Membuka Jendela dari Balla

Balla adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Mamasa yang jaraknya sekitar 12 km sebelum memasuki pusat kota Mamasa. Ini merupakan tempat pertama yang saya kunjungi di Mamasa, mengikuti saran Prof. Dr. Halilintar Latief, Antropolog dari Universitas Negeri Makassar (UNM), yang juga pernah melakukan penelitian di Balla, tepatnya di Dusun Batarirak Desa Balla Satanetean, Kecamatan Balla. Awalnya saya merasa bahwa Balla itu bukanlah tempat yang tepat menjadi salah satu lokus untuk penggalian data penelitian saya, namun nyatanya Balla merupakan tempat strtategis dan menjadi jendela informasi untuk memahami peta persoalan di Kabupaten Mamasa pada umumnya.

Pertempuran Kecil di Batarirak

Rasa senang dan sesal bercampur-baur dalam hati saya saat menginjakkan kaki di dusun Batarirak. Saya merasa senang karena masuk ke dalam suatu pemukiman yang bagi saya ‘baru’, suasana perkampungan yang tenang, asri, dan eksotik. Dusun Batarirak dihuni sekitar 60 rumah, masing-masing rumah umumnya berkelompok-kelompok dalam satu gugus kecil yang satu sama lain masih berjauhan. Satu gugus rata-rata terdiri dari 5-10 rumah yang biasanya dihuni orang-orang yang masih memiliki pertalian darah yang dekat. Seperti rumah yang saya tempati, rumah keluarga besar bapak Deppauta dan ibu Langi Kaimpun. Kanan kiri rumah adalah rumah milik saudara dekat –adik dan kakak serta kemenakan– bapak Deppauta. Rumah-rumah yag ada mirip seperti model Toraja dan berderet rapi. Rumah kayu bertingkat dengan atapnya yang khas melengkung seperti tanduk kerbau. Gugus-gugus perkampungan itu nyaris tidak tampak dari kejauhan karena gugus-gugus rumah dan dusun itu dikelilingi sawah-ladang dan hutan pinus, serta sejumlah tanaman perkebunan, terutama kopi dan kakau. Batarirak sungguh merupakan dusun yang asri, cantik, sejuk dan menyenangkan!

Namun, di tengah rasa senang, keraguan dan kegalauan segera menyergap. Kegalauan pertama saya rasakan saat melihat “nasib” HP saya yang sejak tadi sudah mati karena lowbat. Padahal ternyata jaringan listrik di sini sedang bermasalah dan dengan begitu saya tidak akan bisa nge-charge HP entah sampai kapan, alias tanda-tanda komunikasi akan terhambat. Menurut pak Aruen, sejak Mamasa dimekarkan, listrik masuk dusun itu hanya janji-janji politik saja tapi sampai saat ini belum terrealisasi. Melalui program PNPM Mandiri pemerintah memang sudah memberikan turbin listrik ke sejumlah dusun, termasuk ke dusun Batarirak. “Tapi sudah cukup lama turbin ini rusak dan hingga kini belum juga ditangani,” tambah pak Aruen.

Kebutuhan akan listrik kini telah menjadi sesuatu yang primer, tentu tidak saja sebatas untuk penerangan. Dalam konteks tugas pekerjaan saya saat ini, HP, laptop, kamera, dan sebangsanya hanya akan menjadi benda rongsokan tak berguna manakala aliran listrik tak menyala. Rasa gundah-gulana semakin bertambah mengingat akses perjalanan yang rumit dari dusun ini ke pusat kota Mamasa dengan jarak lumayan jauh, sekitar 16 km. Padahal saya punya banyak keperluan untuk mendatangi sejumlah informan, mulai dari bupati, DPRD, KPU, BPS, Dinas-dinas SKPD prioritas, dan sejumlah masyarakat dari berbagai profesi. Saya mulai merasa berada di tempat yang kurang tepat, tidak cocok antara lokus dengan fokus penelitian yang akan saya lakukan. “Tempat ini mungkin lebih cocok jika saya melakukan penelitian antropologi atau etnografi.” gumam saya dalam hati.

