Limboto, Kota Pinggiran yang Terpinggirkan

Jika kita mencari nama Kabupaten Gorontalo 10 tahun lalu, sangat mudah mendapatkannya di peta Sulawesi yang banyak terdapat di buku-buku pelajaran anak sekolah. Cari saja di sebelah barat Provinsi Sulawesi Utara, di wilayah yang berbatasan dengan Sulawesi Tengah yang berbentuk jerapah sedang menganga. Namun tidak halnya pada saat ini, sebab kondisi geografis Kabupaten Gorontalo telah jauh berubah. Setelah terbentuknya Provinsi Gorontalo, wilayah Kabupaten Gorontalo telah mengkerut. Hal ini disebabkan oleh pemekaran yang telah terjadi berkali-kali dalam kurun waktu satu dekade. Saat ini, luas Kabupaten Gorontalo hanya tinggal 2207,58 km2, dengan peta berbentuk ‘paha ayam’. Sebelumnya, perlu dijelaskan agar jangan salah sangka, sebab di Gorontalo, kata ‘gorontalo’ sangat banyak digunakan sehingga kadangkala menjadi membingungkan. Provinsi induknya bernama Provinsi Gorontalo, dengan ibukota bernama Kota Gorontalo. Namun, juga terdapat Kabupaten Gorontalo, serta Kabupaten Gorontalo utara. Adapun ibukota Kabupaten Gorontalo adalah Limboto.

 

bentor_gorontalo

 

Cobalah bertanya pada orang-orang selain orang Gorontalo mengenai Limboto, maka jawaban yang lazim adalah, Limboto merupakan sebuah danau di Sulawesi Utara. Bahkan, di Makassar yang merupakan ibukota Provinsi Sulawesi Selatan, orang-orang Makassar mengenal Limboto sebagai sebuah sungai, sebab terdapat salah satu jalan di Makassar yang bernama Jalan Sungai Limboto. Sangat jarang orang mengenal bahwa di Provinsi Gorontalo terdapat kota bernama Limboto, meskipun sebenarnya sejarah telah lama membingkai Limboto dalam petak rangkaian ceritanya. Menurut Basri Amin, seorang peneliti sosiologi kota yang berdomisili di Limboto, Limboto sangat jarang menjadi perhatian sebab pertumbuhannya berada dibawah bayang-bayang Kota Gorontalo. Limboto lebih sering dikenal sebagai ‘pintu gerbang’ Kota Gorontalo, sebab orang-orang yang ingin ke Kota Gorontalo akan lebih dulu menemui Limboto sebagai pusat keramaian pertama dari bandara. Saya sendiri sempat terkecoh ketika pertama kali ke Gorontalo. Waktu itu saya sempat bertanya pada driver yang menjemput saya; “ini ya Kota Gorontalo?”, namun dijawabnya, “bukan Pak, ini Kota Limboto.”. O’ow.

Saya terkenang ketika pertama kali menginjakkan kaki di Gorontalo. Waktu itu tahun 2006, yakni ketika saya bertugas untuk survey dan mengobservasi beberapa lokasi yang sedianya akan didirikan irigasi untuk pertanian. Dua di antara lokasi tersebut adalah Kecamatan Wonosari dan Kecamatan Paguyaman, yang keduanya terletak di kabupaten Gorontalo. Waktu itu pulalah pertama kali saya mengenal Kota Limboto, meski pada saat itu, Limboto bukanlah daerah tujuan saya. Secara geografis, Limboto terletak sekitar 30 km sebelah barat Kota Gorontalo, ibukota Provinsi Gorontalo. Namun untuk mengaksesnya, kita sebenarnya tidak mesti melalui kota Gorontalo dulu. Sebab, dari bandara Sultan Jalaluddin, justru Kota Limboto lah yang pertama kita lalui sebelum memasuki ibukota Gorontalo. Bandara Sultan Jalaluddin terletak di Kecamatan Isimu, yang juga konon pernah menjadi Ibukota Gorontalo. Kecamatan Isimu bersebelahan dengan Limboto. Akses transportasi menuju Limboto pun tergolong mudah. Di bandara, sangat banyak pelayanan transportasi baik taksi maupun bentor (bendi motor) yang siap sedia mengantarkan kita. Namun jangan menyamakan dengan taksi pada umumnya, sebab taksi di Gorontalo adalah mobil pribadi yang disulap menjadi kendaraan umum. Biasanya mobil yang digunakan adalah mobil murah yang hemat bahan bakar seperti Avanza ataupun Xenia. Namun tidak jarang pula, taksinya sedikit lebih elit seperti Kijang Inova. Jangan mengharapkan ada taksi sedan, sebab supir tidak akan mau menggunakannya karena dengan ukuran yang kecil, muatannya akan jauh lebih berkurang. Muatan bagi mereka penting karena taksi bukan kendaraan ‘lux’ yang memuat satu penumpang saja. Selain taksi, kita juga bisa menggunakan bentor, yakni motor yang dimodifikasi dengan menambahkan ruang penumpang dibagian depan (seperti becak).

