Menjadi Ladang Curhat Pedagang…

Seperti yang telah saya ceritakan di bagian pertama, bahwa saya masih tercatat sebagai mahasiswa S1 ketika melakukan penelitian ini, bahkan masih tergolong sangat muda, yaitu masih duduk di semester 4 di mana jadwal kuliah sedang padat-padatnya. Waktu penelitian bagi saya adalah ketika jeda kuliah.

Membagi waktu kuliah dan waktu penelitian merupakan hal yang tidak mudah bagi saya. Rumah kost bagi saya hanya tempat untuk tidur. Saya berangkat dari kost jam 7 pagi dan kembali jam tujuh malam. Kegiatan saya di luar kampus semakin padat dengan kegiatan internal saya sebagai anggota di sebuah komunitas yang sedang saya rintis. Saya baru merasa jadi mahasiswa beneran sejak mengikuti penelitian ini. Teman-teman saya sering mengatakan seseorang baru disebut mahasiswa beneran jika ia memiliki waktu lebih lama di luar kost. Sebenarnya saya kurang setuju dengan opini ini. Menurut saya mahasiswa beneran itu adalah mahasiswa yang selain aktif kuliah juga aktif terlibat kegiatan di luar perkuliahan. Tapi itu bukan hal yang penting untuk dibicarakan.

Kembali ke masalah penelitian, hampir tiap hari saya datang ke Pasar Raya, berbincang-bincang dan berbaur dengan pedagang. Perbincangan diawali dengan masalah ringan kemudian sedikit-sedikit mengorek keterangan mengenai topik penelitian ini. Pedagang baik yang laki-laki dan perempuan sangat merespons penulis, semuanya ramah dan terbuka. Ada kalanya perbincangan telah melebar kemana-mana. Bahkan ada yang berurai air mata ketika menceritakan peristiwa gempa 30 September 2009 lalu.

Namun, beberapa situasi dan kondisi menyebabkan saya terpaksa menyembunyikan identitas sebagai peneliti. Beberapa pedagang agak canggung menjawab pertanyaan-pertanyaan dari saya ketika mereka tahu saya adalah peneliti. Maka hal ini terpaksa saya alihkan dengan mengatakan kegiatan ini adalah dalam mengisi tugas kuliah.

Diantara pedagang yang ramah, ada juga pedagang yang bersikap dingin. Biasanya saya memulai pendekatan dengan berperan sebagai pembeli. Ketika transaksi jual beli sedang berlangsung saya menyempatkan diri menanyakan hal yang ringan-ringan misalnya, sudah berapa lama ibu berjualan? Dimana ibu mendapatkan barang dagangan ini? Jika pertanyaan itu dijawab panjang lebar dan ibu pedagang itu kelihatan tidak terganggu, maka saya langsung memperkenalkan diri baik sebagai mahasiswa maupun sebagai peneliti, tergantung kondisi. Tetapi jika ibu pedagang itu menjawab pertanyaan tadi dengan satu dua patah kata, saya tidak berani bertanya lebih dalam lagi. Pertanyaan berakhir dengan berakhirnya transaksi jual beli.

Mendekati pedagang hanya dapat dilakukan dengan menjadi pembeli. Maka setiap hari saya membawa beberapa kantong plastik hasil belanjaan yang terkadang barang-barang yang telah dibeli itu sebenarnya tidak saya butuhkan. Untuk mengatasi pemborosan terhadap barang-barang yang dibeli, saya melakukan survei di setiap kamar di kost saya, barangkali diantara mereka ada yang menitip dibelikan sesuatu, jadi barang yang saya beli tidak sia-sia. Teman-teman kost saya sering meledek dalam Bahasa Minang, “Mega ko lah kayak amak-amak sajo, tiok ari ka pasa. Amak-amak se ndak tiok ari ka pasa do” (Mega ini kayak ibu-ibu saja, tiap hari ke pasar, ibu-ibu saja gak tiap hari ke pasar.) Saya hanya menjawab dengan senyuman.

Setiap pedagang yang saya wawancarai selalu menyempatkan diri untuk curhat. Mereka tidak segan-segan menceritakan masalah pribadinya kepada saya. Mereka bercerita tentang bagaimana beratnya menjadi seorang ibu yang harus menjalankan peran ganda yaitu sebagai pengurus rumah tangga sekaligus mencari nafkah keluarga. Mereka bercerita tentang masalah mereka dengan suami, masalah kenakalan anak-anak mereka, masalah mereka dengan tetangga. Mereka juga bercerita tentang bagaimana kerasnya kehidupan pasar, persaingan yang tidak sehat antar pedagang, di mana yang kuat menindas yang lemah, dan yang lemah semakin tertindas. Saya sering terenyuh mendengar cerita mereka. “Di pasar kita harus keras, jika tidak kita dimakan orang,” begitu ungkap salah seorang pedagang yang saya wawancarai. Singkat kata saya menjadi ladang curhat bagi mereka. Bagi saya itu sesuatu yang menyenangkan. Saya bisa mengetahui psikologi pedagang. Saya juga memahami, ternyata menjadi pedagang itu tidak mudah.