Kokok ayam mulai bersahutan dengan lolongan anjing seperti petanda pergantian siang menyongsong petang. Senja di Batarirak tampaknya akan segera tenggelam ditelan kegelapan malam. Saya sudah menyiapkan sejumlah lamunan untuk menemani sunyi malam ini. Saya kemudian merebahkan badan di bagian tengah rumah yang sudah tersedia tikar besar dengan sejumlah bantal dan beberapa kain sarung khas Toraja-Mamasa. Letih juga rasanya setelah menempuh perjalanan hampir seharian dengan kondisi jalan yang amat buruk. Keinginan untuk mandi sore terpaksa saya urungkan, selain karena cuaca yang amat dingin, saya juga baru tersadar ternyata saya tidak punya handuk lagi. Satu-satunya handuk yang saya bawa tertinggal saat menginap di rumahnya Hamzah di Polewali Mandar. Lengkaplah sudah kegundahan dan kegalauan itu menemani lamunan dan rencana-rencana strategis penggalian data penelitian yang terus saya pikirkan.

Pak … pak … bapak diminta turun sama pak Aruen.” tiba-tiba suara anak kecil membuyarkan lamunan saya. Saya bergegas keluar dari tengah rumah bagian atas tertatih tatih menuruni tangga rumah. Di depan rumah besar samping rumah Pak Deppauta ternyata sudah banyak orang. “Sebentar malam akan ada pertemuan, ada sosialisasi dari Caleg Partai Golkar. Mungkin sebentar lagi rombongan tamu akan datang, kalau pak Sofian mau ikut acara, silahkan.” ujar pak Aruen. Beberapa warga sudah berkerumun di halaman depan rumah utama yang memang biasa digunakan untuk rapat-rapat kampung. Sejumlah orang sibuk menyiapkan beberapa petromak untuk penerangan jalan menuju rumah adat dan di dalam ruangan atas rumah adat yang akan digunakan untuk rapat.

Tidak lama kemudian, rombongan tamu yang dinanti datang juga. Ibu Yohana Victor Paotonan adalah Caleg Partai Golkar untuk Provinsi Sulbar dari Dapil Kabupaten Mamasa. Camat Kecamatan Balla dan Kepala Desa Balla Satanetean serta beberapa perangkat desa turut dalam rombongan itu. Pak Aruen memperkenalkan saya kepada para tamu yang datang. “Ini kebetulan ada kawan peneliti dari Jakarta.” kata pak Aruen kepada pak camat dan Ibu Yohana yang ternyata masih saudara kandung, kakak-adik.

Satu per satu para tamu itu naik menyusuri tangga rumah memasuki ruang utama rumah adat itu. Para warga juga satu persatu mengikuti, mengantri satu per satu menapaki anak tangga naik menuju ruang pertemuan rumah adat yang ada di bagian atas rumah. Saya sengaja memilih masuk belakangan, selain sambil mengamati lingkungan sekitar juga agar bisa mengambil gambar lebih leluasa. Tapi sayang, sejumlah photo yang saya ambil gambarnya tidak memuaskan karena flash kamera di ipad saya kurang begitu bagus kalau digunakan pada malam hari. Apalagi suasana ruangan pertemuan itu tampak temaram karena hanya disinari satu lampu petromak saja. Padahal banyak momen-momen bagus yang bisa diambil dan diabadikan.

