Mencari Lauk, Menemukan Sate Pusut

Sebagian besar orang mengenal Pulau Lombok, namun dari yang kenal pulau di timur Pulau Bali ini belum tentu pernah menyinggahinya. Aku termasuk salah satunya, sebelum melakukan penelitian masyarakat Buda di Lombok Utara. Setelah mengenal dalam sebulan, aku merasakan seperti tinggal di tempat impian saat aku masih berusia kanak-kanak. Waktu seperti berhenti, kalau toh dikatakan bergerak ia hanya merambat pelan. Berada di dalam waktu yang terasa abadi menimbulkan keriangan dalam beraktivitas, seperti anak kecil yang sedang bermain. Berada di dalam pulau yang tidak terikat pada waktu, namun pada ruang, seperti tinggal di rumah dengan keamanan dan kenyamanan yang membetahkan.

Pukul 22.48 hari kelima terakhir sebelum aku kembali ke Jakarta aku menikmati temaram malam. Aku masih memunyai lima jam yang sama di Lombok: empat malam menginap di Dusun Todo, dan satu malam lagi di Kota Mataram. Perasaan berat berpisah dengan lingkungan dan masyarakat yang menemaniku dalam memahami budaya yang ada di Lombok Utara sudah kuhinggapi di minggu terakhir ini. Apalagi sayup-sayup kudengar lantunan orang membaca lontar, sebagai bagian prosesi hajat (begawe) yang terdengar sangat khas. Aku tidak tahu apa persis yang dibaca, oleh sebagian besar narasumber mengatakan, biasanya yang dibaca tapal adam (serat galih) atau menak,[1] dan soundscape ini memberi kesan yang nanti tidak mudah kulupakan.

Jumat terakhir berada di Lombok, sejak pagi sampai sore aku berbalas budi sama guru-guru SMPN 3 Gangga.[2] Dalam acara sederhana namun penuh arti tersebut, yang dikemas dalam sebuah workshop itu aku memberikan semangat dan penyegaran kepada ibu dan bapak yang berjumlah sekitar 29 orang. Pertemuan sejak pagi tersebut merupakan kelanjutan acara hari Selasa minggu ini yang membahas tentang Penelitian Tindakan Kelas.

Dalam tiga malam terakhir aku menjadi bagian yang selama ini dilakukan sebagian anak muda di sini, bermain kartu remi. Pemuda, remaja, bapak-bapak sejauh yang aku amati memang memunyai waktu luang yang banyak. Tak jarang, di siang hari mereka pun berkesempatan bermain kartu di beruga. Menjadi bagian dalam permainan yang sebelumnya aku anggap buang-buang waktu ini kulakukan karena aku ingin melihat lebih dalam jiwa masyarakat pemuda, sebagai penerus generasi. Selain itu, aku dalam kegiatan ini juga melakukan tanya-jawab tentang kata-kata dan hal-hal kecil yang selama ini aku belum pahami. Dan juga, sebagai bagian balas budi terhadap lingkungan masyarakat yang selama ini membantuku.

Pukul 24.00, sayup-sayup orang membaca lontar seolah mengajakku untuk menyaksikannya dari dekat. Aku pun mendatangi panggilan itu. Sampai di sumber suara itu, aku melihat pemandangan yang belum pernah kulihat sebelumnya: tujuh orang duduk di beruga sekenem. Aku pun mendekat, sambil mendokumentasikan lewat kamera. Setelah memotret, aku dipersilahkan duduk di beruga, hingga aku dapat melihat lebih jelas seorang yang membaca kitab Menak Arab, yang di sebelahnya orang dengan pakaian adat sasak menyimak dengan seksama agar tidak ketinggalan kalimat yang dibaca, untuk diterjemahkan dalam bahasa Sasak. Satu jam lebih aku menyaksikan langsung tradisi membaca lontar, yang sekarang sudah berubah menjadi buku, di malam orang begawe. Sekelompok ini nyantai dalam membaca, dan pembacanya bergantian. Tak jauh dari beruga tempat orang membaca, terdapat dapur umum yang digunakan memasak nasi oleh para pemuda sambil mendengarkan musik. Lagu ale-ale dari musik cilokaq modern, bolak balik diputar mengiringi kegiatan memasak para pemuda yang sebagian meminum tuak. Di sini, aku seperti melihat hal yang tidak sinergi: antara komunikasi pendidikan, gotong royong, dan prilaku pemuda kampung. Lontar yang berisikan kisah Amir Hamzah, paman nabi Muhammad Saw, seolah tidak terdengar pemuda yang sebagian sudah mabuk sambil berjoged musik modern. Aku pulang setelah sesaat duduk bersama dengan para pemuda.

