Maros Pilihanku

Saya baru bergabung dalam tim peneliti Kota-kota Sulawesi pada Maret 2014. Beda dengan waktu ikut pelatihan penelitian, start secara normal atau dimulai sesuai dengan jadwal yang ditetapkan the Interseksi Foundation. Ibarat pesawat terbang, saya baru mau lepas landas ketika lainnya sudah mengangkasa. Namun, bagi saya, perkara ini bukanlah soal cepat atau lambat memulainya, namun soal kualitas dan banyaknya temuan data diperoleh. Pesawat Airbus superjumbo A380 yang memiliki empat mesin pun mampu dipepet jet tempur.

Dibanding dengan teman-teman peneliti lainnya, saya hanya tak melewati reading course yang diselenggarakan setiap Rabu,. Namun, saya sempat mengikuti satu “episode” reading course usai mengikuti workshop penulisan laporan, medio Januari 2014, di GG House, Bogor disambung di kantor Interseksi di Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Pengalaman dan pengetahuan diperoleh dari penelitian tahap pertama setidaknya bisa menjadi bekal untuk memulai tahap kedua.

Masih pada Maret, suatu sore, sepulang dari tempat peliputan, sepulang dari tempat peliputan, saya mendapat telepon dari Chairperson Interseksi, Pak Hikmat Budiman. Sempat menyangka telepon itu hanya untuk menanyakan kabar atau rencananya berkunjung ke Makassar. Bahkan sempat pula terpikir ada yang salah pada laporan penelitian saya. Ternyata yang datang justru tawaran untuk bergabung dalam tim peneliti Kota-kota Sulawesi. Setting lokasi penelitian masih di Sulawesi Selatan, provinsi di mana saya terdaftar sebagai penduduknya.

Semula penelitian di Sulawesi Selatan akan dilakukan oleh Panji, namun saat program ini akan mulai dijalankan, dia resign. Demikian informasi yang salah peroleh. Panji, awalnya akan meneliti soal pengaruh patron klien di Kabupaten Gowa. Beberapa hari sebelum resign, Panji meminta dipandu terkait dengan sejumlah informasi awal soal demokrasi dan demografi Gowa. Penelitian soal patron klien di Gowa masih linear dengan penelitian saya soal politik kekerabatan Yasin Limpo. Setting lokasinya sama-sama di Gowa, kabupaten yang dalam perspektif saya kondisi kehidupan berdemokrasinya sangat buruk.

Kali ini, penelitian bukan lagi di Gowa. Pak Hikmat sempat menanyakan kemungkinan penelitian di sejumlah kabupaten sebagai lokasi penelitian. Mulai dari yang jauh dari Makassar, semisal Parepare dan Bone. Tapi saya bermukim dan bekerja di Makassar. Jarak Makassar dengan Bone atau dengan Parepare sekitar 140 kilometer. Perjalanan ditempuh selama empat jam atau lebih.

Profesi sebagi jurnalis menuntut jam kerja ekstra setiap harinya. Hari kerja pun demikian. Tak boleh meninggalkan Makassar jika tidak dalam status cuti, libur, atau dinas luar kota/negeri. Jika memilih setting lokasi penelitian di Bone atau Parepare, risikonya harus meninggalkan Makassar selama beberapa hari atau harus meninggalkan tugas kantor. Lalu, lokasi penelitian bergeser ke daerah yang dekat dengan Makassar agar mudah dijangkau.

Pak Hikmat menimbang Takalar, saya menawarkan Jeneponto. Kedua daerah itu tak disepakati. Saya menawarkan Jeneponto karena patron klien masih kental dan persoalan kemiskinan. Pilihan akhirnya jatuh pada Kabupaten Maros yang dekat pula dengan Makassar. Jarak Makassar dengan dengan Turikale, ibu kota Kabupaten Maros hanya 30 kilometer. Perjalanan dapat ditempuh selama 30 menit hingga 1 jam.

Bagi saya, Maros lebih ‘sreg’ ketimbang Takalar, Jeneponto, maupun Gowa. Ada kedekatan kultural. Bukan maksud sentimen suku maupun etnis. Maros sering saya kunjungi maupun sekadar melintas. “Di Maros, ada banyak teman di pemerintahan, setidaknya kalau ada kesulitan dalam penggalian data, bisa menggunakan jalur intervensi birokrasi,” ujar saya berargumentasi kepada Pak Hikmat. Di sela-sela waktu liputan, saya bisa menyempatkan waktu ke Maros hanya sekadar melihat kondisi terkini maupun mengumpulkan informasi lebih banyak. Dinamika kehidupan di Maros menarik. Penduduk Maros merupakan buah akulturasi Bugis dengan Makassar. Pembangunan di sini juga lebih pesat ketimbang di Gowa dan Takalar.

Peserta Program Pelatihan Penelitian Kelas 2013/2014, dan anggota tim peneliti Kota-kota di Sulawesi, Yayasan Interseksi