Sepenggal Cerita Menuju Mamasa

Penulisan kota-kota Sulawesi merupakan salah satu program Interseksi 2013-2015 yang sejatinya merupakan salah satu fragmen dari mimpi besar Interseksi untuk “menulis Indonesia”. Untuk menyukseskan program ini telah disiapkan sejumlah agenda, antara lain workshop bersama pakar Sulawesi, antara lain: Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra, Dr. Halilintar Latif, dan Prof. Dr. Juraid Latief. Dalam workshop ini kemudian muncul sejumlah nama kota/kabupaten yang akan dipilih menjadi lokus penelitian, yaitu: Minahasa Utara (Sulawesi Utara), Pohuwato (Gorontalo), Gowa (Sulawesi Selatan), Buton (Sulawesi Tenggara), Donggala (Sulawesi Tengah), dan Mamasa (Sulawesi Barat).

Entah bagaimana ceritaya, saya lupa runtutan prosesnya, dalam suatu rapat internal peneliti di Interseksi saya mendapat bagian untuk meneliti Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Sejak itu saya berupaya menyiapkan draft proposal penelitian untuk kemudian di-share dan didiskusikan dalam “majelis reboan”, pertemuan reguler selama hampir tiga bulan yang secara serius didesain menjadi semacam forum reading course untuk mempersiapkan amunisi bagi semua orang yang akan terlibat dalam program penulisan kota-kota Sulawesi.

Menjelang keberangkatan, Stephanie Djohar, salah seorang Program Officer di Interseksi, membantu saya mengintip Mamasa lewat google map. Dari hasil pantauannya, ia menuturkan bahwa ternyata Mamasa itu tergolong daerah yang masih perawan. “Wilayahnya bergunung-gunung. Hutannya masih lebih banyak, ketimbang ruang-ruang yang terpakai,” ucapnya. Bagi saya, hutan dan pantai tidak ada bedanya. Dalam arti, sama-sama menarik untuk dikaji dan ditelusuri. Inilah kekayaan Indonesia, zamrud khatulistiwa yang menyajikan lanskap alam yang lengkap. Karenanya, Kabupaten Mamasa, yang katanya merupakan wilayah bergunung-gunung itu, merupakan tempat yang menarik bagi saya, bukan saja sekadar untuk disinggahi tapi juga dibagikan ceritanya. Ini sekelumit cerita perjalanan awal menuju Mamasa. Cerita ini memang bukan inti dari laporan penelitian saya di Kabupaten Mamasa, tapi cerita ini tentu menjadi bagian tak terpisahkan dari laporan penelitian seutuhnya. Seandainya ada rute penerbangan Jakarta–Mamasa atau setidaknya rute Jakarta–Makassar–Mamasa, mungkin cerita ini tidak akan pernah ada.

Ngisi BBM (Bahan Bahan Mamasa) di Makassar

Informasi awal tentang Mamasa yang saya dapatkan masih sangat minim, karena itu sejak awal sudah saya niatkan dan saya agendakan untuk mengisi BBM (Bahan Bahan Mamasa, hehehe … ) saat singgah di Makassar. Meskipun tidak ada hubungan administratif secara langsung antara Makassar dengan Mamasa, tapi sebagai kota terbesar di wilayah Sulawesi dan sekaligus sebagai ibukota induk region Sulawesi bagian selatan, Makassar memiliki arti penting tersendiri. Dalam hal pasokan data dan informasi, setidaknya ada dua institusi penting yang saya harapkan untuk mendapatkan data di Makassar: kampus dan media.