Aku sebenarnya tidak asing dengan bahasa di lontar yang dilantunkan secara bergantian tersebut. Yang membuatku terasa melihat hal baru adalah lagu bacaan dan penerjemahan ke dalam bahasa Sasak. Bacaan yang sering disebut kitab oleh masyarakat itu berupa buku fotocopian dari sebuah menak, yang aku belum tahu persis judulnya. Bahasa dalam buku tersebut Jawa Kuno, yang dengan keterbatasanku menangkapnya dapat kutangkap beberapa kata. Menurut Pak Raden, pene rjemah menak ke bahasa Sasak malam itu, inti dari bacaan yang dilantunkan malam ini adalah perjalanan hidup Amir Hamzah, paman nabi Muhammad, yang di dalamnya terkandung nilai-nilai yang dapat dicontoh. Bacaan Menak ayu, sebutan untuk bacaan pada acara bersuka cita tersebut, juga berlaku di lingkungan masyarakat Buda. Juga sama dengan Tapal Adam, yang berisi kisah Nabi Adam sampai bertemu dengan nabi Muhammad, yang biasa dibaca pada acara kematian. Kegiatan membaca ini merupakan bagian komunikasi pendidikan dan juga hiburan masyarakat dalam penyelenggaraan hajatan

Bila untuk tujuan pendidikan, aku merasakan, bacaan malam itu terasa tidak mengenai sasaran kaum muda yang hadir. Bagaimana tidak, saat orang tua yang usianya di atas 50 tahun ke atas membaca, anak muda yang sebagian memasak nasi dan sebagian besar yang lain asyik berjoged dengan lantunan musik Sasak modern, serta sebagian dari memasak dan berjoged sudah minum tuak. Seolah, saat orang tua membaca anak muda tidak ada yang mendengarkan. Bacaan orang tua mungkin ada yang mendengarkan di rumah, karena kegiatan membaca ini juga menggunakan pengeras suara. Namun demikian, bila dilihat dari segi hiburan maka kegiatan membaca dan pemuda yang memasak sambil berjoged bisa dikatakan sama-sama menghibur diri mereka masing-masing. Mereka terlibat aktif dalam menjalankan tradisi, orang tua melanjutkan tradisi lamanya, sedangkan pemuda membuat tradisi baru berbarengan tradisi lama.

Sekelompok pemuda menanak nasi tak aneh buat masyarakat Lombok, pun Masyarakat Buda di Lombok Utara, khususnya dalam hajatan. Namun, koordinator urusan dapur dipegang ibu-ibu. Dan kegiatan memasak ini dilakukan di luar rumah.

Pada awalnya, permukinan di Lombok, termasuk masyarakat Buda umumnya dapur berada di dalam rumah. Perapian (pawon)pada kehidupan masyarakat Sasak selain digunakan untuk memasak, asapnya juga digunakan untuk mengawetkan bambu. Posisnya biasanya diletakkan di salah satu sudut depan ruangan (sebelah kiri) dari arah pintu masuk. Sekarang, keberadaan perapian di dalam rumah masih bisa ditemui. Artinya, dalam perkembangan terkini dapur dengan pawonnya banyak diposisikan terpisah dari ruang utama. Perubahan kegiatan memasak ke luar rumah dilakukan untuk menghindari asap yang dihasilkan dari sebuah perapian di dalam rumah.

Dapur (pawon) di rumah adat Segenter berada di dalam rumah dan diletakkan di salah satu sudut belakang ruangan/sebelah kiri dari pintu masuk. Sedangkan di rumah adat di Bayan Timur dan Lolohan, letak perapian berada di luar rumah atau di samping beruga. Di Segenter, beberapa pawon masih menggunakan tiga buah batu (sebagai bentuk perapian awal), pun demikian dengan pawon di Bayan. Tentu saja bahan bakar untuk memasak kayu, yang biasanya didapatkan dari kebun terdekat rumah mereka. Sementara itu, di rumah masyarakat Buda (Kampung Baru, Buani) pawon berada di dalam rumah. Sedangkan di Lenek, aku melihat beberapa rumah adat sudah menempatkan pawonnya di luar rumah.

