Merayap di Danau Kuping Bersama Pak Dullah

Mesin tempel bertenaga 5 tenaga kuda itu mendorong ketinting yang kami tumpangi, melawan arus sungai Sembakung yang sedang surut. Di ujung ketinting, Pak Ismail duduk diam sembari mengisap rokoknya, mengawasi aliran sungai, sembari memberi isyarat pada Pak Abdullah yang memegang tuas kemudi di buritan, sembari sesekali tangannya memberikan isyarat setiap kali potongan reranting atau batang pohon yang hanyut menghalang laju. Dengan sebal, saya memandang tebing di kiri kanan yang tiba-tiba menjulang dari permukaan sungai dalam beberapa hari terakhir. Selama empat hari keberadaan kami (saya sendiri, Anggi Frisca dan Nova Rahmat) di desa Atap, kota kecamatan Sembakung di Kabupaten Nunukan itu, saya dihantui pikiran jahat untuk melihat sungai Sembakung itu meluap, menenggelamkan tebing-tebing dan gerumbul-gerumbul gelagah yang berkerumun di tepian, juga akar-akar pepohonan, juga pesawahan, juga kampung-kampung…

Mengitari beberapa tanjung –demikian warga setempat menyebut kelokan-kelokan 180 derajat yang membentuk meandersungai– ketinting kami melaju dengan malas melawan arus, sembari sesekali bergoyang hebat setiap kali diterpa gelombang dari ketinting-ketinting lain yang sedang menghilir. Saya berusaha menandai sejumlah pohon entah dengan buah berwarna merah, pohon-pohon madu (entah namanya menggeris entah pamatodon), dan gerumbul-gerumbul yang saya anggap khas sembari menghitung tanjung, sebelum kemudian menyerah dan membiarkan saya tersesat dalam kepungan pepohonan yang tidak bisa saya namai di kanan kiri sungai.

Entah. Saya kehilangan orientasi. Sungai ini mengombang ambingkan saya dengan arah yang terus berganti. Dalam hitungan hari, pergaulan saya dengan sungai Sembakung telah memeras orientasi navigasi saya menjadi semata-mata dua arah: arah hulu atau arah hilir. Dalam hitungan tahun, para pemukim tepian Sembakung pasti telah mampu mengatasi ini dan mengembangkan ketrampilan untuk menghitung jarak di dalam dan terhadap aliran sungai tersebut relatif terhadap posisi-posisi lain. Tapi saya juga tahu, bahwa orientasi relatif ini pun serta merta akan sangat mungkin berubah dari waktu ke waktu, mengingat bahwa aliran sungai itu sendiri bergeser tiap kali! Dengan kebanggaan yang pahit, beberapa kali Pak Abdullah bercerita tentang sungai yang berbelok, memotong arah dan membuat peta baru. Hanya di Sembakung sungai bisa begitu, demikian katanya. Saya tidak ingin mengecek kebenarannya. Saya sedang ingin tersesat dalam legenda-legenda yang dituturkannya, seperti saya menyerah menghitung tanjung dan pepohonan.

Maka kampung-kampung di Sembakung yang selalu dibangun berdasar posisi sungai (sebagaimana semua kampung-kampung tua di Kalimantan dibangun sejak dahulu kala) selalu menghadapi kemungkinan untuk bereksodus tiap kali. Sungai ini temperamental; ia menjauhi, mendekati, menggerus, membelah, bahkan menenggelamkan kampung-kampung yang dengan sabar berusaha untuk terus berkerumun di pesisir-pesisirnya. Sungai Sembakung dan para pemukimnya seperti sepasang kekasih dalam sebuah percumbuan yang keras kepala.

