Mencari Asisten Peneliti, Menemukan Sugeng

Aku di bangku paling belakang di bus warna merah yang menuju bandara Cengkareng, Tangerang, Banten, pada siang 5 Januari 2009. Aku duduk di situ karena itulah tempat yang tidak disukai banyak orang. Para penumpang biasanya memilih bangku depan atau tengah. Berbagai alasan mereka miliki untuk memilih barisan depan di bus antarkota ini, dan yang sering terlontar adalah masalah keamanan. Alasan mereka memang kuat, bukankah cerita kriminal dalam angkutan umum memang banyak dilakukan di barisan belakang. Dalam perjalanan yang agak istimewa ini aku sengaja memilih bangku belakang karena tak ingin terusik oleh penumpang lain, baik diminta bergeser tempat duduk maupun diajak ngobrol. Di belakang bus yang selalu ngebut itu aku mengaharapkan dapat menyusun kegiatan selanjutnya, saat tiba di Pulau Lombok: mencari asisten peneliti dalam tiga hari pertama.

Pada awalnya suasana bus yang gaduh sempat membuat aku tenggelam di dalamnya, yang penuh ketidaknyamanan. Memasuki pintu tol Serang Timur, Banten, suasana bus yang kuinginkan baru kudapatkan: ketenangan dalam ketegangan. Hampir sejam perjalanan aku asyik dalam alam bayangan tentang orang yang akan membantuku dalam penelitian selama sebulan di Lombok Utara. Paling tidak ada tiga kontak person yang kumiliki, sebagai alternatif asisten peneliti. Pertama, kontak person yang diberikan oleh M. Khoiron, Direktur Eksekutif Desantara. Kedua, kontak person dari Erasmus, aktivis AMAN, dan ketiga, kontak person dari Mas Ashar, teman kuliah istriku.

Hampir satu tahun tidak terlibat dalam aktivitas penelitian komunitas membuatku seperti melakukan penelitian yang pertama kali. Keraguan pada banyak hal menjadi kekhawatiran, tak aneh kebutuhan partner di lapangan sangat penting kurasakan. Apalagi meneliti di tempat yang belum kukenal betul dan masyarakatnya bahasa lokalnya masih kuat. Pikirku, tak mungkin aku dalam waktu singkat dapat mengenal daerah dan masyarakat setempat tanpa partner di lapangan. Idealitas tentang asisten peneliti tergambar dalam bayanganku: kenal lokasi dan kenal masyarakat dengan bahasanya. Lama kelamaan bayang-bayangku tentang asisten peneliti malah memunculkan ketakutan. Aku pun segera menghentikan bayangan tentang asisten peneliti, sekaligus mempersiapkan untuk turun dari bus. Tapi aku sempat berpikir (mengutip sebuah kalimat dalam novel Pram–mungkin), mengapa takut pada sesuatu yang belum ada.

Aku tidak membayangkan tentang penelitian dan asisten peneliti sampai kakiku menginjak tanah Pulau Lombok, pada jam 23.40 waktu Indonesia bagian tengah. Dalam perjalanan ini aku merasa rugi waktu, pertama karena pengunduran jadwal penerbangan selama hampir dua jam, dan kedua karena konversi waktu sejam lebih awal. Aku berpikir baik-baik saja dalam kekecewaan ini sampai check-in hotel di Jalan Airlangga, termasuk apa saja yang akan dicatat malaikat atas amal-perbuatan yang hilang sejam itu.

Pagi hari pertama di Pulau Lombok datang tanpa memberiku salam yang khas. Suara televisi yang tidak kumatikan semalam masih menyala kala aku terbangun. Seperti pagi-pagi biasanya kutemui. Bagai ciptaan yang terprogram, aku pun melaksanakan rutinitas seperti pagi-pagi pada umumnya. Aku sadar benar berada di Mataram setelah melihat kain tenun selimut kasur ciri khas Lombok berwarna biru dan mendengar obrolan orang-orang di luar kamar yang berbahasa Sasak. Saat bermalas-malasan di tempat tidur, sembari membaca-baca bulletin gratisan dari bandara, pesan singkat masuk dalam telepon genggamku. Rupanya pesan singkat berasal dari salah satu kontak person yang akan kutemui dalam tiga hari rencanaku di ibukota Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) ini. Ia, kontak person dari teman kuliah istriku dan sudah pernah menghubungiku saat di Serang, Banten. Isi pesan singkat kontak person yang tinggal di Lombok Utara: akan ke Kota Mataram menemui anaknya dan menemuiku. Seusai berbalas pesan singkat dan menemui kata sepakat akan tempat dan waktu bertemu, aku pun keluar kamar menyapa hari yang sudah tidak pagi lagi.