Pak Camat dan pak Kepala Desa bergantian menyampaikan sambutan yang intinya memberikan pengantar untuk Ibu Yohana Victor Paotonan, Caleg Partai Golkar melakukan sosialisasi menyampaikan visi-misinya. Belakangan saya baru tahu ternyata istilah sosialisasi itu hanyalah kata lain dari kampanye, tapi para caleg di sini memang lebih banyak menggunakan kata sosialisasi ketimbang kampanye. Ibu Yohana menyampaikan beberapa hal, terutama soal pembangunan kampung, persaudaraan, dan soal keterwakilan perempuan. Setelah itu, pak camat dan pak kades menghimbau semua hadirin untuk membantu mendukung Ibu Yohana. “Ini saya berbicara bukan atas nama camat, tetapi sebagai saudara dari semua warga di sini, mohon bantuan dan dukungan semua warga untuk kesuksesan Ibu Yohana dalam Pemilu besok.” ujar pak camat yang kemudian diamini warga secara kompak dan semangat.

Asap rokok terus mengepul, membumbung memenuhi ruangan yang terasa makin pengap. Semua orang tampaknya tidak ada yang tidak merokok, kecuali hadirin perempuan. Ada hidangan kue-kue, kopi panas, dan dua merk rokok yang dibagikan, Urban Mild dan “GESS Executive” yang masing-masing hadirin mendapat bagian satu bungkus rokok, termasuk saya dan hadirin perempuan pun kebagian jatah satu bungkus rokok. Obrolan terus berlanjut yang sebagian besar memakai bahasa lokal. Sesekali terdengar yel yel “Mama Elva” “Bu Yohana” “Partai Golkar” dan yel yel lain yang tidak saya mengerti. Saya juga baru tahu belakangan ternyata “Mama Elva” itu adalah sebutan lain untuk “Ibu Yohana”. Acara diakhiri dengan doa singkat dan kemudian ditindaklanjuti dengan pembentukan tim kecil, semacam tim sukses yang akan mendata para pemilih potensial yang diperkirakan akan memberikan dukungan suara kepada ibu Yohana.

Tidak sampai pukul sembilan malam acara sudah selesai dan para tamu pun sudah pulang semuanya. Para warga dusun yang masih bertahan di ruangan itu terus melanjutkan obrolan. Obrolannya lebih banyak yang tidak saya mengerti karena memakai bahasa lokal. Namun lama-lama, sedikit demi sedikit saya menjadi paham apa yang diobrolkan, apalagi setelah diperjelas maksudnya oleh pak Aruen. Intinya, masyarakat sudah tidak mau lagi dibodohi dengan janji-janji manis dari para elit politik yang datang untuk berkampanye. “Ya, kalau lagi musim begini mereka semua tampak sangat baik karena memang butuh dukungan kami, tapi nanti kalau sudah terpilih semuanya lupa.” kira-kira begitu inti obrolan warga setelah para tamu pulang. “Kalau mereka datang ke sini kita hormati saja mereka sebagai tamu, tapi soal suara bagaimana nanti saja.” ujar warga lain menambahkan.

Sejak masa kampanye dimulai memang sudah beberapa caleg dari berbagai partai yang datang ke Dusun Batarirak. Nada-nadanya hampir sama, mereka datang mengaku sebagai saudara dan meminta dukungan warga. Setelah Ibu Yohana dari Partai Golkar itu, masih akan ada caleg lain dari partai lain juga yang akan melakukan agenda yang sama, sosialisasi dan kampanye di dusun ini. Karena itu sikap warga dusun terhadap para Caleg dari berbagai partai itu pun relatif sama. Di depan para caleg mereka tampak seperti bersemangat akan mendukung tapi di belakang, yaaa ‘Mamasa’: “mau-mau saya!” ujar salah seorang warga dusun berseloroh.

