Selebrasi Pemenang Pemilu

Sabtu, 30 Agustus 2014, menjadi salah satu hari yang penting dalam dinamika politik di Donggala. Pada hari tersebut, terdapat acara pelantikan anggota DPRD Kabupaten Donggala. Saya memiliki ekspektasi bahwa di hari pelantikan ini, akan ada masyarakat yang datang untuk sekedar menonton atau bahkan ada yang akan melakukan aksi demonstrasi di sana.

Namun, apa yang saya harapkan tersebut hanya terkabul sebagiannya. Hanya ada segelintir masyarakat yang datang untuk menyaksikan pelantikan anggota DPRD yang baru. Sebelum saya mendatangi kantor DPRD, saya mendapatkan informasi bahwa penjagaan di lokasi sangat ketat. Lantas, saya berpikir mungkin akan ada aksi demonstrasi. Namun, sesampainya di sana, saya sama sekali tidak menjumpai kelompok-kelompok masyarakat yang akan melakukan demonstrasi. Hanya beberapa undangan yang tampak hadir di area parkir kantor DPRD. Di sudut-sudut dan akses masuk ke DPRD terlihat juga beberapa anggota kepolisian dan satpol PP yang berjaga.

Chronicle 3-1

Mobil aparat polisi di belakang kantor DPRD

Sesampainya di sana, saya sedikit kecewa karena tidak bisa masuk ke tempat pelantikan anggota DPRD. Hanya undangan dan wartawan yang memiliki kartu pers saja yang bisa masuk ke sana. Namun, kekecewaan tersebut sedikit terobati dengan obrolan bersama salah seorang anggota polisi yang sedang berjaga di pintu belakang kantor DPRD. Ia bernama Tarmadi, salah satu anggota Polres Donggala. Selama saya menunggu acara pelantikan selesai, saya mendengarkan cerita tentang pengalamannya menjadi polisi selama bertugas di Sulawesi Tengah.

Ia mengungkapkan bahwa ketika bertugas di Donggala, Ia merasa sangat nyaman karena kondisi di Donggala sangat aman. Bahkan untuk acara selevel pelantikan anggota DPRD sama sekali tidak ada aksi demonstrasi. Padahal, jika daerah lain pasti ada aksi demonstrasi. Namun demikian, protokol keamanan di Donggala pun tetap sama dengan di daerah lain yaitu pengamanan yang terdiri dari tiga lapis. “Orang sini itu cuek, mana ada yang mau demo siang-siang panas begini,” celetuk salah satu warga yang turut berbincang-bincang bersama kami.

Tarmadi juga menceritakan pengalamannya selama berada di daerah konflik di Sulawesi Tengah, yaitu Poso. Ia menceritakan bahwa untuk buang air kecil saja sulitnya bukan main karena senapan-senapan dari orang-orang yang tidak suka dengan polisi pasti diarahkan ke pos polisi atau kantor polisi. “Sempat ada teman yang ingin buang air kecil dan menuju ke toilet, tiba-tiba saja kakinya tertembak,” ujarnya. Rasa aman dan nyaman seperti ini yang membuatnya senang jika bertugas di Donggala.

Setelah menunggu dan berbincang-bincang selama hampir dua jam, akhirnya saya bisa masuk ke gedung DPRD Donggala. Sepertinya, pelantikan memang baru saja selesai. Para anggota DPRD yang baru dilantik masih sibuk berfoto dengan keluarga, anggota DPRD yang lain, maupun dengan tim pemenangannya. Anggota DPRD Donggala periode 2014-2019 beranggotakan 30 orang. Partai Gerindra, Golkar, dan PKS masing-masing mendapatkan empat kursi. PKB, PDIP, Hanura, dan Demokrat masing-masing mendapatkan tiga kursi. PPP dan Nasdem mendapatkan dua kursi, sementara PAN dan PKPI masing-masing mendapatkan satu kursi. Dari ketiga puluh anggota DPRD yang baru dilantik, terdapat delapan anggota incumbent. Menariknya, para anggota DPRD yang baru dilantik ini banyak yang masih berusia muda yaitu berumur tiga puluhan. Hal ini membuat ekspektasi masyarakat terhadap mereka menjadi tinggi. “Semoga yang muda-muda ini bisa idealis lah, tidak seperti DPRD yang kemarin,” ujar Dorce, salah satu warga Donggala.

Chronicle 3-2

Anggota DPRD terpilih yang sedang berfoto bersama

Saya bersama teman-teman dari Bone Bula menemui Syafruddin, salah satu anggota DPRD dari PKB. Berdasarkan cerita dari Andi Anwar, Direktur Bone Bula, kawan-kawan di Bone Bula memang membantu pemenangan Sape, panggilan akrab Syafruddin. “Sape ini dulu juga aktivis, semoga dia tidak berubah setelah menjadi anggota dewan,” ujar Andi Anwar yang lebih akrab dengan panggilan “Popeye”. Menurut Popeye, hal yang paling penting setelah ini adalah pengawalan platfrom yang akan disusun oleh Sape dan teman-teman dari PKB.

Seusai ramah tamah di DPRD, saya mengikuti rombongan Sape yang berkeliling di sekitar Kota Donggala. Aktivitas berkeliling yang dimaksud bukan dalam bentuk konvoi, melainkan Ia mendatangi ke beberapa tempat yang merupakan lumbung suaranya. Sape maju menjadi calon anggota DPRD Donggala melalui partai PKB dengan Daerah Pemilihan (Dapil) Donggala 2 yaitu Kecamatan Banawa dan Banawa Tengah.

Chronicle 3-3

Suasana di DPRD Donggala setelah pelantikan anggota DPRD

Pertama, ia mendatangi para pemilih yang berada di daerah Lampong, Gunung Bale. Ia mendatangi beberapa rumah warga dan tokoh masyarakat di sana. “Baru ini saya lihat ada anggota dewan datang lagi ke rumah masyarakat setelah dilantik,” celetuk salah satu warga di sana. Si ibu juga menceritakan bahwa sang anggota dewan yang baru terpilih ini sering nongkrong di sini dan berharap masih bisa berkumpul setelah terpilih menjadi anggota dewan.

Selanjutnya, ia menuju ke rumahnya untuk melakukan syukuran dan doa bersama dengan keluarga. Di tengah-tengah jamuan makan tersebut, ia mengatakan kepada saya bahwa semua teman-teman di sini lah yang membantunya sehingga bisa menjadi anggota dewan. Ia menambahkan bahwabantuan dari teman ini sangat penting karena ia sendiri mengakui bahwa dana kampanyenya tidak banyak.

Setelah acara jamuan makan tersebut, Sape dan rombongannya menuju ke Tanjung Batu untuk bertemu dengan warga di sana. Kelurahan Tanjung Batu terletak tidak jauh dari Lampong dan juga searah dengan tujuan saya yaitu kantor Bone Bula. Saya sendiri menuju ke kantor Bone Bula untuk beristirahat. Selama perjalanan yang singkat tersebut saya hanya bisa tersenyum dan berkata dalam hati bahwa inilah salah satu selebrasidari seorang caleg yang telah terpilih menjadi anggota dewan. Saya pun berpikir bahwa pasti ada selebrasi yang menarik di daerah lain di Indonesia.

Junior Researcher, Program Officer, the Interseksi Foundation