Tiba-tiba Pak Ismail berdiri dan meneriakkan sesuatu dalam bahasa Tidung yang tidak saya pahami. Sekejap, suara mesin merendah dan saya lihat mata Pak Abdullah menjadi waspada. Ketinting itu melambat, sejenak hanyut dalam arus, untuk kemudian haluannya mendekati tepian. Saya masih mencoba menduga apa yang terjadi sebelum dari sebalik gumpalan lilitan akar sebuah pohon yang terbongkar dari tebing tiba muncul sebentuk mulut anak sungai. Tapi sungai yang surut telah merubah anak sungai itu menjadi tidak lebih dari genangan air yang dikelilingi hamparan lumpur. Saya memegang pinggiran ketinting erat-erat. Saya tahu berdasarkan pengalaman sebelumnya bahwa dalam situasi ini, bukan air yang akan menenggelamkan, tetapi lumpur. Sebelumnya saya pernah terperosok dalam sebuah hamparan lumpur sungai dan menghabiskan waktu seperempat jam untuk membebaskan paha saya dari cengkeramannya.

Parit dangkal itu memanjang membentuk sebuah terusan yang masih mungkin untuk dilintasi ketinting. Kini Pak Ismail dan Pak Abdullah sama-sama berdiri di kedua ujung ketinting, mencoba menerka genangan di depannya tanpa menghentikan ketinting, meski kali ini ia bergerak lebih lambat. Memandangi parit dangkal itu saya tiba-tiba jadi paham, kenapa ketinting menjadi alat transportasi paling diminati di kampung-kampung itu. Dengan motor kecil yang ringan dan harga terjangkau serta baling-balingnya yang berada di ujung sebuah tuas yang sekaligus berfungsi sebagai kemudi, benda ini menjadi sangat adaptatif terhadap kondisi sungai yang beragam dan juga berubah-ubah. Bila sebuah sepeda motor trail mampu untuk melaju off-road, maka ketinting mampu untuk melaju off-stream, dengan dandanan rakitan sendiri yang jauh lebih bersahaja. Sambil masih mungkin untuk menjalankan motor tempelnya, Pak Abdullah mengamangkan tuas baling-balingnya sedangkal mungkin ke permukaan tanpa khawatir baling-baling itu akan menghajar dasar sungai.

Tapi ada soal lain muncul di depan. Sebatang pohon tumbang melintang di permukaan sungai, menutup jalan sama sekali. Pak Ismail berteriak ke belakang dan serta merta Pak Abdullah menjulurkan lehernya menilai batang pohon itu. Penilaiannya berlangsung hampir dalam sekejap mata karena tiba-tiba mesin menggerung keras dalam sebuah tindakan yang disengaja. Saya mengeratkan pegangan saya dan saya lirik Anggi segera menyembunyikan kamera ke balik raincoatnya. Ketinting menyentak ke depan oleh dorongan mesin yang tiba-tiba itu dan melaju cepat mendekati pohon tumbang yang terendam sebagian di badan parit itu. Tebing-tebing lumpur meluncur cepat ke belakang di kanan kiri saya sebelum kemudian saya merasakan sebuah benturan di haluan, untuk kemudian tergantikan dengan suara gesekan yang nyaris terdengar seperti terkendali di bawah kaki saya. Lunas ketinting itu meluncur licin menyeberangi batang kayu tersebut. Tepat sebelum baling-baling menghajarnya, Pak Abdullah mengungkit tuasnya dan dengan segera baling-baling itu berputar di udara dengan bebas, untuk kemudian jatuh lagi ke dalam air. Ketinting kami melaju kembali ke ujung lorong yang dibentuk oleh tebing lumpur itu, nyaris tanpa memberi kesempatan kepada kami warga negara dari Jakarta ini untuk merayakan keberhasilannya.