Lebih dari tiga kali aku keluar-masuk kamar. Keluar yang keempat kali, dengan membawa anak kunci di tangan kiri aku menuruni tangga menuju resepsionis. Perlengkapan yang kubawa dari rumah sudah kukemas seperti sedia kala saat akucheck out dari hotel yang membawaku kesan pada sinetron TVRI tahun 1980-an, Losmen, namun bedanya setiap kamarnya tertulis: Dilarang membawa tamu yang bukan muhrim.

Berada di gerbang hotel, beberapa tukang ojek dan pengemudi taksi menyapaku dengan ramah, tentunya untuk menawarkan jasanya. Karena tidak ada arah yang pasti kutuju sebelum bertemu dengan kontak person teman kuliah istriku aku pun menolak tawaran tukang ojek dan pengemudi taksi yang memang sudah terbisa mangkal di situ. Kulihat jam di telepon genggam menunjukkan pukul 09.30 (waktu Indonesia timur), berarti ada dua jam lagi sebelum bertemu dengan kontak personku. Kuputuskan pergi ke toko buku yang letaknya tak jauh dari hotel. Karena lokasi toko tidak tahu persis, aku pun beramah-tamah dengan orang di sekelilingku. Salah satu tukang ojek yang kutolak jasanya dengan ramah memberikan petunjuk dengan tepat. Bertemu dengan orang seperti ini membawaku kesan lagi bahwa di sini masyarakatnya baik. Kesan pertama masyarakat di sini (Lombok) masih baik kudapatkan saat menginjakkan seribu langkah pertama di pulau ini. Keluar dari bandara menuju hotel yang jaraknya kurang lebih 3 kilometer pada tengah malam aku sengaja berjalan kaki. Saat berjalan dalam temaram malam, perasaan takut akan banyak hal terkadang menyelimuti langkahku dari Jalan Udayana ke Jalan Airlangga. Cerita tentang Lombok yang banyak hantu, berita kriminalitas yang mewarnai media massa, anjing yang berkeliaran, dan orang-orang yang mabuk di jalanan sempat membuat bulu kuduku merinding. Ketakutan-ketakutan itu aku paksa pergi dari rasaku, walau dengan tenaga yang tak penuh lagi. Dalam tigapuluh menit lebih melawan takut inilah membawa kesan awal tentang Lombok yang masih baik, bersahabat, dan asyik untuk diteliti. Selain itu, seribu langkah awal menginjak kaki di Lombok ini juga untuk menghilangkan mitos-mitos tentang Lombok dan membawaku kesan pertama sendiri, serta menjadikan tanda akan bagaimana nantinya melakukan penelitian ini.

Di toko buku aku beli beberapa buku dan peta, sebagai bekal mengetahui budaya masyarakat lokal dan hadiah untuk anak calon asisten peneliti. Merasa persiapan ke komunitas telah sepenuhnya siap, aku menunggu calon asisten peneliti di warnet yang ada di Jalan Airlangga, Mataram. Dalam menunggu, dering pesan singkat telepon genggamku beberapa kali berbunyi, yang kebanyakan berasal dari pesan singkat calon asisten peneliti. Aku berbalas pesan singkat dengannya. Dan pada bunyi kelima, dering telepon masuk menggantikan dering pesan singkat, masih dari calon asisten peneliti. Karena ada gangguan pada operator seluler yang kupakai sejak tahun 2003, tidak dapat menerima teleponnya dengan baik, pun sebaliknya saat kutelpon dia tidak dapat menerimannya dengan baik. Kuputuskan mengirimkanp pesan singkat padanya lagi, yang intinya berisi tentang ciri-ciri performaku: mengenakan kaos hitam dan rambut dikuncir, yang berada di depan warnet dekat pintu gerbang hotel. Berbekal pesan singkat tersebut, dengan tidak sengaja aku telah memintanya mencari (meneliti), dan aku pun sibuk mencari posisinya di antara kerumunan Kota Mataram yang sedang lengang.

