Pelabuhan Donggala

Berbicara tentang Donggala, tidak akan bisa lepas dari kisah tentang pelabuhannya. Pelabuhan Donggala merupakan salah satu segmen yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah Donggala itu sendiri. Di masa kejayaannya, Pelabuhan Donggala merupakan penggerak roda perekonomian Donggala. Namun sayang, hal tersebut kini seperti hanya menjadi cerita dari masa lalu.

Chronicle 2-1

Kantor Pelabuhan Donggala

Pada saat Pelabuhan Donggala masih aktif, hampir seluruh kegiatan masyarakat terpusat di sana. Sebagian besar masyarakat menggantungkan hidupnya kepada pelabuhan. “Dahulu pelabuhan berfungsi sebagai ruang publik, bukan hanya aktivitas bongkar muat,” ujar Johar, salah satu tokoh masyarakat di Donggala. Namun, saat saya berkunjung ke pelabuhan, saya tidak menemui aktivitas yang umumnya terjadi di pelabuhan. Tidak ada kapal yang sandar apalagi aktivitas bongkar muat. Di sekitar pelabuhan pun juga sama. Gudang-gudang yang difungsikan sebagai tempat menyimpan hasil bumi pun tutup. Sebagian besar gudang-gudang tersebut dimiliki oleh para pengusaha Cina di Donggala.Saya pun menanyakan tentang sepinya pelabuhan kepada Irwan, salah satu pegawai di pelabuhan Donggala. Ia bercerita bahwa selama Agustus tidak ada kapal yang sandar.“Jangankan seminggu sekali, kalo ada kapal sandar selama sebulan sekali itu sudah bersyukur.” ujarnya ketika saya bertanya tentang jumlah kapal yang sandar setiap minggunya
. Kapal-kapal yang biasanya sandar di pelabuhan adalah kapal pribadi milik para pengusaha di Donggala. Menurut penuturan Almubin Manwata, Syahbandar Pelabuhan Donggala, kapal-kapal tersebut memiliki rute Surabaya-Donggala. Kapal dari Donggala yang menuju ke Surabaya biasanya membawa hasil bumi berupa kopra, kakao, kelapa sawit, dan beberapa hasil perkebunan di Donggala. Sebaliknya, jika kapal-kapal tersebut masuk dari Surabaya, mereka akan membawa sembako.

Para tenaga kerja bongkar muat (TKBM) atau buruh angkut menganggur karena intensitas kapal yang sandar di pelabuhan sangat kecil. Akhirnya, mereka mengalihkan mata pencahariannya dengan menjadi tukang ojek atau tukang becak. “Ada yang bekerja di pelabuhan-pelabuhan kapal tongkang yang mengangkut hasil galian C di daerah Loli.” kata Leo, warga Donggala yang saya temui di pelabuhan. Ia juga menceritakan bagaimana kondisi para buruh angkut ini yang penghasilannya tidak memadai. Menurutnya, sistem pengupahan bagi buruh angkut ini tidak adil, karena lebih menguntungkan pengusaha. Sistem upah borongan merupakan sumber ketidakadilan tersebut. Menurut Leo, seharusnya sistem upah yang diterapkan adalah dengan sistem upah harian. Jika sistem upah harian tersebut diterapkan maka hal tersebut akan menguntungkan kedua belah pihak.

Jika melihat kondisi sekarang, tentu para buruh angkut ini tidak memiliki penghasilan yang pasti. Dahulu masih ada kapal pengangkut pupuk untuk perkebunan kelapa sawit di wilayah Tike, Sulawesi Barat. Namun, sekarang kapal pengangkut pupuk tersebut sudah berlabuh di Pasangkayu, Mamuju Utara, Sulbar. “Sekarang kapal-kapal yang sandar di pelabuhan hanya milik pengusaha. Itu saja tidak tentu setiap bulan kapal masuk. Jelas membuat para buruh angkut tidak mempunyai penghasilan. Padahal kebanyakan mereka itu orang-orang Loli atau Bone Oge yang tinggalnyacukup jauh dari pelabuhan,” ujar Leo.

Chronicle 2-2

Salah satu dermaga yang ada di Pelabuhan Donggala

Pekerjaan menjadi buruh angkut di pelabuhan sempat menjadi primadona bagi masyarakat Donggala. Menurut Jamrin, salah satu wartawan yang tinggal Donggala, banyak sekali masyarakat Donggala yang memilih untuk menjadi buruh angkut ketimbang melanjutkan pendidikannya. Sebelum pelabuhan dipindahkan ke Pantoloan tahun 1978, memang banyak sekali masyarakat yang menggantungkan hidupnya di Donggala, termasuk para buruh. Bahkan, para buruh ini pun bisa mendirikan sekolah. Sekolah tersebut bernama Yayasan Pendidikan Pengajaran Islam (YPPI). Sekolah ini terletak di Jalan Pettalolo, yang tidak jauh dari pelabuhan. Menurut Andi Anwar, salah satu aktivis di Donggala, sekolah ini dibangun atas inisiatif para buruh yang bekerja sama dengan mandor pelabuhan dan pengusaha. YPPI di masa kejayaannya sempat memiliki sekolah dari jenjang TK hingga SMP. Namun, setelah pelabuhan dipindahkan, geliat sekolah ini pun menjadi lesu. Saat ini, sekolah ini hanya tinggal menyisakan sedikit muridnya.

Sisa-sisa kejayaan pelabuhan juga terlihat dari beberapa bangunan yang terdapat di sekitarnya. Di sebelah barat pelabuhan, terdapat gedung bekas kantor PELNI. Gedung ini dahulu difungsikan sebagai pusat administrasi PELNI ketika masih terdapat aktivitas kapal penumpang di Pelabuhan Donggala. Di depan pelabuhan, terdapat sebuah bangunan tua bekas kantor Perusahaan Dagang Negara PN Budi Bhakti Cabang Donggala. Kini, bangunan tersebut sudah tidak lagi berfungsi dan dibiarkan terbengkalai begitu saja.

Tidak jauh dari pelabuhan, terdapat sebuah ruas jalan yang bernama Jalan Bioskop. Saya sempat penasaran mengapa jalan ini bernama “Jalan Bioskop”. Adakah bioskop di kota sekecil ini? Ternyata, setelah saya tanyakan ke Madil, salah satu warga Donggala, dahulu di jalan ini berdiri sebuah Bioskop Megaria. Namun, saat ini, kondisi bangunannya pun sudah hancur. Menurutnya, tidak banyak orang yang tahu bahwa bangunan yang hancur tersebut merupakan bekas bioskop. Selain Megaria, terdapat juga Bioskop Muara yang terletak tidak jauh dari pelabuhan. Saat ini, bekas bangunan Bioskop Muara sudah dialihfungsikan menjadi gudang penyimpanan kopra.

Chronicle 2-3

Masyarakt Donggala yang sedang memancing ikan di pelabuhan

Madil bercerita bahwa bioskop-bioskop yang berada di sekitar pelabuhan menjadi salah satu pusat hiburan di kota. Biasanya, para penumpang yang bermalam di Donggala atau para pekerja di pelabuhan memanfaatkan bioskop sebagai sarana untuk mendapatkan hiburan. Bukan hanya bioskop saja, warung kopi pun turut menyemarakkan suasana pelabuhan di era kejayaannya. Mungkin, inilah gambaran yang disampaikan oleh Johar bahwa pelabuhan yang telah menjadi ruang publik bagi masyarakat Donggala.

Dorongan dari masyarakat untuk membangkitkan kembali aktivitas di Pelabuhan Donggala pun muncul. Upaya untuk mengembalikan kejayaan pelabuhan telah diusahakan oleh pemerintah. Sutopo, Sekretaris Bapedda Donggala mengungkapkan bahwa proyek besar Pemerintah Daerah Donggala saat ini adalah pembenahan pelabuhan. Salah satu cara yang yang sudah dilakukan pemerintah adalah dengan membangun dermaga baru di sisi timur pelabuhan. Ia mengungkapkan bahwa dengan adanya pelabuhan yang dapat difungsikan kembali maka perekonomian pun akan tumbuh. Ia juga menceritakan bahwa saat ini, dana untuk program tersebut berasal dari APBD dan rencananya akan mengundang investor.

Hal senada juga disampaikan oleh Syahbandar Pelabuhan Donggala, Almubin Manwata. Menurutnya, permasalahan saat ini yaitu Pelabuhan Donggala yang masih merupakan wilayah kerja dari Pelabuhan Pantoloan. Padahal dahulu Pelabuhan Donggala merupakan induk dari Pelabuhan Pantoloan sebelum dipindahkan pada 1991. “Sebelumnya, wilayah kerja Pelabuhan Donggala terdiri dari Pelabuhan Wani, Ogoamas, Sabang, dan Pantoloan. Namun, sekarang semua terpusat di Pantoloan,” ujar Manwata. Hal ini menyebabkan semua urusan adminstrasi terpusat di Pantoloan.

Chronicle 2-4

Salah satu gedung tua yang terbengkalai di sekitar pelabuhan

Manwata juga menceritakan bahwa sebagian besar hasil bumi yang berada di Donggala diangkut melalui pelabuhan-pelabuhan yang menjadi wilayah kerja Pelabuhan Pantoloan. Hal ini berarti bahwa semua pemasukan yang berasal dari pajak masuk ke Pantoloan. “Kita tahu lah bahwa sumber daya alam yang dibawa berasal dari Donggala. Tapi hal tersebut justru digunakan untuk pembangunan wilayah lain.” ujarnya. Selain itu terminal untuk kepentingan sendiri (TUKS) sebagian besar berada di Donggala, tetapi semua pemasukan disetorkan ke Pantoloan. Menurut Manwata, dikembalikannya fungsi Pelabuhan Donggala sebagai induk bertujuan untuk menambah pemasukan daerah.

Harapan masyarakat tentang Pelabuhan Donggala perlahan menemui titik terang. Kasman Lassa, Bupati Donggala, dalam salah satu programnya berencana akan mengembalikan pelabuhan kapal penumpang ke Pelabuhan Donggala. Rencana ini pun sudah dikomunikasikan ke pemerintah pusat. Menurut Manwata, jika rencana ini disetujui maka di awal tahun 2015 akan dimulai pembangunan terminal penumpang sehingga nantinya Pelabuhan Donggala siap untuk menjadi pelabuhan penumpang.

Apabila rencana ini terwujud, maka Pelabuhan Donggala akan kembali hidup dan memicu kembali geliat ekonomi di Donggala. “Semoga rencana pemindahan (pelabuhan) bisa terealisasikan,” ujar Manwata.

Junior Researcher, Program Officer, the Interseksi Foundation