Pandangan Pertama

Keterlibatan saya dalam penelitian Kota-kota di Sulawesi dimulai ketika saya menjadi staf di Yayasan Interseksi. Di hari pertama bekerja, Pak Hikmat mengajak saya berbincang-bincang dan mengutarakan bahwa saya akan mengikuti penelitian. Pak Hikmat juga menambahkan rencananya saya akan melakukan penelitian di Kota Baubau. Pada saat itu, saya diminta untuk membuat proposal penelitian dan juga mengikuti reading course dalam waktu 1 bulan. Ketika peneliti lain sudah siap berangkat dan terlihat paham dengan isu yang akan diteliti, saya merasa menjadi sedikit ragu karena jauh terttinggal. Akan tetapi, ternyata saya tidak sendiri. Mas Fandi dan Mas Edi yang meneliti Kota Donggala dan Maros juga tidak mengikuti proses reading course.

Pada tanggal 20 April 2014 pukul 11.00 WIB saya meninggalkan Jakarta menuju Baubau. Ketika saya sampai di Bandara Betoambari pukul 17.50, tiba-tiba ada yang memanggil nama saya dan ternyata dia adalah orang yang menjemput saya. Namanya adalah Pak Nino. kemudian saya dikenalkan dengan seorang ibu yang sudah lanjut usia, tetapi tetap terlihat bugar dan sehat. Ibu tersebut memperkenalkan dirinya ke saya. Beliau adalah Ibu Zalmat.Setelah selesai mengambil barang dari bagasi, saya pun masuk ke mobil untuk menuju ke rumah Ibu Zalmat.

Selama perjalanan Ibu Zalmat bercerita bahwa ia mengira orang yang akan datang ke rumahnya adalah perempuan yang berusia sekitar 30 tahunan dan mengenakan kerudung. Akan tetapi, prediksi Ibu Zalmat meleset karena orang yang datang masih muda. Di tengah perjalanan ibu mengajak untuk makan malam terlebih dahulu. Ibu membawa saya dan Pak Nino ke sebuah restoran bernama Family. Tempat makan itu terlihat bersih dan cukup ramai. Ibu memesan Ikan Bakar dan sebuah menu bernama Parende. Ketika makanan datang, saya sedikit terkejut dengan jumlah pesanan yang disajikan.

Terdapat 3 ekor ikan dengan ukuran cukup besar dan satu ikan dengan kuah yang berwarna kuning. Ibu kemudian mengatakan bahwa ikan kuah kuning atau Parende adalah makanan khas di Kota Baubau. Jadi, saya dipersilakan untuk mencicipi makanan tersebut. Pada dasarnya saya tidak terlalu suka ikan yang dimasak berkuah, tetapi ketika mencoba menu tersebut rasanya sangat segar dan enak. Selama saya makan di tempat tersebut, terlihat beberapa warga asing yang datang ke Restoran Family. Ternyata mereka cukup fasih berbahasa Indonesia ketika memesan makanan. Pak Nino mengatakan bahwa di Kota Baubau terdapat lembaga Wallacea yang memfasilitasi mahasiswa asing untuk meneliti keanekaragaman hayati yang ada di Kota Baubau. Selain itu, mahasiswa asing tersebut juga melakukan penelitian di Wakatobi.

Selesai makan, ibu membawa saya menuju rumah. Saat berbincang-bincang di mobil, ibu selalu mengucapkan kata “di atas”. Ketika hendak sampai di rumah ibu, saya mulai paham maksud kata tersebut. ternyata kata “di atas” merujuk rumah ibu yang berada di bukit. Saat perjalanan saya melihat pemandangan Kota Baubau di malam hari dengan kerlap-kerlip lampu malamnya. Kesan pertama pada malam pertama saya di Baubau adalah kota ini terlihat cantik.

Saat tiba di rumah, saya melihat rumah ibu memiliki halaman yang luas dan di depannya terdapat papan dengan tulisan Pusat Kebudayaan Wolio. Uniknya lagi, rumah ibu berbentuk panggung dan cukup besar. Ini merupakan pengalaman pertama saya tinggal di rumah panggung. Saya dipersilakan ibu untuk masuk ke kamar. Ternyata saya tidak sendiri, ibu mengenalkan teman sekamar saya yaitu keponakannya yang bernama Rahma. Setelah berkenalan, saya meminta izin untuk membersihkan diri dan beristirahat.

Keesokan harinya, saya berniat untuk berkeliling Kota Baubau. Jadi, saya minta tolong Rahma untuk mencarikan seorang asisten untuk saya selama berada di Kota Baubau. Setelah mendapatkan asisten, Pukul 10.00 WITA saya dan Retno (asisten saya) beranjak untuk pergi ke jantung kota Kabupaten Buton, yakni Pasar Wajo. Menurut penuturannya, di sana terdapat tambang aspal. Jarak Kota Baubau-Pasar Wajo sekitar 50 km. Saya pergi ke sana dengan menggunakan sepeda motor. Untuk menuju ke sana, kami melewati bukit dan perumahan di Kecamatan di Sorawolio. Ketika sedang di perjalanan, tiba-tiba hujan turun. Kami pun mencoba untuk meneduh di sebuah warung kecil.

Saat saya sedang duduk, pemilik warung (Pak Arif) bertanya kepada saya mengenai asal dan tujuan saya. Saya mengatakan berasal dari Jakarta dan ingin ke Pasar Wajo untuk berkeliling. Saat menunggu hujan, asisten saya bercakap-cakap dengan pemilik warung mengenai pemilu legislatif yang tempo hari telah berlangsung. Saya mendengarkan percakapan mereka bahwa di Kota Baubau, politik uang bukanlah menjadi isu yang ditutupi lagi. Pak Arif mengutarakan bahwa seluruh partai menggunakan serangan fajar untuk memperoleh suara rakyat. Ia menambahkan bahwa orang di sekitarnya ada yang mendapat uang mulai dari Rp. 100.000 hingga Rp. 200.000 per orang. Meskipun Pak Arif juga mendapatkan serangan fajar, ia tetap tidak memilih calon yang memberikannya uang tersebut. Ia hanya menerima uangnya saja, tetapi tetap mencoblos pilihannya.

Menurut Pak Arif, ia memilih caleg berdasarkan daerah yang sesuai dengan asalnya atau asas kekerabatan. Ia mengungkapkan bahwa jika tidak berasal dari wilayahnya belum tentu caleg itu akan menengok atau mengurusi daerah tempat tinggal Pak Arif. Berdasarkan pemikiran Pak Arif, Caleg yang berdasarkan tempat pemilihannya akan memiliki tanggung jawab besar untuk membangun daerahnya dibandingkan dengan yang tidak. Ketika hujan mulai berhenti, kami pun berpamitan dengan Pak Arif dan melanjutkan perjalanan kembali. Di tengah perjalanan, saya terpukau dengan hutan kota yang saya lewati. Terdengar bunyi kicau burung dan terasa hawa yang sejuk ketika memasuki hutan tersebut. Setelah saya terkesan dengan pemandangan hutan kota, saya kemudian disuguhi dengan panorama bukit-bukit.

Beberapa bukit terlihat telah telah dikeruk. Menurut asisten saya, bukit itu dikeruk untuk digunakan sebagai material reklamasi Pantai Kamali dan Kotamara. Perjalanan saya menuju Pasar Wajo harus melalui jalan yang menanjak dan berkelok-kelok. Infrastruktur jalan menuju tempat tersebut sudah baik. Jalanannya tidak ada yang berlubang dan terlihat dalam kondisi yang bagus. Asisten saya bercerita, jalan yang menghubungkan antara Kota Baubau–Pasar Wajo tiga tahun yang lalu tidak seperti itu. Kondisi jalan pada waktu itu sudah rusak, sehingga waktu tempuh menuju Pasar Wajo dapat mencapai 5 Jam. Sekitar km 30, terdapat warung-warung kecil yang menjajakan makanan seperti indomie rebus, jagung bakar dan pisang.

Saat saya melewati warung tersebut kondisinya sedang tidak ramai, mungkin karena hujan yang baru saja membasahi wilayah itu. Akan tetapi, melihat pedagang tersebut dapat berjualan di tempat itu membuat saya bertanya-tanya. Apakah cukup banyak pengunjung yang singgah ke warung tersebut? Pertanyaan itu muncul karena letak warung tersebut bukan di tempat keramaian, tetapi berada di bukit. Selain itu, di area tersebut tidak ada perumahan. Kami membutuhkan waktu 1,5 jam untuk sampai di Pasar Wajo. Saat masuk wilayah tersebut, saya melihat tugu tambang aspal dengan tinggi sekitar 3 m. Selain itu, adapula lambang nanas yang menjadi salah satu karakteristik Kabupaten Buton.

Sebelumnya saya memang telah mengetahui bahwa Kabupaten Buton terkenal dengan sumber daya alamnya yaitu aspal, akan tetapi mengapa terdapat lambang nanas di wilayah Buton? Apakah Buton sebagai salah satu penghasil buah nanas .Saya pun mencoba menanyakan pertanyaan tersebut kepada Retno. Kemudian ia menjelaskan bahwa simbol nanas itu melambangkan karakteristik masyarakat Buton. Jika dilihat, tampak luar buah nanas tidak menarik karena memiliki kulit yang tajam, akan tetapi saat dinikmati buahnya rasanya manis. Selain itu, pohon nanas bisa tumbuh di mana saja. Hal itu serupa dengan kepribadian warga Buton. Secara fisik, mereka terlihat menyeramkan dan memiliki suara yang keras, tetapi di dalam hatinya orang Buton sangat baik serta orang Buton bisa hidup di mana saja. Asisten saya kemudian memberhentikan sepeda motornya di sebuah dermaga.

Di sekitar dermaga itu terdapat gundukan aspal yang sepertinya akan diangkut karena di wilayah tersebut terdapat kapal tongkang yang tengah bersandar. Saya tidak mengetahui kemana kapal tongkang membawa aspal itu karena di dermaga sangat sepi dan tidak terlihat petugas yang berjaga-jaga. Di Lokasi itu, ada sebuah bangunan dengan plang nama PT. Sarana Karya. Berdasarkan informasi yang saya peroleh melalui internet, PT Sarana Karya merupakan perusahaan yang mengelola penambangan aspal di Buton. Ketika saya menghampiri bangunan itu, tidak tampak pegawai yang melakukan aktifitas di dalamnya.

Kantor PT Sarana Karya terlihat tidak terisi dan sudah lama ditinggalkan. Hal itu saya asumsikan karena mengamati cat dinding gedung yang terkelupas dan tidak terawat. Suasana yang sepi di area tersebut, membuat kami memutuskan untuk pergi dari tempat itu dan melanjutkan perjalanan. Sebelum berkeliling kembali, kami berhenti di sebuah rumah makan untuk mengisi perut. Berdasarkan pengamatan saya, tidak cukup banyak tempat makan yang terdapat di Pasar Wajo. Kami harus berputar-putar di Pasar Wajo untuk menemukan rumah makan. Kami singgah di salah satu tempat makan dan memesan nasi goreng. Sekitar 15 menit, makanan kami datang.

Saya terkejut melihat porsi nasi goreng yang disajikan. Menurut saya, porsi nasi yang dihidangkan cukup untuk 2-3 orang. Retno yang melihat saya terkejut dengan makanan itu kemudian menjelaskan bahwa memang porsi nasi orang sulawesi seperti itu. Saya yang mendengar penjelasannya menjadi paham mengapa harga sepiring nasi goreng di warung dengan ukuran 3 x 5 meter persegi bisamencapai Rp 15.000,-. Selesai makan, kami pun bergegas untuk berkeliling di Pasar Wajo. Saat menjelajahi wilayah itu, saya melihat pasar sentral yang menjadi salah satu aktifitas perekonomian warga Pasar Wajo. Saya juga memperhatikan infrastruktur jalan yang ada wilayah tersebut. Jalanan yang kami lintasi di Pasar Wajo tidak semulus seperti di Kota Baubau.