Kehadiran para caleg dari berbagai partai politik yang datang silih berganti ke Dusun Batarirak mungkin hanya potret kecil pertempuran partai politik di Mamasa. Namun menurut pak Aruen itulah gambaran umum situasi dan kondisi menjelang konstestasi politik elektoral di Mamasa. Model kampanye atau sosialisasi dengan mendatangi dusun-dusun, kelompok agama, kelompok adat, dan komunitas-komunitas lainnya merupakan agenda politik yang paling lumrah dilakukan. “Di Mamasa ini, dalam masa kampanye terbuka sekalipun hampir tak pernah ada kampanye terbuka dengan konvoi dan iring-iringan massa ke jalan raya. Karena medannya cukup sulit, di sini jarang ada pengerahan massa untuk kumpul di suatu tempat tertentu. Model kampanye yang paling efektif di sini ya seperti ini, para caleg dan partai datang ke setiap dusun, ke berbagai komunitas agama, adat, dan lainnya.” ujar pak Aruen menambahkan.

Setelah usai acara itu saya kembali ke rumah pak Deppauta, berjalan tertatih-tatih di tengah kegelapan dan beceknya jalanan. Petromak satu-satunya sudah padam, entah kehabisan minyak atau memang sengaja dipadamkan. Jalanan becek dan licin karena belum lama diguyur hujan. Di ujung rumah Pak Deppauta seorang anak kecil telah menunggu saya, memandu saya dengan senter kecil menapaki tangga rumah satu demi satu menuju rumah bagian atas. Saya kembali merebahkan badan di ruangan bagian tengah rumah yang sudah tersedia tikar besar dengan sejumlah bantal dan selimut tebal. Malam makin gelap, makin senyap, tapi mata saya masih sulit terpejam. Pikiran saya masih melayang-layang, tenggelam dalam lamunan panjang, mereka-reka rencana pencarian dan penggalian data esok hari. Tapi yang pasti, gundah-gulana dan kegalauan saya sudah mulai sirna sejak mengikuti acara tadi. Saya mulai merasa bahwa dusun ini pun ternyata tempat yang tepat untuk melihat konstelasi politik lokal di Mamasa. Pertempuran kecil partai politik di dusun ini dapat menjadi kunci pembuka, menjadi informasi awal yang bagus untuk melihat konstelasi politik yang lebih rumit di pusat kota Mamasa.

Dari Balla Menuju Kota

Kokok ayam kembali bersahutan menyambut datangnya fajar. Seberkas sinar tampak terlihat dari dinding kayu yang bolong, sinarnya semakin lama semakin terang pertanda pagi akan segera menjelang. Namun enggan rasanya untuk melepas selimut yang melilit di badan ini karena udara pagi ini terasa amat dingin. Tiba-tiba suara “Mama Citra”, adik Pak Aruen, membuat saya agak terperanjat. “Pak, ini kopinya silahkan diminum.” ujarnya sambil menyodorkan nampan besar yang berisi dua gelas kopi panas dan sepiring pisang goreng. Tak lama kemudian pak Aruen datang menemani saya minum kopi. Kami ngobrol sambil minum kopi dengan selimut yang masih terlilit di badan.

Pak Aruen kemudian menceritakan silsilah keluarganya, kakek-nenek serta ayah-ibunya yang merupakan orang-orang terhormat dan tokoh yang dituakan di dusun itu. Rumah-rumah yang berada di sekeliling rumah Pak Deppauta adalah rumah saudara-saudara dekatnya, kakak dan adik Pak Deppauta atau paman dan pakdenya pak Aruen. Keluarga Pak Deppauta dan Ibu Langi Kaimpun merupakan contoh keluarga yang sukses. Ditengah keterbatasan akses, mereka mampu menyekolahkan lima orang putra-putrinya hingga mengenyam pendidikan tinggi. “Puji Tuhan, anak-anaku semua bisa sekolah sampai ke perguruan tinggi.” ujar Ibu Langi Kaimpun seraya menunjuk foto-foto wisuda putra-putrinya yang terpajang di dinding rumah.