Bagiku, mencari asisten peneliti merupakan kerja pertamaku dalam penelitian ini di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, dan menunggu kontak person di urutan ketiga ini bagian dari kegiatan ini. Di antara lalu-lalang kendaraan di Jalan Airlangga semua kulihat dengan seksama, apalagi kendaraan yang berhenti di tepi jalan. Setiap pria dewasa yang melewati jalan raya ini kuduga sebagai teman kuliahnya istriku. Paling tidak ada 10 orang yang kutebak, dan tebakanku salah. Tiba-tiba mataku tertuju pada seorang pria yang sedang menuruni cidomo[1]. Mungkinkah ini, pikirku, dan ternyata tebakanku salah lagi. Angkutan kota yang masih menggunakan tenaga kuda tersebut oleh masyarakat Lombok hingga kini masih banyak diminati warga. Tak lama setelah aku memperhatikan penumpang cidomo, seorang pria mengendarai motor keluaran terbaru produksi Jepang berhenti dan terlihat mencari-cari sesuatu. Aku merasa tebakanku kali ini tidak salah, kontan aku berteriak menyebut namanya. Dan ia pun langsung menganggukkan kepala, sambil berkata inggih. Aku pun menghampirinya, berjabat tangang dan memperkenalkan diri secara langsung. Ia pun demikian, dengan senyum ramahnya ia mengucapkan namanya Sugeng. Terlaksana sudah kegiatan awalku di Mataram, Lombok, mencari calon asisten peneliti bernama Sugeng, kontak person dari teman kuliah istriku.

Calon asisten peneliti yang pertama kutemui bernama Muh. Sugeng Komari, SPd. Seorang guru seni di SMP N 3 Gangga, Lombok Utara. Kesan pertama bertemu dengannya bagai bertemu dengan seniman lokal di Jawa, yang giat berkesenian namun keseniannya sudah tidak diminati banyak orang. Seperti bertemu dengan pelaku seni Ngesti Pandawa di Semarang. Mereka terus berkesenian wayang orang meski penonton tidak banyak, dan gedung mereka pun beberapa kali berpindah (termarjinalkan oleh budaya popular modern). Dalam perkenalan selanjutnya ia suka menyebut dirinya brinthik, rambut keriting. Temannya teman istriku inilah calon asisten peneliti yang akan bekerja selama sebulan denganku.

Seolah mengejar banyak hal yang tertinggal, seusai perbincangan perkenalan, aku mengajak calon asisten penelitian pertama menuju perpustakaan Universitas Mataram, yang letaknya tidak begitu jauh dengan tempat kami bertemu. Ia sepertinya tidak pernah mengunjungi perpustakaan universitas, sehingga jalan menuju ke sana perlu bertanya pada orang. Karena tidak tahu lokasi perputakaan, aku sempat ragu akan pengetahuannya tentang penelitian. Tapi, ia punya cara/metode untuk menemukan tempat. Ibarat dalam proses pencarian asisten peneliti ada proses seleksi, maka Mas Sugeng (panggilanku terhadapnya) pada kegiatan ini telah mendapat dua nilai plus, pertama saat mencariku di depan warnet (nilai kegigihan, sabar), kedua dalam cara mencari tempat (nilai kreatif). Dalam perpustakaan Unram yang terlihat sepi pembaca aku tidak menemukan informasi yang mendukung penelitianku, walau petugas memberiku pelayanan optimal. Aku pun keluar menuju parkir motor, tempat Mas Sugeng menunggu. Sebatang rokok aku nyalakan untuk memikirkan kegiatan selanjutnya sesampai di sana sembari minta pendapat partner baruku, dan diskusi pertama dengan calon asisten peneliti terjadi di tempat parkir Unram. Diskusi-diskusi dengannya terus kami lakukan selanjutnya, termasuk dalam perjalan menuju tempat tinggalnya di Dusun Todo, Desa Bentek, Kecamatan Gangga, Lombok Utara. Dalam perbincangan di atas kendaraan roda dua yang melaju nyaman melewati jalan yang berkelok-kelok Mas Sugeng bercerita tentang apa yang ia lihat, apa yang ia alami, apa yang ia rasakan, dan apa yang ia dengar. Mendengar banyak hal yang ia ketahui aku menjadi menahan sedikit rasa ingin tahuku akan banyak hal yang ada di sini, menelan arus informasi/data dengan pelan-pelan dan tidak terburu-buru.

