Separuh Nafasku

Hari libur kerjaku kali itu, Minggu, 6 April 2014, kumanfaatkan seoptimal mungkin untuk pengumpulan data riset di Maros sekaligus menemani kartunis, Toni Malakian menjelajah. Sedari siang hingga malam mendatangi sejumlah tempat wisata di Maros.

Tujuan pertama adalah Bantimurung, lalu ke Leangleang dan terakhir di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Sebelum ke Maros, saya mengajak Toni ke Tempat Pelelangan Ikan Paotere. Dia membuat sketsa aktivitas di Paotere pada hari Minggu, yang begitu padat. Aksi Toni membuat sketsa pun menarik perhatian sejumlah orang. Ada yang serius mengamati, ada pula yang hanya sepintas dan tersenyum.

Penjual ikan dan nelayan yang menjadi objek pun tak mau ketinggalan mengamati. Di antara mereka, ada yang bertanya, untuk apakah itu? Mereka pun mendapat penjelasan jika sketsa ini dibuat untuk kepentingan penulisan buku. Perbincangan soal sketsa tak berlangsung lama. Saya lebih memilih mengalihkan perhatian mereka untuk berbincang soal nama dan jenis iklan dijual, profil penjual dan nelayan, serta penghasilan mereka sehari.

Samsuddin dan Idris, dua orang penjual ikan yang cukup terbuka diajak berbincang. Dari perbincangan itu, saya mendapatkan banyak informasi soal Maros. Idris adalah warga Maros, namun lahir di Bone, kabupaten seberang Maros. Kepada Idris, saya bertanya soal demografi Maros. Saya ingin mengetahui secara pasti, di mana kantong pemukiman Bugis dan Makassar di Maros. Pertanyaan serupa, saya tanyakan kepada informan lain. Namun, tak ada yang dapat menjawab pasti. Di Maros, suku Bugis dan Makassar telah membaur.

Demi tuntutan pekerjaan, saban hari, dia harus menempuh perjalanan sekitar 34 kilometer untuk pulang balik Paotere-Maros. Selama sekitar 10 tahun, Idris menjual ikan. Dia bukanlah nelayan dan ikan yang dijualnya dibeli dari nelayan. Dari hasil menjual ikan, pria paruh baya ini mampu membiayai lima orang anaknya. Pengakuannya, anaknya tak ada seperti dirinya menjual ikan. Ada yang menjadi imam, penghafal Alquran, dan pegawai pemerintah daerah. Idris mengaku terbantu karena anaknya banyak menerima beasiswa pendidikan. Selain soal keluarganya, dia juga bercerita soal pasar tradisional yang penuh dengan kebohongan. Banyak penjual ikan harus berbohong kepada pembeli agar ikannya laris. Contohnya, ikan yang mulai membusuk dikatakan masih segar. Ikan dijual di Paotere rupanya menggoda karena harganya relatif murah. Saya pun membeli seekor ikan kakap merah.

Usai sketsa Paotere rampung, waktunya makan sarapan sekaligus santap siang. Menu kali ini adalah ikan bakar kakap yang baru saja dibeli. Ikan dibakar di warung depan tempat pelelelangan, warung Amalia. Di warung ini tersedia jasa membakar ikan plus nasi dan sayur. Warga yang berbelanja di Paotere bisa langsung menitip ikannya di warung agar dibakarkan. Harga membakar ikan, satu paket dengan nasi yang disantap bersama sayur. Ikan kakap bakar, sepiring nasi, dan sayur bihun membuat kami cukup bertenanga untuk melanjutkan perjalanan ke Maros.

Di Maros, tempat pertama yang kami datangi adalah Bantimurung, tempat wisata air terjun dan taman kupu-kupu. Saat itu, pengunjung sangat ramai. Banyak di antara mereka memboyong keluarga. Ada pula pasangan muda-mudi, sepertinya pasangan di luar nikah. Berwisata di Bantimurung, pengunjung harus membayar Rp 20 ribu per kepala. Itu hanya berlaku untuk WNI. Turis asing lebih mahal Rp 50 ribu. Kami tak perlu membayar sebab telah meminta izin berkunjung dengan tujuan riset, bukan wisata. Pengelola pun mengizinkan dan tak perlu lagi membayar retribusi.

Saya punya pengalaman buruk di sini. Tahun 2005, saya terpeleset di atas batu di bawah air terjun. Kala itu, pelipisku robek dan harus mendapatkan sekitar 10 jahitan. Beruntung saat itu cepat mendapatkan pertolongan medis dari petugas kesehatan di Bantimurung. Bantimurung berada di kawasan Taman Nasional Bulusaraung yang terkenal dengan kartsnya dan berada di satu kawasan dengan Leangleang. Namun, jarak dari Bantimurung ke Leangleang hampir sekitar 10 kilometer jika melewati jalan raya. Leangleang adalah situs prasejarah. Di sini, ada gambar telapak tangan dan babi hutan di dinding goa (leang) yang bernama pettakere. Ada dua goa, pettakere dan pettae. Mengakses leang pettakere butuh perjuangan karena goa ini berada di ketinggian. Untuk menggapainya, harus meniti ribuan anak tangga, termasuk tangga besi. Beda dengan leang pettae.

Saking banyaknya anak tangga harus dititi, saya pun ngos-ngosan. Nafasku serasa sisa separuh. “Yaa Tuhan, kenapa sulit sekali dicapai leang ini.” Pemandu kami yang juga bernama Idris tampak kuat berkalan. Hampir setiap hari memandu wisatawan ke goa. Dia sebenarnya pegawai kantor pengelola situs ini. Selepas Leangleang, usai salat isya, gilirannya untuk mendatangi bandara. Tujuannya bukan ingin terbang, tetapi memantau aktivitas di bandara teramai di kawasan timur Indonesia tersebut.***

 

Peserta Program Pelatihan Penelitian Kelas 2013/2014, dan anggota tim peneliti Kota-kota di Sulawesi, Yayasan Interseksi