Dari Isimu menuju Limboto, kita akan menyusuri perjalanan yang cukup lancar. Selain bebas macet, jalanan yang masih baru juga memungkinkan kita untuk menikmati perjalanan. Jalur transportasi ini memang masih tergolong baru sebab masuk klasifikasi jalan provinsi. Bekas pelebaran jalan pun masih sangat nampak di kedua sisi jalan. Sepanjang jalan, kita akan disuguhi pemandangan alam yang indah. Dihiasi oleh tiga komoditi utama khas
Gorontalo yang saling berhimpitan, yakni padi, kelapa, dan jagung, serta pegunungan yang panjang menjulang sejauh mata memandang. Secara topografi, Gorontalo berbentuk seperti mangkuk, daerah dataran rendah yang dikelilingi pegunungan. Tidak heran jika Gorontalo sering menjadi langganan banjir, apalagi jika hutan-hutan di pegunungan tidak terjaga dengan baik.

Selain jalan tersebut, sebenarnya ada juga jalur lain ke Limboto, yaitu jika kendaraan yang mengangkut kita memilih jalan yang tidak terlalu ramai. Saya sendiri lebih senang melalui jalur ini. Selain pemandangannya yang lebih indah (setidaknya menurut saya), kita bisa menikmati Danau Limboto yang terkenal itu. Selain itu, yang membuat saya senang lewat jalan ini adalah banyaknya penjual ikan di pinggir danau yang menjual ikan segar khas Danau Limboto, sehingga saya senang membeli ikan sepulang dari bandara. Ikan-ikan ini dibawa oleh nelayan di sekitar danau, baik ditangkap liar maupun dari kerambah yang mereka rakit di tengah danau. Salah satu ikan khas Limboto adalah Ikan Hulu’u, yang semakin hari semakin mahal sebab sudah mulai langka. Kata orang Limboto, jangan pulang sebelum mencicipi Ikan Hulu’u ini. Biasanya, ikan ini digoreng hingga garing ataupun ditumis kunyit (tilumiti). Hmm, sedap.

Melewati Isimu, kita memasuki Limboto. Biasanya, orang-orang yang pertama kali datang di Gorontalo tidak akan menyadari batas antara Isimu dan Limboto sebab memang seperti tidak berbeda. Mereka baru akan menyadari bahwa kita telah berada di Limboto ketika melihat menara Limboto yang terletak di pusat kota Limboto. Menara khas ini berbentuk serupa dengan menara Eiffel di Paris, Perancis. Hanya saja ukurannya yang jauh lebih kecil. Entah apa latar belakang kemiripan menara Limboto dengan menara Eiffel, hal itu masih misteri. Tetapi dalam penelitian ini, justru hal itu merupakan salah satu misteri yang harus dipecahkan dalam membingkai profil Kota Limboto. Namun menariknya, menara Limboto inilah pusat keramaian dimalam hari. Banyak warga lokal bercengkerama di taman yang terletak bersebelahan dengan menara ini. Selain itu, banyak penjaja makanan, minuman, dan gorengan bertebaran sehingga cukup asyik untuk dijadikan tempat nongkrong. Inilah asyiknya kota kecil, karena belum ada mall yang megah, warga justru memanfaatkan keberadaan tempat wisata lokal untuk bercengkerama. Hal ini sebenarnya cukup menguntungkan secara ekonomi maupun kultural. Disatu sisi, para pedagang diuntungkan karena dagangan mereka laris manis, utamanya di malam minggu atau hari libur lainnya, warga juga memiliki tempat refreshing dari kepenatan kerja sehari-hari. Di sisi lain, banyaknya jajanan lokal dapat memperkenalkan Limboto kepada
orang luar mengenai kekhasan makanan dan minumannya. Biasanya, orang lokal akan membawa tamunya untuk sekedar nongkrong di tempat ini.