Satu jam lebih perjalanan kami dari Kota Mataram menuju Lombok Utara dengan motor membuat badanku terasa capek. Jalan yang di sisi kanan dan kirinya dihiasi bendera partai peserta pemilu 2009 tersebut terasa sangat jauh. Namun alam yang masih enak dipandang membuatku tidak bosan melaluinya.

Memasuki perkampungan yang tidak jauh dengan jalan raya, kami berhenti di sebuah rumah yang bentuknya unik. Karena bentuknya yang berbeda dengan rumah lain tersebut, aku menjadi selalu teringat akan focus penelitianku tentang rumah masyarakat Buda di Lombok. Berada dalam rumah yang dibangun atas jerih payahnya selama 10 tahun menjadi guru di Lombok, Mas Sugeng terus mengajak berbincang untuk mengakrabkan kami. Dan tak lebih dari sepuluh menit di rumah, di kampung, di desa ini saya merasa betah dan memutuskan tinggal di sini serta menetapkan Mas Sugeng Brintik menjadi asisten penelitiku. Artinya, aku memilih kontak person dari teman istriku, dan kontak person lain yang memang keduanya belum aku temui terpaksa kubatasi jasanya pada penelitian ini.

Tak lama berselang, datang tamu di rumah mungil dan antik ini. Ia seorang guru sejarah. Bertiga kami duduk di beruga. Beruga(kadang ditulis berugaq, bruga), sebuah tempat yang diciptakan untuk tempat berkumpul bersama, baik antaranggota keluarga maupun tamu yang datang. Beruga biasanya terletak di pelataran rumah, di depan maupun di samping. Bangunan yang khas Lombok ini kerangkanya terbuat dari kayu, atapnya terbuat dari dedaunan (kelapa, rumput gajah [namun beberapa sudah terbuat dari asbes atau seng]), dan tempat duduknya dari anyaman bambu (lasah)[2]. Selain berfungsi sebagai ruang keluarga dan ruang tamu, beruga juga berfungsi sebagai tempat ritual[3], dan tempat evakuasi kala bencana datang[4]. Pada awalnya yang disebut beruga hanya bangunan yang berkaki enam (sekenem), namun karena keterbatasan finansial warga bangunan berkaki empat (sekempat) pun kini juga disebut beruga. Di tempat duduk yang unik ini aku pun mempertegas apa yang akan kukerjakan dan kontrak sosial dengan Mas Sugeng. Intinya, mencari teman adalah tujuan utamaku, dan penelitian merupakan media untuk mempertemukan. Kami pun bersepakat, dan akan saling membantu dalam hal-hal sepatutnya dan semampunya.

Di beruga ini kami sering mengawali dan mengakhiri kegiatan. Pagi merencanakan kegiatan; siang, sore atau bahkan malam mengevaluasi apa yang sudah dikerjakan. Dalam melakukan peneltian ini, yang membantuku di lapangan tidak hanya Mas Sugeng, namun juga teman-temannya. Temannya teman istrikulah yang sejauh ini mempermudahku memahami, menemui narasumber, bersosialisi dengan warga setempat: Ada Pak Ali, Pak Toha, Pak Annas, Pak Sony, Pak Arif, dan Pak Eddy. Mereka sebagian besar adalah guru yang sudah lama mengabdi untuk kemajuan pendidikan di Pulau Lombok lebih dari 10 tahun. Peran penting dalam masyarakat telah menjadikan mereka sangat dihargai warga desa. Sehingga, dalam live-in di desa Bentek, sebagai pusat keberadaan masyarakat Buda, aku merasa sangat terbantu dalam memahami kesehariannya.

Atas kerjasama yang baik dengan asisten peneliti, Mas Sugeng dan teman-temannya, dalam dua minggu pertama, hampir semua narasumber yang memiliki informasi tentang keberadaan masyarakat Buda sudah aku ajak berbincang-bincang. Sengaja dalam penelitian ini aku gunakan istilah bincang-bincang, bukan wawancara. Tradisi bertutur/lisan masyarakat yang masih baik mendukungku dalam menggali data yang kubutuhkan, bahkan aku terkadang kewalahan menelan informasi-informasi yang terus mengalir dalam perbincangan. Tak jarang, hanya dalam sekali pertemuan mereka dapat memberikan data yang aku perlukan.

