirik.

Akan tetapi, Wasidi telah mengubah keselarasan itu. Ada dua kebijakan Wasidi yang kontroversial, kata Abah, dan itu jelas mengusik kesadaran sebagian besar masyarakat Cianjur. Yang pertama adalah larangan ziarah kubur ke Cikundul dan yang kedua larangan pertunjukan kuda kosong. Padahal, dua tradisi tersebut telah berakar pada kehidupan sehari-hari masyarakat Cianjur, sehingga pada kenyataannya dua kebijakan tersebut justeru semakin mempopulerkan tradisi-tradisi tersebut. Resistensi terhadap kebijakan bupati memang tidak berlangsung secara terbuka, tetapi seorang pengamat budaya yang cermat akan menangkap hal tersebut secara telanjang. Oleh karena itu, begitu Wasidi lengser dari jabatannya sebagai bupati, masyarakat, terutaman kalangan aktifis kesenian, segera saja menggelar pertunjukan kuda kosong yang ternyata menyedot perhatian ribuan orang. Mereka, kata Abah, merindukan kegiatan-kegiatan kesenian yang merakyat, yang tidak diberati dengan kepentingan-kepentingan politik praktis yang sifatnya pragmatis.

Mengenai figur Wasidi, Abah menjelaskan tentang talenta politiknya yang memang hebat luar biasa. Pengalamannya yang panjang di birokrasi dan Golkar telah memberikan kemampaun kepada Wasidi untuk mengorganisir potensi-potensi masyarakat agar dapat berdiri di belakangnya. Termasuk para ulama yang berhasil dijadikan Wasidi sebagai sejawatnya yang paling setia. Wasidi sebenarnya berasal dari lingkungan Persatuan Islam (Persis) yang keras. Gurunya adalah seorang ulama Persis yang konservatif, yang bahkan dikalangan mainstream Persisi sendiri dipandang terlalu keras. Tetapi, para ulama Cianjur (maksudnya, MUI) yang hampir semuanya berasal dari kalangan NU secara mengherankan telah memerankan diri sebagai legitimator ideologis-keagamaan Wasidi. Bagi Abah, ini adalah ujian untuk ulama itu sendiri, dan pilkada kemarin seolah menjadi momen untuk mengevaluasi peran ulama di tengah masyarakat Cianjur, paling tidak dalam dunia politik praktis. Hampir semua ulama terkemuka dan organisasi keislaman di Cianjur mendukung secara resmi kepemimpinan Wasidi, tetapi kenyataan membuktikan lain. Wasidi kalah.

Adzan Maghrib telah berkumandang, hujan di luar semakin deras membasahi bumi Cianjur. Saya akhirnya pamit dan akhiri pembicaraan. Kemudian saya shalat Maghrib sebentar, menunggu reda hujan, lalu makan malam bersama Adul….

Hari Kelima, Jum’at, 15 September 2006

Selepas Shalat Shubuh, saya kembali tidur. Cuaca Cianjur yang pagi itu agak dingin berhasil membuat saya untuk enggan melakukan sesuatu. Saya kembali tidur sampai bangun lagi sekira jam 6.30. Sinar matahari sudah menyingsing dan hangatkan ruangan. Tetapi segera saja saya rasakan perut keroncongan, suatu alasan yang membuat saya bergegas ke sebuah warung yang menjual bubur ayam sejak pagi-pagi sekali. Saya sudah tiga hari berturut-turut makan pagi dengan bubur ayam di warung itu. Tempatnya cukup bersih, meski rasa bubur ayamnya biasa saja. Tetapi yang penting saya kenyang, mengganjal perut yang keroncongan.

Sebenarnya pagi itu saya tidak punya agenda resmi, hanya ingin baca buku di rumah dan menulis hasil-hasil pengamatan yang belum selesai. Siang hari rencananya saya akan main ke Kebun Raya Cibodas. Saya sudah telpon teman yang di Cibodas, dia menyanggupi untuk nganter-nganter dan mempersiapkan segala sesuatunya. Tetapi menjelang siang, dia SMS lagi. Dia bilang tidak bisa nganter dan menawarkan bagaimana kalau ke Cibodas-nya hari lain saja. Saya bilang tidak bisa, sebab besok pagi saya akan kembali ke Jakarta. Hari minggu besok, 17 September 20046, saya harus mengikuti Parajab di Depok.

