Pariwisata Mamasa, Mau Kemana?

tugu_tomamasa

Dalam lanskap makro pembangunan Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) ada semacam pembagian peran dan fokus pembangunan antar-region. Wilayah Kabupaten Mamuju dan sekitarnya diandalkan menjadi pusat pemerintahan Provinsi Sulbar, Kabupaten Majene diproyeksikan sebagai kota pendidikan, Kabupaten Polewali sebagai pusat pengembangan ekonomi dan perdagangan. Sementara Kabupaten Mamasa akan diandalkan menjadi “Kota Pariwisata”. Untuk menopang rencana itu, pemerintah Provinsi Sulbar, bahkan, telah memberikan dukungan khusus melalui Surat Keputusan Gubernur Sulawesi Barat No.15 Tahun 2008. SK Gubernur Sulbar ini telah menetapkan Kabupaten Mamasa sebagai destinasi wisata Sulbar.

Senada dengan itu, RPJMD Kabupaten Mamasa juga menyebutkan bahwa sektor pariwisata menjadi salah satu prioritas pembangunan. “Kita sudah mempunyai rencana untuk membangun sektor pariwisata sebagai andalan Kabupaten Mamasa. Obsesinya, Mamasa ke depan akan menjadi pilihan orang untuk wisata selain Toraja. Bahkan, ke depan para wisatawan yang akan ke Toraja kita dorong untuk singgah dan menginap di Mamasa karena suhu udara di sini lebih sejuk dengan suguhan pemandangan alam yang asri,” ucap Bupati Mamasa, Ramlan Badawi. Namun demikian, di tengah ragam potensi dan pesona pariwisata yang dimiliki Kabupaten Mamasa serta gairah dan obsesi bupati itu tampaknya perlu juga untuk menyampaikan satu pertanyaan urgen sebagai pembuka, sanggupkah Mamasa membuktikan dirinya menjadi kota pariwisata? Atau dengan pertanyaan lain yang lebih mengarah aspek programatik-strategis, pariwisata Mamasa quo vadis?

Bagaimana menuju Mamasa

Sebagai kota kecil yang relatif baru, Kabupaten Mamasa memang belum banyak dikenal. Pencarian di google dengan memakai keyword Mamasa lebih banyak merefer ke Toraja dalam konteks budaya. Sementara dalam konteks lainnya juga masih banyak berrelasi dengan Polman atau Polmas yang merupakan kota induknya. Untuk itu perlu kiranya dideskripsikan secara singkat mengenai lokus kota mungil nan-sejuk bernuansa kristiani ini.  Kabupaten Mamasa adalah salah satu kota kecil yang berada di Provinsi Sulawesi Barat yang sebelumnya merupakan pemekaran dari Kabupaten Polewali-Mamasa (Kabupaten Polmas). Pada 2002 Kabupaten Polmas resmi dimekarkan menjadi dua, yaitu Kabupaten Polewali Mandar dan Kabupaten Mamasa.

Kabupaten Mamasa sendiri merupakan daerah pegunungan yang di sebelah timurnya berbatasan dengan dua kabupaten yang masuk wilayah Sulawesi Selatan: Kabupaten Tanah Toraja dan Kabupaten Pinrang. Di sebelah utara, Kabupaten Mamasa berbatasan dengan Kabupaten Mamuju yang merupakan ibukota Provinsi Sulawesi Barat. Di sebelah selatan, Kabupaten Mamasa berbatasan dengan kabupaten induknya, Polewali Mandar. Sementara di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Majene. Meskipun jarak antara Kabupaten Mamasa tidak terlalu jauh dengan beberapa kabupaten lainnya di wilayah Provinsi Sulawesi Barat, namun membutuhkan waktu tempuh yang cukup lama untuk menuju Kabupaten Mamasa. Sebagai contoh, jarak antara Mamasa dengan beberapa kabupaten terdekat yang berbatasan, misalnya dengan Polewali Mandar. Jaraknya memang tidak terlalu jauh, sekitar 80-an kilometer. Namun waktu tempuh yang diperlukan bisa berkisar 5 hingga 6 jam, hampir sama dengan jarak tempuh antara Polewali Mandar ke Makassar yang berjarak 300-an kilometer. Karena itu, untuk sampai ke Kabupaten Mamasa dari arah Makassar maupun dari arah Mamuju yang merupakan ibukota Provinsi Sulawesi Barat, butuh waktu tidak kurang dari 10 jam. Sebuah perjalanan yang tentu saja akan melelahkan …