Saya sangat beruntung bisa singgah di Makassar dengan sambutan pertama dari seorang awak media, Edi Sumardi, jurnalis muda Tribun Timur, salah satu media ternama di Makassar. Dari Edi juga saya mendapatkan informasi perjalanan menuju Mamasa, termasuk kemudahan di Makassar dengan mencarikan akomodasi murah-meriah. Sejak saya tiba di Bandara Hasanuddin Makassar, Edi terus membantu, terutama agar saya tidak “salah pilih” taksi dan penginapan, katanya. Melalui kontak telepon dan SMS, Edi kemudian memandu saya ke Hotel Baji Gau, menggunakan jasa Taxi Bosowa yang menurutnya sebagai layanan taxi paling kredibel di Makassar.

Namun hotel Baji Gau yang lumayan asri itu hanya ibarat laci loker saja, tempat saya menyimpan sebagian besar isi tas dan bawaan. Tanpa sempat mandi atau sekadar berleha-leha sejenak pun apalagi berselayar memanfaatkan jaringan gratis wi-fi hotel Baji Gau, saya langsung buru-buru menuju kantor Tribun Timur Makassar bersama Edi. Di kantor Tribun Timur Makassar, saya dikenalkan Edi dengan beberapa temannya yang juga jurnalis. Saya juga menyempatkan masuk ke bagian produksi percetakan, ke lantai redaksi, numpang sholat dhuhur di mushola, setelah sebelumnya ngobrol cukup lama di Kantin Tribun Timur.

Sambil menikmati sop ikan, sayur bening dan kopi panas kami membincangkan ihwal Mamasa. Beberapa penjual dan ibu pemilik kantin pun sesekali menimpali obrolan kami seputar Mamasa. Meskipun sudah ada obrolan ngalor-ngidul justru bagi saya semakin kuat kesan atas miskinnya informasi seputar Mamasa, bahkan termasuk liputan media. Berita seputar Mamasa di Tribun Timur juga masih terhitung minim, bahkan media besar ini tidak menempatkan koresponden dan perwakilannya di wilayah Mamasa. Berita baiknya, datang dari wartawan Tribun Timur, Ilham Ile, saya diberi informasi mengenai penelitian tentang Mamasa yang sudah dilakukan salah satu LSM Makassar, LAPAR, selain kegiatan penelitian yang dilakukan pak Halilintar Latief bersama para mahasiswa UNM Makassar.

Saya juga terbantu dengan informasi dari Hamzah, peserta Pelatihan Penelitian Interseksi 2013 yang berasal dari Polman, kabupaten induknya Mamasa sebelum pemekaran. Hamzah juga tidak lama kemudian datang dan turut dalam obrolan di Kantin Tribun Timur. Karena Edi mau menunaikan tugas liputannya keliling Makassar, maka sore itu saya ditemani Hamzah menemui pak Halilintar Latief, dosen cum budayawan dari Departemen Antropologi, UNM Makassar yang tahu banyak soal Mamasa. Saat kami menjumpai pak Halilintar di kampusnya, beliau sedang dikerumuni mahasiswa bimbingannya. Pak Halil kemudian mengajak kami bersama sejumlah mahasiswanya ke sebuah kedai kopi yang tidak begitu jauh dari kampus UNM. Hidangan Pisang Epe dengan kopi-susu panas menemani obrolan kami seputar Mamasa.

IMG_7726Menurut Pak Halil, Mamasa merupakan daerah yang menarik untuk diteliti meskipun memang sulit medannya sehingga belum banyak penelitian yang dilakukan, tapi inilah yang justru menjadi nilai tambah lainnya. Mungkin bisa dilihat dari sejarah awalnya menjelang pemekaran, mengapa mau mekar? Kemudian setelah pemekaran, perubahan apa yang paling signifikan? Awalnya banyak orang melihat alasan pemekaran karena masalah agama, ada juga yang melihat karena ketidakmerataan ekonomi, atau karena apalagi? Jangan-jangan bukan karena itu, tapi misalnya karena alasan sangat pragmatis seperti perluasan lowongan PNS, misalnya, atau justru karena alasan yang kompleks. Ada juga alasan kesenjangan “gunung” dan “pantai”. Faktanya memang daerah hulu atau gunung dan hilir atau pantai ada kesenjangan kemajuan ekonomi. Semua ini perlu digali lebih mendalam. Demikian antara lain pak Halilintar memberi penjelasan awal.

