Pameran Buku Pujiale

Sehabis liputan, menghabiskan waktu luang, dan menunggu waktu magrib, Senin, 5 November 2013 sore, saya menyempatkan waktu jalan-jalan ke mal termewah di Makassar, Trans Studio Mall. Bukan hanya soal mewahnya, mal ini berada di kawasan wisata pantai, Tanjung Bunga. Sebenarnya, saya tak suka jalan-jalan di mal. Bagi saya, mal adalah rumah bagi kaum sosialita. Saya bukanlah sosialita, apalagi bukan orang hedonis. Mayoritas gerai di mal Trans bukan untuk kelas kantong saya. Di situ, segala barang bermerek seperti dikenakan sosialita dunia dijual. Sebut saja, aksesoris seperti dikenakan Victoria Beckham.

Dua hari sebelum menginjakkan kaki di pusat perbelanjaan itu, perhatian saya sempat tertuju pada sajumlah foto hasil jepretan pewarta foto Tribun  Timur, Muhammad Abdiwan. Saban waktu senggang di kantor, saya suka melihat koleksi hasil jepretannya. Pewarta foto yang satu ini hobi memotret model. Tribun menyediakan ruang untuk para model, sekadar sebagai pemanis halaman, seperti kata seorang editornya, Muhammad Irham. Tribun tak asal memuat foto model. Mereka harus tampil sopan. Koran ini bukan hanya untuk dibaca pria dewasa, namun semua kalangan, segala umur.

Di antara koleksi foto berita, ada foto rak buku berisi pajangan buku Syahrul Yasin Limpo. Syahrul memang gemar menulis dan dituliskan buku. Hipotesis saya, buku itu sekadar untuk pencitraan. Soal pencitraan, Syahrul sangat menyadari betapa pentingnya.

Buku Syahrul dipamerkan pada Kompas Gramedia Fair 2013 di Trans Studio. Pameran buku dan media itu berlangsung, 1-5 November 2013. Setiap tahun digelar di Makassar, dan baru kali ini venue pameran ada di mal. Baru kali ini pula, saya melihat buku Syahrul turut dipamerkan. Mungkin sebuah penghargaan bagi Sang Gubernur Sulsel. Dialah membuka pameran. Karena foto itu, saya harus ke pameran melihat langsung bukunya. Jika menarik dan informatif, saya akan membelinya untuk keperluan riset ini. Ternyata tidak!

Seorang pria berkaos polo disertai tulisan sulam “KOMPAS” terus berdiri di dekat rak buku Syahrul. Saya pun pada posisi sama. Namun, dia melayani sejumlah pengunjung, saya memilih membaca buku soal Syahrul yang menarik minat itu.Awalnya sang pria muda tersebut bersama dengan seorang wanita muda dengan baju yang sama, menghampiri saya dan menyapa. Mereka menanyakan soal status kerja. “Mas, mahasiswa?” Tanyanya padaku. “Bukan,” jawabku sambil geleng kepala. “Guru?,” Tanyanya lagi. Kujawab lagi sambil geleng kepala, “Bukan.”Dia mencoba menghindar. Mungkin karena saya cuek.

Dari gerak-geriknya dan barang dibawa, sepertinya pria itu ingin menawarkan sesuatu. Mungkin saja langganan koran Kompas. Kompas memang memiliki program khusus langganan mahasiswa dengan guru. Saat mahasiswa, saya langganan Kompas melalui program mahasiswa. Harga langganan separuh dari harga reguler. Tak lama berselang setelah menyapa saya, pria itu mendapati seorang pengunjung yang mengaku gemar mengoleksi buku. Pengunjung itu pria paruh baya. Mereka pun terlibat perbincangan yang cukup lama.Sembari membaca buku, sesekali menguping pembicaraan mereka.

Dari hasil pembicaraan, ternyata keduanya sama-sama mengaku warga Gowa. Gowa adalah kampung halaman Syahrul. Di kabupaten bertetangga dengan Makassar ini, Syahrul pernah berkarir, mulai dari lurah, camat, hingga bupati.Pria paruh baya itu sempat melihat satu per satu dari 14 serial buku dipamerkan. “Buku begini, tidak menarik bagi orang-orang yang memang suka baca buku. Pujiale ji (hanya untuk berbuat ria). Palingan orang pemprov (pemerintah provinsi) yang beli,” kata pria berlkaos KOMPAS itu berargumentasi.

Tak hanya sampai di situ, penerbitan sejumlah buku dicurigai atas biaya dari APBD, padahal bukan untuk kepentingan pemerintahan. Hanya untuk kepentingan pencitraan pribadi. Ini dapat dilihat dari sampul sejumlah buku, didominasi foto Syahrul dengan berbagai ekspresi.Setelah sekitar dua setengah jam membaca serial buku itu, tak ada yang menarik minat untuk dibeli.  Niat saya mencari buku biografi atau autobiografi Syahrul maupun ayahnya, almarhum Yasin Limpo.

Saat asyik membaca, tiba-tiba penyunting sejumlah buku Syahrul, M Darwis datang dan membuat saya terkejut. Dosen Universitas Hasanuddin sekaligus sosiolog itu menceritakan soal buku berjudul “Jangan Marah di Muara” dan “Ambil Tanganku, Kuambil Tanganmu” diterbitkan untuk kepentingan pencitraan Syahrul saat mencalonkan diri sebagai gubernur pada tahun 2007.Penyusunan dua buku, supercepat. Hanya butuh waktu sebulan. Peluncurannya, sehari sebelum pemungutan suara.Masih soal buku dan pencitraaan, Kamis, 31 Oktober 2013, Syahrul meluncurkan buku berjudul “SYL Way II”. Dalam buku ini, Syahrul mencitrakan dirinya sebagai sosok genius.

Inilah sepenggal cerita soal Syahrul, buku, pencitraan, pujiale, dan dinasti politik.***

Peserta Program Pelatihan Penelitian Kelas 2013/2014, dan anggota tim peneliti Kota-kota di Sulawesi, Yayasan Interseksi