Demikian pula jarak dan waktu tempuh antara Mamasa dengan Tanah Toraja, kabupaten terdekat lainnya yang berada di wilayah Sulawesi Selatan. Jarak antara Kabupaten Mamasa dengan Kabupaten Tanah Toraja hanya sekitar 80-an kilometer. Namun demikian, dibutuhkan waktu tidak kurang dari lima jam untuk menempuhnya. Dibanding jalan poros Polewali-Mamasa yang buruk, jalan poros Mamasa-Toraja kondisinya jauh lebih buruk lagi dimana sebagian besar jalannya belum diaspal. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab jalur poros Mamasa-Toraja kini hampir tidak pernah menjadi pilihan alternatif berkendara. Satu-satunya jalur transportasi Mamasa-Toraja yang hingga kini masih banyak dipilih adalah menempuh jalur secara memutar melintasi empat atau lima kabupaten: Polewali Mandar–Pinrang–(Pare-pare)–Enrekang–Toraja dengan jarak tempuh lebih dari 300-an kilometer.

Peta Mamasa dan Sulbar

Peta Mamasa dan Sulbar

Namun, sejak 14 Maret 2014 lalu sudah ada penerbangan perintis menuju Mamasa dengan dibangunnya bandara yang terletak di Kecamatan Sumarorong, salah satu kecamatan yang berjarak sekitar 38 kilometer dari pusat kota Mamasa. Dari bandara kecil ini tersedia dua rute penerbangan dari dan menuju Makassar serta dari dan menuju Mamuju menggunakan jasa maskapai “Aviastar”, pesawat mini berkapasitas 18-20 orang penumpang. Dari Makasaar ke Mamasa dan sebaliknya dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 40 menit dengan tarif promosi 260 ribu rupiah. Sementara dari Mamasa ke Mamuju dan sebaliknya  memerlukan waktu tempuh sekitar 20 menit dengan tarif 275 ribu rupiah. Perjalanan menuju Mamasa via pesawat tentu cukup menyingkat waktu lebih efisien dengan tarif ongkos yang cukup murah.

Murahnya ongkos pesawat Mamasa-Makassar maupun Mamasa-Mamuju masih menyisakan wacana problematik. Konon katanya, murahnya tarif ini salah satu alasannya karena masih disubsidi dari APBD. Problematiknya, semakin banyak tiket terjual sebenarnya semakin banyak pula uang rakyat yang dipakai untuk mensubsidi pengguna pesawat. Selain itu, alternatif memanfaatkan jalur udara menuju Mamasa juga masih menyisakan setidaknya dua persoalan lainnya yang menjadi kendala. Pertama, jadwal penerbangan yang masih langka karena hingga saat ini jadwal penerbangan hanya tersedia satu minggu sekali, yaitu setiap hari sabtu. Kedua, jarak yang relatif masih jauh dari bandara ke pusat kota sementara infrastruktur jalan dan transportasi umum dari bandara ke pusat kota Mamasa juga belum tersedia. Dengan segala keterbatasan infrastruktur yang ada, masih butuh waktu lebih dari dua jam dari Bandara Sumarorong menuju pusat kota Mamasa. Dengan begitu pula, keberadaan Bandara Sumarorong belum secara nyata akan turut menopang pariwisata Mamasa sebagaimana niat awal yang menjadi salah satu alasan pembangunannya. 

Iklan Aviastar di Bandara Sumarorong

Iklan Aviastar di Bandara Sumarorong

Memasuki Kabupaten Mamasa dari arah poros mana pun kita akan disuguhi pemandangan nan indah, hamparan hutan hijau yang begitu sejuk dan asri. Dari arah jalan poros Polewali-Mamasa, misalnya, bentangan pemandangan kanan-kiri jalan didominasi hutan pinus yang hijau. Demikian pula arah dari poros Toraja melewati Tabang, Tawalian, dan sebagian daerah Sesenapadang mata kita akan dimanjakan dengan hijaunya hutan yang masih perawan. Dari arah Mamuju melintasi Tabulahan, Buntu Malangka, Aralle, Mambi, Tanduk Kalua, Balla hingga masuk ke pusat kota Mamasa juga tak henti-hentinya kita akan disuguhi hijaunya hutan dengan ragam pepohonan. Panorama serupa juga dapat kita saksikan jika kita melintasi Mamasa melalui jalur udara. Memakai pesawat “Aviastar” dengan ketinggian jelajah yang relatif rendah akan tampak jelas bahwa sebagian besar wilayah Mamasa adalah daerah hutan primer dengan rangkaian pegunungan yang indah. Mamasa sungguh memiliki potensi wisata alam yang sangat menakjubkan.

Selain potensi wisata alam, Mamasa juga memiliki potensi wisata budaya yang cukup kaya. Data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Mamasa menyebutkan bahwa di kota ini tidak kurang dari empat puluh tempat yang menyimpan benda dan situs yang merupakan Cagar Budaya, seperti Rumah Adat Rambu Saratu di daerah Rante Buda, Rumah Adat Orobua, Rumah Adat Buntu Kasisi di Osango, Rumah adat Balla Satanetean, serta Makam Tedong-Tedong yang berada di Balla Barat, Paladan dan Messawa. Selain itu, hampir di semua kecamatan terdapat sanggar seni dengan ragam keunikannya. Data sanggar seni di Kabupaten Mamasa dapat disimak dalam tabel berikut.

Data Sanggar Seni di Kabupaten Mamasa Tahun 2012

No Kecamatan Sanggar Seni Jumlah
Berakta Notaris Belum Berakta Notaris
1 Mamasa 1 4 5
2 Tawalian 2 2
3 Sesenapadang 2 2
4 Balla 1 2 3
5 Tanduk Kalua 1 1
6 Sumarorong 4 4
7 Messawa
8 Nosu 4 4
9 Pana
10 Tabulahan 1 12 13
11 Rantebulahan Timur
12 Bambang 18 18
13 Mambi 1 10 11
14 Mehalaan 1 1
15 Aralle 2 2
16 Buntu Malangka 11 11
17 Tabang 4 4
Jumlah 4 77 81

Sumber: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Mamasa, 2012

 

Daya dukung lainnya dalam konteks pengembangan pariwisata juga sangat potensial, seperti suasana kehidupan sosialnya yang aman, tertib, dengan sikap masyarakatnya yang sangat ramah. Alhasil, jika konsep “sapta pesona” dijadikan rujukan atau parameter dalam pengembangan pariwisata maka sesungguhnya Kabupaten Mamasa memiliki kans yang besar untuk mengembangkannya. Sebagaimana kita mafhumi bahwa “sapta pesona” merupakan kondisi yang harus diwujudkan suatu daerah dalam rangka menarik minat para wisatawan datang berkunjung ke daerah itu. Sapta pesona terdiri dari tujuh unsur yang dapat mendukung pengembangan pariwisata, yaitu: aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah-tamah, dan kenangan. Dengan melihat berbagai potensi yang dimiliki, Kabupaten Mamasa sejatinya punya peluang besar untuk dikembangkan sebagai kota pariwisata.

Kendala dan peluang

Potensi pariwisata yang dimiliki Kabupaten Mamasa sejatinya sangatlah besar, baik wisata alam maupun wisata budaya. Kedua potensi pariwisata ini memiliki peluang yang besar untuk dikembangkan setidaknya karena tiga alasan. Pertama, kultur dan sikap positif masyarakat. Sikap santun, terbuka, dan rasa saling percaya yang tinggi merupakan salah satu modal sosial yang sangat mendukung bagi pengembangan pariwisata. Kedua, kondisi alam dan iklim sejuk yang tentu saja sangat kondusif sebagai magnet yang menarik para wisatawan untuk berkunjung ke wilayah ini. Ketiga, posisi strategis Kabupaten Mamasa terletak di jalur wisata Tanah Toraja yang sudah sangat terkenal. Dengan berbagai potensi yang dimiliki, Kabupaten Mamasa juga punya peluang untuk mengembangkan fokus pariwisata tersendiri, misalnya agrowisata.

 

4

 

Namun demikian, ditengah berbagai potensi dan peluang yang dimiliki, ada sejumlah persoalan yang masih menjadi kendala bagi pengembangan pariwisata di Kabupaten Mamasa. Kendala utama yang tampak begitu kentara adalah soal ketersediaan infrastruktur, terutama kondisi jalan yang umumnya masih sangat buruk. Hampir seluruh jalan poros dari luar kota menuju Kabupaten Mamasa kondisinya masih “seadanya”. Di sejumlah titik bahkan masih banyak dijumpai jalan tanah yang belum dikeraskan sehingga sangat sulit melewatinya terutama pada saat hujan. Bahkan, beberapa tempat wisata potensial pun akses jalannya belum tersedia secara memadai. “Bagaimana pariwisata mau berkembang kalau jalan buruknya setengah mati, apa mau turis datang kesini?” ujar Herman, sopir angkutan Polewali-Mamasa.