Pak Halil dan para mahasiswanya pernah melakukan penelitian antropologi di wilayah Balla, salah satu kecamatan di Kabupaten Mamasa. Kajiannya terutama lebih ke aspek kultural meneliti “Ritual Maroro” yang sudah dilakukan sejak lama secara turun temurun. Ritual ini bahkan sering diasosiasikan sebagai “agama baru” melengkapi lima mazhab Kristiani yang hidup di wilayah Balla Penna, Kabupaten Mamasa. Pak Halil juga menyarankan saya untuk live in di Balla dan memberikan contact person, Aruen Lumene. Selain memberikan pembekalan informasi dan hidangan pisang Epe, pak Halil menyempurnakan traktirannya dengan mengajak kami ke sebuah kedai ikan bakar yang letaknya tidak begitu jauh dari Pantai Losari. Sambil makan malam, kami melanjutkan obrolan seputar Mamasa hingga Edi kembali untuk menjemput saya menuju hotel Baji Gau sekitar pukul sepuluh malam.

Dalam perjalanan menuju hotel, Edi juga menunjukkan sejumlah tempat yang menurutnya penting untuk saya ketahui. Mulai dari rumah-rumah para petinggi Makassar: Yasin Limpo, Jusuf Kalla, M.Yusuf, benteng peninggalan Belanda, “Fort Rotterdam” dan tidak lupa juga untuk berpose sejenak di kawasan Pantai Losari, salah satu landmark Kota Makassar yang sebenarnya sudah sering saya kunjungi. Malam semakin larut, tapi kawasan Pantai Losari tidak semakin sepi. Semakin malam di sini tampaknya semakin asyik. Tapi bagaimana pun saya harus segera bergegas kembali ke hotel Baji Gau, karena besok subuh saya sudah punya janji dengan Hamzah yang akan menjemput dan menemani saya bersama mobil travel Makassar –Mamasa.

Makassar – Mamasa, terhenti di Polman

Setelah subuh, saya langsung bergegas untuk berkemas, karena menurut Hamzah, travel Makassar-Mamasa berangkat pukul 06.00 dan setelah itu baru ada lagi pukul 10-an. Kalau pakai alternatif waktu yang kedua akan kemalaman sampai di Mamasa, padahal saya belum ada tempat pasti yang dituju dan disinggahi pertama kali di Mamasa. Benar saja, tak lama usai saya berkemas Hamzah mengontak dan mengabarkan bahwa sepuluh menit lagi mobil travel akan menjemput saya di Baji Gau. Saya tidak sempat mandi pagi, apalagi sarapan pagi. Bahkan, saking keburu-burunya, saya ketinggalan salah satu kaos kesayangan di lemari hotel Baji Gau. Itu baru saya sadari saat mobil travel yang saya tumpangi sudah melaju sampai perbatasan Makassar-Maros.

Kurang-lebih satu jam perjalanan, mobil berhenti di halte check-point di daerah Maros. Para penumpang memanfaatkan waktu sekitar setengah jam untuk ke toilet dan berbelanja cemilan dan minuman. Saya dan Hamzah juga turun sejenak berbelanja sedikit makanan dan minuman untuk bekal perjalanan. Antara Makassar-Maros jaraknya sebenarnya sangat dekat tapi jalanan sudah lumayan macet, terutama dengan banyaknya angkot dari berbagai jurusan yang melintas jalan utama jalur Makassar-Maros. Di tengah kemacetan itu, saya menyaksikan pemandangan yang agak menarik dan mecolok, hampir semua kaca belakang angkot tampak ditempeli stiker besar para calon legislatif (caleg) dari berbagai partai yang dapilnya sesuai dengan rute daerah yang dilalui angkot. Selain stiker besar caleg, yang lebih menarik lagi adalah banyak juga stiker besar dan baliho “Jokowi for President” di sepanjang jalur utama Makassar-Maros.