Limboto merupakan kota yang cukup ramai. Bahkan keramaian pertama yang kita temui di Gorontalo adalah Limboto, sebelum memasuki Kota Gorontalo. Kota ini telah bertransformasi menjadi kota dagang. Geliat kota baru sangat terasa atmosfirnya jika kita memasuki Kota Limboto. Hampir di sepanjang jalan tersedia cukup banyak toko dengan berbagai macam usaha. Salah satu yang paling khas tentunya adalah bentor. Akan tetapi, berbeda dengan bentor di Medan, dimana motor ditaruh di bagian depan dengan model motor sebagai penarik kereta, bentor di Gorontalo motornya dirangkai dibelakang sebagai pendorong kereta. Bentor merupakan kendaraan umum yang utama di Gorontalo, termasuk Limboto. Karena kekhasan dan pentingnya, Pemerintah Gorontalo sampai membuat perda khusus tentang bentor. Menggunakan bentor bisa lebih hemat bisa juga tidak. Sebab bentor sebenarnya merupakan kendaraan jarak pendek. Untuk lintasan dalam kota, biasanya hanya dikenakan tarif Rp.3000 per orang. Namun untuk jarak jauh sebaiknya naik angkot atau taksi saja. Hanya saja, kadang-kadang bentor cukup menjengkelkan bagi pengguna jalan lain. Sering parkir serampangan, bukan hanya di bahu jalan tapi bahkan kadang sampai hampir menutupi jalan raya, apalagi jika ada hajatan di kota. Selain itu, bentor juga sering ugal-ugalan di jalan dan berbelok tanpa menggunakan lampu sen (istilah bagi orang gorontalo untuk lampu weser). Ada anekdot mengatakan, “yang tahu kapan oom bentor berhenti cuma dua, hanya dirinya dan Tuhan”. Namun, terlepas dari itu semua, umumnya supir bentor
merupakan orang yang cukup asik diajak ngobrol, apalagi ngobrol politik. Menarik memang, di Gorontalo ini banyak pengamat-pengamat politik. Mungkin karena sering bersosialisasi, orang-orang Gorontalo cukup senang berbicara politik. Hal ini sebenarnya cukup bagus karena membuat masyarakat melek politik. Namun sayangnya tidak diimbangi dengan media yang beredar. Di Gorontalo, umumnya hanya dua media cetak yang dikenal warga lokal yaitu Gorontalo Pos dan Radar Gorontalo, serta satu TV yaitu Mimoza TV. Kurangnya media ini membuat sedikit pilihan berita yang berimbang mengenai pemerintahan, sehingga pemberitaan cenderung satu arah. Padahal, dengan modal ‘ahli ngobrol’, sebenarnya menjadi peluang besar bagi Pemerintah Gorontalo untuk menciptakan masyarakat yang cerdas dan kritis.

 

limboto

 

Kota Limboto sendiri memiliki potensi perkembangan yang tidak kalah dari Gorontalo. Hampir semua fasilitas tersedia disini. Mulai dari pusat perbelanjaan, rekreasi, bahkan rumah sakit. Untuk hal terakhir ini cukup unik, karena bangunan yang dijadikan rumah sakit dulunya sedianya akan dijadikan Mall, tapi tidak laris. Menjadikannya seperti judul lagu Ruth Sahanaya, ‘layu sebelum berkembang’. Selain itu, terdapat Universitas Gorontalo, universitas yang setengahnya swasta setengahnya lagi Pemda sebab sebagian aset kampus (bahkan dosennya), milik Pemda Gorontalo. Hal inilah yang membuat saya yakin, bahwa Limboto memiliki potensi untuk berkembang menyaingi dan menyandingi kota Gorontalo, agar pembangunan lebih merata, sehingga orang-orang di sekitar Limboto tidak mesti merantau ke kota Gorontalo untuk mencari sesuap nasi, apalagi menjadi oom bentor.

Peserta Program Pelatihan Penelitian Kelas 2013/2014, dan Anggota Tim Peneliti Kota-kota di Sulawesi Yayasan Interseksi