Di ujung lorong terusan itu, tiba-tiba parit itu tersambung ke sebuah genangan air yang jauh lebih luas dan tampaknya dalam. “Danau Kuping!” Pak Abdullah berteriak dari belakang saya. Dengan melihat kelokannya jauh di depan sana di balik gerumbul pepohonan, dengan segera saya menduga bahwa di suatu tempat, aliran ini bukanlah anak sungai, tetapi aliran utama Sungai Sembakung yang terputus ketika arus mencari jalan terpendek tepat di leher meander awalnya. Ketika aliran berubah, sedimentasi perlahan menutup salah satu atau kedua inlet atau outlet-nya, membentuk sebuah genangan besar yang kemudian disebut “danau” oleh penduduk setempat.

Bila kita menyusuri separuh kelilingnya dengan ketinting, kita akan menghabiskan waktu sekitar 15 menit. Taksiran saya, keliling danau ini mencapai 2,5 kilometer. Dan senja itu, hanya kami berlima yang ada di sana. Matahari nyaris lenyap di balik pucuk pepohonan, tapi masih cukup cahaya untuk mengoperasikan kamera. Tapi bukan itu yang saya cemaskan, karena kami telah menyiapkan lampu-lampu bertenaga batere.

Ketinting kami menyisir pinggiran danau itu sembari mata PAk Abdullah dan Pak Ismail mencari-cari. Selama beberapa menit saya tidak tahu apa yang sedang mereka cari. Pinggiran danau itu telah semakin gelap, dan di sana-sini saya hanya melihat dataran-dataran separuh lumpur di sebalik akar-akar pohon yang mengangkangi bibir air. Saya pikir mereka sedang mencari sebuah titik untuk melepaskan pukat atau jala-jala mereka, tetapi sejurus kemudian saya sadar bahwa mereka sedang mencari tempat untuk mendarat dan menyalakan api unggun.

Saya menatap Pak Abdullah dengan tatapan cemas dan menuntut yang tidak saya sadari pada saat itu, sampai kemudian Pak Abdullah menjawab tanpa ditanya, “Kita tidak bisa ke pondok karena sungai tertutup lumpur!”. Lebih dari cemas, saya merasa kecewa. Sebelum kami berangkat tadi, Pak Abdullah bercerita tentang pondok di pesisir danau itu, dimana tiang-tiang kayu didirikan dan bilah-bilah bambu digeletakkan untuk jadi alasnya, satu meter dari permukaan tanah, dimana di kolongnya kita bisa menyalakan api unggun di salah satu sudutnya untuk “mengusir nyamuk” dan “memanggang ikan”. Dengan pengetahuan itu, kami membawa beras, bersachet-sachet susu dan kopi seduh, juga biskuit dan kaleng-kaleng sarden, persis seperti yang kami lakukan di pondok kebunnya di atas bukit tempo hari. Dan yang jauh lebih membuat excited adalah saya kira -harus diakui- bahwa di titik itu, sinyal seluler masih mampir. Sehingga perasaan “wirelessly connected” membuat keterpencilannya menjadi makin tegas ketika ia mungkin untuk dinyatakan pada dunia luar, sebab, hei, kapan lagi bisa chatting di tengah hutan belantara macam ini?

Saya masih menelan kekecewaan ketika akhirnya perahu menepi ke sebidang tanah separuh kering-separuh lumpur yang tampak tidak meyakinkan. Saya memandang sekeliling. Akar-akar pohon yang licin menghalangi kami dari permukaan air, sementara dataran itu sendiri tidak benar-benar rata, ditambah dengan tonjolan-tonjolan pokok-pokok pohon mencuat di sana-sini. Tak jauh dari sana, semak belukar, kayu busuk dan tumpukan dedaunan yang lembab dan genangan air menegaskan kecurigaan akan lintah dan serangga merayap yang beracun. Seluruh tempat itu tampak tidak layak. Tapi kecekatan Pak Abdullah untuk menyiapkan camp kami membuat saya merasa bersalah dengan kekecewaa saya sendiri. Saya membayangkan Vasco da Gama, Columbus, Cornelis de Houtman dan penjelajah-penjelajah abad itu serta hasrat mereka untuk menemukan terra incognita adalah hasrat yang sama dengan yang membersit di benak saya barusan. Sebuah hasrat yang berujung pada perbudakan dan penjajahan. Saya merasa seganjen seorang totok Belanda dengan sebuah kartu pos bergambar indie mooi di seratus tahun yang lalu. Tapi sumpah, saya cuma seorang Jawa yang jarang berada di hutan belantara semacam ini sepanjang hidupnya!

