Meski Informan Tidak Nyambung, Ceritanya Bisa Jadi Data Penting

Pak Haji, begitu para pedagang memanggil bapak tua satu ini. Bapak “tua” haji yang satu ini memang sudah tidak lagi muda, tapi semangat perlawanannya menggebu-gebu, bahkan mengalahkan semangat orang-orang muda yang berumur jauh di bawahnya. Dengan usianya yang sudah tua, dan badan yang sedikit bungkuk, nyaris tidak ada pertemuan yang tidak diikuti bapak tua ini dalam setiap pertemuan-pertemuan pedagang korban bencana. Dan dalam pertemuan, si bapak tua selalu ngotot ingin minta waktu untuk bicara, meski waktu pertemuan sudah habis.

Satu kali, dalam pertemuan dengan Pemko Padang yang difasilitasi oleh Komisi II DPRD kota Padang (dan pertamuan ini adalah pertemuan pertama antara pedagang dengan Pemko Padang dalam mencari jalan keluar polemik pembangunan Pasar Raya), di penghujung sesi, si Pak Haji ngotot minta waktu untuk bicara menyampaikan unek-unek. Tapi, sebagian besar pedagang mencegah dengan mengatakan “Sudah, sudah pak”. Di belakang, pedagang lain juga berceloteh, “Pak haji ko lai, tinggi bana semangat ngecek. Beko carito ntah kama-kama lo, ndak nyambuang lo apo yang disampaian jo pembahasan” (Pak Haji ini, terlalu semangat untuk bicara. Nanti ceritanya ke mana-mana, tidak nyambung apa yang disampaikan dengan apa yang menjadi pembahasan.)

Namanya juga penelitian dengan salah satu teknik pengumpulan datanya mengikuti aktivitas informan dalam penelitian (karena masalah penelitian merupakan peristiwa yang masih berlangsung), maka tidak hanya  sekali itu peristiwa ngotot Pak Haji teramati. Dalam pertemuan dengan Kepala Labor Penelitian Konstruksi Bangunan Universitas Bung Hatta, ngotot ingin bicaranya Pak Haji kelihatan kembali. Dalam pertemuan dengan Kepala Labor Penelitian Konstruksi Bangunan Universitas Bung Hatta, inti pertemuan sebenarnya mempertanyakan hasil pemeriksaan labor terhadap kelayakan bangunan Inpres II, III dan IV, namun si Pak Haji, bicara malah ngelantur seperti curhat tentang sejarah bagaimana perjuangannya di pasar semenjak puluhan tahun silam. Karena apa yang disampaikan oleh Pak Haji sudah keluar dari topik pembicaraan dalam pertemuan, akhirnya, Pak Haji terpaksa dipotong pembicaraannya karena sudah keluar dari pokok pembahasan dalam pertemuan.

Sebenarnya, siapa Pak Haji yang satu ini? Pak Haji ini termasuk pedagang korban bencana yang berdagang di pasar Inpres III. Pak Haji sudah berdagang di Pasar Raya semenjak zaman orang tuanya. Sejak kecil dia sudah di Pasar Raya mengikuti orang tuanya. Sebelum Pasar Raya seramai sekarang, Pak Haji sudah belajar berdagang mengikuti pekerjaan ayahnya yang juga pedagang. Karena sudah puluhan tahun hidup di pasar (menurut Pak Haji ia dilahirkan di Padang dan sejak kecil sudah bermain di Pasar Raya mengikuti ayahnya berdagang), Pak Haji tahu persis setiap perubahan-perubahan besar yang terjadi di Pasar Raya. Mulai dari pembangunan Pasar yantg dulunya adalah Los Bara, kemudian berubah menjadi Pasar Mambo, kebakaran di Pasar Mambo, dan terakhir proses pembangunan Pasar Inpres, Pak Haji tahu persis.

Semangat ingin menceritakan karena ingatan yang masih baik dari Pak Haji ini juga terlihat dari bagaimana si Pak Haji membuat peta lokasi dan perubahan-perubahan yang terjadi Pasar Raya Padang yang dia amati. Si Pak Haji dengan baik memetakan petak-petak kios, los dan petak batu yang ada di bangunan Inpres yang sekarang menjadi sumber konflik antara pemerintah dan pedagang. Peta pasar yang dibuat oleh Pak Haji sendiri, terdiri dari 3 bentuk dan pola pasar yang mengalami perubahan sepanjang pengamatan yang dilakukan. Namun, karena membuat peta hanya berdasarkan pengamatan dan tidak dilandasi dengan teknik membuat peta yang baik, sulit untuk membaca peta yang dibuat Pak Haji. Tapi paling tidak, semangat memberi informasi Pak Haji merupakan hal yang positif dalam penelitian.

Dalam penelitian, orang seperti Pak Haji sangat penting untuk terus diburu informasi dalam memperkaya data tentang topik penelitian yang dilakukan. Orang seperti Pak Haji yang suka bicara tentang semua hal yang dia tahu, sangat penting. Meskipun tidak nyambung, karena semangat menceritakan sangat tinggi, Pak Haji bisa menjadi informan penting untuk melacak kronologis (kalau tidak bisa dikatakan sejarah) suatu peristiwa yang menjadi topik penelitian. Kenapa si Pak Haji begitu penting, karena memang si Pak Haji sudah hidup lama dan mengetahui peristiwa panjang yang terjadi di komunitas dimana ia tinggal, hidup dan berinteraksi dan sekaligus mengikuti peristiwa-peristiwa penting di lingkungannya.

Meski tidak nyambung dengan topik yang sedang dibicarakan, beberapa poin penting dapat ditangkap dari apa yang disampaikan. Tinggal lagi bagaimana melakukan triangulasi atas data yang disampaikan oleh si Pak Haji. Ketidaknyambungan si Pak Haji dengan masalah yang dibahas, hanya karena keinginan dan hasrat si Pak Haji yang menggebu-gebu untuk menceritakan masa lalu yang dialaminya saja. Jadi, karena si Pak Haji merupakan bagian dari peristiwa yang diteliti, meski tidak nyambung, apa yang diceritakan oleh si Pak Haji bisa jadi data penelitian. Ya, tentu dengan memilah mana yang relevan dengan penelitian dan mana yang tidak relevan. Dan pekerjaan itu adalah pekerjaan dalam analisi data pastinya.

Sebagai peneliti, orang-orang dengan tipikal suka berceita dan memiliki pengetahuan yang banyak tentang peristiwa yang diteliti merupakan informan di mana kita paling banyak mendapatkan data. Karena dengan sedikit bertanya, akan banyak cerita yang didapatkan meskipun sudah keluar dari topik pembicaraan. Kalaupun tidak punya waktu yang banyak untuk mendengarkan cerita yang ngalor-ngidul, tentu cukup dengan mengarahkan si “Pak Haji” untuk hanya bercerita tentang topik pembahasan yang diteliti. Informasi yang diperolah, kemudian di-cross check dengan informan lain yang kompatibel.

Untuk Pak Haji, badan boleh tua, tapi semangat tetap MUDA. Chayooo Pak Haji… Semangaat.. ^_^

Padang, 29 April 2011

Peneliti dalam Program Riset “Kota-Kota di Sumatra Awal Abad 21”, The Interseksi Foundation