Persoalan lainnya yang menjadi kendala dalam pengembangan pariwisata di Kabupaten Mamasa adalah soal keterbatasan anggaran. Menurut Sekretaris Dinas Pariwisata, Yesaya, anggaran Dinas Pariwisata dan Kebudayaan hanya sekitar tiga miliar per tahun. Padahal menurutnya banyak hal yang harus diurusi sehingga Dinas Pariwisata kesulitan menentukan prioritas program yang harus dilakukan. “Dengan anggaran sekecil itu sebenarnya kita sangat sulit, padahal banyak hal yang harus kita kerjakan. Di tingkat provinsi, misalnya, sudah ada Perda untuk mendukung pengembangan pariwisata tapi tidak ada turunannya di level implementasi dan implikasi anggarannya belum ada,” ujar Yesaya.

Di tengah ragam kendala yang menghimpit itu, perhatian pemerintah terhadap pengembangan pariwisata memang tampak seperti ironi. Secara legal-formal pariwisata diposisikan sebagai salah satu prioritas pembangunan, namun secara faktual masih jauh panggang dari api. Ini dapat dilihat antra lain misalnya dari keberadaan cagar budaya yang sebagian besar tidak terawat dengan baik. Sementara itu, keberadaan sanggar seni juga seolah tidak mendapat pengakuan secara semestinya. Dari 81 sanggar seni yang ada baru 4 sanggar seni saja yang hingga saat ini memiliki Akta Notaris. Rendahnya perhatian pemerintah terhadap pengembangan kebudayaan juga tergambar dari capaian indikator urusan kebudayaan sebagaimana tersaji dalam tabel berikut.

Indikator capaian urusan kebudayaan Kabupaten Mamasa, 2010-2012

No Uraian Tahun
2010 2011 2012
1 Jumlah penyelenggaraan kegiatan seni-budaya 0 0 0
2 Jumlah benda, situs dan kawasan cagar budaya 41 41 41
3 Jumlah benda, situs dan kawasan cagar budaya yang dilestarikan 7 9 14
4 Prosentase Jumlah benda, situs dan kawasan cagar budaya yang dilestarikan 17,07 21,95 34,15

Sumber: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Mamasa, 2012

 

Setidaknya, ada dua hal yang menunjukkan “angka merah” pemerintah terkait indikator capaian urusan kebudayaan. Pertama, rendahnya apresiasi pemerintah dalam pengelolaan benda, situs dan kawasan cagar budaya. Ha ini tergambar dari prosentase jumlah benda, situs dan kawasan cagar budaya yang dilestarikan. Dari 41 benda, situs dan kawasan cagar budaya yang ada, tidak lebih dari 10 yang dilestarikan atau sekitar 20 persen saja. Kedua, nihilnya upaya pemerintah untuk mendorong dan mempromosikan kegiatan kebudayaan. Hal ini tergambar dari  tidak adanya penyelenggaraan kegiatan seni-budaya. Dari tahun 2010 hingga 2012 tidak ada satu event seni-budaya yang dilakukan. Kondisi ini memang bisa jadi karena dua hal. Pertama, dari pihak sanggar seninya sendiri yang kurang proaktif mengupayakan kegiatan kebudayaan. Kedua, masih rendahnya political-will dan good-will pemerintah untuk mendukung kegiatan kebudayaan.

Political-will dan good-will pemerintah memang sesuatu yang seringkali digugat dan dipertanyakan. Bukan saja dalam konteks kegiatan seni-budaya, tapi dalam pengembangan pariwisata pada umumnya. Dengan telah ditetapkannya pariwisata sebagai prioritas pembangunan, sudah semestinya pemerintah memiliki political-will dan good-will untuk pengembangan wisata. Konkretnya, misalnya, regulasi sektor pariwisata di tingkat provinsi diterjemahkan dalam perda dan perbup, memastikan ketersediaan anggaran dan segala rencana dalam tataran implementasinya secara sinergis. Jika sektor pariwisata secara resmi telah ditetapkan sebagai program prioritas, maka pemerintah harus mampu memastikan jawaban atas pertanyaan besar yang menjadi judul tulisan ini: Pariwisata Mamasa, mau dibawa kemana?

Associate Researcher, the Interseksi Foundation