Makassar

“Sejumlah kelompok mahasiswa terlibat tawuran. Tidak ada informasi pasti penyebab tawuran tersebut.” Mungkin potongan kalimat tersebut seringkali muncul di beberapa media, dan hadir di kepala kita menjadi ingatan. Mungkin itu juga ingatan kita tentang Makassar. Mengapa?

Mungkin hampir bisa dibilang sebuah “kecelakaan” ketika saya memilih tawuran mahasiswa di Makassar sebagai ide filem yang saya buat di sini. Karena sebelum memilih ide tersebut, saya pribadi berangkat ke Makassar ingin membuat karya visual tentang sepakbola, entah dari segi apa. Itupun dengan kekurangan materi riset bertema sepakbola. Maklum saya peserta terakhir dari workshop Cross-Culture Video Making Project For Peace: Crossing Boundaries 2010, Yayasan Interseksi.

Ya, ide ini datang ketika saya berbincang dengan Pak Halilintar Latief. Tanpa sengaja obrolan yang bertempat di Rumah Nusantara itu mengarah ke situasi panasnya pasca penyerangan kampus. Apalagi ditambah ada tiga atau empat mahasiswi yang sedang mencari persembunyian yang aman untuk dirinya. Ternyata situasi pasca tawuran antar-mahasiswa dan keributan disertai pembakaran gedung membawa dampak ke setiap mahasiswa dan mahasiswinya. “Bayangkan, para mahasiswa dan mahasiswi dicari oleh sebagian kelompok yang tak dikenal sebagai aksi balas dendam karena kematian Dodo Rifaldi. Kelompok ini diduga masih terikat dalam hubungan kerabat keluarga dan teman satu fakultas si korban”, katanya pada obrolan sore itu.

Saya pun tak tahu harus berkata apa, selain mendengarkan. Di kepala saya hanya berfikir “gawat juga ya, situasi untuk para mahasiswa di UNM”. Karena hal inilah saya mengubah tema yang sebelumnya tentang sepakbola menjadi tawuran antar mahasiswa. Walau saat itu saya tidak tahu harus memulai dari mana.

Di hari berikutnya, keigintahuan tentang kejadian tawuran itu semakin menjadi-jadi. Dalam beberapa hari pertama saya di Makassar, sedikit banyak saya berbincang dengan warga lokal. Sepertinya, bagi masyarakat kota Makassar tawuran antara mahasiswa dengan aparat kepolisian sudah dianggap hal yang biasa dan lumrah, apalagi tawuran antar mahasiswa yg berasal dari fakultas yang berbeda. Pemandangan itu dapat disaksikan di jalan-jalan protokol atau depan kampus saat aksi demonstrasi berlangsung. Jurus lempar batu pun menjadi andalan jika aparat berusaha membubarkan aksi mereka.

Pemandangan tersebut juga dapat kita saksikan menjelang prosesi penerimaan mahasiswa baru, atau menjelang kegiatan atau agenda besar kampus. Sebut saja misalnya suksesi pemilihan Rektor, ketua senat atau BEM, Himpunan Mahasiswa, dsb. yg berkaitan dengan politik kampus. Tradisi itu pun berlanjut sampai saat sekarang.

“Kemudian kenapa wilayah kampus?” Pertanyaan ini seringkali keluar dari mulut saya. Beberapa mahasiswa juga tidak bisa menjawabnya. Hal ini memang sudah terjadi secara turun temurun. Angga (teman baru saya di Makassar) mengatakan, “saya sejak masuk kampus sudah diajarkan untuk itu. Pengaruh doktrin, senioritas, tak adanya pihak kampus yang seakan peduli. Jadi tradisi (saling) memusuhi antar fakultas tak pernah hilang. Tetapi terkadang memang lucu, kalau sedang berkelahi ya dia berkelahi antar fakultas. Tetapi kalau tidak dan sedang berada di luar dia bisa berteman baik. Itulah yang tidak dimengerti.” Memang kalau dipikir pertanyaan ini bukanlah untuk di jawab, tetapi mungkin sebagai refleksi atas yang melihatnya.

KALAU MAHASISWA TAWURAN ITU MAH BIASA…KALAU TUKANG BECAK YANGG TAWURAN ITU YG LUAARRRR BIASAAA…

Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo, misalnya, melalui VIVA news mengatakan prihatin dengan kekerasan yang sering terjadi di tingkatan mahasiswa. Apalagi, konflik sering dipicu persoalan sepele, tapi citra pemerintah yang jadi taruhan. “Saya khawatir, aksi anarkis itu menjadi kebanggaan. Ironisnya, itu dilakukan oleh masyarakat ilmiah,” kata Syahrul. Menurut Syahrul, sebenarnya konflik yang berimbas pada tawuran dan melibatkan massa secara masif itu hal biasa. Namun, karena kejadiannya selalu terulang, lama-lama menjadi luar biasa. “Dalam satu bulan itu bisa terjadi berkali-kali, dari kampus satu ke kampus lainnya,” kata Syahrul. Konflik semacam ini imbasnya sampai merusak infrastruktur publik, seperti membakar kampus sendiri, melukai, bahkan membunuh rekan sendiri.

