Mengusik Benteng Dinasti

Dinasti politik kini menarik diperbincangkan dan media massa pun terus menyorotnya. Ada dua dinasti politik besar di Indonesia, dan inilah menjadi sorotan serta bahan ulasan media. Dinasti Ratu Atut di Banten dan dinasti Syahrul Yasin Limpo di Sulawesi Selatan. Keduanya adalah”penguasa provinsi” di barat dan timur Indonesia. Atut dan Syahrul adalah generasi kedua dalam lingkaran dinasti politiknya.Sebenarnya bukan Atut atau Syahrul yang melahirkan dinasti, namun merekalah menjadi Ego. Dinasti Atut lahir dari ayahnya, Tubagus Chasan. Dinasti Syahrul lahir dari ayahnya, Yasin Limpo.

Jauh hari sebelum dinasti Atut menghiasi pemberitaan media massa Indonesia, menjadi bahan obrolan di warung kopi, topik diskusi di kalangan penggiat dan pengamat, saya mencoba menarasikan bahaya dinasti politik. Jalurnya ilmiah, menyajikan melalui hasil penelitian. Dinasti Atut terkuak pasca tertangkapnya Tubagus Chaeri Wardhana, adik kandung Ratu Atut, karena kasus suap terkait pemilihan kepala daerah (pilkada). Dinasti Yasin Limpo juga terkuat karena pilkada. Yasin Limpo membentangkan dinasti di daerah atau mengonsolidasikannya melalui pilkada.Pilkada seolah menjadi pintu pembuka tabir dinasti. Andai tak ada pilkada, mungkin tak saja dinasti tak terkuak atau bahkan dinasti politik tak akan lahir.

Sebagai jurnalis muda bidang politik pada Tribun Timur, perusahaan media lokal di bawah brand Kompas Gramedia, dinasti politik menarik untuk saya dalami. Saya belajar pada pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel, tahun 2013. Hampir setiap hari, sudut pandang (angle) pemberitaan soal keluarga Yasin Limpo yang ikut dalam kontestasi politik lokal tersebut adalah soal dinasti politiknya.

Dari situlah muncul minat untuk mengajinya, namun baru sekarang, saya merasa menemukan “panggung”. Media massa belum bisa memberi ruang karena dipahami jika media cetak kini terbatas menyediakan ruang. Terjadi “perang” antara berita dengan iklan.Ada apa sebenarnya pada dinasti politik Yasin Limpo? Pemahaman awal saya soal dinasti sama saja dengan ampibi (anak, menantu, paman, ipar, dan bibi). Seperti itulah dinasti politik, hampir semua anggota keluarga dilibatkan dalam politik guna menduduki kursi jabatan.

“Habis Suami, Terbiltah Istri”, demikian judul sebuah disertasi soal politik dinasti.

****

Medio Agustus, The Interseksi Foundation membuka seleksi pelatihan penelitian kelas 2013 untuk penerbitan buku Kota-kota di Sulawesi. Dosen sekaligus antropolg Universitas Negeri Makassar, Halilintar Lathief, menghubungi saya melalui sambungan telepon. “Bisa ikut mendaftar penelitian Interseksi?” Katanya bertanya saat mengawali pembicaraan.

Bukannya langsung mengiyakan atau tidak sebagai jawaban. Malah balik bertanya,”Soal apa, Pak?”Saat itu Pak Halilintar sibuk mencari calon peneliti dari Makassar untuk mengisi kuota peserta penelitian Interseksi. Awalnya, beliau sempat kebingungan mencari peserta. Sebenarnya, banyak yang bisa didaftarkan, namun terganjal satu syarat, belum sarjana. Lebih baik jika magister. Prasyarat pelatihan itu tak bisa ditawar.

Kabar dari Interseksi, jika calon peserta masih belum menyandang gelar sarjana, magister, akan sulit beradaptasi, mencerna materi pelatihan, dan menyesuaikan waktu antara belajar di kampus dengan memenuhi waktu penelitian. Saya lolos untuk prasayarat ini. Alhamdulillah, tahun 2008, genap empat tahun menyandang status sebagai mahasiswa Universitas Negeri Makassar, kadang diplesetkan oleh mahasiswanya sendiri menjadi Universitas Negeri Madangkara karena kerap tawuran, akhirnya menyandang gelar sarjana.Tawaran meneliti melalui fellowship Interseksi datang, lima tahun setelah saya meninggalkan kampus. Sekitar setahun pascawisuda, saya sempat bermitra dengan Pak Halilintar, meneliti manajemen organisasi seni pertunjukan tradisional di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.

Beliau memberi kepercayaan dengan harapan bisa mengaplikasikan ilmu diperoleh dari Lokakarya Manajemen Organisasi Budaya yang diselenggaran PPM Manajemen, tahun 2007. Selama lima hari, sempat menimpa ilmu di kampus PPM, lembaga pendidikan manajemen terbaik di Indonesia. Bekal bermitra meneliti manajemen organisasi seni pertunjukan dan pengalaman lain bermitra dalam banyak hal mendorongnya untuk menyarankan saya mencoba mendaftar program pelatihan penelitian ini. Saya sempat menanyakan ToR program ini, apa yang harus dipenuhi sebagai prasayarat. Itu respon awal atas ketertarikan mengikuti program.  Saya memang selalu tertarik dengan berbagai program untuk peningkatan sumber daya manusia. Terlebih lagi, penelitian ini soal demokrasi lokal. Saya merasa sangat pas untuk mengikutinya sebab saban hari meliput dinamika politik lokal.

