Mendapat Durian Runtuh

Seperti kata pepatah, “Dapat Durian Runtuh”, sebuah kesempatan langka akhirnya bisa aku dapatkan. Yaitu mengikuti kegiatan Pembuatan Film Dokumenter Lintas Kultur untuk Perdamaian. Sebenarnya aku sudah dapat informasi kegiatannya seminggu sebelumnya, cuma karena sibuk dengan ujian kenaikan kelas di SMA Negeri 1 Ambon, aku tidak sempat mendaftar untuk ikut kegiatan tersebut.

Rasa gak pede untuk mendaftar, walau didesak terus sama teman-teman di Lembaga Antar Iman Maluku dan Institute Tifa Damai Maluku, membuat aku agak ragu-ragu mendaftar. Mungkin juga karena selama ini cuma terbiasa dengan kamera foto, belum terbiasa dengan kamera video. Barulah di hari terakhir pendaftaran aku coba kirimkan persyaratan yang diminta. Itu juga gak berharap keterima untuk ikut kegiatan itu.

Tapi ya itu tadi, kayak “dapat durian runtuh” aku kaget waktu dapat SMS dari teman-teman panitia kalau aku lolos seleksi untuk ikut kegiatan ini. Lebih kaget lagi setelah tahu, aku satu-satunya peserta cewek, dari enam peserta yang ada. Sudah begitu aku peserta yang termuda pula. Wuiiihhhh, gima jadinya nanti. Rasanya deg-degan juga. Dan akhirnya aku tiba juga di Bogor untuk ikut workshop awal sebelum turun ke lapangan.

Setelah workshop selama seminggu di Bogor. Kami tiap-tiap peserta dikirim ke kota tujan. Kebetulan aku dapat tugas ke Kota Makassar. Sebelumnya aku belum begitu banyak tahu tentang Kota Makassar. Sampai berangkat pun aku juga belum banyak ngerti. Yang aku tahu lewat cerita teman-teman selama ini, watak orang Makassar itu kasar. Apalagi saat berbicara. Aku agak sedikit ngerti tentang Makassar, dari penjelasan Pak Halilintar, salah satu narasumber yang ngasih informasi saat workshop.

Begitu tiba di Makassar, besoknya baru aku hunting lokasi untuk shooting. Dari informasi yang aku dapat, kalau Pagandeng (pedagang sayur dan dagangan lainnya menggunakan sepeda) yang menjadi pilihan liputanku itu, biasanya datang ke pasar sekitar jam 1 – 5 pagi. Kalau jam 6, mereka sudah pulang semua. Pencarian aku lakukan selama 4 hari di berbagai pasar di Kota Makassar. Pada hari ke-4 aku ketemu dengan 2 orang pagandeng di Pasar Terong Makassar.

Pagandeng yang pertama namanya Daeng Tika. Orangnya ramah dan sopan, membuat kesanku mengenai orang Makassar yang kasar jadi hilang. Setelah ngobrol-ngobrol dan menjelaskan tujuanku, akhirnya kami bikin janji, kalau nanti aku ke rumahnya besok. Dia lantas memberitahu patokan jalan ke rumahnya di kampung. Pagandeng yang ke-2, yang aku temui di pasar pagi itu, terkesan menghindar. Saat aku mau tanya-tanya, eh dia malah kabur.

Sialnya, ketika hendak mengajak pagandeng itu untuk ngobrol, eh tiba-tiba datang satu preman pasar dengan sikap yang agak kasar. Setelah dia tanya-tanya dengan gaya kayak polisi menginterogasi penjahat, aku langsung nunjukin surat tugas dari Interseksi. Tapi tetap aja itu preman bersikap kasar. Ya udah lah, dari pada nanti jadi masalah macam-macam mendingan aku dan Om Jerry, kenalan Papa aku yang kebetulan orang Makassar itu, langsung pulang aja.

Besoknya aku dan Om Jerry sampai juga di rumah Daeng Tika. Jam menunjukkan pukul 17.30 WITA. Kami sampai dengan keadaan basah kuyup. Maklum saja, dari pagi sampai sore itu hujan gede banget. Dari tempat kost aku ke rumahnya Daeng Tika butuh waktu sekitar 45 sampai 50menit. Lumayan jauh lah. Untunglah jalan yang dilalui cukup mulus dan lancar, sampai tiba di rumah Daeng Tika di Kampung Bayowa, Kecamatan Barombong.

Setelah kami menjelaskan tujuan dan rencana untuk shooting yang menjadi tugasku itu, tiba-tiba banyak orang yang datang ke rumahnya Daeng Tika. Sempat bingung juga. Tapi kata Om Jerry,  “biasa…heboh.” Karena mereka kurang fasih berbahasa Indonesia, akhirnya Om Jerry yang lebih banyak menjelaskan. Tapi sampai jam 10 malam, tiba-tiba Daeng Tika bilang kalau dia gak mau di-shooting. Usut punya usut, ternyata ada saudaranya yang melarang. Kami minta ketemu dengan saudaranya itu, biar bisa jelaskan maksud kedatangan kami. Tapi saudaranya gak mau ketemu. Aku juga sudah kasih surat tugas dari Interseksi, tapi tetap gak mau.

Setelah aku tanya alasan kenapa gak mau, ke salah satu iparnya yang lancar berbahasa Indonesia dan agak bersahabat, dia bilang kalau saudaranya Daeng Tika itu curiga. Katanya jangan-jangan kami dari oknum-oknum tertentu, yang nanti mau menculik Daeng Tika, saat proses shooting berlangsung. Mungkin belum jodoh. Akhirnya aku dan Om Jerry pamit pulang. Tapi iparnya Daeng Tika yang agak ramah dan lancar berbahasa Indonesia tadi bilang, kalau suaminya juga pagandeng. Sayangnya saat itu sayurannya belum saat dipanen, jadi dia belum jualan.

Karena hujan belum reda juga dan Daeng Tika tetap ngotot tidak mau di-shooting, aku dan Om Jerry tetap pulang dengan nekat menerobos hujan. Tapi berhubung sepatu aku baru dan gak bisa kena basah, akhirnya aku pulang tanpa menggunakan sepatu.. Heheheeee..

Sementara lagi pusing gak dapat obyek pagandeng sebagai bahan utama shooting, tiba-tiba dapat info dari Pak Halilintar kalau ada temannya yang tingal di daerah Gowa, yang jaraknya sekitar 80 Km dari Kota makassar. Kebetulan lokasinya dekat dengan Pasar Panciro tempat jualannya para Pagandeng. Aku akhirnya berangkat kesana bareng Om Hatta dan Om Fikar yang baru datang dari Jakarta.

Kita jadinya nginep semalam di rumahnya Ibu Aswani, temannya Pak Halil itu. Besoknya jam 5 pagi kami ke pasar Panciro. Ternyata di sana ada banyak pagandeng. Kami akhirnya mewawancarai beberapa pagandeng, dan mengambil sejumlah shoot. Lalu kami juga mewawancarai pagandeng yang sudah menjadi petani. Siangnya kami balik lagi ke Makassar.

Peserta Program pelatihan Cross-Culture Video Making Project For Peace: Crossing Boundaries 2010, Yayasan Interseksi