Perjalananku ke Solo

Bunga dan Tembok 
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak kaukehendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanahSeumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak kaukehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besi

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang dirontokkan di bumi kami sendiri

Jika kami bunga
Engkau adalah tembok
Tapi di tubuh tembok itu telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersamad
Engan keyakinan: engkau harus hancur!
Dalam keyakinan kami
Di mana pun – tirani harus tumbang!
Solo, ’87 – ‘88

Wiji Thukul

Solo adalah kota yang aku kunjungi setelah kota Malang, tapi bedanya kali ini aku tidak lagi menggunakan kereta api untuk sampai ke Solo. Dari Malang aku naik travel ke Solo. Bapak dan Ibu Utomolah yang berbaik hati mau memesankan travel langganan mereka untuk ke Solo. Aku kira perjalanan ke Solo dengan travel bisa lebih cepat dibandingkan jika menggunakan kereta api. Tetapi perkiraanku ternyata salah. Travel memang menjemputku di rumah Bapak Utomo jam Sembilan pagi, tapi setelah itu kami berputar-putar kota Solo untuk menjemput para penumpang yang lain. Hatiku sedikit kesal, karna perjalanan jadi begitu lama, tapi setelah aku pikir-pikir kembali aku senang juga karna bisa keliling kota Malang dengan gratis.

Aku duduk di samping pak supir travel, sepanjang perjalanan aku hanya diam menikmati pemandangan dan jalanan yang aku lintasi untuk menuju kota Solo di luar sana. Aku juga tidak banyak berbicara kepada pak supir sepanjang dari kota Malang menuju Solo bukan karna angkuh tapi karna aku lebih menikmati kesendirianku ketika itu.

Jam empat sore aku tiba di Pool travel tersebut, Mbak Sipon (istri Wiji Thukul) yang menjemput ku disana dengan sepeda motornya. Mbak Pon langsung tersenyum padaku ketika ia melihatku duduk sendiri menunggu kedatangannya untuk menjemputku. “Sudah lama menungguku rin” Tanya mbak pon. “tidak mbak, baru sekitar lima belas menit.” jawabku sambil membalas senyumnya. setelah itu mbak Pon langsung membawaku kerumahnya, tapi sebelum sampai kerumahnya Mbak Pon tiba-tiba berhenti untuk makan bakso di warung langganannya di pinggir jalan. “kita berhenti sebentar rin, aku mau kamu cobain bakso yang paling enak di kota solo dan ini udah langgnanku dari dulu” kata mbak pon. Aku menuruti permintaannya dengan senang hati.

Mbak Sipon banyak bercerita tentang keadaannya sekarang. “sekarang dirumah lagi banyak jahitan seragam sekolah, aku udah berhari-hari lembur ngerjain pesenan itu. makanya aku cape banget sebetulnya sekarang, tapi karna kamu mau mau dateng jadinya aku bisa istirahat juga sekalian.” kata mbak pon. Mbak pon terus bercerita tentang keadaan keluarganya, teman-temannya dan juga aktifitasnya sebagai ketua IKOHI Jawa Tengah. Setelah makan, mbak Pon langsung mengajakku kerumahnya yang ternyata tidak jauh dari warung bakso tersebut.

“Ini rumahku tapi sekarang lagi berantakan karna banyak pesanan jahitan dan kamu bisa menginap disini kalau mau.” kata mbak sipon. Rumahnya mbak sipon sangat sederhana, ada lima orang yang tinggal dalam rumah sederhana tersebut. Mbak Sipon sebagai kepala keluarga, ibu nya mbak Sipon yang sudah berumur delapan puluh tahun tapi masih sanggup mengerjakan pekerjaan rumah tangga, Wani putri pertama mbak Pon, Fajar putra bungsu Mbak Pon dan mbak Astin seorang pengacara yang selama ini sudah menjadi sahabat bagi mbak Pond an selalu mendampingi mbak Pon ketika mbak Pon menghadapi masalah apapun.

Keesokan paginya aku mulai menanyakan beberapa pertanyaan untuk penelitian yang sedang aku kerjakan, awalnya memang berjalan dengan lancar karna mbak Pon mau menjawab beberap pertanyaan yang aku ajukan tapi kemudian aku melihat beliau sangat tidak nyaman ketika menceritakan kembali apa yang dialaminya.

Mbak Pon lebih sering termenung sambil mengepulkan asap rokok X Mild nya ketika mencoba menjawab pertanyaanku, sampai akhirnya beliau berkata “Sebetulnya masih tidak mudah bagi saya untuk menceritakan peristiwa ini kembali meskipun peristiwa itu sudah berlangsung sepuluh tahun yang lalu, karna hal tersebut bagaikan membuka lagi luka lama saya.” Aku dapat mengerti dan menghargai sekali perasaan beliau, maka akhirnya aku berkata kepadanya “Tidak apa jika mbak Pon tidak ingin melanjutkan ini kembali, saya tidak akan memaksakan mbak Pon untuk meneruskan ini.” Mbak Pon hanya terdiam sambil terus termenung dan pergi ke kamar mbak Astin untuk menyendiri. Aku membiarkan mbak Pon dalam kesendiriannya dan tidak ingin mengganggunya untuk sementara waktu.

Sore harinya mbak Pon sudah mau berbicara kembali denganku, tapi aku melihat dia sedikit menghindar untuk berbicara berdua saja denganku. Aku berkata kepadanya “Mbak Pon, aku kagum dengan semangat mbak Pon menghadapi ini semua karna aku sendiripun belum tentu bisa seperti mbak Pon jika aku mengalami masalah yang sama.” Jawaban mbak Pon atas komentar ku ketika itu hanya “Rini, saya hanya ingin mencoba seperti pohon yang semakin dia diterpa angin maka dia akan semakin kuat. Anggap saja saat ini saya sedang diterpa angin ribut tapi nanti angin ini akan membuat ku bertambah kuat.”

Peserta Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi-HIVOS 2008 Bekerja pada Ikatan Keluarga Orang Hilang (IKOHI), Jakarta.