Tak lama kemudian “Mama Citra” datang lagi menghampiri seraya membawa bakul nasi. Tampak nasi beras merah yang masih mengepulkan asap panas. Tumis daun singkong, telur dadar, plus sambal tomat cabai merah kemudian memeriahkan hidangan sarapan pagi. “Ini beras kami tanam sendiri. Kami punya sawah cukup untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga, dulu bahkan bisa sisa banyak dan sebagian hasil panen bisa dijual.” ujar pak Deppauta yang kemudian turut sarapan pagi bersama. Nasi beras merah menu yang langka buat saya, karenanya, ini menjadi sarapan yang istimewa bagi saya. Tak kuasa rasanya untuk tidak mengulang, menambah lagi nasi plus tumis daun singkong dan sambal tomatnya yang aduhai rasanya.

Usai sarapan, kami beringsut menuju ruang depan, teras rumah bagian atas yang biasa difungsikan sebagai tempat untuk bersantai. Obrolan kami lanjutkan dengan Pak Aruen dan Pak Deppauta. Tidak lama kemudian Pak Thomas, adiknya Pak Deppauta datang dan disusul Demianus, kemenakan Pak Aruen yang baru saja lulus kuliah dari sebuah PTS di Makassar. Pak Thomas menuturkan bahwa meskipun Balla itu kecamatan kecil tapi saat ini hampir semua partai politik masuk. “Semua partai, 12 partai ada masuk di Balla. Lihat saja nanti di jalan semua bendera partai ada di Balla. Ini juga lebih meriah karena ada beberapa orang Balla yang menjadi caleg dari berbagai partai, ada dari PAN, PKB, Golkar, PKPI, dan Hanura.” tambah Pak Thomas.

Dalam pemilu lalu bahkan ada caleg orang Balla dari PPIB yang masuk menjadi anggota DPRD Kabupaten Mamasa. Sementara Demianus menuturkan bahwa pada masa awal pemekaran, Kecamatan Balla justru menjadi “pusat politiknya” Mamasa. “Bupati Mamasa pak Obednego Depperindang itu orang Balla. Pada saat itu, pejabat Kepala Dinas di Pemda Kabupaten Mamasa sebagian besar orang sini, orang Balla.” ujar Demianus. Sayangnya, pak Obed waktu itu keburu turun jabatan karena ada kasus. “Sebenarnya beliau itu orang baik, dia melakukan ini-itu bukan untuk kepentingan diri sendiri, tapi sangat nyata dirasakan hasilnya di sini. Kini setelah pak Obed turun, banyak orang-orang dekatnya yang dinon-jobkan. Sekarang tinggal satu orang saja pejabat di Pemda yang berasal dari Balla.” tambah Demianus yang mengaku pernah menjadi bagian dari Tim Sukses Obama, sebutan untuk pasangan Obednego Depparinding dengan David Bambalayuk dalam Pilkada Kabupaten Mamasa 2013.

Hari semakin siang, pak Deppauta dan pak Thomas sepertinya akan segera pergi entah akan ke ladang atau pergi untuk urusan lain. Di ruang itu tinggal kami bertiga: saya, Pak Aruen dan Demianus. Pak Aruen kemudian menanyakan detil rencana penelitian saya dan menawarkan kepada saya untuk tinggal selama sebulan di dusun ini, di rumah ini. Saya sebenarnya sangat senang tinggal di dusun ini, tapi karena akan banyak keperluan untuk wawancara dengan berbagai dinas di Pemda termasuk dengan pak Bupati, DPRD, KPU, BPS, dan sejumlah informan dari berbagai profesi maka saya putuskan untuk mencari penginapan sementara di pusat kota sembari mencari tempat kos murah-meriah sesuai budget. Pak Aruen ternyata punya banyak jejaring dengan sejumlah calon informan yang saya rencanakan, mulai dari orang KPU, partai politik, termasuk di beberapa dinas pemda. Beberapa informasi dasar yang penting juga banyak saya dapatkan dari Pak Aruen, termasuk isu-isu politik yang mulai memanas menjelang pemilu legislatif. “Nanti Pak Sofian diantar kemenakan saya saja, Demianus, biar dia juga sekalian belajar meneliti.” ujar Pak Aruen.

