Mengatur Siasat di Tengah Purifikasi

(Bagian Dua)

Hari Kamis Kliwon, malam Jumat Legi telah tiba. Saat itu adalah momen penting bagi pelaksanaan pemujaan yang dilakukan oleh orang Tengger. Menjelang sore, tua muda sibuk mempersiapkan sesaji atau tetamping untuk dibawa ke danyang dan makam para leluhur. Saat itu adalah hari terakhirku aku berada di tengah-tengah kehidupan orang Tengger. Di malam perpisahanku itu aku mendesain acara focus discussion group (FGD) yang dimandatkan oleh Kanjeng Ndoro Juragan (funding). Acara FGD aku kemas dengan bentuk selametan malam Jumat Legi.

Sejak pagi, ibu-ibu dirumah Pak Mujono sibuk mempersiapkan hidangan untuk malam harinya. Sebelum acara selametan dimulai, Pak Mujono mempersiapkan hidangan khusus di meja ruang tengahnya. Hidangan yang dikemas dalam bentuk mini itu merepresentasikan semua jenis makanan yang akan digunakan untuk suguhan dalam selametan nanti malam. Melalui hidangan mini didepan mejanya itu, Pak Mujono (Koordinator Dukun se-Kawasan Tengger) membakar dupa dan kemenyan. Asap kemenyan segera memenuhi ruang tengah, bahkan hingga keruang tamu. Dengan puja-puji dan panjatan do’a melalui mantra, aku duduk persis dibelakang Pak Mujono.

Sebelum membakar kemenyan, Pak Mujono menyatakan bahwa ia akan berdoa demi keselamatan diriku, serta harapan-harapanku dapat segera terkabulkan. Dalam upacara kecil seperti ini, biasanya dukun Tengger tidak melafalkan mantra dengan ucapan yang dapat didengar orang lain secara jelas. Kebanyakan dalam upacara-upacara besar saja dukun akan mengucapkan mantra yang dapat di dengar orang lain. Aku mengikuti saja gerak ritual yang dijalankan oleh Pak Mujono. Ritual itu cukup singkat, setelah membaca mantra, maka usai sudah acaranya.

Sementara diluar rumah tampak orang-orang Tengger hilir mudik ke danyang. Momen ini aku pergunakan untuk melihat tingkat partisipasi warga dalam pergi ke danyang dan makam di dua desa Tengger, tempat aku melakukan penelitian, yakni Desa Wonokerto dan Desa Ngadas. Danyang di Desa Wonokerto cukup sepi, tidak seperti danyang di Desa Ngadas, yang penuh dengan antrian warga yang akan menarih sesaji serta berdoa dalam batin . Saat itu aku lebih banyak nongkrong di sekitar danyang di Desa Wonokerto. Aku sangat penasaran untuk mengetahui sejauh mana apresiasi warga Wonokerto terhadap danyang, setelah pemerintah desa mengeluarkan kebijakan yang cenderung puritan.

Agak lama aku menunggui orang Wonokerto yang akan pergi ke danyang. Hampir sejam aku duduk-duduk didepan danyang, sejurus kemudian, Kiai Ja’far menghampiriku. Kebetulan rumah Kiai Ja’far berada disamping danyang persis. “Danyangnya libur mas, tidak membuka layanan kepada warga”, gurau satir ala Kiai Ja’far kepadaku. Kami kemudian terlibat dalam pembicaraan santai di depan danyang. Setengah jam lebih waktu telah berlalu, Kiai Ja’far lalu berpamitan hendak membelikan makanan untuk anak-anaknya. Selang beberapa detik Kiai Ja’far meninggalkan danyang, terlihat seorang warga Wonokerto mendatangi danyang tersebut.

Ia terlihat berdoa cukup hikmat, bunga kenanga segar, irisan daun pandan, serta beberapa petik bunga mawar segera ditaburkan di batu tua yang ada di danyang . Selepas ia memanjatkan doa di danyang, aku sempat menghampiri sebentar orang tersebut. “Apakah Bapak setiap Jumat Legi rutin memberikan sesaji dan berdoa di danyang?”. Dengan mantap orang tersebut “Ya”. Sebenarnya orang ini telah lama menunggu kepergian Kiai Ja’far dari depan danyang sore itu. Ia menunggu saja dari kejauhan. Ia menyatakan tak enak hati kalau pergi ke danyang, sementara di depan danyang ada seorang Kiai yang hampir setiap waktu pengajian menganjurkan untuk menjauhi danyang. Setidaknya ia mengedepankan prinsip roso rumongso .