Setiap hari saya ke pasar ditemani oleh seorang teman. Ia tak pernah membiarkan saya pergi ke pasar sendirian. Huum, tentu saja ia tak mengizinkan, karena ia adalah teman spesial saya. Pasar adalah daerah yang rawan. Di beberapa sudut pasar adalah tempat berkumpulnya preman-preman pasar. Hal ini dirasa berbahaya jika saya sendirian.

Dalam melakukan wawancara saya menugaskannya mendokumentasikan hasil wawancara baik melaui rekaman atau pun note tertulis. Terkadang alat perekam yang kami bawa terpaksa harus disembunyikan agar wawancara tidak terkesan kaku dan formal dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Jika situasi memungkinkan kami mencatat langsung hasil wawancara tersebut.

Mendokumentasikan kegiatan dalam bentuk foto kami mengalami sedikit kendala. Pasar Raya Padang ketika saya sedang melakukan penelitian sedang bergejolak. Hal ini terkait dengan masalah akan dipindahkannya pedagang ke tempat yang baru serta rencana pembangunan pasar yang baru terkesan merugikan pedagang. Maka, segala hal yang berhubungan dengan kamera dan alat perekam ditakuti oleh pedagang. Kami dikatakan wartawan yang sedang mencari berita.

Sebagian besar pedagang mengerti dan percaya bahwa kami bukan wartawan setelah dijelaskan kepada mereka maksud dan tujuan kami. Beberapa juga ada yang tidak percaya dan malah mengatakan kami adalah mata-mata pemerintah.

Saya sedikit kecewa ketika meminta data jumlah pedagang ke Dinas Pasar. Menurut keterangan sekretaris Dinas Pasar, pasca-gempa dinas pasar tidak memiliki data yang valid mengenai jumlah pedagang karena pasca gempa kondisi perdagangan pasar raya padang berubah 60%. Data tersebut saya butuhkan untuk mencari perbandingan jumlah pedagang perempuan dan laki-laki di sektor tertentu. Maka, berdasarkan hasil interim meeting, Mas Sudiarto menyarankan agar melakukan penghitungan atau pendataan secara manual.

Dilatarbelakangi hal itu saya membawa 10 orang teman dari anggota komunitas yang saya sendiri adalah anggota dari komunitas itu untuk melakukan pendataan. Kami dibagi menjadi tiga kelompok yaitu kelompok yang menghitung jumlah pedagang yang berdagang di toko, los dan kaki lima. Yang kami lakukan bukan mendata nama pedagang satu persatu namun hanya menghitung jumlah pedagang laki-laki dan perempuan saja untuk kemudian dicari perbandingannya. Banyaknya pedagang, dan kekurangan anggota menjadi kendala terbesar kami. Akhirnya penghitungan yang optimal hanya bisa kami lakukan pada pedagang yang berdagang di kaki lima. Sementara beberapa orang teman lainnya saya tugaskan melakukan orservasi dan wawancara untuk menambah data informan.

Kepada seseorang yang telah menjadi pendamping terbaik dan yang tak henti-hentinya memberi dukungan dan semangat kepada saya, saya ucapkan terima kasih. Dan kepada teman-teman anggota Jendela Komunitas, penulis ucapkan banyak terima kasih atas partisipasinya yang telah membantu saya dalam penelitian ini, serta terima kasih juga telah memasukkan tulisan mengenai kegiatan penelitian ini ke dalam Buletin Jendela.

Penelitian ini pengalaman yang berharga bagi saya. Banyak suka duka yang saya rasakan selama penelitian ini. Saya juga belajar banyak hal di sini. Mulai dari bagaimana me-manage diri sampai dengan bagaimana bersosialisasi dengan masyarakat umum. Apalagi bercampur baur dengan pedagang yang berasal dari latar sosial yang beragam adalah hal yang tidak mudah. Di pasar tempat berkumpulnya orang-orang dengan segala sifatnya, dari yang baik sampai jahat, dari yang alim dan yang zalim, dan berbagai sifat manusia lainnya.