Cara yang aku gunakan untuk mendapatkan data tentang deskripsi kebu¬dayaan sebagaimana adanya rumah masyarakat Buda di Kampung Baru sini adalah live-in. Di Desa Bentek[5], aku lebih banyak belajar dari pemilik kebudayaan, dan sangat respeks terhadap cara mereka berprilaku sehari-hari. Pada saat menyusun desain penelitian, aku merencanakan seminggu melakukan penelitian di sekitar Kampung Baru (perpustakaan setempat, BPS, dll) dan tiga minggu di desa tempat Kampung Baru (live in). Namun dengan bertemu Mas Sugeng dan teman-temannya, yang tinggal di sekitar obyek yang kuamati, aku memutuskan live-in sejak hari kedua sampai satu bulan ke depan. Sedangkan untuk mencari data pelengkap (sekunder: buku, monografi, koran, dll), setiap Sabtu pagi atau ada keperluan yang lain aku pergi ke Kota Mataram.

Selama dua pekan lebih, saya mendapatkan data yang dapat digolongkan menjadi dua macam: data kualitatif dan data kuantitatif. Tinggal bersama masyarakat pada dasarnya merupakan suatu proses penyelidikan, yang mirip dengan pekerjaan detektif yang investigatif (Miles 1992). Dari “memata-matai”aku menghimpun data-data utama dan sekaligus data tambahannya. Sumber data utamanya kata-kata dan tindakan sehari-hari warga, sedangkan data tertulis, foto, dan statistik merupakan data tambahan.

Aku berusaha menjadi bagian dari warga desa. Tiga hari tinggal di Desa Bentek, aku menyaksikan langsung datangnya bencana banjir bandang yang melanda desa yang damai ini. Sabtu pagi, 10 Januari 2009, keluarbiasaan terjadi di desa ini: ruas jalan desa dari kampung Karangkates menuju kampung Selelos, yang melewati dusun Karang Lendang, Todo, dan Bangket terputus di Todo (tepatnya di kampung Genting). Praktis, Dusun Todo, Bangket, dan Selelos terisoler dari transportasi kota. Selain terisoler dari jalur transportasi, listrik dan air PAM pun demikian. Selama dua hari warga kesulitan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Kejadian luar biasa kedua adalah terkenanya banjir bandang di Dusun Bangket dan Buani. Di Bangket, selatan Dusun Todo, puluhan warga kehilangan rumah tinggal yang terendam oleh pasir, lumpur, dan potongan-potongan kayu. Tidak ada korban jiwa, namun harta benda rumah-rumah yang ada di muka dusun tersebut hanyut dalam derasnya air bah. Di Buani, timur Dusun Todo, tempat tinggal masyarakat Buda, akibat banjir bandang sebanyak lima rumah ikut hanyut. Pagar vihara yang diresmikan tahun 2005 oleh bupati Lombok Barat rubuh. Kejadian luar biasa ini mendapat respons dari media, baik cetak maupun elektronik. Sejumlah TV swasta nasional meliput kejadian ini, pun media cetak. Adanya kejadian ini membuatku harus memiliki alternatif kegiatan, bahkan peran. Aku menargetkan paling tidak tiga hari, jika tidak ada bencana susulan, mengurangi waktu kegiatan penelitian. Kejadian luar biasa ini menjadikanku relawan bencana dan narasumber menjadi korban bencana. Semampuku, aku ikut bergotong-royong dengan warga. Bagiku ini juga kesempatan untuk bersosialisasi. Di ruas jalan yang terputus, aku ikut membuat jembatan di sungai yang muncul akibat banjir pada Sabtu pagi dini hari itu. Warga menyebut sungai yang muncul pada tanggal 10 Januari 2009 sebagai sungai baru. Namun menurut keterangan orang-orang tua di Dusun Todo, sungai baru bukanlah baru. Sungai yang luasnya hampir 10 meter tersebut memang sudah ada pada tahun 1950-an, dan dihambat pada tahun 1960-an.

Selain terlibat dalam menghadapi bencana yang melanda desa ini untuk kesekian kalinya ini, aku juga terlibat dalam kegiatan warga lainnya. Misalnya kegiatan hiburan warga, yakni bermain sepakbola dan bermain kartu di beruga warga desa. Kedua kegiatan ini merupakan bahasa universal, bukankah setiap orang ingin menghibur diri. Dari kegiatan-kegiatan yang rileks ini tak jarang aku mendapatkan data-data yang penting.