IMG_7736Selepas Maros mobil masuk ke jalur trans-Sulawesi memasuki wilayah Pangkajene. Jalanan yang mulus dan relatif sepi mendorong para sopir saling berpacu dalam kecepatan tinggi. Demikian pula mobil yang saya tumpangi, jalan ngebut dalam kecepatan sangat tinggi, nyaris seperti balapan F-1 yang sesekali membuat deg-degan para penumpang. Kurang dari tiga jam kemudian mobil yang saya tumpangi sudah sampai di Kabupaten Barru dan kami kembali rehat sejenak di salah satu rumah makan. Tadinya saya membayangkan akan makan siang dengan menu agak spesial, setidaknya seperti Coto Makassar, Sop Conro atau makanan khas Sulawesi lainnya. Namun ternyata harapan itu meleset jauh, karena mobil travel yang saya tumpangi justru malah singgah di Warung Makan Priangan dengan hidangan makanan khas Sunda. “Alahhhh makkk jauh-jauh ke Solowesi, makanan kampung sendiri yang tersaji,” gumam saya dalam hati. Namun perut lapar yang sejak pagi tidak ketemu sarapan akhirnya membuat saya lahap juga sehingga saya bisa makan dua kali lebih banyak daripada Hamzah. Usai makan, saya bergurau kepada Hamzah bahwa hari ini setidaknya kita sudah menyaksikan dua hal penting yang diekspor dari Tanah Jawa ke Sulawesi: Jokowi dan Makanan Sunda!

Selepas makan, kami melanjutkan perjalanan dari Kabupaten Barru menuju Pare-pare. Tadinya saya berniat untuk minta pak sopir berhenti sejenak di gerbang kota Pare-pare untuk mengabadikan tulisan “Selamat Datang di Kota Pare-pare. Di Kota ini Presiden Indonesia ke-3 B.J. Habibie Dilahirkan”. Sayangnya saya ketiduran –mungkin karena kekenyangan– dan saya baru terbangun saat mobil sudah melewati pusat Kota Pare-pare menuju Kabupaten Pinrang. Kondisi jalan antara Maros-Pangkajene-Barru-Pare-pare-Pinrang sangat mulus dan kondisinya hampir sama dengan umumnya jalan di Makassar dan bahkan sama juga dengan kondisi jalan di tatar tanah Jawa. Sepanjang perjalanan, kanan-kiri jalan dipenuhi bendera dan atribut partai, maklum ini masih masa kampanye. Meskipun atribut semua partai bertebaran berkibar-kibar sepanjang jalan trans-Sulawesi, namun tampaknya di jalur ini warna kuning masih mendominasi.

Sekitar pukul dua siang mobil yang kami tumpangi baru memasuki perbatasan Kabupaten Pinrang dan Poliwali Mandar (Polman). Pak sopir kembali menghentikan perjalanan kami untuk rehat sejenak minum kopi. Semua penumpang juga turun, ada yang sekedar buang air kecil ke toilet dan ada juga yang berbelanja oleh-oleh. Di sekitar jalan itu tampak berderet para penjual buah. Saya agak tertegun karena dari deretan kios buah yang banyak dijual adalah salak, selain jambu, alpokat dan durian. Tadinya saya mengira buah salak itu hanya salak Pondoh di Jogja, salak Bali, dan salak Manonjaya di Tasikmalaya. Sekarang saya baru tahu ternyata ada juga salak Pinrang. Belakangan saya juga baru menyesal kenapa tadi koq tidak mencoba membeli salak Pinrang, untuk sekadar perbandingan dengan salak lainnya yang sudah pernah saya makan. Nyeselll dehhhh … L

