Mengatur Siasat di Tengah Purifikasi

(Bagian Satu)

Saya telah membaca kiriman e-mail dari kawan-kawan. Terima kasih atas beberapa pertimbangan yang disampaikan kepada saya. Saat ini saya fokus di dua desa di Tengger yang masuk dalam wilayah Kabupaten Probolinggo, yakni Desa Wonokerto dan Desa Ngadas. Kedua desa ini saling bersebelahan. Keduanya saya jadikan situs penelitian, karena keduanya memiliki karakteristik yang menarik. Di Desa Ngadas inilah koordinator Dukun Tengger tinggal, sementara di Desa Wonokerto terdapat “orang Tengger” yang telah menganut Islam. Saat ini Islam memang telah menjamah sebagian desa Tengger, namun Wonokerto adalah “desa Islam” yang letaknya paling tinggi dan berbatasan langsung dengan desa-desa Tengger di dataran atas.

Karena orang-orang di Wonokerto ini memeluk Islam, maka Desa Ngadirejo yang berada di bawah Wonokerto dinyatakan sebagai Desa Putus oleh orang-orang Tengger di atas Wonokerto. Menurut orang-orang Tengger di desa-desa atas, gara-gara Wonokerto memeluk Islam inilah desa Ngadirejo dan desa Ngadas tidak dapat melaksanakan Upacara Karo.[1]

Pemerintah desa di kedua desa di atas sekarang sedang giat melakukan perbaikan keagamaan, yakni agama formal yang dianut oleh masyarakatnya. Pemerintah desa Wonokerto sedang giat membangun dan merenovasi masjid, serta menggalakkan kegiatan keagamaan, terutama memasuki bulan puasa ramadhan ini.

Program saya selama menjabat kepala desa selama dua periode ini adalah meningkatkan keimanan masyarakat Wonokerto. Selama ini mereka telah menganut Islam, akan tetapi mereka tak mengetahui mengenai Islam yang benar. Kami telah berhasil memotong generasi, hanya tinggal kalangan orang tua yang belum mengenal Islam. Dahulu warga disini kalau mendengar suara adzan menyatakan “wes wayahe sembahyang”, tetapi kini mereka telah bisa membedakan jenis-jenis sembahyang, misalnya Dhzuhur atau Azhar,

demikianlah pernyataan Gyantoro, Kepala Desa Ngadas kepadaku mengenai kesuksesan programnya mengembangkan Islan di Wonokerto.

Seolah belum yakin kebijakannya dapat berjalan optimal, Pemerintah Desa Wonokerto juga melarang keberadaan dukun adat, dukun bayi, serta dukun sunat. Kebijakan ini menurut mereka dianggap dapat mengantarkan masyarakat Wonokerto pada kemajuan. Sebagai gantinya, urusan keagamaan di ganti oleh modin, urusan kelahiran dipasrahkan ke bidan, dan urusan khitan ditangani oleh mantri atau dokter.

Sementara situs penting yang selama ini dijadikan pusat spiritual oleh masyarakat Wonokerto, seperti Danyang, pelan-pelan dijauhkan dari warga. Padahal tradisi masyarakat Tengger setiap Hari Jumat Legi biasanya bersembahyang di Danyang atau sanggar. Mereka akan bersemedi semalam suntuk untuk mendekatkan diri pada Sang Hyang Pukulun. Aktivitas ini oleh beberapa kiai dari luar yang tinggal di Wonokerto dianggap mengancam Keislaman warga. Oleh karenanya, para kiai tersebut bersama Pemerintah Desa Wonokerto mengganti persembahyangan di Danyang dengan acara tahlilan. Bahkan sejak Bulan Januari 2006 ini acara di Danyang dihilangkan sama sekali, dan sebagai gantinya dilakukan pengajian bersama di Balai Desa.

Beragam upaya yang dilakukan oleh pemuka Desa Wonokerto diatas, termasuk klaim mengenai adanya kemajuan Islam nampaknya perlu lebih diteliti lagi. Memasuki Bulan Ramadhan ini saya kerapkali bertandang ke rumah beberapa warga di Wonokerto. Beragam apresiasi dalam memandang Islam dan Ramadhan dilakukan oleh warga desa ini. Seorang warga Wonokerto yang bernama Sri Lestari, misalnya, dengan cukup santai menyatakan bahwa dirinya telah memenuhi syarat untuk menjalankan puasa. Ia membayangkan bahwa dengan puasa di hari pertama bulan Ramadhan saja telah cukup. Ia memiliki alasan sendiri untuk tidak menjalankan puasa selama dua puluh sembilan hari berikutnya.

Saya sehari-hari pergi ke ladang, tentu saya membutuhkan tenaga yang cukup untuk mengolah lahan dan merawat sayuran. Kalau puasa, maka kekuatan tubuh saya akan menurun,

demikian argumentasi yang dibangun oleh Sri Lestari mengenai pilihannya untuk menjalankan puasa di hari pertama saja.

Dengan argumentasi berladang ini pula, Ustad Ja’far[2] melihat banyak warga Wonokerto sulit untuk menjalankan sholat lima waktu.

Jangankan sholat lima waktu, sholat Jumat saja di sini bisa diliburkan oleh warga,

ujar Ustad Ja’far, seorang pemuka Islam yang berasal dari Kraksan, Probolinggo. Selama empat tahun ini dia tinggal di Desa Wonokerto untuk menjalankan tugas berdakwah dari kiainya.

Memang pada suatu waktu, Ustad Ja’far pernah diundang untuk menjadi khatib dan imam sholat Jumat di Dusun Jombok, Desa Wonokerto. Menjelang pukul sebelas siang, berangkatlah ia menuju dusun tersebut. Setibanya di sana alangkah terkejutnya ia, sebab hingga memasuki waktu adzan tak ada satu pun warga yang mendatangi masjid. Beberapa menit kemudian ia didatangi oleh seorang anak. Sang anak tersebut menyampaikan bahwa Jumatan diliburkan dulu, diteruskan nanti pada Jumat berikutnya saja, sebab sholat Jumat kali ini bertepatan dengan acara selametan pernikahan salah seorang warga.

Selametan merupakan bagian dari tradisi penting dari desa-desa yang ada di Tengger. Melalui slametan inilah, proses bertetangga ini dibangun secara guyub: mayoritas warga membantu warga lain yang sedang memiliki hajat, apapun bentuknya, baik kelahiran, pernikahan, maupun kematian. Jika ada seseorang tidak menghadiri slametan warga yang sedang berjahat, maka yang bersangkutan akan menjadi gunjingan, bahkan sangat mungkin untuk diisolasi oleh warga desa.

Walau telah “Islam”, warga Desa Wonokerto tetap mempercayai pentingnya slametan, baik bersifat personal maupun massal. Danyang awalnya menjadi situs penting slametan yang bersifat personal maupun massal. Meskipun selametan massal telah dipindahkan ke balai desa, namun beberapa warga tetap bertandang ke Danyang. Menurut beberapa warga, mereka merasa dan meyakini Danyang adalah simbol integrasi kosmologi desa. Meninggalkan Danyang berarti pula mengacuhkan keberadaan Buta Kala yang memiliki kemampuan untuk mengguncang kenyamanan hidup sehari-hari. Bagi warga Desa Wonokerto, menggunakan bahasa apapun, baik Arab maupun Jawa, yang penting slametan desa harus tetap dilangsungkan. Mereka sangat takut kalau kosmologi desa terguncang.

Ketakutan yang sama juga dialami oleh sebagian warga Desa Wonokerto kalau tidak melaksanakan Riyaya Kasada.[3]  Bagi mereka, Kasada bukanlah milik orang yang beragama Hindu. Kasada adalah riyaya yang diikuti secara luas oleh masyarakat yang berada di lereng atas maupun bawah pegunungan Tengger. Bahkan sewaktu saya akan berangkat ke Tengger pada tanggal 6 September 2006 yang lalu, ada seorang warga dari sebuah desa yang terletak di Malang Selatan, sebuah kawasan yang teramat jauh dengan Gunung Bromo, dengan rela dan kesungguhan hati pergi ke sana untuk menjalankan Riyaya Kasada.

Menurut Marsudi, mantan dukun Wonokerto, merayakan Kasada tidak ada sangkut pautnya dengan agama. Kasada adalah sebuah kepercayaan, sebuah nilai adat orang Tengger untuk menghormati leluhurnya, sekaligus menjadi tempat penting untuk memanjatkan doa kepada Sang Hyang Pukulun. Orang-orang Tengger sangat mempercayai bahwa lautan pasir yang ada di sekeliling Gunung Bromo adalah tempat para atma bersemayam, sebelum atma tersebut menapaki alam nirwana.[4]

Walaupun sebagian orang-orang Wonokerto menjalankan ritual Kasada, namun mereka tidak menjalankan ritual Karo. Hampir sebagian besar warga Wonokerto yang saya tanyai tentang hal tersebut menyatakan bahwa ritual Karo adalah upacara Agama Hindu. Jawaban ini memang sangat dilematis. Sebab Karo sebenarnya ritual yang telah lama berjalan di Tengger. Bahkan sebelum pemerintah dan pemuka Agama Hindu, bersama sebagian dukun menyepakati orang Tengger beragama Hindu pada tahun 1973, upacara Karo telah ada. Eksistensinya bahkan diperkirakan sama dengan keberadaan masyarakat Tengger sendiri.

