Mengunjungi “Kampung” Pahlawan

Dari warung kopi, “petualangan” di Butta Salewangan (Maros) dilanjutkan ke timur kota, di Kecamatan Turikale dan Simbang. Minggu, 20 April 2014 lalu, dibantu seorang teman, Nuryadin, warga Maros, saya diantar ke Jalan Haji Bohari, yang dulunya bernama Jalan Bambu Runcing. Di jalan entah di mana ujungnya ini ada Pondok Pesantren Hajjah Haniah dan Situs Karaeng Loe. Haji Bohari, Hajjah Haniah, dan Karaeng Loe menjadi menarik. Ketiganya telah tiada.

Haji Bohari merupakan sosok filantropis dan hartawan di Maros. Beliau mertua Bupati Maros, Hatta Rahman. Putri Bohari, Suraidah menikah dengan Hatta. Setelah meninggal, Hatta menjadikan nama mertuanya sebagai nama jalan. Nama Bohari pun setara dengan nama pahlawan nasional yang namanya turut diabadikan sebagai nama jalan. Haniah merupakan ibu dari Bohari. Kampungnya di Pakere, Desa Bonto Tallasa, Kecamatan Simbang. Di kampungnya, nama Bohari dijadikan sebagai nama jalan dan menggeser nama bambu runcing. Beliau juga dimakamkan di sini.

Raja pertama Maros, Karaeng Loe ri Pakere pertama kali turun dari langit di sini. Karaeng Loe disebut sebagai To Manurung. Beliau turun untuk mendamaikan kekacauan. Tempat Karaeng Loe pertama kali turun pun dijadikan sebagai situs. Menarik bagi saya sebab Jalan Karaeng Loe tak ada. Kendati dia raja pertama, namun bukan kerabat penguasa saat ini, namanya pun tak menjadi nama jalan. Saya belum tahu, apa motivasi penamaan jalan melalui nama kerabat kepala daerah berkuasa. Jelasnya, untuk menamai sebuah jalan harus melalui keputusan kepala daerah. Seorang teman berkata, “Sebaiknya Anda tahu juga, Haji Bohari sangat disukai warga Maros. Filantropis. Sumbangannya di (masjid) mana-mana. Orang kaya.”. Teman itu pernah bermukim dan mencari nafkah di Maros.

Mengapa jalan itu bukan Jalan Karaeng Loe ri Pakere? Saya pun bertanya kepada sejumlah warga setempat. Umumnya, mereka tak tahu. Tahunya, tiba-tiba ada perubahan nama jalan, dari Bambu Runcing menjadi Haji Bohari. Kendati nama jalan berubah tetapi di sejumlah papan bicara Jalan Bambu Runcing tetap tertulis. Saya mendapat kabar jika perubahan nama jalan sempat menuai pro dan kontra karena belum pernah ada sosialisasi, namun nama jalan tiba-tiba berubah. Bupati dinilai membuat keputusan sepihak. Guna perubahan nama jalan, harus ada persetujuan warga.

Bambu Runcing sebagai nama jalan dinilai tak perlu diganti. Amir, warga setempat mengatakan, penamaan Bambu Runcing karena di perkampung sekitar jalan itu pada masa pra kemerdekaan Indonesia menjadi area perlawanan warga terhadap penjajah. Itulah simbol perlawanan terhadap imperialisme. Menurut Amir, Bambu Runcing lebih nasionalis ketimbang Haji Bohari.

Sebelumnya, saya pernah mendatangi Jalan HM Yasin Limpo di Rappang, Kabupaten Sidrap. Yasin Limpo merupakan ayah dari Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo. Syahrul mengukuhkan almarhum ayahnya sebagai pahlawan. Makamnya pun berada di Taman Makam Pahlawan. Saat Yasin Limpo berpulang, Syahrul sedang menjabat gubernur. Di Sulawesi Selatan, generasi kedua Yasin Limpo berpolitik dinasti. Dinasti Yasin Limpo lebih besar ketimbang dinasti Ratu Atut. Kerabat dan jejaring Yasin Limpo mulai menguasai lembaga eksekutif, lembaga legislatif, dan partai politik. Mungkin mereka mengira Sulawesi Selatan punya nenek moyangnya.

Di Maros, Hatta Rahman juge berpolitik dinasti. Adiknya dan iparnya pada Pemilu 2014 ikut menjadi caleg. Mereka terpilih. Hatta di lembaga eksekutif, sedangkan adik dan ipar di legislatif. Tak salah, karena mereka terpilih melalui demokrasi elektoral.

Pemilu memang menjadi pintu masuk politik kekerabatan. Bayangkan, ada 10 kerabat Yasin Limpo ikut bertarung dalam pemilu. Saya memaknainya sebagai pra kondisi pemilihan kepala daerah. Di Sulawesi Selatan, pada tahun 2015 ada sejumlah pemilihan kepala daerah, termasuk di Gowa dan Maros. Gowa adalah kampung halaman Yasin Limpo. Putra Yasin Limpo, Ichsan sedang menjabat Bupati Gowa. Kabarnya, putra mahkotanya sedang disiapkan untuk menggantikannya. Sebab, tongkat estafet kepemimpinan daerah tak boleh lepas dari tangan keluarga.***

Peserta Program Pelatihan Penelitian Kelas 2013/2014, dan anggota tim peneliti Kota-kota di Sulawesi, Yayasan Interseksi