Hampir pukul tiga sore mobil yang saya tumpangi baru masuk wilayah Polman, padahal perjalanan dari Polman ke Mamasa masih memerlukan waktu sekitar lima sampai enam jam. Dengan pertimbangan takut kemalaman sampai Mamasa maka saya memutuskan untuk berhenti saja di Polman dan melanjutkan perjalanan ke Mamasa besok pagi. Tadinya saya mau mencari penginapan murah di Polman, tapi Hamzah menawarkan untuk menginap di rumahnya. Saya berpikir ada hikmahnya juga berhenti dan menginap di Polman. Setidaknya, saya dapat mendengar juga cerita Mamasa dari perspektif Polman, yang bagaimanapun merupakan kota induknya sebelum pemekaran.

Rumah Hamzah berada di pinggir jalan trans-Sulawesi poros Polman menuju Mamuju, ibukota Sulawesi Barat. Karenanya jalan trans-Sulawesi poros Polman menuju Mamuju ini cukup ramai sampai malam dan bahkan dini hari masih banyak mobil antar kota yang melintas. Sebenarnya tidak hanya di ruas jalan trans-Sulawesi saja, menurut Hamzah, jalan di Polman sudah relatif baik dan mulus seperti halnya di poros Maros-Pare-Pinrang. Rumah Hamzah sebagaimana umumnya rumah-rumah yang berderet sepanjang poros jalan Pare-Pinrang yang nyaris seragam, adalah rumah bertangga khas Sulawesi yang sebagian besar badan bangunannya terbuat dari kayu hutan. Menurut Hamzah, setidaknya ada tiga jenis kayu hutan yang sering digunakan untuk membuat rumah, yaitu kayu hitam atau eboni, kayu uruh, dan pinus. Orang kaya dan kelompok berada biasanya menggunakan kayu hitam untuk membuat rumahnya, sementara orang kebayakan biasanya membuat rumah dari kayu pinus yang lebih murah. Ada banyak juga rumah tembok permanen tetapi model tangganya relatif sama dengan rumah kayu, yang merupakan modifikasi rumah adat Sulawesi gaya baru. Sementara rumah-rumah lainnya yang tidak memiliki tangga biasanya di sini sering disebut sebagai “Rumah Jawa”.

IMG_7747Malam menjelang tidur saya sempatkan berbincang dengan Pak Durisa dan Ibu Sanadia, ayah dan ibu Hamzah. Saya memulai obrolan soal pemilu, karena saya anggap ini isu yang cukup hangat untuk dibicarakan sekaligus menjadi informasi penting yang dapat mendukung ilustrasi dan data penelitian. Namun Pak Durisa dan Ibu Sanadia sepertinya tidak begitu tertarik dengan obrolan soal politik. “Ah saya ndak ikut-ikut politik, semua partai sama saja begitu,” ucap Pak Durisa datar. Tanpa dinyana, Ibu Sanadia malah justru balik bertanya kepada saya, “Bapak kenal Eva Garut? Kan bapak dari Garut? Itu lhoo Eva yang suka nyanyi di dangdut akademi di Indosiar?” ujarnya. Belum sempat saya jawab, Ibu Durisa malah bercerita banyak soal dangdut akademi dengan bersemangat. Ia mengaku sebagai salah seorang fans Eva Garut serta Ati dan Syahdan, kontestan dangdut akademi dari Makassar. “Eva Garut itu bagus suaranya, saya suka. Tapi saya berharap peserta dari Makassar bisa jadi juara sehingga nanti akan bisa mengangkat dan mengharumkan nama Sulawesi.” ucapnya.