Pawon di perkampungan Desa Bentek pada menjelang siang asapnya mulai mengebul. Pada umumnya, pawon di rumah-rumah mengebul sehari dua kali, untuk memasak makan siang dan malam. Ini artinya, sarapan pagi bukan menjadi bagian keseharian masyarakat. Kebiasaan tidak sarapan pagi ini juga berlaku bagi anak-anak sekolah. Oleh karena itu, sekolah-sekolah di Lombok Utara menghadapi masalah semangat dan stamina siswa dalam belajar. Dan, sebagian besar guru, khususnya SMPN 3 Gangga, menjadikan alasan ini sebagai salah satu penyebab pendidikan di Lombok Utara masih jauh dari harapan pendidikan. Jika sarapan merupakan faktor penting dalam keberlangsungan pendidikan di sekolah, yang keberhasilannya tidak ditentukan oleh guru semata, maka orang tua di sini dituntut peransertanya: mempersiapkan makanan buat anak-anak yang berangkat ke sekolah, dengan menyalakan pawon.

Menjelang siang atau menjelang petang, saat pawon mengepul mengeluarkan asap, gang-gang kampung menjadi penuh asap dengan aroma masakan. Dalam memasak di pawon yang dengan bakaran kayu, perempuan tua, setengah tua, dan muda menjadi pengatur rasa dan ritme keluarga. Seolah seluruh anggota keluarga harus patuh pada selera dan ketrampilan mengolah bahan makanan dan bumbu menjadi masakan. Sampai medio 1990-an makanan utama sehari-hari penduduk bukan nasi, namun nasi singkong (ambon cik). Bukan karena tidak ada beras, bukankah lombok sebagai lumbung padi nasional, tetapi karena faktor ekonomi (daya beli) masyarakat yang masih rendah. Penamaan ambon cik berasal dari proses pembuatan singkong (bahasa Sasak: ambon) menjadi nasi. Biasanya, menjelang siang perempuan-perempuan (ibu-ibu dan anak perempuan dewasa) yang memunyai kewajiban memasak, memotong-motong singkong dalam ukuran sangat kecil (hampir seperti beras). Dan suara yang keluar dari proses pemotongan ini seprti bunyi cik-cik. Lauk utamanya, ikan asin atau tempe. Sayurnya, sayur daun kelor dengan bumbu garam.

Selama sebulan tinggal (live-in) di Dayan Gunung Rinjani, aku tidak lagi menyaksikan aktivitas perempuan membuat ambon cik. Aktivitas itu, di Desa Bentek khusunya, telah menjadi sejarah masyarakat dalam menyikapi tantangan jamannya. Apakah ini pertanda bahwa masyarakat telah beranjak ke arah yang lebih baik, sejahtera?

Tentu tidak sesedehara itu menganggap masyarakat dikatakan lebih sejahtera dengan ukuran perubahan pola konsumsi saja. Tapi, perubahan ini sering dijadikan ukuran keberhasilan sebuah kepemimpinan (seperti dalam kampanye pemilu 2009 ini). Bagi aku, untuk menilai kehidupan masyarakat (baik/buruknya dalam ukuran kesejahteraan) tidak hanya konsumsinya (ekonomi) tetapi lebih pada kehidupan sosialnya. Sehingga, kelangkaan ambon cik di tengah-tengah masyarakat Buda bukan sebuah tanda adanya hidup mereka lebih baik.

Belajar bersama dengan masyarakat buda yang minoritas ini berarti memahami pula kemiskinan, cerita keprihatinan ekonomi/ketidaksejahteraan. Bukan karena pendekatan sosial lebih sulit untuk mengukur garis kemiskinan masyarakat. Dengan indikator ekonomi batas kemiskinan dengan menggunakan tiga pendekatan, yaitu pendekatan produksi, pendapatan, dan pengeluaran lebih mudah diukur. Bahkan, Badan Pusat Statistik (BPS) untuk menetapkan garis kemiskinan dengan pendekatan pengeluaran. Masyarakat hidup dikelilingi sumber daya alam yang melimpah, yang seolah memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengelolanya. Namun tidak, rupanya, kebanyakan warga tidak memiliki lahan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Di dusun Lenek, sebagian besar dari penduduk adalah buruh tani. Pertanian yang intensitas pekerjaannya tidak setiap waktu mengakibatkan masyarakat banyak yang mengangur.

