Pewarta (Persaudaraan Warga Tani)

Sekelompok mahasiswa dari Yogyakarta yang mendedikasikan dirinya untuk gerakan tani di Batang

“Jangan Pake Gula ya… Kang..”

Perjalananku yang terakhir merupakan perjalanan yang berbeda dengan perjalananku sebelumnya. Lokasi studiku adalah gerakan tani di Kabupaten Batang, yaitu organisasi yang bergerak di wilayah pesisir pantai utara, namun aku kali ini melakukan perjalanan ke Yogyakarta, kota Gudeg yang sebetulnya harus ditempuh selama kurang lebih 4-5 jam dari kota kabupaten Batang. Mengapa?? Karena aku sangat ingin mengunjungi seluruh personil aktivis PEWARTA, organ mahasiswa yang selalu setia membantu FPPB sejak awal berdiri tahun 1999-2000, yang memang ber’markas’ di kota Yogya.

Perjalanan ke Yogya adalah perjalanan favoritku – sebetulnya – karena rute yang aku tempuh dari Bandung hingga Yogya adalah rute yang sangat familiar dan merupakan rute yang sangat menarik, karena melewati banyaknya kota yang dilewati. Dimulai dari wilayah-wilayah yang termasuk dalam wilayah Pasundan, lalu memasuki wilayah Jawa. Aku selalu berhenti untuk beristirahat sejenak, dan biasanya aku selalu membersihkan muka, kaki dan tangan serta memesan kopi di warung yang ada agar pada perjalanan selanjutnya aku tidak merasakan kantuk. Biasanya aku berhenti di kota Ciamis – Jawa Barat dan Gombong – Jawa Tengah.

Perjalananku kali ini bertepatan dengan bulan Puasa, karenanya aku memilih memulai perjalanan setelah berbuka puasa di Bandung. Seperti kebiasaanku, aku berhenti di kota Ciamis setelah aku menyetir selama 2,5 jam. Sebelum aku ke kamar mandi, aku memesan kopi terlebih dahulu, dan aku selalu mengatakan “.. Kang, pesan Coffe-Mix dan jangan lupa, jangan ditambah gula lagi…”. Mmm… potongan kalimat terakhir itu sangat penting untuk selalu dikatakan dan jangan pernah lupa, karena kebiasaan orang Jawa adalah sangat gemar dengan rasa manis, dan walaupun kemasan Coffe-Mix sudah siap untuk diseduh dengan air panas tanpa harus menambah apapun lagi, mereka selalu menambahkan dengan gula, hasilnya adalah rasanya….. alamakkkk…. Manis betulll, dan menurutku, rasa kopinya sudah menyerupai rasa Kolak.. Manisssss…. hehe… Menariknya, pemberhentian pertama ini masih berada di wilayah Jawa Barat, yang sebetulnya masih termasuk kawasan Pasundan, tetapi jangan salah lo… kulturnya serta kebiasaannya sangat kental dengan kebiasaan orang Jawa, yah.. paling tidak kebiasaan mereka yang sangat gemar dengan rasa manis…

Akhirnya sampai juga ke tujuanku, ‘markas’ PEWARTA di daerah Condong Catur di kota Yogya, sekitar jam 4 pagi, perjalanan yang melelahkan, karena diakhir perjalanan, aku menyempatkan diri untuk makan sahur supaya tetap bisa melaksanakan ibadah puasa pada hari itu. Setibanya disana, aku langsung ditawari kamar untuk beristirahat sejenak, dan beruntung sekali aku, karena ‘markas’ mereka adalah berupa rumah yang selain dipergunakan sebagai kantor, juga terdapat bagian belakang rumah yang menyerupai kamar kos-kosan. Maka, aku disana benar-benar merasa seperti di rumah sendiri, karena tawaran sejenak yang mereka tawarkan tidak terasa adalah selama 5 jam juga… uuuhhh… nyamannya…..

Begitu bangun, sekitar jam 10 pagi, aku langsung mandi dan langsung menuju ke ruangan tengah dimana mereka selalu berkumpul. Sesuai harapanku, personil PEWARTA yang masih lengkap berada di ‘markas’ tersebut langsung berkumpul dan mulai perbincangan dengan hal-hal yang santai. Kabarnya, mereka memang menunggu kedatanganku dan menunda kepulangan mereka ke kampungnya masing-masing untuk bersama-sama keluarga merayakan Hari Raya Idul Fitri. Mungkin ini keberuntungan bagiku, karena sebelum aku berangkat ke Yogya, aku selalu mengatakan kepada mereka bahwa aku sangat ingin berkunjung ke ‘markas’ PEWARTA, hanya untuk sekedar mampir dan main-main. Tetapi, aku merasa bahwa mereka menangkap apa yang sebenarnya aku ingin dapatkan dari mereka, mereka langsung memulai dengan menceritakan situasi terakhir gerak langkah mereka di FPPB.

Setelah mereka menceritakan apa yang terjadi, yang sebenarnya juga sudah sering aku dengarkan ceritanya dari banyak pihak, aku mulai mengarahkan pembicaraan kepada hal-hal yang ingin aku dapatkan, yaitu siapa sebenarnya mereka dan bagaimana mereka bias menjadi partner utama FPPB dan apa alasannya. Walaupun sebenarnya apa yang mereka ceritakan diawal-awal perbincangan akan sangat terkait dengan apa yang ingin aku dapatkan. Sebelumnya, aku mencoba menjelaskan kepada mereka maksud dan kedatanganku yang sebenarnya, bahwa aku pingin sekali mendapatkan cerita utuh tentang PEWARTA, dengan maksud – paling tidak – agar dapat menyelesaikan tugas penelitianku, selain itu, aku juga ingin merespon kritik mereka tentang draft laporanku yang sama sekali tidak menyinggung pihak-pihak yang sesungguhnya sangat banyak yang berperan aktif dalam gerak dan langkah FPPB. Penjelasanku ini membuat mereka merespon dengan tanggapan sebagai berikut: “… kami tau lah .. ga perlu Hilma menjelaskan, karena kami tau bahwa Hilma sedang berupaya memberikan laporan studi yang berimbang dan pasti tidak ingin laporan studinya kelak akan menjadi hal yang kontraproduktif untuk kemajuan gerakan FPPB…”. Wah aku senang sekali mendengarnya, artinya diantara aku dan mereka sudah terjalin satu asas kepercayaan, dan hal ini merupakan hal tersulit bagi seorang peneliti.

Ternyata oh Ternyata…

Diskusi berjalan sekitar 3-4 jam, dan mereka pun tidak pernah keberatan aku tetap mencatat dan merekam semua pembicaraan mereka kedalam perekam digital yang aku siapkan. Mereka mulai dengan cerita bahwa PEWARTA sebenarnya lahir dari kelompok gerakan mahasiswa di kampus, yang berasal dari beberapa kampus dan menggabungkan diri dengan wadah Solidaritas Mahasiswa untuk Kedaulatan Rakyat (SMKR). Program utama mereka adalah meningkatkan kapasitas anggotanya agar memiliki kepekaan terhadap kehidupan sosial rakyat khususnya di pedesaan. Kegiatan turunannya adalah mengirimkan seluruh anggotanya ke desa-desa yang ada di Jawa Tengah yang salah satunya adalah desa di Kabupaten Batang. Waktu itu adalah tahun 1999. Pada saat penugasannya ke kabupaten Batang, mereka belum melihat ada gerakan petani yang radikal pada saat itu, dalam arti tidak ada gerakan petani yang terorganisir baik untuk melakukan pendudukan tanah maupun untuk memperkuat dirinya untuk perubahan kehidupannya. Tetapi, mereka akui bahwa mereka menangkap fenomena kasus sengketa tanah di kabupaten Batang.

Penugasan para mahasiswa itu adalah menghabiskan waktu bersama dengan rakyat di pedesaan, meleburkan diri dan berkegiatan keseharian bersama – mereka menyebutnya dengan kegiatan Live in – , dengan asumsi bahwa dengan cara begitulah mahasiswa akan mengetahui dan terlatih kepekaaannya terhadap gejala-gejala social yang ada di tengah-tengah rakyat. Di tengah-tengah kegiatan tersebut, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suatu peristiwa dimana terdapat sejumlah rakyat yang harus mengungsi ke rumah salah seorang pengacara di kab. Batang, yaitu ke rumah Sdr. Handoko Wibowo. Lokasi Live in mereka tidak sama dengan lokasi dimana penduduk yang sedang mengungsi itu tinggal, jadi pada saat itu mereka sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang terjadi. Ternyata… mereka sejak awal konsen utama mereka bukan untuk persoalan agraria…

Dengan konsep di kepala masing-masing personil yang sedang Live In ini, dimana mereka harus melatih kepekaan dirinya terhadap seluruh gejala yang ada di masyarakat, maka mereka tidak tinggal diam melihat fenomena pengungsian yang terjadi, mereka mencari tahu apa penyebabnya dan mengapa bisa terjadi. Mulailah mereka jungkir balik dalam waktu yang singkat untuk mempelajari apa yng sedang terjadi, sampai akhirnya mereka mengetahui dengan pasti bahwa ini adalah salah satu dampak dari kasus tanah antara rakyat dengan perkebunan PT Pagilaran. Mereka juga kemudian mengetahui bahwa selama kasus ini berlangsung, sudah ada kelompok-kelompok pro rakyat lainnya yang membantu petani disini, yaitu LBH Semarang.

Mereka melakukan pencarian informasi untuk semua yang sedang terjadi tentunya dengan kebersamaan mereka dari hari ke hari baik dengan para pengungi maupun dengan rakyat tani yang masih tinggal di wilayah Pagilaran. Mereka pun mengatakan bahwa dengan keterbatasan mereka pada saat itu, mereka hanya bisa menemani mereka saja, menjaga semangat hidup mereka dan memberikan semangat perjuangan untuk strategi yang akan ditempuh selanjutnya. Tetapi, dari proses itulah mereka mendapatkan informasi yang utuh tentang gerakan rakyat yang sedang dibangun, khususnya di Pagilaran.

Dari peristiwa ini, anggota SMKR, khususnya mereka yang sedang Live In di Batang mendapatkan kesempatannya untuk terus bersama-sama dengan petani-petani yang sedang berhadapan dengan kasus tanah. Mereka pun kemudian mengetahui bahwa di sekitar kediaman pengacara dimana pengungsi melakukan pengungsian, terdapat satu kasus sengketa tanah yang lain yang sampai sekarang dikenal dengan sengketa kasus PT Tratak, dan di sebelah utara kab. Batang juga terdapat kasus lainnya yang sekarang disebut kasus sengketa PT Segayung. Proses ‘mempelajari’ terus berjalan, hingga akhirnya pada tahun 2000, FPPB dideklarasikan sebagai wadah perjuangan petani di Kabupaten Batang.

Sadar dengan posisi kelompok mahasiswa yang tidak dapat menjadi anggota FPPB, maka mereka pun memikirkan dan merumuskan secara bersama-sama formulasi yang tepat dengan pengurus FPPB tentang peran kelompok mahasiswa ini. FPPB mengakui pentingnya peran kelompok mahasiswa didalam gerakan FPPB, paling tidak mereka merasakan jaringan yang luas untuk melakukan penguatan gerakan FPPB. Setelah itu, kelompok mahasiswa ini berpikir bahwa memang SMKR pun tidak bisa dipungkiri sebagai organ mahasiswa yang memiliki konsentrasi terhadap kedaulatan rakyat, lingkupnya luas yaitu untuk rakyat secara keseluruhan, termasuk petani. Karenanya, SMKR pun melakukan pengekerucutan interest gerakan mereka, dan agar menjadikan strategi penguatan terhadap petani menjadi lebih focus, maka mereka membentuk organ lain yang khusus untuk penguatan organisasi tani atau paling tidak yang konsentrasinya khusus untuk kelompok rakyat tani, yaitu PEWARTA – Persaudaraan Warga Tani. Jadi.. ternyata… PEWARTA itu terbentuk – bisa dikatakan – karena kebutuhan akan penguatan FPPB khususnya dan untuk petani umumnya…

Kehadiran PEWARTA beserta visi dan misinya disambut baik oleh FPPB, dan hal ini menjadi situasi gayung bersambut, dimana FPPB yang memang sangat membutuhkan kehadiran kelompok seperti PEWARTA dan PEWARTA sendiri sedang dalam proses mengaktualisasikan dirinya sebagai kelompok yang dapat memberikan dukungan bagi kemajuan gerakan tani di Batang. Selain juga bagi PEWARTA sendiri, sejak masih bernama SMKR, memang mendedikasikan dirinya untuk kepentingan rakyat. Ternyata.. untuk kasus ini, sama sekali tidak ada upaya saling mendominasi, yang ada adalah saling memiliki satu sama lain…

Proses terus berjalan, dengan proses saling belajar satu sama lain, baik FPPB dan PEWARTA berupaya mendudukkan dirinya didalam posisinya masing-masing. PEWARTA kemudian menyatakan dirinya sebagai Supporting System gerakan FPPB, dengan pertimbangan utamanya adalah petani adalah salah satu kelompok rakyat yang harus berdaulat, dan mereka yang mampu mengidentifikasi dirinya sebagai bukan petani, sehingga memutuskan untuk menjadi kelompok pendukung saja. Didalam menjalankan keputusan dan komitmennya, maka PEWARTA berupaya untuk mendiskusikan bersama-sama dengan FPPB, apa saja yang seharusnya dikerjakan oleh PEWARTA. Sebagaimana halnya organisasi yang baru saja berdiri, FPPB pun berupaya untuk dapat menggali terus potensi dirinya dan berupaya untuk merumuskan secara bersama apa yang menjadi kebutuhan gerakan yang sedang dibangun. Hingga kemudian terformulasi kebutuhan akan peningkatan kapasitas organisasi dengan strategi melakukan berbagai macam pendidikan bagi pengurus organisasi dan anggotanya. Tugas tanggung jawab ini dibebankan kepada PEWARTA, untuk merumuskan strategi pendidikan sekaligus mencarikan sumber-sumber untuk pemenuhan kebutuhan agar agenda pendidikan dapat terlaksana. Kebutuhan-kebutuhan tersebut adalah kebutuhan akan sumberdaya materi dan substansi pendidikan, sumberdaya orang (narasumber, fasilitator dan organisasi pelaksananya) serta sumberdaya logistic. Ternyata.. disinilah salah satu pilar utama terjadinya sinergisitas gerakan antara FPPB dan PEWARTA…

Sejauh ini, semasa lahirnya PEWARTA, didalam konteks pembangunan organisasi FPPB yang lebih kuat, panduan pelaksanaan peningkatan kapasitas organisasi merupakan kewajiban yang paling utama yang harus dilakukan oleh PEWARTA. PEWARTA pun merumuskannya dengan didasarkan pada hal-hal yang paling dibutuhkan oleh FPPB, dan pada saat awal dijalankannya mandat ini, PEWARTA memandang pendidikan untuk mengetahui secara pasti posisi kasus yang dihadapi adalah prioritas utamanya, dilanjutkan dengan pendidikan keorganisasian, pendidikan kepemimpinan serta pendidikan yang dilakukan belakangan ini adalah pendidikan kader khusus yang diproyeksikan untuk duduk didalam posisi formal di pemerintahan. Prinsipnya adalah membangun keswadayaan, tetapi walau bagaimanapun terdapat masa transisi dimana keswadayaan tidak dapat dijalankan seutuhnya.

PEWARTA pun dengan lincah melakukan upaya-upaya pencarian dukungan dari pihak-pihak lain, dan upaya-upaya tersebut membuahkan hasil. Maka sejak saat itu, selain PEWARTA dapat menghidupi kehidupan organisasinya juga berkat dukungan yang ada dapat melaksanakan agenda pendidikan serta dapat membantu operasional organisasi FPPB. Dengan kenyataan ini, baik PEWARTA dan FPPB sudah menunjukkan saling membutuhkan satu sama lain, karena mereka kemudian dapat saling menjaga hubungan dan relasi yang hasilnya adalah kerja-kerja organisasi yang lebih efektif. Ternyata… FPPB dan PEWARTA sebenarnya sudah menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan…

Namun, kabar-kabar yang beredar belakangan ini – paling tidak bagi PEWARTA – mengindikasikan hal yang bertentangan dengan cerita diatas. Dikabarkan bahwa PEWARTA berlaku berlaku sebaliknya dan fungsinya di FPPB tidak sestrategis yang diceritakan, yaitu hanya sebagai ‘pembantu’ administratif organisasi saja. PEWARTA menyikapi kabar tersebut dengan diam dan tetap bijaksana, karena bagi mereka proses meluruskan kabar yang sedang menyebar akan memakan waktu dan akan lebih baik jika waktu yang ada dipergunakan untuk memikirkan startegi agar FPPB tidak memiliki pemikiran yang sama. Sikap diam mereka juga merupakan sikap yang menunjukkan konsistensi mereka terhadap visi perjuangan mereka sebagai organ mahasiswa yang berada diluar tubuh FPPB, sebagai organ yang hanya sebagai system pendukung gerakan FPPB. Mereka menyadari, jika memang perjuangannya selama ini salah, saat inilah melakukan refleksi bersama dan di masa yang akan datang tidak akan melakukan kesalahan yang sama.

Di dalam sikap yang tidak berontak atau reaktif, mereka tercerahkan dengan opini lain yang kebetulan datangnya dari para pengurus FPPB sendiri. Secara tidak disadari, mereka melakukan refleksi atas apa yang mereka lakukan selama ini, dan pada akhirnya mereka bersepakat untuk mendudukkan kembali semua persoalan didalam visi bersama mereka yaitu untuk kemajuan organisasi FPPB di Kabupaten Batang dan kemajuan seluruh petani di Indonesia. Walaupun seluruh kondisi belum terpulihkan seperti sebelumnya, PEWARTA sudah cukup mensyukuri bahwa pengurus dan anggota FPPB dapat mengerti situasi yang sedang terjadi dan meminta untuk bersama-sama menata langkah kedepannya baik untuk kemajuan FPPB sendiri maupun untuk meluruskan permasalahan yang ada. Ternyata.. sebagian pengurus FPPB dapat melakukan pengamatan secara menyeluruh terhadap apa yang sedang mereka hadapi pada suatu waktu dan tidak hanya bergantung dari sumber informasi yang sangat kuat mempengaruhi kuatnya organisasi FPPB…

Akhirnya, didalam melengkapi penelitianku tentang apa yang dilakukan oleh FPPB bersama-sama dengan organ-organ pendukungnya selama ini, paling tidak aku mendapatkan beberapa hal. Hal-hal yang aku dapatkan tentunya sesuatu yang belum aku dapatkan pada pengumpulan informasi yang sudah dilakukan sebelumnya, atau paling tidak aku sudah mendapatkannya dan belum mendapatkan konfirmasi dari pihak yang terkait dalam hal ini aktivis PEWARTA. Hal lain adalah aku mendapatkan cerita tentang FPPB dari pihak yang selama ini kurang didengar namanya dalam kancah perjuangan petani FPPB, dan menurutku, apa yang aku dapatkan akan sangat membantu didalam proses pengungkapan didalam konteks penulisan perjuangan petani bahwa perjuangan petani di Indonesia, dari 3 kasus yang sedang dan sudah dipelajari sangat terkait erat dengan pihak-pihak lain. Pihak-pihak tersebut akan senantiasa merupakan pilihan kritis dari petani itu sendiri dan bukan merupakan proses intervensi dari pihak-pihak diluar petani tersebut. Namun, didalam prosesnya, tidak dipungkiri bahwa kecenderungan dominasi akan selalu ada, tetapi hal ini haruslah dipandang secara kritis bahwa mereka bukanlah sedang dalam rangka membangun dominasi atas kelompok lainnya, hal ini merupakan proses cara pandang orang luar terhadap gerakan yang sedang dibangun.

Begitulah, akhirnya perjalanan yang melelahkan ini, ditengah-tengah semangat membaraku untuk menjalankan ibadah puasa, bagiku, mendapatkan hasil yang lumayan buannnyyaaakkk… karena aku sudah dapat menerobos dan membongkar sisi lain perjuangan FPPB yang sebenarnya dan sejujurnya dari pihak yang sangat konsisten mendedikasikan dirinya untuk perjuangan FPPB – aktivis PEWARTA.

Bandung, 8 Oktober 2008

Peserta Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi-HIVOS 2008. Saat ini menjadi anggota Tim Peneliti Kota-kota di Sulawesi, Yayasan Interseksi