Live in di tempat yang udaranya masih segar dan pemandangannya indah telah membuatku jatuh cinta pada lokasi penelitian. Apalagi masyarakat di sini ramah dan bersahabat, serta kooperatif. Saat pagi menyapa, suara-suara alam terdengar sangat merdu dan pemandangan sebuah bukit yang diselimuti kabut membuat semangat dalam mengisi hari ke arah yang lebih baik terus tinggi. Saat siang menjelang, jalan desa yang tak jauh dari rumah menjadi pemandangan yang menggambarkan masyarakat yang guyub: saling menyapa sembari melempar senyum, dan akan mengehentikan aktivitasnya ketika ada orang yang menghampirinya. Saat sore datang, beruga menjadi padat oleh anggota keluarga atau tamu yang berkunjung: pembicaraan hangat tersuarakan tentang apa saja. Saat malam menghampiri, temaram malam menjadi teman istirahat warga, dan tak jarang beruga diisi warga yang menghibur diri. Dan dalam jatuh cintaku pada lokasi dan komunitas tidak membuatku lupa akan kerjaku. Dalam dendangan tembang-tembang cinta yang terngiang, paling tidak ada beberapa kegiatan yang kulakukan dalam menghimpun data, di antaranya:

1. Pengamatan langsung
Kegiatan yang dilakukan pada awal memasuki daerah awal ini oleh Mas (Dr.) Pujo Semedi dinamai menjadi Nabi Qidir. Dalam hal ini aku mengamati secara bebas dan tidak terstruktur. Aku menghanyutkan diri dalam pandanganku. Kantong celanaku biasanya penuh peralatan: alat tulis, alat rekam, dan terkadang tustel. Tak jarang dalam melakukan ini aku duduk di warung milik warga. Bisanya, dalam transaksi yang terjadi antara pemilik warung dan pembeli juga terjadi pembicaraan, dan kesempatan ini aku gunakan untuk menguping (walau kadang tersiksa dengan bahasa yang belum aku pahami).

Ketika memasuki perkampungan, tak jarang warga menjadi pengamat dari kegiatan pengamatanku, dan agar tidak dicurigai aku biasanya menghampiri salah satu diantaranya sembari menanyakan sesuatu. Misalnya, lokasi vihara, alamat rumah kadus/rumah banjar, atau nama orang yang aku kenal/pernah dengar.

2. Pertanyaan spontan
Aku melakukan kegiatan ini biasanya berbarengan dengan pengamatan langsung. Saat mengamati sesuatu, benda atau kegiatan yang berlangsung, tetapi tidak dapat mendapatkan kejelasan maka orang di sekitar sesuatu itu menjadi informan. Setelah mendapatkan keterangan, aku kembali melakukan pengamatan kembali. Dalam hal ini bisa dikatakan, kegiatan ini aku lakukan saat lambat menangkap sesuatu yang terjadi.

3. Wawancara (berbincang dengan narasumber)
Aku melakukan kegiatan wawancara, mencari data yang detail, biasanya kepada orang-orang yang oleh masyarakat setempat dianggap mumpuni. Kegiatan ini aku lakukan pada minggu kedua, setelah pengamatan dan pertanyaan spontan, serta merasakan langsung jiwa masyarakat. Setelah merasa cukup dengan peralatan, narasumber kudatangi ke rumahnya. Tak sulit menemukan mereka, dan ditemui mereka. Pengalamanku menemui mereka di rumah, sesibuk apa pun, mereka bersedia menerima kedatanganku dengan ramah dan bersahabat. Narasumber tidak menanyakan siapa aku, tetapi pertanyaan awal yang terlontar adalah menanyakan apa yang dapat dilakukannya untuk membantuku. Kesempatan baik ini aku langsung optimalkan dengan pertanyaan-pertanyaan umum dan khusus, dan biasanya mereka menjawab dengan sepenuh hati dan tulus. Ketika tahu banyak hal, ia menambahi jawaban-jawaban pertanyaanku. Ketika tidak tahu pada suatu hal, ia mengatakan dengan jujur atas ketidaktahuannya dan memberikan informasi siapa orang yang lebih tahu.

Sejauh ini, pada pertemuan pertama dengan narasumber aku langsung dapat melakukan wawancara (bincang-bincang yang bermakna). Aku mengikuti alur perbincangan yang berlangsung, pertanyaanku kadang terinspirasi dari penuturan narasumber. Dalam memilih narasumber aku mulai dari tingkat yang memiliki informasi sedikit: dari orang biasa, ketua banjar, ketua dusun, pemuka agama, dan orang ahli. Hal ini agar lebih memudahkanku menangkap fenomena sosial dan aku tidak terbelenggu oleh informasi dari para ahli/elit desa.

4. Studi dokumen
Kegiatan mengumpulkan data dengan menghimpun dokumen tertulis dan gambar di Desa Bentek ini aku lakukan di kantor kepala desa. Dokumen yang telah kuperoleh masih kubaca sekilas, belum kuanalisis atau pun kubandingkan maupun kupadukan. Jadi untuk data tertulis aku belum membentuk satu hasil kajian yang sistematis, padu dan utuh.

Dalam studi ini aku lebih banyak memproduksi dokumen, berupa foto. Keluarbiasaan peran foto ini sangat kusadari sangat penting dalam penelitian ini. Saya jadi ingat sebuah buku, On Photography, yang mengatakan: Jika seni rupa adalah sastra, dan lukisan adalah puisi, maka fotografi adalah bahasa. Foto yang tanpa preseden mampu mengabadikan dan menggandakan semua citra (bukan hanya yang bisa langsung dicerap), fotografi memang bukan lagi sekadar sebuah bentuk seni; ia lebih luas dari seni kata Susan Sontag. Kesadaranku yang tinggi akan foto ini membuatku menjadi manusia sadar kamera, walau sampai sekarang aku belum memilikinya. Hampir setiap keluar rumah aku selalu membawanya, dan untuk menyiasati agar tidak terlihat aneh oleh warga aku membungkus kamera dengan tas plastik hitam.

Aku sangat menikmati penelitian ini. Pernah suatu ketika Mas Sugeng menanyakan, apakah aku tidak bosan atau kangen dengan rumahku. Pertanyaannya ini mengingatkanku akan bagaimana strategi merasionalisasi rasa kangen dan kejenuhan. Dalam hal ini rasa kangen akan rumah memang selalu muncul, apalagi bayangan anak-anak, cahaya pilihan hidupku. Untuk menghadapi rasa kangen dan jenuh, aku mengaturnya dengan tiga hari kerja penuh dan satu hari untuk rileksasi. Rileksasi di desa ini biasa aku jalani dengan nongkrong di warung pada pagi menjelang siang, atau bermain sepak bola pada sore hari, atau bermain kartu remi pada malam hari. Bosan, sejauh ini, belum menghinggapi rasaku. Betapa tidak, hampir setiap saat rumah Mas Sugeng selalu kedatangan tamu, dan tamunya (baik pemuda setempat maupun teman sejawatnya) selalu memiliki cerita yang informatif. Bahkan, dalam membantu proses penelitianku, pada dua minggu pertama ini, seorang tetangga Mas Sugeng membawakan lagu-lagu pop sasak beserta alat pemutarnya.

Hal penting yang kudapat dari live-in adalah harus memiliki banyak alternatif pilihan kegiatan. Sehingga, saat tidak terlaksananya sebuah rencana awal maka selanjutnya dapat melaksanakan rencana lainnya. Dari sini aku merasakan tidak pernah menemui kegagalan dalam beraktivitas bersama warga. Pikiran-pikiran gagal, susah, sulit, dan hal-hal negatif lainnya pun harus kutanggalkan, agar dalam bersama warga kita selalu cerah (tidak ada beban). Beruntung aku dalam penelitian ini memiliki asisten peneliti bernama Sugeng, yang dalam sikap dan lakunya membawa penelitianku lancar, sehat, dan selamat. Ia yang terbebani 10 tahun dalam hidup rumahtangganya tidak menjadikannya menutup diri, malahan ia supel dan ringan tangan kepada siapa saja. Dalam masyarakat, ia telah menanamkan modal sosial yang tidak sedikit. Sehingga, kelancaran, keselamatan, ke-sugengan-an penelitianku di sini merupakan keuntungan dari modal sosial yang ia tanamkan. Peran gurunya yang tidak hanya di sekolah tapi juga di masyarakat, yang pernah dilecehkan oleh orang yang sangat dekat dengannya, membuatnya memiliki nilai tertinggi sertifikasi guru di Provinsi NTB pada tahun 2008. Ia seorang bapak beranak satu yang sabar, guru yang sabar, seniman yang kreatif, tukang pijat yang handal, dan kooperatif dalam bekarja. Tak jarang ia memberikan wawasan dan alternatif pilihan beraktivitas dalam penelitian ini. Namun demikian ia juga manusia biasa, subyektivitasnya kadang memengaruhiku dalam mencari data. Misalnya pilihan-pilihan narasumber. Ia juga teman yang protektif, yang terkadang kekhawatirannya berlebihan dan membuatku terkadang menjadi ciut dalam melangkah.