Kalau mendengar cerita para orang tua yang ada di Desa Ngadas maupun Wonokerto, upacara Karo tidak dilaksanakan di Wonokerto sejak masyarakat desa ini mengenal Islam. Mungkin hal ini adalah sebuah sentuhan dari proses Islamisasi awal di desa ini. Namun sayangnya, belum ada seorangpun yang saya temui berhasil memberikan gambaran yang cukup rinci mengenai proses Islamisasi di Wonokerto. Keterangan yang saya peroleh menjelaskan bahwa Islam untuk pertama kalinya dikenalkan di desa ini oleh Mbah Raden. Ia adalah seorang penganut Islam (kejawen)[5] yang berasal dari Kediri. Kapan tepatnya tokoh ini memasuki Desa Wonokerto juag tidak ada yang mengetahuinya lagi. Ruslandi Haryono, Carik Desa Wonokerto hanya dapat mempekirakan bahwa Mbah Raden masuk ke Wonokerto dapat dihitung berdasarkan lima kali keturunan, sejak generasi sekarang ini di Wonokerto. Kalau memang benar ungkapakan Ruslandi Haryono diatas, maka proses Islamisasi di Wonokerto dilakukan kira-kira pada masa pendudukan Belanda.[6] (Bersambung)

References and Footnotes

  1. Upacara Karo adalah upacara adat tengger yang dilaksanakan pada bulan kedua dalam kalender tengger. Upacara ini berlangsung hingga setengah bulan lamanya. Upacara ini dimulai dengan mengundang arwah para leluhur untuk datang kerumahnya masing-masing. Puncak acara ini adalah dilaksanakannya tari Sodoran. Tari Sodoran sendiri adalah sebuah tarian orang Tengger yang mengisahkan proses hubungan suami-isteri sebagai proses awal cikal bakal manusia. Akhir dari upacara ini adalah mengembalikan atma (roh) leluhur ke persemayaman mereka. Pengembalian atma ini dibarengi dengan prosesi nyadran di tempat pemakaman desa. Di beberapa desa Tengger lainnya, khususnya di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, maupun Desa Argosari, Kabupaten Lumajang, upacara Karo dimaknai sebagai pesan damai untuk menghindari perkelahian antara Demak (Islam) dan Tengger. Di Kedua desa tersebut dalam upacara karo dilambangkan perkelahian antara utusan Nabi Muhammad (yang berarti Demak atau Islam dan utusan Ajisaka yang berarti Tengger). Perkelahian dua utusan ini menyebabkan kematian diantara keduanya. Kisah perkelahian kedua utusan yang bernama Hana (Tengger) dan Alif (Islam) inilah yang dipercaya sebagai cikalbakal huruf abjad Jawa. Dalam huruf abjad Jawa ini pula kisah pertempuran kedua utusan tersebut dideskripsikan. Namun kisah seperti ini tidak diakui oleh masyarakat Tengger Probolinggo. Menurut beberapa dukun Tengger Probolinggo sebenarnya tidak memiliki riwayat kekerasan dengan kekusaan Demak waktu itu, sebab yang mengalaminya adalah masyarakat Tengger di Pasuruan, Malang, dan Lumajang, maka wajar jika cerita itu muncul. 
  2. Ustad Ja’far adalah seorang kiai muda yang berasal dari Pondok Pesantren Abdul Qodir Jaelani, Kraksan, Probolinggo. Awal mula kehadiranya pada tahun 2003 di Desa Wonokerto karena permintaan Digdoyo, pemilik Hotel Yoschi yang ada di Desa Wonokerto. Bahkan kehadirannya di Wonokerto sangat dibantu oleh penguasaha ini. Rumah dengan segenap fasilitasnya merupakan sokongan penuh dari Digdoyo. Menurut Ustad Ja’far, Digdoyo awalnya sangat prihatin melihat perkembangan Islam di desa ini. Akhirnya ia menghubungi Ponpes Abdul Qadir Jaelani untuk mengirimkan salah satu pengasuhnya ke Desa Wonokerto dalam mengembangkan Islam.
