Mencari Daeng Te’ne

Fajar mulai menyingsing. Hari itu, Rabu, 2 April 2014. Untuk kali pertama, sejak penelitian ini dijalankan, saya dan kartunis Fathoni atau lebih senang disapa Toni Malakian menginjakkan kaki di Maros. Mengenderai sepeda motor dengan harapan lebih mudah dan cepat, Kota Turikaler, ibu kota bagi kabupaten ini pun digapai.

Sebenarnya, perjalanan pagi itu seperti menantang maut. Rasa kantuk menemani sepanjang perjalanan dari Talasalapang, Makassar, hingga Turikale. Tiga puluh kilometer dilalui dengan penuh kantuk. Pagi itu, sebenarnya saya masih akan melanjutkan tidur agar dapat beristirahat dengan cukup. Maklum, setiap malam, saya begadang demi memenuhi tuntutan profesi. Pada awal April 2014, saya sangat disibukkan dengan peliputan menjelang pemungutan suara pemilu.

Berbekal doa dan niat baik, perjalanan menggunakan sepeda motor dengan kecepatan sedang pun dilakukan. Dua puluh lima kilometer ditempuh hampir sekitar satu jam. Di perjalanan, laju sepeda motor sempat beberapa kali tak terkendali karena rasa kantuk. Melawan rasa kantuk, satu di antara obat manjur saya adalah kopi susu. Pagi itu niatnya ingin ngopi dan bersantai di Turikale. Lantaran tak mampu lagi melawan kantuk, sementara warung kopi masih jauh, saya pun beberapa kali singgah untuk membasuh muka. Perjalanan disertai rasa kantuk sambil membawa sendiri kendaraan terasa begitu menakutkan. Dalam hati berulang kali terucap doa, “Yaa Allah, semoga selamat sampai di warung kopi.”

Dari Makassar, saya niatkan untuk minum kopi di Warung Kopi Daeng Te’ne di tepi Sungai Maros, Jl Poros Maros-Parepare. Tuujuan pertama pun mendatangi warung kopi tersohor itu. Setiba di Sungai Maros, rasa kecewa menghinggapi. Gumam di hati, “Waduh, Daeng Te’ne sudah tutup.” Rumah panggung tempat kopi khas racikan Daeng Te’ne diseruput tak lagi tersaji kopi.

Saya lalu menghubungi seorang teman bernama Mursalim, seorang PNS Pemerintah Kabupaten Maros untuk menanyakan, mengapa Daeng Te’ne tutup di rumah panggung itu? Apakah ada Daeng Te’ne lain?

Dijawabnya pun singkat, “Pindah ke dekat terminal. Kalau mau bagus, ada Warung Kopi Buana. Berdekatan Daeng Te’ne.” Buana dimaksud ternyata sama saja dengan Buana di Makassar. Buana adalah warung kopi plus toko roti waralaba. Kopinya mantap!

Makassar dan Maros, kendati bukan daerah penghasil biji kopi, tetapi warung kopi sangat mudah dijumpai. Minum kopi seperti telah menjadi tradisi. Warung kopi pun menjadi tempat interaksi berbagai kalangan. Warung kopi bukan sekadar tempat menyeruput kopi dan beragam makanan. Ruang tamu bagi sebagian kalangan pun bergeser ke warung kopi. Rumah hanyalah tempat khusus untuk keluarga dan beristirahat. Warung kopi juga menjadi kantor pertama atau kantor kedua, pasar, hingga tempat diskusi politik.

Perbincangan di Warung Kopi Buana hari itu dipenuhi soal hiruk-pikuk pemilu. Mendatangi warung kopi, selain untuk menyeruput kopi, juga untuk mengumpulkan sejumlah informasi awal terkait penelitian dari berbagai informan. Mursalim adalah salah satu teman yang merangkap sebagai informan adalah mantan jurnalis Tribun Timur, media lokal berpengaruh di Sulawesi Selatan. Saat ini, dia bekerja di pemerintah kabupaten dan ditugaskan sebagai staf Bupati Maros. Informasi A1 soal Maros banyak diketahuinya.

Saya pun bertemu dengannya di warung kopi ini, berbincang selama sekitar hampir tiga jam. Menyeruput segelas kopi susu seharga Rp 9.000, rasa kantuk pun lenyap seketika.

Setiap kali minum kopi, saya selalu mengingat pesan nenek di kampung. “Jangan minum kopi, nanti kamu bodoh.” Mungkin itu propaganda kolonial agar dapat merampas semua kopi di Indonesia. Pada situs wikipedia.org dijelaskan, kopi sendiri awalnya berasal dari bahasa Arab qahwah yang berarti kekuatan, karena pada awalnya kopi digunakan sebagai makanan berenergi tinggi. Kata qahwah kembali mengalami perubahan menjadi kahveh yang berasal dari bahasa Turki dan kemudian berubah lagi menjadi koffie dalam bahasa Belanda.

Sejarah mencatat bahwa penemuan kopi sebagai minuman berkhasiat dan berenergi pertama kali ditemukan oleh Bangsa Etiopia di benua Afrika sekitar 3000 tahun (1000 SM) yang lalu. Kopi kemudian terus berkembang hingga saat ini menjadi salah satu minuman paling populer di dunia yang dikonsumsi oleh berbagai kalangan masyarakat.[rujukan?] Indonesia sendiri telah mampu memproduksi lebih dari 400 ribu ton kopi per tahunnya. Di samping rasa dan aromanya yang menarik, kopi juga dapat menurunkan resiko terjangkit penyakit kanker, diabetes, batu empedu, dan berbagai penyakit jantung (kardiovaskuler).

Peserta Program Pelatihan Penelitian Kelas 2013/2014, dan anggota tim peneliti Kota-kota di Sulawesi, Yayasan Interseksi