Mendengar pengkisahan informan, menyaksikan langsung yang sering kuselingi pertanyaan spontan, serta melihat dokumentasi yang ada tentang masyarakat Buda berarti memahami perubahan sosial. Sebelum tahun 1970-an interaksi masyarakat buda sangat terbatas dengan dunia luar. Hal ini menurut dugaan beberapa informan karena mereka merasa minder sosial. Pra tahun 1970-an mereka lebih banyak berkehidupan di lingkungan mereka masing-masing, yang dekat dengan hutan dan ladangnya. Pria dan wanita dewasa di siang hari menghabiskan waktunya di hutan atau ladang, berburu atau bercocok tanam. Sedangkan anak-anak menjalani keseharian di sekitar rumah. Malamnya, mereka meramaikan beruga di depan rumah mereka. Meminum arak bagian dari malam-malam mereka. Sesudah tahun 1970-an masyarakat Buda mulai berinteraksi dengan dunia luar lebih intens, baik secara terpaksa maupun sukarela. Anak-anak mulai kenal dengan dunia sekolah, agamawan mulai memasuki perkampungan mereka, pemerintah lewat agen-agennya mulai intens mengatur mereka, dan pasar mulai ekspansi di lingkunan mereka. Dan dari tahun ke tahun dunia luar mereka menjadi faktor penting dalam kehidupan mereka.

Malam di Desa Bentek, Lombok Utara, walau sudah ada penerangan listrik mulai tahun 1990-an, masih terlihat sangat gelap dan senyap. Kesenyapan itu bertambah karena tidak ada warung makan untuk nongkrong. Ketidakadaan warung makan pada malam hari ini menjadikan hampir setiap sore aku mencari lauk untuk makan malam. Pencarianku, biasanya sama mas Sugeng atau dengan teman lainnya, tak jauh dari tempat rumah Mas Sugeng. Sepanjang jalan beraspal dari pintu masuk Desa Bentek biasanya sudah bisa ditemui tiga warung yang menjajagakan lauk dan sayur. Aku biasanya beli warung di kampung Karang Grepek atau kampung Genting (Todo). Bila jalan kaki maka tujuanku warung di kampung Genting, dan bila mengendarai sepeda motor tujuanku di kampung karang Grepek. Di warung Genting menu utamanya hanya dua, sate pusut dan sate daging sapi. Sedangkan warung di kampung Grepek menunya lebih beragam. Di dua warung tersebut plecing(semacam pecel kangkung) tak pernah absen juga sebagai menu. Di antara menu utama yang tersedia, sate pusut merupakan lauk utamaku selama live-in.

Sate pusut dibuat dari ikan laut yang ditumbuk halus berbarengan dengan bumbunya. Setelah itu, tusuk, sebagai ciri khas sate, disatukan dengan hasil tumbukan ikan dan bumbu tanpa bantuan alat lain. Tangan-tangan terampil dan kratif koki warung kemudian membakarnya ke dalam sebuah tungku pemanggangan. Saat pembakaran inilah aroma sate yang pertama kali kulihat di Lombok ini sangat khas, dan mengundang selera. Harga per bijinya Rp 500,-.

Pada beberapa waktu saat kehabisan lauk di warung langganan dan atau akan mencari makanan lain, aku biasanya pergi ke pasar Tanjung untuk mencari lauk. Pada suatu malam aku tenggelam dalam lamuanan murung, dan membayangkan makanan berkuah segar (bakso atau soto). Malam itu aku tidak bisa berbincang nyaman atau duduk jinak, hingga waktu isya menjelang datang. Aku turun dari beruga, lalu mengenakan celana panjang dan jaket, serta menyalakan motor. Malam-malam seperti ini, yang dingin dan senyap, bukanlah pertama kali aku membayangkan makanan kuah dan segar. Sesuatu yang kadang-kadang muncul dalam pikiran saat melakoni kerja lapangan ini. Aroma bakso atau soto dengan hangatnya kuah dan bumbu lezatnya menyelam ke dalam suatu bayang-bayang murung, yang pada saat semua bayangan itu terkumpul rasanya makanan kesukaanku itu telah hadir di hadapanku. Jika aku mampu membayangkan semuanya itu, aku dapat merasakan kehangatan pada perutku dan menambah nafsuku akan makanan itu.