Pak Abdullah dengan gerakan yang seperti otomatis segera bergerak berkeliling, menebaskan parangnya tanpa maksud yang jelas. Saya rasa ia hanya sedang berusaha menandai “wilayah”, karena dengan bekas-bekas tebasan parangnya pada sesemakan dan dahan-dahan di sekeliling kami, dengan serta merta dataran itu tampak sedikit terjinakkan. Tapi toh bagaimanapun hasil perbuatannya mempunyai manfaat yang jelas. Beberapa batang dahan itu kemudian berubah menjadi kayu-kayu api unggun dan panggangan ketel yang demikian praktis. Dengan segera api menyala dan cahaya tungsten itu memberi suasana hangat dan terlindung. Tapi saya masih ingat satu hal: ular!

Dengan cepat saya membentangkan terpal pada bidang yang sudah saya periksa baik-baik sebelumnya. Belum lagi saya selesai mengatur barang-barang, Pak Abdullah dan Pak Ismail telah meluncur kembali ke ketinting, menuju ke tengah danau. Anggi melompat ke ketinting dengan susah payah. Saya biarkan ia bersama mereka ke tengah danau dengan tujuan memberinya ruang pandang yang bebas yang tidak membuat frame-nya “bocor” karena kehadiran kami para “pembuat film” (sebuah upaya yang tolol sebab bukankah seharusnya kamera diberikan saja pada mereka untuk merekam diri mereka sendiri?). Dengan segera mereka segera mengabur di tengah danau di tengah siraman cahaya malam yang redup kebiruan. Saya meneruskan kegiatan saya.

Setelah terpal digelar, dengan pengetahuan yang saya dapatkan ketika menjadi anggota Pramuka seperempat abad yang lalu, saya menghabiskan satu kantong penuh garam untuk saya taburkan di sekeliling terpal, di belakang, terutama di belakang punggung saya, berlawanan arah dengan api unggun (sebuah upaya yang lagi-lagi tolol karena dari percakapan dengan Basri, seorang pencari ikan yang kami temui beberapa hari kemudian, kami kemudian tahu bahwa ular menyerang dari atas, dari dahan-dahan, dan bukannya dari permukaan tanah, sementara bahaya terbesar dari bawah adalah buaya, dengan mana kami tidak bisa berbuat apa-apa kecuali berharap sebuah gambar eksklusif ketika mereka menerkam pergelangan kaki kami sendiri) dengan kengerian purbawi yang saya warisi sebagai spesies yang membenci ular sejak penciptaan pertamanya.

Air di ketel mendidih dan dengannya saya menenangkan diri dengan segelas kopi. Dengan cepat kanopi hutan menenggelamkan cahaya senja yang terakhir dan melenyapkan ketinting Pak Abdullah dari pandangan. Mereka tidak menyalakan mesin, samar-samar terdengar kecipak dayung di kejauhan. Langit semakin menggelap dan beberapa kali, saya menandai ketinting mereka dengan sorot lampu senter yang menyala sekali-kali. Dan yang terdengar setiap kali senter itu menyala adalah jeritan bekantan yang ketakutan di pucuk-pucuk pohon di pinggir danau. Sekali terdengar teriakan Pak Abdullah membelah kesunyian danau.

Saya senang mendengar teriakannya. Teriakan itu membubarkan kesunyian yang berhimpit-himpit di sekeliling saya. Teriakan itu terdiri dari bunyi “o” yang panjang dan diakhiri dengan sambungan bunyi “e” dengan nada yang menurun. Ia bisa meneriakkan itu beberapa kali, ke arah yang berbeda. Bila ia beruntung, akan terdengar bunyi yang sama dari sebuah arah, menandai keberadaan seseorang, sebuah makhluk berkecerdasan di tengah belantara yang tak sepenuhnya bisa ia atur sekehendak hatinya. Di kebunnya tempo hari, sebuah bidang hutan yang dibukanya sendiri di punggung bukit di hilir sana, teriakan itu sering ia perdengarkan. Waktu itu ada jawaban dari seberang jurang, tapi sekali ini tidak. Di danau itu cuma ada kami. Sedang danau itu demikian tenangnya, tak bergerak, wingit, singup, misterius…

Saya memandang ke sekeliling, meyakinkan diri bahwa suara berkemeresak di atas kepala saya adalah cuma suara monyet-monyet yang tidak berbahaya. Atau mungkin bekantan dengan hidungnya yang panjang dan tampak ramah seperti kartun. Perapian bergemeretak di hadapan saya. Di sana sini di sekeliling saya, saya bisa merasakan lembabnya lumpur. Di kejauhan, jeritan bekantan itu masih terdengar, untuk kemudian kesunyian itu berkumpul kembali. Tapi saya segera sadar bahwa hutan ini tidak sunyi. Suara-suara yang lagi-lagi tidak bisa saya namai asalnya berdengung dengan berbagai macam ragam. Tapi toh jutru dengan segala kebisingan itu saya malah merasakan apa yang disebut dengan gung liwang liwung di sekeliling saya.

Istilah gung liwang liwung adalah istilah yang sering dipakai ibu saya dulu sekali, ketika saya masih kecil dan belum ada listrik di rumah saya. Istilah itu dipakai untuk menunjuk tempat-tempat yang (demikian pemaknaan saya sekarang ini) yang belum terjamah, penuh misteri dan kekuatan-kekuatan gaib yang tidak dikenal. Istilah itu dipakai untuk, misalnya, mendeskripsikan pekarangan rumah seorang kerabat di Jambi yang (waktu itu) masih dikelilingi hutan atau perbukitan Sikapat di utara kampung kami di kaki pegunungan Menoreh di Jawa Tengah yang “isih akeh celenge” (masih banyak babi hutan di sana). Ketika saya menemukan komik-komik R.A. Kosasih yang berkisah tentang keluarga Pandawa, hutan Dandaka tempat pembuangan mereka yang dipenuhi segala macam demit, buta dan lelembut segera mewakili imajinasi saya tentang gung liwang liwung.

Gung liwang liwung adalah segala sesuatu yang tidak/belum terjinakkan dan ditandai dengan benda atau perbuatan yang familiar. Gung liwang liwung adalah wilayah yang tak terkontrol dalam pengetahuan dan karenanya menakutkan. Kepadanya sering kali ditambahkan sejumlah kisah-kisah seram. Sebagaimana gung liwang liwung yang saya rasa tidak mengandung makna harafiah tertentu, akan tetapi lebih merupakan pengesanan atas sesuatu yang tak terperi sebagaimana tersirat dalam bunyi gung, dimana dalamnya kehampaan misteri menyesatkan segala sesuatu, wang wing wung tanpa arah.

Mungkinkah, bahwa gung liwang liwung adalah kengerian yang kemudian mendorong kekuasaan untuk menjinakkan segala sesuatu yang tidak dipahaminya ke dalam pengertian-pengertian yang pada akhirnya menindas segala macam demit, lelembut, celeng dan buta yang ada dalam Dandaka-Dandaka di luar pusat kekuasaan Mataraman Soeharto di seantero Indonesia? Bukankah kisah berdirinya Mataram yang agung itu adalah juga kisah penaklukan gung liwang liwung hutan-hutan Mentaok jua?

Saya membayangkan hutan-hutan Indonesia yang dihabisi hingga sekarang ini. Saya membayangkan sebuah garis yang ditarik dalam sebuah peta Kalimantan di meja para perencana di Jakarta, sembari membubuhkan kategori-kategori semacam masyarakat adat terpencil, desa tertinggal, hutan industri, hutan lindung, kawasan budidaya kehutanan, kawasan budidaya non-kehutanan, cagar alam, taman nasional, jalur hijau, dan seterusnya. Saya membayangkan para kstaria Jawa yang dengan tegar hati berkehendak menjinakkan hutan-hutan Dandaka ini, sembari melawan demit, lelembut dan buta penghuninya.

Dengan pikiran itu saya ingat kisah tentang seorang Kakek Jawa di kampung Atap, yang dalam kesempatan pertama penuturan seorang Tidung kepada saya, digambarkan sebagai kakek yang “rajin sekali, tidak selembar rumputpun dibiarkan tumbuh di pekarangannya”. Saya membayangkan seorang kakek tetangga ibu saya di Salaman, Magelang, Pakde Gatot yang rajin menyapu dan menyiangi rumput, hingga jauh di sekeliling rumpun bambu di batas belakang pekarangan rumahnya, untuk kemudian membakarnya sampai tuntas. Lalu saya membayangkan Pak Kapulin yang bercerita tentang rumah panjang Dayak Agabag di kampung Tujung di arah hulu Sembakung yang dibubarkan tentara akhir tahun 60-an sebab “kotor dan tidak sehat”. Saya sedang membayangkan Dandaka yang dibabat dan “dibersihkan”, sama seperti Panembahan Senopati membabat Alas Mentaok.

Saya lemparkan kembali pandangan ke sekeliling saya, di luar batas garam yang saya taburkan di sekeliling terpal itu. Gelap. Suram. Wingit. Singup. Ini benar-benar Dandaka! Dan kerajaan saya baru selebar terpal.

Aduh, saya diserang perasaan bersalah lagi. Kali ini pada diri saya sendiri. Hei, aku cuma pengen chatting dengan nyaman, dengan kaki celana kering dan bebas nyamuk, sembari menikmati berkah alam negeriku dengan ikan-ikan bakar dari sungai-sungai di belantara terakhir Kalimantan, bebas ular dan buaya dan lumpur, sembari memikirkan sebuah status yang keren untuk kucantumkan dalam halaman facebook-ku!

Ketika Pak Abdullah dan Pak Ismail kembali, sejumlah udang sungai sebesar empat jari ada dalam ember-ember mereka. Dengan kecekatannya Pak Abdullah memeriksa ketel dan mencuci beras dengan air danau, lalu menanak nasi. Sembari menunggu nasi itu masak, ia membersihkan udang-udang dan ikan-ikan lais yang didapatnya kali itu. “Umpan habis, kita terlambat, ikan-ikan sudah lari!” katanya dengan wajar, tahu persis apa yang terjadi dan tidak menyesalinya. Aku memandangi ikan-ikan itu, rasanya lebih dari cukup untuk mengenyangkan perut kami berlima. Setelah ikan-ikan itu bersih, ia menyiapkan bumbu-bumbu. Garam dan bawang putih dan cabe. Cukup. Diirisnya kesemua itu dengan parang yang sama dengan yang digunakannya untuk menebang dahan, membabat semak, bahkan membunuh binatang buruan. Lalu dilemparkannya bumbu-bumbu itu ke dalam satu ketel lain, tempat ikan-ikan itu direbus.

Ketika pada akhirnya makanan siap, api unggun sudah mulai padam. Dan dalam dengingan nyamuk yang segera berdatangan, saya, Nova dan Anggi menyantap hidangan-hidangan itu, sementara mereka menunggu kami selesai sambil menyeruput kopi berseduh krim yang kami bawa tadi. Sesekali langit terang berkelebat ke arah hulu. Saya memandang kelebatan itu dengan cemas. Rasanya bukan saat yang tepat untuk menginap di Dandaka dalam keadaan hujan di hulu, sebab dengan segera tanah separuh-kering yang kami pijak akan terendam oleh luapan air sungai.

Setelah kami selesai makan, Pak Abdullah dan Pak Ismail segera mengambil gilirannya. Mereka makan dengan lahap, dan nasi di ketel yang demikian banyak habis dalam waktu tak terlalu lama. “Di sini enak, kita bebas, mau makan, padi ada, mau buah, tinggal ke kebun, mau ikan, merayap (istilah untuk mencari ikan di danau) kita di danau. Enak. Bebas. Cuma uang saja yang sulit di sini!” kata Pak Abdullah sembari meraup sisa nasi terakhir dengan telapak tangannya. Ya, uang memang sulit dan semakin banyak barang yang harus dibeli dengan uang, sementara hasil sumber daya alam di sekeliling mereka sulit untuk dijual, atau bukan mereka yang menjualnya. Tak jauh dari danau itu, hutan-hutan adat orang Tujung dibabat oleh perusahaan Jakarta dan dirubah menjadi hutan akasia, mungkin agar orang bisa menjual tisu toilet dengan harga yang murah nun jauh di sana.

Ketika akhirnya kami kembali jam delapan malam itu, saya mencengkeram ketinting makin erat, sebab kali ini sungai benar-benar gelap gulita. Pak Ismail menyorotkan sinar senternya kesana kemari, sebelum tiba-tiba sebuah batang pohon raksasa menghadang kami. Mereka saling berteriak dalam bahasa Tidung. Ada kegugupan dalam suara mereka. Rupanya kami salah arah. Kami memutar dan mencari-cari arah selama beberapa menit dengan bantuan kelebatan bayangan pepohonan di bawah sorotan senter. Angin berhembus lembut, menyegarkan kami yang selama beberapa jam dikungkung kelembaban hutan yang gerah.

Ketika sampai di terusan tempat kami masuk tadi, saya merasa ada yang berubah. Tiap kali saya merasa bahwa lunas ketinting semakin sering bergesekan dengan dasar sungai. Dari kelebatan bayangan tebing lumpur di kanan kiri saya merasa bahwa sungai menjadi semakin surut. Dugaan saya benar sebab ketika kami sampai di batang melintang yang kami lewati tadi, batang pohon itu kini sudah terangkat di atas permukaan air. Pak Ismail turun dan memotong batang pohon itu menjadi dua. Setelah batang pohon itu bisa disingkirkan, rupanya kini ketinting telah benar-benar kandas ke dasar sungai. Pak Abdullah turun dari ketinting dan mendorongnya menuju ke aliran utama sungai.

Merayap perlahan dalam gelap gulita, Nova menggamit bahu saya dan bertanya dengan suara hati-hati, seakan takut terdengar oleh entah apa atau siapa, “Cium bau melati, ga?”. Saya menciumnya, tapi saya jawab tidak. Saya memang mencium bau bunga melati itu, dan saya tengah menikmati perasaan bahwa sungai ini indah, karena dalam gelap gulitapun dia masih memanjakan indera saya. Tapi dengan pertanyaan Nova itu, bulu kuduk saya meremang. Dan jelas saya berbohong karena saya ingin mengingkari prasangka Nova, bahwa lelembut tengah berada di sekitar kami. Apakah bulu kuduk meremang itu peristiwa biologis atau peristiwa kultural? Saya tidak tahu jawabnya. Tapi kalau jawabnya adalah sebuah peristiwa yangculturally constructed, maka benar bahwa saya adalah orang Jawa dengan seluruh prasangkanya terhadap hutan Dandaka.

Koordinator Tim Pembuat Video Dokumenter Hak Minoritas di kawasan Sembakung, Kalimantan Timur