Aku berusaha tegar dengan subyektivitasku terhadap obyek. Beda subyektivitas dengan asisten peneliti dalam hal ini tidak aku tolerir. Beda pendapat, dalam diskusi yang kami lakukan hanya untuk menemukan kesamaan jalan dalam meneliti, dan perbedaan visi sekedar memperkaya pengetahuanku. Dalam penelitianku aku sadar akan kepentinganku. Untuk memadukan antara kepentingan (subyektivitas) dan pengetahuan, saya setuju dengan Auguste Comte (1798-1857), pendiri positivisme, yang hanya mengakui satu kepentingan yang syah, yakni kepentingan memperjuangkan “pengetahuan untuk pengetahuan”.

Sampai saat ini, aku masih melakukan penelitan bersama Mas Sugeng, dan aku bersyukur sejauh ini penelitianku benar-benar sugeng, selamat. Artinya, banyak informasi yang kudapatkan atas jasanya. Kadang ia menemaniku langsung dalam wawancara, dan kadang ia meminta teman-temannya menemaniku dalam berwawancara, terutama dengan narasumber yang tidak lancar berbahasa Indonesia.

Bertemu dengan Mas Sugeng dalam mencari asisten peneliti, aku telah menjadikan Sugeng brintik seorang peneliti dan penelitianku menjadi sugeng (selamat, lancar, dan…semoga sukses).

 

Di tengah rintik hujan di malam hari di Desa Bentek,
27 Januari 2009

References and Footnotes

  1. Angkutan tradisional ini merupakan ciri khas Lombok, oleh sebagian masyarakat dianggap sebagai bagian identitas kotanya. Angkutan berbentuk dokar atau delman ini menggunakan kuda sebagai tenaganya, dan roda yang digunakan adalah roda bekas dari mobil. Identitas kota ini menunjukkan bahwa modernitas (mobil sebagai agen kemoderenan) sudah membaur dengan masyarakat yang masih menjaga adat dengan kuat. Konon penamaanya diberikan oleh Menteri Penerangan Jaman Orde Baru, Harmoko, yang terkenal dengan kegiatan Safari Ramadhan.
  2. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, lasah setelah fungsinya tidak optimal lagi (rusak) tidak boleh dibakar atau dijadikan kayu bakar. Hal ini karena lasah merupakan tempatnya kehdiupan, anyaman bamboo ini dianggap telah berjasa dalam menemani masyarakt dalam kehidupannya, sebagai tempat lahirnya dan tidurnya bayi, tempat duduk sehari-hari, serta tempat memandikan mayat.
  3. Di kampung baru, Desa Bentek, dikenal beruga agung yang berfungsi sebagai kegiatan upacara tradisi. Sedangkan di rumah-rumah penduduk Desa Bentek, fungsi ritual ini digunakan pada acara hajatan (begawe). Saat pembacaan doa dilantunkan, hanya kyai dan orang-orang tertentu yang duduk di beruga, sementara warga yang lain berada di sekelilingnya.
  4. Pulau Lombok merupakan daerah rawan bencana. Pada 30 Mei 1979 terjadi gempa yang mengakibatkan hancurnya infrastruktur kota. Misalnya, di Pasar Tanjung dari serangkaian bangunan ruko dan bangunan lainnya yang tersisi hanya satu unit ruko, yang letaknya persis di depan tugu peringatan bencana tersebut (sisi kiri terminal Tanjung). Gempa kecil sering terjadi, sehingga desain rumah diciptakan tahan terhadap gempa.
  5. Sejak 30 Desember 2008, sebagai bagian dari wilayah administratif Kecamatan Gangga masuk ke dalam pemekaran wilayah Kabupaten Lombok Utara. Desa ini membawahi 10 dusun, yang beberapa diantaranya menjadi tempat tinggal masyarakat Buda: Dusun Karang Lendang, Dusun Lenek, Dusun Kampung Baru, dan Dusun Buani. Sebagai pusat pemerintahan berada di Dusun Todo (kantor kepala desa). Dan aku merencanakan tinggal selama sebulan di Dusun Todo, di rumah Mas Sugeng.
Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan Multikulturalisme di komunitas Buda, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat