Mencari Kampung di Kawasan Kota Mandiri BSD

Informasi mengenai kampung di tengah kota mandiri BSD, pertama kali saya dapatkan dari teman kampus yang dulu pernah bekerja untuk sebuah penelitian media massa. Namun, ia tidak tahu nama kampungnya,  karena keperluannya hanya sembari lewat kawasan tersebut. Akhirnya, riset saya lanjutkan melalui google earth. Dari sana, dapat dilihat kawasan kampung yang dikelilingi oleh kota mandiri BSD dengan melihat pola pemukiman yang sangat berbeda antara dua kawasan tersebut. Pola pemukiman BSD kelihatan jelas jarak antara satu rumah dan lainnya, serta disetiap rumah rata-rata dilengkapi taman bahkan kolam renang. Hal ini kelihatan berbeda sekali dengan pola pemukiman kampung yang berantakan dan jarak yang sangat dekat diantara pemukimannya. Dalam google earth-pun, nama kampung tersebut tidak tercantumkan jelas, lain halnya dengan nama jalan-jalan yang termasuk dalam kawasan kota mandiri BSD.

Melakukan perjalanan sendiri dari Depok ke kota mandiri BSD tidak pernah saya lakukan sebelumnya. Berbekal peta yang saya cetak dari google map, riset angkutan dari Depok menuju BSD melalui jejaring sosial ‘twitter’, sangat membantu saya dalam penelitian ini. Perjalanan dari Depok menuju BSD menggunakan bus Agramas menempuh waktu 2,5 jam.

Begitu bus keluar dari tol JORR yang menghubungkan kota mandiri BSD dengan Jakarta, saya sudah bersiap-siap untuk turun di patokan daerah terdekat dengan sasaran pengambilan data saya hari ini, yaitu kantor kecamatan Serpong dan kantor Kelurahan Rawa Buntu. Namun, sang kondektur bus yang saya tanya mengenai patokan tersebut ternyata tidak tahu dimana tempatnya. Akhirnya, saya memutuskan untuk berhenti di pusat keramaian, yaitu ITC BSD, dan berharap dapat menemui tukang angkot atau tukang ojek yang dapat ditanyakan arah menuju dua kantor tersebut.

Setelah ketemu tukang ojek, saya menunjukan peta yang saya bawa-bawa dari Depok, ternyata kantor kecamatan Serpong sudah pindah. Akhirnya saya dan tukang ojek menuju kantor baru tersebut. Walaupun berkali-kali nyasar dan bertanya di jalan, akhirnya kami menemukan kantor kecamatan tersebut. Tujuan saya datang ke kantor kecamatan ini selain mengambil data demografis, saya juga berharap agar bisa ngobrol-ngobrol dengan petugas kecamatan mengenai letak kampung di kawasan BSD dan isu-isunya. Pukul 10.00 WIB saya sampai ke kantor Kecamatan Serpong, bangunannya bersih dan megah untuk sebuah kantor kecamatan.

Karena pintu depan gedung tersebut tidak ada orang, saya langsung masuk ke sebuah ruangan terdekat yang terdapat enam orang pegawai. Ketika dari mereka semua tidak ada tanggapan melihat saya berdiri di depan pintu selama kurang lebih 5 menit, saya memperkenalkan diri dan menyebutkan tujuan saya kesana untuk izin penelitian dan mengambil data demografi wilayah. Pada menit-menit pertama mereka hanya saling pandang memandang. Ternyata harapan saya tinggal harapan, mereka satu sama lain juga bertanya di mana data tersebut disimpan. Akhirnya ada satu orang pegawai yang mengatakan bahwa data tersebut ada di atasan mereka, dan atasan tersebut sedang workshop di puncak.

Di selasar gedung saya melihat papan demografi wilayah Kecamatan Serpong tahun 2012. Kalau memang data 2013 sedang dipersiapkan, apakah tidak ada berkas tahun 2012 yang disimpan dalam komputer administrasi kelurahan? Karena saya melihat beberapa unit komputer di meja kerja mereka. Namun, tetap jawabannya bahwa data tersebut ada di atasan mereka. Perjalanan saya lanjutkan menuju Kantor Kelurahan Rawa Buntu, setelah tiba disana terdapat lima orang pegawai, mereka juga bilang bahwa data tersebut ada diatasan mereka yang sedang workshop di Puncak.  Dari dua kantor tersebut, agar tidak sia-sia, saya mengambil foto papan demografinya. Dalam benak saya, kecil kemungkinan dan akan menghabiskan waktu jika saya mengandalkan pertemuan dengan ‘atasan’ mereka. Sebagai alternatif cara, maka foto yang berisi data-data ini bisa saya salin ulang.

Tentu saja, hal ini mengecewakan namun entah mengapa termaklumi. Jika saya ingat Januari 2013 lalu, ketika melakukan hal yang sama di kantor kelurahan Kepulauan Seribu DKI Jakarta yang berjarak empat jam mengunakan kapal dari pusat kota, terasa sangat berbeda atmosfir pelayanan publiknya. Disana saya dilayani dengan sangat cepat dan sistematis, data publik tersebut dapat diakses dengan sekali datang dan didapatkan melalui berkas soft-copy. Disana pak lurahnya juga ikut melayani, dan pegawainya sangat perhatian dengan kebutuhan orang-orang yang datang.