Lalu saya segera saja mengumpulkan semua bahan-bahan, termasuk rekaman wawancara yang telah dilakukan kemarin. Pagi hari itu saya berencana menulis ulang semua itu agar dapat dipelajari lebih lanjut. Dan untuk beberapa saat saya pun larut dalam imajinasi dan usaha-usaha literer untuk merekonstruksi ulang apa yang telah saya amati oleh saya di Cianjur. Namun, menjelang jam 10-an, perut saya kembali keroncongan. Saya putuskan untuk makan terlebih dahulu, sekaligus membeli sesuatu di Mayofield Plaza, satu-satunya “mall” di Cianjur yang kabarnya dulu milik Matahari tetapi sekarang telah dijual kepada entah siapa. Jarak dari rumah ke warung nasi dan Mayofield sekira 300-an meter, cukup 5 menit ke sana dengan langkah-langkah kaki yang gontai. Setelah makan, saya segera ke Mayofield yang berada persis di seberang jalan. Suasana masih amat sepi, hanya terlihat satu dua orang ABG berseragam putih abu yang lalu lalang tanpa terlihat niat untuk belanja. Untuk sebagian, Mayofield adalah representasi dari ekonomi Cianjur. Bangunannya megah dan luas, tetapi kosong dan sepi. Beberapa penjaga kios tampak hanya melamun atau ngobrol dengan rekan-rekan mereka. Bahkan beberapa kios sudah tutup karena memang tidak laku.

Hari itu hari Jum’at, dan waktu sudah menunjukan jam 11.30. Saya berangkat ke Masjid al-Ghofur. Beberapa orang tampak menyelidiki kedatangan saya, antara curiga dan bertanya-tanya. Tampak Pak Ahmad sedang berbincang dengan beberapa jama’ah. Masjid begitu berisik, masing-masing jama’ah saling berbincang, sesuatu yang jarang saya temukan dalam ritual shalat Jum’at di masjid-masjid biasa. Mesjid al-Ghofur memang masjid Ahmadiyah. Hampir sebagian besar jama’ah, kalau tidak semuanya, adalah pengikut Jemaat Ahmadiyah. Dan shalat Jumat seakan menjadi arena mereka untuk bertemu dan saling berbagi setelah selama seminggu mereka sibuk dengan aktifitas seharinya masing-masing. Beberapa orang tampak berangkulan tangan, barangkali untuk melepas kangen atau sekedar penghormatan. Beberapa berpakaian PNS, seorang berpakaian seragam polisi. Juga beberapa anak muda berpakaian putih abu bersama orang tua mereka yang Ahmadiyah. Beberapa anak muda itu diperkenalkan oleh orang tua mereka kepada teman-temannya sambil kemudian ditepuk-tepuk pundaknya. Yang menarik, kaum perempuan di Ahmadiyah ternyata ikut juga shalat Jum’at. Saya sangat beruntung, sebab hari itu ada seorang perempuan yang akan dibai’at, namanya Ibu Aisyah.

Setelah shalat selesai, tibalah waktunya pembai’atan itu. Acaranya tidak begitu syahdu, hampir biasa saja. Pak Ahmad memimpin pembai’atan. Dia membacakan beberapa pernyataan yang harus diikuti Ibu Aisyah, termasuk membaca ulang syahadat. Setela selesai, semua orang ampak berdo’a khusuk, barangkali inilah momentum sakralnya. Saya ikut berdo’a, mengkomat-kamitkan sesuatu. Lalu Pak Ahmad menyodorkan semacam surat pernyataan yang harus ditandatangani Ibu Aisyah. Ada 10 janji yang harus dijalani, semuanya tercantum dalam surat pernyataan itu. Setelah itu acara pun selesai. Beberapa orang meninggalkan masjid, sementara yang lain tampak melanjutkan obrolan dengan rekan-rekannya.

Seorang yang kelihatannya cukup penting mendekati saya dengan agak curiga. Dia bertanya kepada saya. Sebelum sempat menjawab, datang Kang Asep Muslih menjelaskan siapa saya. Bahwa saya adalah peneliti dari jakarta dan telah mendapatkan restu dari Pak Ahmad untuk melakukan penelitian tentang Ahmadiyah di Cianjur. Dia mafhum, tetapi masih bertanya lebih lanjut. Saya menjawab dengan diplomatis tentang maksud kedatangan saya dan bagaimana pandangan pribadi saya tentang Ahmadiyah. Setelah panjang lebar, dia tampak mulai percaya dan terbuka. Dia mengenalkan diri. Namanya Asep Hisamddin, sekretaris pengurus daerah Ahmadiyah Cianjur. Dia bekerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur. Setelah itu perbincangan pun mengalir, dari soal konsepsi sampai konstelasi politik lokal di seputar kasus Ahmadiyah di Cianjur.