Benar sekali, ujung dari tawuran mahasiswa di Makassar kali ini adalah tewasnya salah satu mahasiswanya. Tawuran disertai perusakan seringkali terjadi, bahkan sampai jatuh korban luka-luka. Baru kali ini ada yang meninggal. Seakan menjadi klimaks dari beberapa kejadian sebelumnya. Korban yang merupakan mahasiswa Jurusan Teknik Otomotif Dodo Rifaldi (20) warga Jalan Paopao, dan Suardi bin Amirudin warga Jalan Muhjirin Nomor 23 Makassar. Dodo Rifaldi mengalami luka pada bagian kepala dan punggung karena terkena sabetan parang.

Dari sekelumit kejadian demi kejadian, saya mulai bergegas menentukan frame ide. Kalau sebelumnya saya berasumsi lebih banyak dari pihak masyarakat, lantas bagaimana dengan mahasiswanya sendiri yang masih aktif di kampus? Petualangan investigatif pun seakan dimulai. Obrolan tentang ingatan ini bagaimana jadinya kalau dibingkai? Hal inilah yang menjadi dasar selama proses pengambilan gambar di Makassar. Tetapi, ternyata itu pun tidak semudah membalik telapak tangan. Karena rasa kecintaan pada fakultas dan kesetiakawanan, beberapa mahasiswa tidak mau untuk berbicara atau menyatakan pendapatnya mengenai keributan yang terjadi seminggu sebelumnya.

Perjuangan untuk mendapatkan obrolan yang bisa menceritakan dengan baik tentang kejadian tawuran tersebut tampaknya memang membutuhkan waktu yang panjang. Padahal saya di sini hanya sepuluh hari. Hari berlanjut, tanpa sengaja saya dan Angga mendatangi sebuah kontrakan perempuan. Akhirnya, obrolan yang selama ini saya inginkan terjadi di ruangan yang tak begitu besar itu. Boleh dikatakan sedikit magic moment, tanpa di tanya mereka menceritakan kejadian demi kejadian tersebut, dan bagaimana situasi begitu mengerikan bagi mereka saat itu. Semua ini terekam dalam bingkaian kamera saya, tanpa kecuali. Mungkin memang inilah dokumenter, banyak sekali kejutan dan magic moment yang tak bisa kita duga.

PASCA PRODUKSI

Setelah melewati sepuluh hari melakukan proses pengambilan gambar dan riset, tibalah waktu untuk menggabungkan kepingan bingkaian ini menjadi suatu ide film. Selama berlangsungnya proses pengambilan gambar di Makassar tentang situasi tawuran ini, sebelumnya saya memang sudah mempunyai ide cerita tentang kemana kepingan bingkaian in akan dibawa: yakni ide tentang ingatan dan situasi.

Karena ide itulah, dalam proses produksi pengambilan gambar saya dan kamera lebih terlihat “menginvestigasi”. Beberapa pertanyaan seputar pasca kejadian dan situasi saat itu saya coba hadirkan kembali ke dalam ingatan beberapa para-mahasiswa. Kumpulan obrolan inilah yang menjadi ide untuk menjelaskan tentang bagaimana peristiwa dan situasi yang terjadi saat itu. Ketika rasa cemas serta ketakutan seakan membayangi para mahasiswa.

Tetapi setelah memasuki proses editing, ketika semua kumpulan potongan bingkaian masuk kedalam layar monitor komputer, semuaide tadi menjadi hilang. Setelah melakukan proses kurasi obrolan, saya lebih memilih obrolan di kontrakan mahasiswi. Entah mengapa, tetapi saya melihat obrolan itu terlihat lebih cair, seakan rasa kekhawatiran dan ketakutan muncul di diri mereka. Suara spontanitas yang keluar dari mulut narasumber memberikan kesan “dramatik” dalam situasi saat itu.

Jadi, selama proses editing bingkaian tentang obrolan menjadi fokus saya. Karena obrolan inilah yang menjadi master shoot saya. Maka, obrolan yang kurang lebih berdurasi 30 menitan saya potong-potong menjadi satu gagasan obrolan yang utuh untuk membangun cerita di film.

Mungkin beberapa kekurangan terjadi dalam bingkaian bangunan rusak serta hancurnya “tembok Berlin” pemisah fakultas. Seharusnya ini menjadi bingakain yang lebih bercerita melalui visualnya. Tapi bingkaian itu tidak terlalu kuat untuk hadir dalam filem tersebut.

Tiga-empat hari melakukan editing, offline film-pun akhirnya rampung. Offline yang berdurasi hampir duapuluh menitan mengalamai sedikit revisi dari Hafiz agar lebih dramatik. Karena ceritanya masih terlihat datar dan basa-basi, khususnya di dalam obrolan. Pemotongan beberapa obrolan pun dilakukan samapi akhirnya film ini menjadi utuh dan berdurasi sekitar empatbelas menit.

Di workshop ini saya mendapat pengalaman baru terutama selama melakukan proses produksi pengambilan gambar. Dengan waktu yang sempit, saya melalukan proses penelusuran gambar investigatif hampir sendirian. Walau memang ada seorang teman lokal menemani, tetapi proses kreatif ada di tangan saya. Maka pengalaman ini menjadi berharga buat saya.

Peserta Program pelatihan Cross-Culture Video Making Project For Peace: Crossing Boundaries 2010, Yayasan Interseksi