Setelah mandi dan berkemas saya pamit pada pak Aruen dan Ibu Langi Kaimpun yang masih ada di dapur. “Wahhh kok buru-buru Mas, kan ini aku lagi siapkan untuk makan siang.” ucapnya. Demianus sudah ada di bawah, rupanya sudah bersiaga memanaskan motornya. Sambil menunggu Demianus memanaskan motor, saya sempatkan berpamitan juga pada saudara-saudara Pak Deppauta yang rumahnya berdekatan. Di beberapa rumah yang saya lewati tampak ibu-ibu dan gadis muda yang sedang asyik memintal kain. Belakangan saya baru tahu informasinya dari Demianus bahwa tempat ini juga ternyata menjadi semacam “home industry” untuk kain sarung Toraja yang terkenal itu.

Tak lama kemudian, saya pun pergi meninggalkan dusun cantik itu menuju pusat Kota Mamasa berboncengan motor bersama Demianus. Meskipun hari sudah siang, tapi jalan masih sangat licin dan berlumpur. Sementara lobang-lobang besar masih menyisakan genangan air karena tadi malam hujan cukup besar. Mengendarai motor di sini harus super hati-hati. Karena menghindari lobang-lobang besar yang penuh genangan air dan lumpur, beberapa kali motor oleng seperti akan tergelincir jatuh. Sesekali saya juga terpaksa harus turun dulu karena ban motor selip. Sungguh kondisi yang sangat ironis, pemandangan kanan-kiri jalan yang sangat cantik tapi jalan yang kami lalui amat buruk.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 6 km kami sampai di ujung jalan desa itu, di pertigaan jalan yang tersambung ke jalan utama poros Polman menuju pusat kota Mamasa. Meskipun jalannya cukup besar –lebarnya saya perkirakan sekitar 8-10 meter– tapi kondisinya tidak jauh berbeda dengan jalan desa yang tadi saya lalui. Lobang-lobang besar yang digenangi air dan lumpur masih banyak dijumpai sepanjang jalan hingga perbatasan Kecamatan Balla memasuki Kecamatan Mamasa. Jalan bagus yang dibeton (bukan diaspal) mulus baru telihat beberapa kilometer saja sebelum memasuki kompleks Pemda Kabupaten Mamasa hingga ke kawasan pasar dan pertokoan yang merupakan pusat kota Mamasa.

Sekitar 6 km sebelum memasuki pusat kota Mamasa, di jalan poros Polman-Mamasa sebenarnya ada sejumlah kantor dinas yang dilalui. Kantor Bupati yang berada di tengah-tengah Kompleks Pemda dengan sejumlah dinasnya, Kantor DPRD, Dinas Pendapatan Daerah, Polres Kabupaten Mamasa, dan sejumlah kantor lainnya. Namun, karena ini hari minggu, saya hanya melihat-lihat saja dan kemudian meminta Demianus untuk berputar-putar ke jalan-jalan utama di pusat kota untuk melihat dan mengenal medan. Agenda utama sore ini adalah mencari penginapan sementara untuk rehat sejenak, mengendapkan catatan perjalanan menuju Mamasa dan sekaligus menyusun rencana kerja esok hari. Setelah mendapat informasi dan rekomendasi dari beberapa temannya, Demianus akhirnya mengajak saya ke “Guest House Mini” atau lebih dikenal sebagai “Losmen Mini” di Jalan Ahmad Yani. Seperti namanya, losmen ini memang sangat minimalis dan sederhana. Namun yang saya suka adalah tempatnya yang sangat strategis. Losmen Mini tepat berada di depan pasar, tempat segala manusia berinteraksi dan dengan begitu dapat menjadi jendela informasi berikutnya setelah Balla.

Associate Researcher, the Interseksi Foundation