Minggu Pertama di Komunitas Tengger

Hari kedua sejak kedatanganku di Tengger, aku diajak oleh para pemuka dukun tengger untuk melakukan ritual pujan Kasada. Ritual ini dilakukan di Desa Wonokerso. Letaknya diatas gunung. Walau dapat dijangkau dengan hardtop, namun punggungku terasa patah, sebab hampir dua jam perjalanan jalanan seperti ikut offroad. Bagitu tiba ditempat ritual, oleh warga desa aku disambut sejajar dengan para dukun, sebab aku datang bersama rombongan dukun. Aku mengikuti ritual ini, termasuk juga gerak-gerak ritualnya. Padahal ritual ini dilaksanakan hari Jumat Siang, dan tak jauh dari tempat aku menjalankan ritual ini terdapat masjid yang sedang menjalankan jumatan. Aku ternyata cukup enjoy menjalankan ritual ini. Ini adalah permulaan yang cukup baik untuk semakin menjalin hubungan kekerabatan dengan wong tengger, bukan sekedar hubungan peneliti dan yang diteliti.

Hingga hari ke 9 perjalananku dalam melakukan penelitian di Komunitas Tengger telah mendapati beberapa data. Aku telah melakukan wawancara secara informal dengan beberapa orang, diantaranya Dukun Mujono, Dukun Sutomo. Keduanya adalah representasi dari tokoh lokal, walau kedua orang ini telah “menerima” Hindu sebagai agama formal, namun dalam kategori tertentu, ketika Hinduisme itu bergesekan dengan ke-Tenggeran, maka keduanya bisa berubah menjadi berani terhadap Hindu. Memang, kedua dukun tersebut adalah pemuka PHDI di Probolinggo, akan tetapi mereka menyatakan berulangkali kepada saya bahwa Hindu di Tengger adalah Hindu yang berbeda dengan di Bali atau tempat lainnya. Mereka menyatakan ke-Hinduan di Tengger adalah seperti apa yang diwariskan oleh leluhur mereka. Aku melihat ini adalah sikap realistik yang memungkinkan untuk mereka lakukan. Langkah ini sebagai langkah negosiasi mereka terhadap kebijakan formalisasi agama yang diterapkans sejak jaman orde baru. Dari kedua informan ini pula aku telah merinci seluruh kelokalan yang berkembang di tengger, seperti mantra, kalender tengger, ritual-ritual serta maknanya, rumah adat, pakaian adat, dan sesaji.

Selain mendapat informasi dari kedua tokoh diatas, aku juga telah mendapat beberapa data lain dari pihak kantor desa. Saat ini aku fokus di dua desa di Tengger. Yakni Desa Wonokerto dan Desa Ngadas. Keduanya berada di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Wonokerto adalah desa muslim, semua warganya adalah warga Tengger. Namun desa ini tidak diakui oleh desa-desa Tengger disekitarnya, karena mereka relah menganut agama Islam. Memang di desa ini terjadi proses Islamisasi yang intensif yang disukung oleh pemerintah desa, para ustad dari Probolinggo, dan beberapa guru agama Islam. Dari perangkat desa ini aku mendapatkan beberapa data, diantaranya monografi desa, perdes-perdes (peraturan desa—red) yang berisi susunan APBD (anggaran desa), termasuk proses pengembangan agama Islam yang dilakukan oleh perangkat desa. Walau begitu di desa ini terdapat pembangkangan yang dilakukan oleh warganya. Secara personal mereka tetap menjalankan ritual di danyang dan pamujan, walau telah diharamkan oleh kiai setempat. Aku belum sempat menemui mantan dukun di desa ini yang digantikan oleh modin. Sebab dukun yang bersangkutan masih memiliki hajatan. Tokoh lain yang menimbulkan gerakan resistensi adalah mantan kepala desa. Hingga sekarang dia masih menjalankan tradisi tengger, walau lingkungannya telah sangat Islamis.

Data mentah lain yang aku dapatkan adalah informasi mengenai perilaku pemeliharaan kesehatan yang dilakukan oleh kedua warga desa di atas. Informasi ini berasal dari bidan setempat. Bidan ini menjelaskan pola-pola kecenderungan perilaku antara warga Ngadas dengan Wonokerto dalam memandang bidan dan program kesehatan dari pemerintah, termasuk KB. Ia juga menceritakan mengenai kebijakan Desa Wonokerto yang mulai meninggalkan dukun bayi sebagai pelayan kesehatan masyarakat. Namun upaya ini tidak berjalan di Desa Ngadas, sebab masyarakat desa ini masih menganggap dukun bayi sebagai bagian penting dari proses ke-Tenggeran mereka.