  3. Riyaya Kasada adalah hari raya orang Tengger yang dilaksanakan pada bulan kedua belas menurut penanggalan Tengger. Riyaya ini dilaksanakan di puncak Gunung Bromo, dengan cara melabuhkan sesaji ke kawah gunung Bromo. Hal ini dilakukan sebagai tanda ikatan dan kepatuhan orang Tengger terhadap janji permintaan Dewa Kusuma. Dewa Kusuma adalah leluhur orang Tengger yang terdapat dalam cerita rakyat orang Tengger. Dalam cerita rakyat tersebut dikisahkan bahwa Dewa Kusuma dikorbankan oleh orang tuanya, yakni Rara Anteng dan Jaka Seger. Kedua orang tersebut awalnya tak memiliki anak. Mereka memohon kepada kekuatan Gunung Bromo untuk diberikan anak, dan bersedia memenuhi permintaan kekuataan yang ada di Gunung Bromo untuk melabuhkan anaknya yang terkhir. Menurut beberapa dukun Tengger, kisah Rara Anteng dan Jaksa Seger berkaitan erat dengan sejarah perjumpaan antara Majapahit dan Tengger. Sebab dalam cerita ini digambarkan Rara Anteng sebagai putri dari Keraton Majapahit sementara Jaka Seger adalah pemuda tampan dari pegunungan Tengger. Kisah pertemuan keduanya ini diperkirakan sebagai pertemuan dua identitas yang memiliki hubungan teologis dan kesamaan nasib. Sebab keduanya dibawah tekanan Demak waktu itu, sehingga orang-orang Majapahit melarikan diri ke Tengger, dan sebagiannya yang lain lagi ke Bali. Pada perayaan Kasada ini, para dukun senior Tengger juga melantik para calon dukun untuk disahkan menjadi dukun melalui proses mulunen. Calon dukun ini, biasanya ditunjuk oleh masyarakat di desa Tengger karena dukun yang lama telah meninggal dunia. Acara pengujian dukun ini dilaksanakan sebelum larung sesaji di kawah gunung Bromo.
  4. Orang-orang Tengger yang masih kuat memegang tradisi melaksanakan upacara entas-entas untuk menyucikan dan mengantarakan arwah yang masih berada di lautan pasir Gunung Bromo. Entas-entas bertujuan untuk mengentaskan atma, agar mencapai nirwana, sebuah tahap akhir dari perjalanan spiritual manusia.
  5. Pada masa pendudukan Belanda hingga awal kemerdekaan, di Desa Wonokerto berkembang aliran Kebatinan Purwo Ayu Mardi Utomo. Namun sayangnya, para orang tua yang ada di sana tak dapat menjelaskan secara rinci bagaimana proses penyebaran kebatinan ini di kawasan tersebut. Namun kelompok ini sudah tidak ada lagi di Tengger saat ini. Para informan juga tidak bisa mengingat kembali waktu surutnya aliran kebatinan ini.
  6. Cerita lisan mengenai masukkan Mbah Raden di Wonokerto menjadi kisah sendiri yang patut untuk disimak. Misalnay diceritakan, saat Mbah Reden masuk Wonokerto, dia harus bertarung dan beradu kesaktian dengan Dukun Wonokerto waktu itu. Hasil pertarungan ini dimenangkan oleh Mbah Raden. Sebelum pertarungan dimulai, ada sebuah perjanjian. Siapapun yang memenangkan pertarungan, maka pihak yang kalah harus tunduk pada tata kebudayaan yag ditentukan oleh pihak pemenang. Karena Mbah Reden berhasil memenangkan perterungan itu, maka Mbah Redenlah yang waktu itu memiliki kuasa untuk mewarnai kebudayaan masyarakat desa tersebut. Namun Mbah Reden ternyata memiliki ambisi untuk melakukan Isamisasi di seluruh kawasan Tengger. Melihat gelagat ini, maka para dukun Tengger berkumpul. Mereka berembug menentukan sikap bersama atas gerakan Mbah Raden tersebut. Maka diundanglah Mbah Raden ke segara wedi (lautan pasir). Mbah Raden diajak berbincang dengan para dukun. Tidak disebutkan mengenai isi perbincangannya. Namun Mbah Raden memang mengutarakan niatnya untuk mengenalkan keIslamannya itu di kawasan Tengger. Setelah perbincangan usai, Mbah Raden pamitan ingin kembali ke Wonokerto. Alangkah terkejutnya Mbah Reden, disaat ia hendak berdiri, ternyata kakinya telah lumpuh, dan tak bisa dipakai lagi untuk menyangga badannya. Akhirnya oleh para dukun Tengger, Mbah Raden dipapah untuk berdiri, dan berdirilah ia dengan kondisi badan sehat kembali. Melihat kejadian ini, akhirnya ia memutuskan untuk membatalkan niatnya melakukan Islamisasi di seluruh kawasan Tengger.
Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan Multikulturalisme Tahun Kedua, Yayasan Interseksi