Pasar Wajo yang merupakan Ibukota Kabupaten Buton memiliki jalan yang berlubang di sekitar pasar sentral. Wilayah Pasar Wajo telah kami putari dan tidak menemukan penambangan aspal selain di wilayah dermaga. Oleh karena itu, saya mencoba bertanya kepada salah satu warga mengenai daerah penambangan aspal. Orang tersebut mengatakan bahwa tambang aspal berada di wilayah Lasalimu. Jarak antara Pasar Wajo dan Lasalimu sekitar 11 km. Jarak yang cukup jauh dan cuaca yang mulai mendung, membuat kami mengakhiri petualangan di Pasar Wajo. Saya pun memutuskan untuk pulang dan berkeliling di kota Baubau saja.

Kami tiba di Kota Baubau sekitar pukul 15.00. Retno mengajak saya untuk melihat Kantor Walikota Baubau yang berada di atas bukit di jalan Palagimata. Saat menuju perjalanan ke kantor walikota, Retno bercerita bahwa dahulunya jalanan yang sedang kami lintasi adalah hutan. Sejak Walikota Baubau, Amirul Tamim, memindahkan kantor di tempat tersebut, dibuatlah jalan untuk menuju kawasan tersebut. Pohon-pohon ditebang dan tanahnya mulai diaspal. Selain itu, dulunya orang-orang tidak tertarik untuk membangun pemukiman di wilayah itu, meskipun pemerintah memberikan lahan secara gratis. Sekarang, daerah tersebut mulai dilirik warga untuk dijadikan wilayah hunian.

Selama perjalanan, saya melihat beberapa rumah yang sedang dibangun dan terdapat plang yang menyatakan bahwa tanah tersebut dijual. Retno juga menjelaskan bahwa tanah di kawasan tersebut juga memiliki harga yang tinggi. Harga tanah di daerah itu saat ini bisa mencapai Rp. 3.000.000 hingga 4.000.000 per meter persegi. Salah satu keuntungan memiliki rumah yang terletak di Palagimata adalah dapat melihat pusat Kota Baubau secara menyeluruh. selain itu, wilayah tersebut masih sepi karena jarang dilalui oleh kendaraan bermotor, sehingga terhindar dari polusi suara.

Setibanya di kantor walikota, saya tertegun melihat salah satu patung ekor naga yang berdiri tepat di depan kantor tersebut. Saya kemudian bertanya kepada asisten saya, kenapa hanya ekor naga saja yang dibangun? Retno menjelaskan bahwa pembangunan patung ekor naga yang berada di atas bukit ini tersambung dengan kepala naga yang berada di Pantai Kamali. Konsep pendirian naga ini ingin dijadikan sebagai naga terpanjang di dunia dengan ekor naga berada di atas bukit, badannya di dalam bumi melingkari Kota Baubau dan berakhir dengan kepala naga yang terletak di bawah, tepatnya di Pantai Kamali.

Selesai mengamati patung ekor naga, saya pun beralih untuk melihat Kantor Walikota Baubau. Gedung itu memiliki halaman yang luas dan terdapat anak tangga untuk mencapai ke bagian teras kantor tersebut. Saya mencoba untuk menjangkau bagian belakang kantor tersebut. Pada bagian belakang terdapat tempat parkir yang cukup luas dan area itu juga terlihat sangat bersih. Pada pukul 16.00 WITA, ternyata banyak warga yang datang ke halaman kantor walikota. Pada sore hari, tempat tersebut dipergunakan oleh warga sebagai tempat untuk berlatih taekwondo dan juga aerobik. Selain itu, di sekitar patung ekor naga, beberapa warga duduk bersantai dan memandangi panaorma Kota Baubau. Memang di dekat patung ekor naga terdapat pagar pembatas agar pengunjung yang datang tidak tergelincir jatuh. Di tempat itu, warga bisa menikmati keindahan matahari terbenam, akan tetapi di area ini tidak terdapat pedagang yang menjajakan makanan.