Dari Desa Ngadas, aku mendapatkan beberapa data diantaranya mengenai monografi desa. Data ini aku peroleh dari perangkat desa. Namun aku belum berhasil mendapatkan perdes-perdes. Ia menganggap bahwa perdes adalah rahasia Negara, maka aku harus mendapatkan ijin dari kecamatan jika menginginkannya. Selain perdes aku diperbolehkan untuk wawancara atau mencari data lainnya. Memang data monografi desa yang aku dapatkan di Ngadas tidak selengkap data monografi desa dari Wonokerto. Data monografi itu isinya antara lain soal jumlah penduduk, data fisik desa seperti infrastrukturnya, dan data kemasyarakatannya seperti organisasi, angka pendidikan, jenis pekerjaan, hingga data hasil-hasil pertanian.

Kini aku sedang fokus untuk tangani pencarian data yang menyangkut hubungannya dengan taman nasional. Dua hari yang lalu aku memang sempat wawancara dengan Kepala Seksi 1 Taman nasional Bromo Tengger dan Semeru. Namun hasil wawancaranya tidak memuaskan, soalnya aku hanya mendapatkan data yang standar, khas bicara pejabat. Sebenarnya data mengenai taman nasional ada di kota Malang, sebab kantor pusatnya ada di sana. Aku disarankan untuk mencari data di tempat itu. Karena informasi yang standar ini, maka aku belum menemukan kasus konfliknya dengan warga. Info awal hanya mereka sebutkan bahwa banyak area taman nasional yang dirambah oleh warga. Hal ini terjadi karena area taman nasional berbatasan langsung dengan tanah lading warga tengger.

Informan lain yang berhasil aku temui adalah mantan kepala desa Ngadas. Ia menjabat kepala desa dari tahun 1968 hingga tahun 1990. Namun aku sengaja wawancara dengan dia dengan cara putus sambung. Artinya aku wawancara dengan dia dengan sistem jagongan (informal) sehingga lebih slow, hal ini untuk menghindari kesan bahwa aku sedang melakukan tugas-tugas jurnalistik. Konsekuensinya, wawancaranya putus-sambung. Data-data yang berhasil dari informasi ini adalah soal awal mula bergulirnya program KB dan intensifikasi pertania di Desa Ngadas. Termasuk upaya-upaya dia dalam mensukseskan kedua program tersebut. Ia juga menceritakan mengenai “perlawanan” masyarakat, terutama kaum ibu-ibu terhadap program KB. Info lain yang aku dapat dari dia adalah soal upaya yang dilakukannya dalam memenangkan Golkar di masa kekuasaan orde baru.

Hingga aku menuliskan laporan narasi ini, aku wawancara informal untuk terakhir kalinya dengan guru agama Hindu yang mengajar di SD yang ada di Wonokerto. Dia mengajar di sekolah ini sebab banyak anak-anak Ngadas yang bersekolah di SDN Wonokerto. Ia termasuk guru pengajar agama hindu pertama kali di Ngadas. Ia menjelaskan kepadaku mengenai proses awal mula ia merintis dan memberikan pemahaman mengenai agama Hindu di Ngadas. Ia juga menceritakan mengenai support yang dilakukan oleh pemerintah desa terhadap upaya pengembangan agama Hindu di desa ini. Kini setelah tujuh belas tahun ia menanamkan konsep-konsep Hindu di Tengger, ia dapat melihat hasil jerih payahnya. Awalnya ia melihat bahwa wong tengger tidak banyak mengenal konsep-konsep agama hindu.

Oh ya, kini aku mendapat job baru, yakni diminta untuk menuliskan secara literal seluruh mantra Tengger oleh dukun Tengger. Ini job yang sifatnya sukarela, berbeda dengan job yang diberikan dari kawan-kawan Interseksi (heee.heee…). Aku memang sempat menanyakan sesuatu kepada Pak Mujo (tetua dukun Tengger): Apakah tidak melanggar pantangan jika aku menuliskan mantra ini, sementara aku adalah orang luar. Ia ternyata memberikan kepercayaan kepadaku. Perlu kawan-kawan ketahui mantranya ternyata begitu banyak, bisa-bisa tebalnya seperti kitab suci sendiri.

Oh ya kawan-kawan, aku cukup kesulitan untuk urusan teknologi, sebab aku tidak bisa menuliskan tulisan-tulisan pendek dengan segera. Karena ketiadaan akses internet. Jadi aku harus turun dulu ke kota kabupaten agar bisa mengakses internet. Misalnya saja tulisanku soal Bromo yang dikabarkan aktif oleh media. Tulisan itu telah jadi bersamaan dengan berita media, namun aku tak bisa segera mengirimkan karena kendala tadi. Jadi harap maklum. Namun aku terus berusaha memenuhi kewajibanku untuk mengirim tulisan terus setiap dua minggu sekali. Salam. {}

Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan Multikulturalisme Tahun Kedua, Yayasan Interseksi