Begitu orang pertama ini meninggalkan danyang, tak lama muncul serombongan orang yang berjumlah empat orang mengunjungi danyang di Wonokerto. Mereka melakukan praktek ritual yang sama dengan orang pertama tadi. Selepas dari danyang, biasanya orang-orang Tengger akan mengunjungi makam leluhur untuk memberikan tetamping dan menabur bunga.

Pada saat yang bersamaan di rumah-rumah orang Tengger terdapat sesaji, biasanya terdiri dari makanan sehari-hari, tak lupa pula suguhan minuman, seperti kopi, maupun teh. Seguhan itu akan ditaruh dimeja khusus yang disediakan untuk “menjamu” leluhur mereka yang telah meninggal. Orang Tengger sangat meyakini, setiap Jumat Legi leluhur yang meninggal akan pulang kerumah kerabat mereka yang masih hidup didunia. Menurut beberapa orang tua di Tengger, suguhan itu lebih sebagai tanda saja, artinya kerabat mereka yang masih hidup tetap mengingat leluhur mereka yang telah meninggal dunia. Dengan mengingat leluhur yang telah meninggal dunia, berarti generasi mereka yang masih hidup tetap memberikan penghormatan yang tinggi.

Konsep penghormatan terhadap leluhur, termasuk yang telah meninggal dunia ini memang konsep pokok dalam spiritualitas mereka. Orang Tengger memiliki tiga titik sentral dalam menjalankan ritual, yang dikenal dengan trimurti , yakni; menyembah sing gawe urip, yakni Hong Pukulun. Kedua; menghormati sing ngeke’i penguripan (bumi), dan ketiga; menghormati sing ngurip-nguripi (kedua orang tua atau leluhur).

Menghilangkan salah satu dari ketiga pusat spiritualitas diatas, menurut para dukun Tengger sama halnya dengan menghancurkan sistem adat yang telah dijalankan sejak lama oleh orang Tengger. Oleh karenanya, orang-orang Wonokerto yang masih menjalankan prinsip ini, sekalipun mereka tak kuasa untuk menolak Islamisasi, mereka tetap membuka kesempatan untuk pelaksanaan ritual Tengger di desanya, khususnya ritual yang bersifat individual.

Pada malam harinya, sebagian warga, terutama para orang tua melakukan tirakatan. Biasanya mereka akan semalaman untuk menjauhkan diri dari keramaian desa, termasuk juga menjauhkan diri dari lingkungan keluarga. Para orang tua tersebut akan menghabiskan waktunya untuk bersemadi di sanggar-sanggar, baik pamujan maupun padanyangan. Adapula yang bersemedi diatas gunung atau di rerimbunan pohon cemara di tengah hutan. Bagi orang Tengger, ini adalah momentum spesial untuk mendekatkan diri pada Hong Pukulun.

FGD Melalui Selametan

Pada tanggal 5 Oktober 2005, disaat orang-orang Tengger mulai meninggalkan danyang, dan menunggu malam tiba, Pak Mujono mengundang beberapa orang yang selama ini aku mintai informasi soal penelitian ini. Mereka adalah Pak Soenomo, Kepala Desa Ngadas, Pak Wirnoto mantan Kepala Desa Ngadas, Pak Sarmidi guru Agama Hindu, para asisten dukun, yakni Pak Legen dan Pak Sepuh, dan beberapa pemuka masyarakat lainnya seperti Ketua BPD Desa Ngadas. Semuanya kurang lebih 8 orang.

Dalam undangan lisan itu, Pak Mujono menyatakan bahwa saya hendak berpamitan kepada warga Desa Ngadas, sekaligus selametan. Pak Mujono juga menyatakan kepada mereka bahwa diriku hendak meminta saran-saran dan doa. Menjelang pukul 19.00 para undangan terbatas segera berdatangan. Sambil menghisap rokok Gudang Garam Surya yang aku sediakan, kami mulai terlibat pembicaraan santai, hanya seputar musim hujan yang tak segera tiba.