Kira-kira jelang, 20 Agustus 2013, saya membuka laman resmi Interseksi, interseksi.org. Selang waktu yang lama, membuka kembali laman ini. Kali pertama mengenal Interseksi, tiga tahun lalu, tepatnya 2010. Saat itu menjalankan program Crossing Boundaries: Video Project for Peace. Saya menjadi volunteer, guide bagi peserta yang riset dan shooting di Makassar. Juga untuk pemutaran filmnya. Dari laman resmi itu, saya mulai mengerti soal program ini. Deskripsi program sangat detil sehingga dapat dipahami goals-nya. JIka Crossing Boundaries menggunakan medium video, ini menggunakan medium teks. Titik kesamaannya adalah pada arah riset, dinamika kehidupan masyarakat.

Membaca kata demi kata, kalimat, paragraf, hingga seluruh ToR berulang kali, saya sempat terusik. Ada satu prasyarat, kiranya sulit untuk saya penuhi. Calon peserta harus berlatarbelakang penggiat organisasi non-pemerintah.  “Waduh!!!” Jika begini, hampir pasti saya gugur sebelum mendaftar.  Saya bukanlah penggiat ornop, saya jurnalis. Program yang dilamar bukanlah program pengembangan jurnalis. Pak Halilintar memberi advice soal prasyarat ini. Beliau menyerankan melamar dengan tetap melalui jalur ornop. “Oh ya, Pak Halilintar itu memiiliki Latar Nusa, ornop bidang seni budaya.” Latar Nusa merupakan mitra Interseksi. Sesaat pasca-advice, saya masih berpikir panjang untuk mengikuti program ini. Ibaratnya, menimang-nimang pinangan.Setiap pelamar program diharusnya mengirimkan paper. Ada ide ditawarkan untuk Interseksi yang menarik diteliti. Tugas liputan masih menyandera setiap hari. Tahun ini adalah tahun politik, pemilu jatuh tahun awal depan. Pemilihan Wali Kota Makassar di ambang pintu. Berat rasanya meninggalkan sekelumit liputan kontestasi politik kala kontestasi politik memasuki klimaks.

Dari ruang kelas training di GG House, terus terbayang panasnya suhu politik di Makassar.Dari situlah muncul ide untuk ditawarkan. DINASTI POLITIK. Entah mengapa tiba-tiba dua kata itu melintas dalam benak. Memang, namanya ide, dapat muncul kapan saja ketika masih di alam sadar. Bahkan di toilet pun, ide kreatif kadang muncul. Tak lama berselang, tak sengaja, bertemu dengn Pak Halilintar dan di sebuah restoran cepat saji untuk makan malam. Saya menyempatkan waktu mengisi perut dengan menu ayam goreng, nasi putih, sup, dan minuman ringan  bersoda.Di situ ada waktu untuk berdiskusi soal ide penelitian saya. Beliau langsung setuju ketika ditawarkan ide, dinasti politik. Tak perlu berpikir panjang.

Sempat memberi sejumlah saran ketika menjelaskan, dinasti politik akan diteliti, dinasti Yasin Limpo. Tak mudah mengusik dinasti Yasin Limpo. Klan Yasin Limpo terkenal memiliki “benteng pertahanan” agar tak mudah diusik melalui berbagai medium. Kini, benteng itu retak. Klan mulai diusik karena dianggap merusak tatanan demokrasi di Sulawesi Selatan. Pemerintahan di provinsi ini tak akan sehat jika masih dikendalikan kekuatan dinasti.Benteng itu adalah, seluruh pihak yang membantu mengonsolidasikan dinasti Yasin Limpo. Konsolidasi dinasti didukung sumber daya aparat pemerintah, sumber daya keamanan, dan sumber daya ekonomi.Sulit ditembus, namun dengan selimut jurnalis, akan menjadi mudah.

Alhamdulillah, ide saya lolos. Berada di antara ide teman-teman dari provinsi lain di  Sulawesi, Kalimantan, dan Jawa. Ada ide soal konflik agraria, kearifan lokal, subversif, multikultural, dan kecurangan pemilu.

****

Membaca news analysis, opini dari sejumlah media, terkumpullah sejumlah bahan untuk menulis paper dinasti polititk. Ada argumentasi ketika harus ditanya nantinya, mengapa memilih dinasti politik? Dinasti politik menjadi  diskursus dan trending topicLast minute, dalam dua malam, paper rampung disusun. Sejumlah data awal yang menguatkan argumentasi saya soal dinasti politik serta bahaya latennya bagi demokrasi, telah terangkum dalam paper itu.

Sayang, minusnya adalah pada kajian pustaka. Ini pula menjadi masukan, catatan penting untuk perbaikan desain perbaikan desain penelitian, saat presentasi di sela-sela training di Bogor, Jawa Barat, awal September. Terima kasih catatan penting dari Bapak Prof Heddy Shri Ahimsa-Putra, Bapak Dr Halilintar Lathief, Bapak Hikmat Budiman, dan para PO Interseksi.Penelitian ini telah memperkaya khasanah pengetahuan saya. Menjadi jembatan menelusuri lebih dalam dinasti Yasin Limpo, yang tak mungkin dilakukan dalam tugas jurnalistik.***

Peserta Program Pelatihan Penelitian Kelas 2013/2014, dan anggota tim peneliti Kota-kota di Sulawesi, Yayasan Interseksi