Malam itu aku mengendarai motor bersama teman Mas Sugeng dalam keremangan malam disinari bulan purnama. Melewati jembatan yang masih bersifat sementara yang konon sangat angker tidak membuatku kehilangan semangat untuk keluar rumah menuju pasar Tanjung yang jaraknya kurang lebih 10 kilometer. Aku sampai di sebuah ruko yang biasanya tukang bakso mangkal di situ. Saat aku hampiri, menu utama ternyata sudah habis sejak sore. Aku tak putus asa mencari tempat lain, yang masih di sekitar situ. Menengok kanan dan kiri sepanjang pasar Tanjung rupanya hanya ada dua warung bakso, yang dua-duanya sudah habis. Di sepanjang jalan pasar pusat ibukota kecamatan dan nantinya pusat kabupaten (Lombok Utara) warung-warung penjaja makanan terasa sama dengan di tempat asalku, didominasi warung masakan jawa (khususnya masakan Jawa Timur). Karena bukan tujuan utamaku mencari makanan masakan dari Jawa, maka aku tak menghiraukannya.. Memang kebanyakan yang menjajagakan makanan adalah para pendatang, namun di pasar Tanjung belum ada warung masakan khas Padang. Salah satu warung yang cukup dikenal milik orang Lombok adalah warung nasi Amanah, dengan menu utamanya ikan bakar.

Dalam pencarian makanan favoritku dengan menengok kanan dan kiri sepanjang jalan di sekitar pasar Tanjung aku tidak melihat warung makanan milik orang Lombok dengan penjajanya laki-laki. Selain warung amanah di pinggir jalan terdapat pedagang sate pusut, kurang lebih 3 penjaja yang dijajagakan oleh ibu-ibu dibantu anak-anaknya. Aku sebenarnya masih menginginkan bakso atau soto, tapi rupanya malam itu tidak kudapatkan. Akutidak tahu apa yang hendak kulakukan dalam menunggu esok (..khan perutku harus diisi makan). Setelah bolak-balik di sepanjang jalan aku hampir kehabisan bensin, tapi setelah membeli gorengan yang rupanya penjajanya berasal dari Bandung aku menegoisasi dengan keinginan perutku untuk makan makanan lain.

Dering dari telepon genggamku berbunyi, sebuah pesan singkat datang dari temanku di Jakarta. Aku tak langsung membalasnya, karena tidak terlalu mendesak. Saat membaca pesan singkat tersebut aku melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan lebih sembilan menit. Ternyata aku sudah lebih dari satu jam mencari makanan. Aku segera menuju ke tempat seorang ibu yang ditemani anak perempuannya menjajagakn sate pusut. Aku membeli lima belas tusuk. Setelah membeli lauk dan makanan lain yang akan disantap olehku dan teman-teman Mas Sugeng yang biasa main di rumahnya aku menaiki sepeda motor untuk pulang. Aku menyerah, keinginan makan sesuatu berkuah bisa tergantikan dengan sate pusut, yang sepertinya akan menjadi makanan kesukaanku di Lombok.

Malam itu, hasil pencarian laukku dinikmati bersama oleh teman-teman Mas Sugeng, yang juga menjadi teman-temanku sampai hari akhirku di Desa Bentek, Lombok Utara.

Aku telah berjabat tangan dengan banyak warga Bentek, untuk perpisahan dan mengucapkan terima kasih serta mohon maaf. Jabat tangan yang spesial kurasakan adalah saat malam perisahan, tapi tanpa sate pusut. Dalam suasana gerimis, seusai hujan lebat sejak siang, dan lampu dipadamkan PLN, doa dipanjatkan oleh salah satu khatib masjid Jami’ setempat. Kami makan agak spesial malam itu, nasi dengan lauk ayam kampung goreng. Usai makan, masih dalam suasana gelap, kami yang hadir bermain kartu: tiga kelompok beserta penontonnya. Malam mulai larut, gelapnya malam dan rintik hujan sudah tidak dihiraukan lagi oleh para tamu yang sudah datang sejak ba’da maghrib, untuk pulang. Satu per satu orang-orang yang selama ini membuatku betah dan asyik bekerja (live-in dalam penelitian Masyarakat Buda di Lombok Utara) menyalamiku dan mendoakanku.

Begitu aku memasuki bandara Selaparang, Mataram, 5 Februari 2009, seluruh pengalaman bekerja di komunitas masyarakat Buda selama sebulan serentak menjadi kenangan indah yang tak mungkin kulupakan. Tugas selanjutnya telah menanti di rumahku: mencari referensi dan menulis laporan.

References and Footnotes

  1. Tapal adam (serat galih) dibaca pada acara kematian dan menak arab dibaca pada acara selamatan nikah, khitanan.
  2. Dalam penelitian komunitas ini aku banyak dibantu oleh guru-guru SMP3 Gangga yang lokasinya di Desa Bentek, tepatnya di gang utama jalan raya menuju Dusun Todo. Pak Sugeng, Pak Toha, Pak Anas, Pak Baiti, Pak Kepsek, dan Ibu penjaga perpustakaan.
Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan Multikulturalisme di komunitas Buda, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat