Selamat Tinggal Gerbang Marhamah

Sabtu menjelang siang 7 Oktober 2006 di sebuah mobil penumpang umum Isuzu Elf tua yang bertolak dari Cianjur menuju Ciparay, seorang tua pensiunan bertutur dengan semangatnya.

“Istri kedua saya waktu saya nikah baru lulus SMA tahun 1996, jadi sekarang baru berumur 28 tahun. Anak saya semuanya enam termasuk dengan istri pertama. Ayah saya dulu pernah bilang ke saya, lebih baik kamu punya banyak istri daripada main perempuan”.

Kira-kira begitu yang bisa saya tangkap di tengah selap-selip bahasa Sunda Cianjur si Bapak itu, yang konon dialek Cianjur paling halus seantero telatah Sunda. Saya banyak mendengar saja ia bercerita sambil meraba-raba makna kalimat demi kalimat yang terlontar dari Bapak pensiunan tersebut. Sahut menyahut antar penumpang Elf itu tak terelakkan, menambah riuhnya suasana di dalam kendaraan tua itu.

Onggokan barang belanjaan di bagian belakang, mungkin pesanan sebuah bengkel karena banyak ban luar sepeda motor masih bersegel plastik dan kardus-kardus, bertumpuk tinggi memenuhi bagian belakang mobil tua dan kusam itu. Sedangkan di tengah ditempatkan dua gas oksigen yang satu direntang di bawah jok dan lainnya ditinggikan dengan diikatkan ke pintu, serta ditambah 4 gas elpiji yang di tempatkan di balik pintu.

Celoteh Bapak itu tepatnya sebetulnya diawali gumaman betapa berbahayanya mobil ini yang siapa tahu gas-gas itu bisa meledak. Saya kontan tersenyum, bukan mendengar kata-katanya yang polos itu dan memang saya benarkan, tetapi saya tersenyum karena tingkahnya yang naif dan sangat cemas memandang situasi itu. Ia agak sewot ketika saya tersenyum. Saya pun paham dan mulai mencoba serius. Benar saja si Bapak kemudian komat-kamit berdoa dan membaca shalawat. Setelah doa selesai kedua tangannya segera diusap-usapkan di batang gas oksigen yang menjadi pijakan kakinya. “Dah, semoga selamat!”, katanya pelan.

Setelah ia bertutur bahwa ia mempunyai istri muda, dan karena ia terus yang bercerita, maka ia mulai sadar bertanya dari mana dan apa tujuan saya pergi ke Ciparay. Saya jawab saja saya dari Bogor untuk tidak menjawab saya dari Jakarta. Kemudian ia bertanya asal daerah saya karena mungkin tahu orang yang diajaknya bicara tidak paham Bahasa Sunda, saya pun menjawab dari Jawa Timur. Tapi giliran apa tujuan saya, ia lebih dulu langsung menebak, “Mau ketemu cewek idaman di situ, ya?!”. Ia terus menyerocos, “Enak lho punya istri orang sini. Gadisnya kebanyakan penurut dan bisa menyenangkan suami”.

Sekali lagi dengan keterbatasan kamus Bahasa Sunda, sekalipun ketika mengambil mata kuliah Bahasa Sunda selama satu semester di Fakultas Sastra UGM sanggup mencapai nilai A, tetapi saya tetap terbata-bata menangkap kata-kata Bapak itu di tengah deru mesin Elf yang memekakkan telinga. Karena itu pembicaraan segera saya alihkan sambil saya menggerutu dalam hati, “Dasar bandot tua!”. Meskipun saya menggerutu, tetapi justru dari Bapak itulah saya ditunjukkan di mana saya harus turun dan sampai ke tempat yang ditunjukkan Amin Muzakkir, rekan peneliti Interseksi yang menetap sementara untuk penelitian minoritisasi Ahmadiyah di Dusun Ciparay.

***

Maulana Rahmat Ali menginjakkan kaki pertama kali ke Tapaktuan pada tahun 1925. Menurut catatan sejarah perkembangan jamaat Ahmadiyah Indonesia, tahun 1931 Rahmat Ali mulai menginjak tanah Jawa, tepatnya di Jakarta. Dari kawasan Bungur, Jakarta Pusat ia perlahan mengembangkan Ahmadiyah dan setahun kemudian tahun 1932, berkembanglah anggota jamaat daerah Bogor.

Perkembangan anggota jamaat kemudian terus ke selatan. Dalam terbitan “50 Tahun Jamaat Ahmadiyah Indonesia, Majalah Sinar Islam, Nomor Yubileum (Januari 1976)”, perkembangan anggota jamaat Cianjur dimulai secara serius sejak seseorang bernama Sanusi ingin mempelajari Ahmadiyah. Sebelumnya ia pernah membaca buku “Verslag Debat” antara Rahmat Ali dan A. Hassan dari Persatuan Islam (Persis) tahun 1933. Setelah mantap, Sanusi pun segera melakukan baiat menjadi anggota jamaat Ahmadiyah.

Sanusi sendiri pada tahun 1949 diminta Rahmat Ali untuk membentuk cabang di Ciparay. Ancaman terhadap Sanusi tidak main-main, bahkan diancam akan dibunuh. Akan tetapi Sanusi pun tidak gentar dan tetap meneruskan niatnya membentuk cabang jamaat Ciparay. Akhirnya pada tahun 1951 diadakanlah pemilihan pengurus cabang Ciparay dan dipilihlah Sanusi sebagai ketua cabang.

Kini, setelah setengah abad lebih berlalu, jejak-jejak Sanusi sudah mekar menjadi setidaknya tiga cabang lainnya. Perlu diketahui, pengertian cabang dalam jamaat Ahmadiyah tidak berdasarkan pemilahan geografis, melainkan berdasarkan kepadatan populasi (density). Selain Cabang Ciparay yang secara administratif masuk Desa Selagedang, Kecamatan Cibeber, dimana dari situ Sanusi menggerakkan cabang jamaat mula-mula, cabang lainnya adalah Cabang Neglasari serta Cicakra yang masuk wilayah Desa Sukadana, Kecamatan Cempaka dan Cabang Panyairan yang secara administratif juga masuk Kecamatan Cempaka. Setiap cabang itu kini berdiri satu masjid jamaat. Cabang Ciparay mempunyai anggota 121 jiwa, Neglasari 140-an jiwa, Penyairan 120 jiwa dan Cicakra lebih kurang 100-an jiwa. Keempat Cabang ini di tambah satu Cabang di Baros, Cempaka Mulya, Kecamatan Cempaka yang letaknya 18 km. timur laut Ciparay dibimbing oleh seorang Muballigh yang kini diemban oleh Edi Abdul Hadi. Muballigh ini pernah bertugas selama 11 tahun di Lampung dan sejak 2005 memulai tugas barunya di Cabang Ciparay dan cabang-cabang sekitarnya.

Cabang-cabang inilah, kecuali cabang Baros, yang pada tahun 2005 lalu masjid serta berbagai harta pribadi pribadi jamaat diserang dan dijarah massa. Penyerbuan itu dilakukan serentak 19 September 2005, atau satu setengah bulan pasca penyerbuan Kantor Pusat Ahmadiyah dan Kampus Mubarak Parung, Bogor, Jawa Barat.

Asep Mulyadi, Ketua Cabang Ciparay menuturkan peristiwa tersebut. Dua hari sebelumnya, di suatu malam Minggu yang cerah, diadakan parade ceramah dalam tabligh akbar di desa sebelah yang intinya mendiskreditkan Ahmadiyah. Setelah acara itu, suasana diselimuti ketegangan karena muncul desas-desus massa akan menyerang masjid Ahmadiyah. Dirinya dan Muballigh Edi Abdul Hadi kemudian sibuk menenangkan anggota jamaat dan menyiapkan skenario jika benar terjadi penyerangan. Benarlah pada malam Selasa sekitar pukul 20.00 WIB ratusan orang datang merusak dan menghancurkan Masjid Ahmadiyah Ciparay serta inventaris lainnya, termasuk pesawat televisi dan seperangkat komputer. Mata-mata berlinang jamaat Ahmadi, terutama yang laki-laki, hanya sanggup melihat peristiwa itu dari dalam rumah mereka masing-masing. Sementara para perempuan, orang tua dan anak-anak diungsikan sementara di sebuah lembah tidak jauh dari masjid tersebut. Setelah api menjilat-jilat dan semua hancur berantakan, jam 22.00-an datanglah anggota polisi dari Sektor Cempaka yang berusaha menenangkan situasi. Namun semua yang terbakar sudah menjadi abu dan barang-barang inventaris tidak utuh lagi.

Di Cabang lain, Neglasari, Panyaringan dan Cicakra situasinya setali tiga uang. Bahkan bukan hanya masjid yang dirusak, warung-warung kelontong milik anggota jamaat juga dijarah. Bahkan di sebuah toko, 500 kg telor ayam yang baru tiba, malam itu dikeluarkan massa dan dibanting berserakan di jalanan. Selama beberapa hari setelahnya, di sekitar tempat itu seperti tutur Asep Mulyadi menirukan kelakar orang-orang di sekitarnya, baunya mirip di Bantar Gebang.

Dalam menyikapi perusakan dan penjarahan itu, tampaknya Polres Cianjur gesit dan cepat bertindak. Sebanyak 47 orang yang dituduh terlibat pengrusakan ditangkap dan ditahan. Dari jumlah itu, 12 orang diantaranya terbukti dalam persidangan melakukan penjarahan dan kemudian dipenjara selama 6 bulan lamanya. Dibanding daerah lain, kepolisian Cianjur mengambil langkah cukup maju. Polres Cianjur dengan gagah berani mengusut kasus penyerangan komunitas keagamaan yang berbeda yang dilakukan komunitas berbeda dengan pasal-pasal kriminal, yaitu di antaranya perusakan dan penjarahan.

***

Dua hari mengitari kebun teh Panyairan dan sekitarnya, benar-benar sanggup melepaskan penatnya Ibu Kota. Asep Mulyadi yang kini lebih akrab dipanggil Ahmad, bersama Edi Abdul Hadi mengajak saya dan Amin Muzakkir mengunjungi jamaat Cabang Panyairan, Neglasari dan Cicakra dengan menggunakan dua sepeda motor. Tanpa saya duga, ternyata untuk menuju tempat jamaat Panyairan, kami harus menempuh perjalanan mengitari kebuh teh yang sangat hijau. Udara benar-benar bersih dan bau hijau daun pepohonan teh sangat terasa. Ditambah lagi hawa sejuk khas perbukitan dengan suhu menurut Asep Mulyadi berkisar 20 derajat celcius sungguh mengingatkan saya ketika saya berada di daerah perbukitan tembakau Sumbing-Sindoro di Parakan, Temanggung, Jawa Tengah. Kondisi ini semakin menguatkan karakteristik wilayah di ketinggian sekitar 750 m. dari permukaan air laut itu yang membuat kedinginan bagi orang seperti saya yang sehari-harinya kegerahan menghirup udara Jakarta.

Meskipun masyarakat di daerah tersebut tinggal di tengah perkebunan teh, menurut Asep tidak banyak di antara mereka yang bekerja di perusahaan perkebunan tersebut. Gaji yang relatif kecil turut mempengaruhi mereka memilih bekerja di kota seperti Bandung dan Jakarta. Saat kami lewat itu, kebetulan sedang tidak ada pemetikan daun teh.

Cukup lama kami menyusuri jalanan di perkebunan teh milik PTP Nusantara VIII yang luasnya mencapai 1.000 hektar tersebut. Sembari ngabuburit, demikian kelakar Asep Mulyadi, kami diajak berkunjung ke rumah Ketua Jamaat Panyairan yang lokasinya persis di tengah-tengah perkebunan teh. Amin Muzakkir sebagai peneliti utama, tampaknya memanfaatkan betul kemahiran Bahasa Sunda-nya untuk mengorek informasi dari Ketua Cabang Jamaat Panyairan tersebut. Lagi-lagi, yang muncul adalah suara-suara memelas akibat kekejaman massa yang melakukan perusakan dan penjarahan. Informasi yang tidak kalah penting, tidak jauh dari rumah ketua cabang itu, ternyata ada seorang anak remaja SMA yang turut ditahan selama 6 bulan dengan dakwaan melakukan penjarahan ketika berlangsungnya perusakan dan penjarahan terhadap jamaat Ahmadiyah.

Esoknya kami berangkat ke Sukanegara untuk melihat kondisi anggota jamaat yang masjidnya benar-benar dirobohkan. Ketika kami datang ke rumah Oyo, wajah traumatik masih tersimpan dalam raut muka tua Oyo. Persis di samping rumahnya, kami melihat bekas-bekas masjid yang tinggal tumpukan kayu yang menindih reruntuhan pondasi bata merah yang dilumuri semen dan mulai ditumbuhi semak-semak. Sungguh tragis, mengiringi peristiwa itu beberapa anggota lain diintimidasi dan dipaksa untuk keluar dari Ahmadiyah. Kini tinggallah Oyo dan istrinya yang mempertahankan bukti kedatangan Imam Zaman di daerah Leuwimangu, Kecamatan Sukanagara tersebut.

Jalanan menuju kampung itu sebenarnya cukup berkelok-kelok dan sangat sepi. Kanan kiri jalan ditumbuhi pohon-pohon teh dan kadang jurang yang sejauh mata memandang hijaunya daun teh terlihat sangat indah. Tapi saya agak kaget, ketika Asep Mulyadi tiba-tiba menujuk satu titik di Desa Cinangka. Di situlah menurutnya Heri Golun merakit Bom Kuningan. Bom seberat 2,5 kwintal itu menurut Asep diangkut oleh 6 kuli angkut daerah situ untuk dimasukkan ke dalam mobil boks. Menurut tukang kuli angkut, mereka disuruh mengangkat “mesin” itu ke dalam mobil tersebut. Kekagetan itu bercampur kengerian begitu melihat jurang di sisi jalan dan sepinya kawasan tersebut.

Sampailah kami dalam sebuah obrolan merefleksikan berbagai peristiwa yang menimpa jamaat di daerah tersebut. Bahwa betapa sulit dimengerti di daerah dingin, sepi dan tampak begitu tenang itu sanggup membuat darah orang naik dan secara gampang melakukan amok massa. Atau sebetulnya di daerah seperti itu justru sangat potensial untuk menyusun skenario sebuah kejahatan luar biasa seperti halnya perakitan bom.

Entah mengapa di tengah kondisi demografis dan geografis sebagian kawasan Cianjur demikian itu membulatkan tekad bupati terdahulu menelorkan jargon Cianjur Gerbang Marhamah. Sebuah kebijakan Syariatisasi dalam peraturan daerah itu pada jaman ia menjabat gaungnya sanggup mencapai pelosok-pelosok desa. Menurut Asep, di pintu-pintu gerbang desa dengan mudah dijumpai spanduk bertuliskan “Anda Memasuki Kawasan Gerbang Marhamah”. Selain itu di setiap desa dan sekolah juga diangkat seorang Pembimbing Akhlakul Karimah (PAK) yang digaji Rp. 600.000,- per tahun. Keruan saja posisi-posisi itu diisi oleh para fungsionaris MUI Cianjur yang jangkauannya hingga ke pelosok-pelosok desa. Namun pada akhirnya muncul asalan mengapa bupati penggagas Gerbang Marhamah itu kalah dalam pemilihan Bupati Cianjur pada Februari 2006, di antaranya adalah macetnya pembangunan inftrastruktur di Cianjur karena anggaran pemda tersedot ke dalam proyek Gerbang Marhamah itu.

Tampaknya kekerasan terhadap Ahmadiyah di daerah itu secara langsung maupun tidak juga merupakan ekses dari “Gerbang Marhamah” itu. Ekses lain yang tidak kalah menariknya barangkali adalah sikap banalisasi poligami seperti yang dilakukan Bapak pensiunan yang menunjukkan setengah dari perjalanan saya ke Ciparay itu.@

Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan Multikulturalisme Tahun Kedua, Yayasan Interseksi