Selama perjalanan saya memburu kantor-kantor tersebut, saya sedikit banyak dapat menangkap bagaimana kondisi fisik kawasan kota mandiri BSD. Dari mulai keluar jalan tol, terdapat jalan utama kota yang lebar (tiga lajur jalan). Penataan kawasan utama ini begitu rapi, dengan infrastruktur jalan yang baik, trotoar lebar yang hampir tidak ditemukan pedagang kaki lima ataupun parkiran motor ‘dadakan’, serta dilengkapi dengan halte yang bersih. Ditengah jalan utama tersebut terdapat taman lebar yang diisi dengan pohon-pohon untuk menyejukan jalan utama.  Ketika saya lewat, saya melihat mobil yang menyiram taman-taman tersebut dengan label “manajemen pertamanan BSD”. Kemungkinan mobil itu adalah milik pihak pengembang, bukan pemerintah kota. Karena terdapat logo pengembang di mobil tersebut (Sinarmas Group). Di pinggiran jalan utama ini  terdapat pusat perbelanjaan mal, ruko dan pasar moderen serta pintu-pintu masuk kawasan perumahan.

Menuju kecamatan Cilenggang, antara jalan menuju kampung dan jalan utama kota mandiri BSD dibatasi oleh pagar kecil. Pertanda telah diluar kawasan BSD, jalan menjadi satu jalur,dipinggiran jalan langsung terdapat rumah-rumah warga, warung, toko-toko dan pasar tradisional. Dalam kawasan kampung ini masih terdapat sawah-sawah dilengkapi kerbau-kerbau, dan ruang terbuka yang masih hijau dengan pohon-pohon bambu. Didalam kawasan ini juga terdapat pemukiman berpagar dengan skala yang lebih kecil, yang kemungkinan dipunyai pengembang lain.

Ketika mengobrol di pangkalan ojek, seorang tukang ojek bernama Opik bercerita bahwa ia pernah menjadi makelar tanah antara warga kampung dan pengembang perumahan skala kecil. Opik yang tinggal bersama orang tuanya di kampung Ciater sejak tahun 1984.  Ia mengatakan proses jual beli tanah antara warga kampung dan pengembang terjadi dengan dua cara, yaitu: 1) pihak pengembang langsung menawar kepada warga, 2) melalui perantara seperti Opik.

Proses jual beli sangat menguntungkan pihak warga, karena biasanya harga yang ditawarkan warga dinaikan dua kali lipat oleh pengembang untuk dibeli. Bahkan ada warga yang menawarkan tanahnya 1 juta/m, lalu pengembang membelinya 5 jt/m. Dalam dialog ini, Opik selalu berbicara bahwa “iya, warga yang kena pengusuran ngejual tanahnya 1 juta/m tapi bakalan untung. soalnya pengembangnya belinya 2 kali lipat, bahkan lebih”. Dalam beberapa kali dialog mengenai jual beli tanah ini, opik selalu bicara, ‘warga yang kena pengusuran’. Penghasilan Opik sekali manjadi makelar tanah sampai bisa membeli motor bebek. Cara kerja Opik adalah bila ada ‘bos’ yang mencari tanah, biasanya ia membantu mencari warga kampung yang ingin dijual tanahnya.

Menjamurnya pengembang perumahan berskala kecil diluar kawasan BSD karena banyaknya orang yang memilih perumahan tersebut sebagai alternatif  jika tidak dapat membeli perumahan di dalam kawasan BSD yang terlalu mahal. Jadi, walaupun tinggal di perumahan dalam kampung, namun tetap dapat menikmati infrastruktur yang disediakan kota mandiri BSD.

Segenap tukang ojek di pangkalan itu saya pancing dengan pertanyaan, “kalau ada perumahan-perumahan dalam kampung-kampung, ada ga kampung-kampung dalam perumahan?”. Akhirnya, mereka memberikan informasi yang saya butuhkan. “oh maksud neng, kampung yang dikepung ‘tembok berlin’? ada noh, namanya ‘kampung dadap’, lalu mereka langsung membantu saya dengan informasi petunjuk arah menuju kampung dadap tersebut. Ketika saya tanya kenapa istilahnya ‘tembok berlin’, mereka bilang karena kampung tersebut dikelilingi tembok perumahan.

Pembelajaran saya dilapangan hari ini, ternyata dalam wawancara kita tidak bisa langsung menanyakan hal yang kita tuju. Seperti contoh, sewaktu saya tunjukan peta saya ke tukang ojek mengenai kampung yang saya tuju dan pertanyaan saya mengenai lokasi kampung yang dikelilingi perumahan BSD, mereka tidak bisa menjawab. Mungkin karena memang tidak mengerti. Jadi, saya memulai dengan pertanyaan yang kelihatan oleh mata mereka. Contohnya, saya tunjuk jalan menuju kampung yang kelihatan dari pangkalan ojek, lalu bertanya jalan itu kearah mana, atau sehabis perjalanan saya bertanya tadi itu perumahan apa, baru mereka bisa terbuka dan bercerita. Dari sana saya akhirnya mendapatkan kampung yang dikelilingi kawasan perumahan BSD melalui pengertian dan bahasa mereka, yaitu ‘kampung yang dikepung tembok berlin’.

Junior Researcher, Program Officer, the Interseksi Foundation