Pak Asep bercerita tentang pengalaman dirinya menjadi Ahmadiyah. Dia baru mengenal Ahmadiyah ketika kuliah dan mulai mempelajarinya secara serius. Dia pernah kagum dengan Darul Arqam tapi akhirnya tidak memuaskan dahaga spiritual dirinya. Dia terus mencari-cari sampai akhinya yakin bahwa Ahmadiyah adalah jawaban dari dahaganya itu. Konsepsi Ahmadiyah tentang khilafiah begitu mempesona dirinya. Juga konsepsinya tentang kenabian yang sebenarnya tidak pernah ia pahami secara nalar, bahkan sampai sekarang. Tapi ia percaya bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Imam Mahdi dan al-Masih yang dijanjikan al-Qur’an itu. Ini adalah soal keimanan, katanya mantap. Dia juga berceita tentang kondisi Ahmadiyah di Cianjur Selatan dimana di daerah inilah orang-orang Ahmadiyah pada tahun kemarin menyaksikan kekerasan terhadap mereka dengan heran. Sampai sekarang, demikian kata Asep Hisamuddin, orang-orang Ahmadiyah belum mengerti kenapa mereka dianggap sesat dan berbahaya, padahal mereka merasa tidak pernah membikin masalah dengan masyarakat sekitar.

Pak Asep Hisamuddin bercerita juga tentang teman-temannya di kantor. Mereka pada awalnya sinis dengan Ahmadiyah, menganggapnya sesat dan oleh karena itu harus dilarang—mereka, teman-temannya itu, setuju dengan berbagai fatwa resmi terhadap Ahmadiyah. Tetapi Pak Asep mencoba menjelaskan tentang apa sebenarnya Ahmadiyah, bahwa Ahmadiyah pada dasarnya tidak mempunyai perbedaan fundamental dengan aliran-aliran lain dalam Islam. Bahwa kemudian ada beberapa hal yang dianggap ekslusif, seperti soal perjodohan, pernikahan, dan masjid-masjid Ahmadiyah, itu tak lebih dari konsekuensi Ahmadiyah sebagai komunitas. Ini terjadi dimanapun, kata Kang Asep. Begitulah, saya ngobrol panjang lebar, tetapi menjelang jam 2.30 dia mohon pamit karena harus kuliah ke Bandung. Dia berpesan agar nanti saya datang ke rumahnya unuk ngobrol lebih lanjut lagi.

Hari masih panas, meski matahari sudah mulai beringsut ke barat. Saya segera pulang ke rumah untuk berbenah seperlunya. Sedari pagi saya sebenranya sudah kepingin main ke Ramayana untuk sekedar melihat-lihat, barangkali ada sesuatu yang bikin saya senang. Saya naik angkot sekali, turun persis di depannya. Ramayana ternyata lebih mirip pasar yang becek, hampir semua jalur angkot di Cianjur lewat di depannya. Departement store ini harus berbagi tempat dengan kios-kios kecil yang memang sengaja dibangun sebagai pusat tempat belanja terbesar di Cianjur. Suasana benar-benar semerawut, debu jalanan mengepul-negepul memedihkan mata. Saya masuk sebentar, mencoba melihat-lihat baju atau celana. Tetapi alhamdulillah saya berhasil menolak hasrat konsumerisme. Saya segera saja keluar dari pasar khas dunia ketiga itu, berjalan-jalan untuk mencari-cari asinan atau manisan Cianjur yang terkenal itu. Di jalan-jalan menuju Ramayana terdapat toko-toko milik orang Cina yang memang menjajakan berbagai jenis oleh-oleh khas Cianjur itu. Saya masuk ke salah satu toko, mencoba menawar-nawar, sampai akhirnya beli seperempat kilo asinan dan manisan.

Akhirnya saya pulang…

Peneliti LIPI dan the Interseksi Foundation. Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan Multikulturalisme di Kampung Naga, Tasikmalaya, Jawa Barat