Pelatihan Penelitian: Latihan Kesabaran dan Konsentrasi

Mengikuti pelatihan penelitian bagi pemula yang diadakan The Interseksi Foundation dan HIVOS ini, mengingatkan saya ketika harus menulis tugas akhir semasa kuliah dulu. Di dalam benak, penelitian masih menjadi kegiatan yang intimidatif. Belum lagi jika tema penelitiannya adalah demokrasi, otak sudah terlanjur macet sebelum dimulai. Berhari-hari saya berusaha untuk menemukan bahan penelitian yang menarik. Sayangnya sampai tenggat waktu, saya hanya menemukan topik yang menurut saya biasa saja dan dibicarakan banyak orang. Tentang pluralisme dan tindakan represif yang dilancarkan oleh sekelompok orang terhadap hak orang lain. Klise memang, tapi bagaimana lagi, saya sedang tidak ada ide. Mungkin lain halnya jika saya disuruh menggambar, pasti saya langsung semangat. Saat itu yang saya pikirkan, “yang penting bikin aja dulu.”

Sebuah pesan di Twitter memberikan saya pencerahan: street art dan aksi solidaritas atas peristiwa yang mengancam kebebasan beragama di Indonesia. Eureka! Rasanya seperti Isaac Newton yang kejatuhan apel, ketika akhirnya saya menemukan topik yang pas, tepat pada hari draft penelitian seharusnya dikumpulkan. Ya ampun, kenapa baru hari ini ketemu topik itu sih. Dengan menuliskan hal yang saya sukai, saya berharap bisa mempertahankan mood untuk terus tekun menatap komputer selama beberapa bulan ke depan. Draft dengan tema semula tetap dikumpulkan, sambil berharap ada kesempatan untuk memperbaikinya pada saat workshop nanti.

Selama menunggu, saya mencuri start untuk mulai membetulkan draft penelitian saya. Sunday 13th, aksi solidaritas yang muncul sebagai respon atas kekerasan terhadap jamaah Ahmadiyyah di Cikeusik dan beberapa kejadian di daerah lain. Bukan dialog antar kelompok yang ditawarkan dari gerakan ini, melainkan aksi massa untuk membuat graffiti, poster, stiker, mural (lukisan dinding) pada tanggal 13 Februari secara serempak di lebih dari 20 kota di Indonesia hingga ke Singapura. “Senjata” aksi ini cukup sederhana, situs jejaring sosial dan peralatan gambar yang tersedia di rumah. Jangan lupa siapkan area untuk menggambar. Bisa di mana saja, jembatan, tembok, rumput halaman depan rumah, garasi, pilar-pilar jembatan layang, warung, di mana saja bebas asalkan di ruang publik. Kemudian dokumentasikan karya seni tersebut dan upload ke media sosial apa saja atau kirimkan karya tersebut ke alamat email indonesiastreetartmovement@gmail.com. Siapapun bisa berpartisipasi, tidak peduli apakah ia memang seorang seniman, karyawan atau pengangguran. Yang lebih penting lagi, jangan lupa sertakan tagline “Berbeda dan Merdeka 100%” di setiap karya. Tagline tersebut adalah syarat mutlak dalam aksi ini. Meskipun hanya sehari, tetapi jumlah karya yang terkumpul hingga Maret 2011 mencapai 90 karya lebih, itu baru yang terdeteksi karena men-tag foto atau mengirimkannya melalui surat elektronik.

Seni sebagai salah satu alat demokrasi telah banyak dikaji di luar negeri, tetapi tidak terlalu banyak dikaji di sini. Kira-kira mengapa ya? Apakah seni dianggap sebelah mata di negeri ini? Mungkin banyak yang mengira bahwa seni selayaknya tidak ditunggangi oleh pesan-pesan politik. Seni ya untuk seni. Namun bagi sebagian kelompok, seni sebaiknya tidak memberikan jarak antara karya dengan rakyat. Seni harus dapat menggerakkan masyarakat untuk berbuat sesuatu atau minimal melihat bahwa ada yang salah dengan negerinya. Seni dapat menjadi alat kritik sosial, seperti yang kerap kali dilakukan oleh kolektif kesenian (contohnya di Yogya ada Taring Padi, di Jakarta ada Atap Alis). Mungkin saya akan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu selama melakukan penelitian.

Saya selalu bersemangat ketika mengerjakan sesuatu yang amat saya suka. Bergerilya mencari bahan untuk studi literatur dan berhasil menemukan yang sesuai. Selama workshop di GG House saya memperbaiki draft penelitian tersebut. Tentu saja, hasil ini lebih maksimal daripada draft yang pertama saya kerjakan. Menyusun kerangka penelitian, susah-susah gampang ternyata. Susahnya adalah ketika mencari rumusan masalah, tetapi menjadi gampang kalau semua bahan tersedia dan rumusan masalahnya sudah ketemu.

Harapan saya hanya satu, semoga saya tidak kehilangan mood ketika harus menuliskannya menjadi satu laporan yang komprehensif. Saya harus waspada terhadap diri sendiri, karena termasuk ke dalam golongan yang sangat berapi-api di awal dan bisa kehilangan fokus ketika ada hal-hal lain yang lebih menarik untuk dikerjakan.

Program Officer Yayasan Interseksi