Setelah puas berkeliling di kantor walikota, saya pun menuju ke pusat Kota Baubau. Retno mengantarkan saya ke Pantai Kamali. Di tempat itu, saya melihat patung kepala naga dengan tinggi sekitar 5 meter. Patung naga itu dikelilingi oleh pagar besi dengan bentuk lingkaran. Di sekitar pagar tersebut terdapat beberapa anak tangga. Ketika saya amati, tangga itu dapat digunakan sebagai tempat duduk santai warga yang mengunjungi patung kepala naga. Beberapa warga yang ada pada saat itu juga tampak asyik mengabadikan gambar dirinya dengan latar belakang patung tersebut. Saya pun bertanya kepada asisten saya, mengapa simbol naga yang menjadi ciri khas Kota Baubau. Menurutnya, dahulu kala pernah hidup seekor ular yang mempunyai bentuk seperti naga.

Warga menggunakan istilah Lawero untuk menyebut hewan berbentuk ular tersebut. Berdasarkan kepercayaan, apabila orang yang bertemu Lawero akan memperoleh keberuntungan. Saat ini hewan tersebut tidak pernah dijumpai lagi. Konon katanya, hewan tersebut menghilang sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk di Pulau Buton. Retno menambahkan bahwa binatang tersebut menghilang karena tidak ingin dilihat oleh banyak orang. Di sore hari, area Pantai Kamali semakin ramai dikunjungi orang.

Di bagian kiri Pantai Kamali terdapat beberapa pedagang yang mulai membuka etalasenya. Terdapat sekitar 4 penjual yang menjajakan makanan ringan seperti pisang goreng. Mereka terlihat berteriak kepada para pengunjung yang melewati tempatnya agar membeli dagangannya. Saya pun tertarik untuk mencicipi gorengan yang dijual oleh mereka. Saya menghampiri salah satu penjual dan memesan 4 buah pisang goreng. Harga 1 buah pisang goreng yang dijual sebesar Rp. 1.000,-. Semakin sore penjual yang membuka daganganya menjadi lebih banyak. Berdasarkan pengamatan saya, terdapat puluhan pedagang yang berjualan di tempat tersebut. Makanan yang ditawarkan juga bervariasi, mulai dari sate ayam, ayam goreng, ikan bakar dan nasi dengan berbagai lauk pauk. Jika diperhatikan area itu memang disediakan sebagai salah satu wisata kuliner di Kota Baubau. Di lokasi itu terdapat meja dan tempat duduk yang telah disediakan. Selain itu, para pedagang menggunakan atap terpal untuk menghindari air hujan.

Pada malam hari, di area Pantai Kamali saya melihat lampu hiasan mulai menyala dan menambah keramaian wilayah tersebut. Para pedagang mulai sibuk menggelar barang dagangannya dengan beralaskan terpal yang dibawanya. Lokasi tersebut seketika berubah layaknya pasar malam. Pedagang ada yang menjual mainan, sandal, pakaian, dan juga aksesoris pria dan wanita. Selain penerangan yang diperolehnya melalui lampu jalan, Pedagang juga membawa lampu pribadi untuk menerangi tempat mereka berjualan. Di Pantai Kamali juga terlihat kendaraan yang lalu lalang seperti becak motor, ojek motor, becak serta taksi. Di Area Pantai Kamali juga tersedia restaurant cepat saji KFC dan beberapa makanan lainnya yang bisa dijadikan pilihan untuk berwisata kuliner.

Junior Researcher, Program Officer, the Interseksi Foundation