Sesaat kemudian, Pak Mujono membuka forum selametan tersebut. Ia menyatakan bahwa malam ini aku memiliki nadar (janji) untuk melakukan selametan, dan meminta perwakilan warga Ngadas untuk memberikan kesan dan pesannya selama aku penelitian di Tengger. Pada sesi ini, suasananya agak sedikit formal dan kaku. Silih berganti dari orang-orang tersebut memberikan kesan, dan pesannya kepadaku. Aku agak besar kepala, sebab hampir semuanya menyatakan hal-hal yang baik saja. Aku amat menyadari situasi seperti ini, sesuatu yang jujur serta kritis ada dalam hati mereka yang paling dalam terpendam, yang tak mungkin terlafalkan dalam forum seperti ini.

Setelah semua orang memberikan “basa-basinya”, acara segera dilanjutkan dengan makan malam. Makan malam dilaksanakan dipinggir perapian, di ruang tengah rumah Pak Mujono. Malam itu, menunya cukup spesial, aku khawatir saja uang sebesar lima ratus ribu yang aku berikan kepada Pak Mujono tidak mencukupi, melihat menu dan jajanan yang begitu banyak. Namun kekhawatiranku ini tak perlu muncul lagi, sebab sebelum acara ini dimulai, aku sempat menanyakan kepada Pak Mujono soal kemungkinan kurangnya biaya selametan. Namun Pak Mujono menyatakan tak perlu merisaukan hal itu. “ Wes ojok kuatir, ben wong pawon sing ngatur”, ucap Pak Mujono. Legalah hatiku mendengar hal itu.

Usai makan malam, para undangan tersebut kembali jagongan diruang tamu. Pada sesi ini, suasana lebih terlihat santai, lebih informal, dan lebih akrab. Sambil diselingi isapan rokok dan secangkir kopi panas, forum menggelinding membicarakan banyak hal. Aku mulai menikmati forum ini, namun sayangnya tak bisa berjalan lama. Terlihat di jam dinding, waktu menunjukkan pukul 21.00 Waktu Tengger (WT). Pak Sarmidi mengawali untuk pamitan terlebih dulu. Ternyata, pamitan itu juga diikuti oleh seluruh undangan.

Akhirnya, FGD berjalan kurang optimal menurutku. Aku memang tidak bisa memainkan forum dalam situasi forum penuh tradisi ewuh pakewuh antara grassroot dan elit Tengger. Secara realistis saja, ada beberapa masalah di Tengger yang muncul dan menjadi pembicaraan dalam forum itu aku sudah bersyukur. Misalnya saja soal problema asal-usul mereka sendiri. Atas problem ini, mereka menolak dari rumusan para peneliti Tengger yang menyatakan bahwa nenek moyang orang Tengger adalah para pelarian Majapahit. Mereka menyatakan bahwa para pelarian itu memang ada, akan tetapi leluhur Tengger telah terlebih dulu tinggal di pegunungan tersebut, jauh sebelum para pelarian itu tiba.

Problem lain yang sempat dibicarakan menyangkut soal pembantaian orang Tengger pada tragedi G 30 S 65. Mereka juga menyatakan bahwa orang Tengger menolak kalau di cap sebagai kelompok kafir dan identik dengan komunis, sehingga layak untuk dibunuh saat itu, sebagaimana kasus yang terjadi di Tengger Pasuruan. Porsi pembicaraan pada malam itu lebih banyak menyoal sejarah orang Tengger sendiri.

Berangkat dari kesadaran sejarah diluar Tengger yang kurang “memihak” terhadap orang Tengger, maka beberapa orang dalam forum tersebut sedikit menyinggung soal pentingnya perkuatan adat Tengger, dan pentingnya merevitalisasi adat mereka sendiri, khususnya untuk generasi muda mereka. Satu-satunya warisan kekayaan yang tak ternilai dari mereka adalah adat. Oleh karenanya, komitmen yang mereka bangun adalah menggunakan adat sebagai alat seleksi atas proses perubahan yang mungkin saja tidak menguntungkan orang Tengger.

Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan Multikulturalisme Tahun Kedua, Yayasan Interseksi