Setelah ngobrol banyak soal dangdut akademi di Indosiar saya coba alihkan pembicaraan ke soal Mamasa. Saya sampaikan kepada mereka bahwa besok saya akan ke Mamasa dan untuk itu saya minta informasi soal Mamasa, setidaknya mengenai rute perjalanan dan hal-hal menarik soal Mamasa. Saya kemudian bertanya kepada Pak Durisa, “Bapak, sudah berapa kali pergi ke Mamasa?” Ternyata pertanyaan itu dijawab dengan sesuatu yang sungguh diluar dugaan saya. Pak Durisa menjawab pertanyaan saya justru diawali dengan sebuah pertanyaan, “Untuk apa ke Mamasa?” Kemudian Pak Durisa menuturkan bahwa seumur hidupnya belum pernah pergi ke Mamasa karena menurutnya Mamasa itu tempat yang jauh, daerah pegunungan yang sulit dijangkau, lagi pula memang ia mengaku tidak pernah punya keperluan untuk pergi ke Mamasa, jadi “Untuk apa ke Mamasa?” ujarnya mengulang pertanyaan retorisnya.

Ternyata pernyataan dan pertanyaan retoris serupa itu tidak saja keluar dari ucapan Pak Durisa. Di pasar sentral Polman ketika saya menunggu mobil travel Polman-Mamasa saya mencoba bertanya hal yang sama kepada sejumlah orang. Hampir semua jawabannya setali tiga uang dengan jawaban yang disampaikan Pak Durisa. Saya mulai berpikir dan membayangkan saat Mamasa masih tergabung dalam kabupaten Polewali Mamasa (Polmas) dimana saat itu Mamasa merupakan salah satu kecamatan di Polmas, tepatnya menjadi tetangga kecamatan dari Polewali. Jadi, meski tetangga kecamatan dari Polewali, Mamasa itu seperti hanya dunia lain yang jauh. Di antara warga keduanya sepertinya tidak terjalin komunikasi yang intens sebagai sesama warga kota. Ini juga tergambar dari minimnya angkutan yang melayani trayek Polman-Mamasa yang sebenarnya tidak ada mobil yang memiliki trayek resmi dengan jadwal keberangkatan yang pasti. Seperti pagi ini, sejak jam tujuh pagi saya menanti mobil yang akan ke Mamasa di pasar sentral Poliwali.

Perjalanan Polman – Mamasa

Tidak seperti mobil jurusan Polman-Makassar dan Polman-Mamuju yang sudah banyak tersedia di bilangan Pasar Sentral Polewali, mobil trayek Polman-Mamasa sepertinya penuh ketidakpastian. Beberapa sopir yang mangkal dan para calon penumpang yang menunggu di pasar sentral mengkonfirmasi ketidakpastian itu. “Kalau ke Mamasa itu mobilnya tidak tentu, kadang ada pagi kadang siang baru ada,” ucap salah seorang yang nunggu di halte. “Iya memang mobil ke Mamasa jadwalnya tak tentu. Kalau bapak buru-buru pake mobil saya saja dicater lima ratus ribu.” ujar sopir setengah baya menimpali. Sementara Hamzah tampak sibuk SMS dan telpon ke beberapa temannya yang pernah memakai jasa travel jurusan Polman-Mamasa karena ternyata Hamzah sendiri belum pernah pergi ke Mamasa.

Setelah mendapat informasi dari kawannya, Hamzah mengajak saya berjalan menuju perempatan jalan ke arah jalan poros Polman-Mamasa, sekitar tiga ratus meter dari Pasar Sentral Polewali. Kami menunggu di depan “Gedung Gadis” yang sangat terkenal di Polman. Saya kira gedung gadis itu apa, ternyata itu singkatan dari “Gabungan Dinas”, gedung yang cukup megah dan tampak indah dengan dominasi warna kuning. “Itu perlambang kekuatan Golkar yang besar di kota ini.” ujar Hamzah. Setelah menunggu cukup lama, mobil travel Polman-Mamasa akhirnya tiba juga. Saya bergegas masuk ke mobil setelah berpamitan dan bersalaman dengan Hamzah.

Di dalam mobil sudah ada tiga penumpang. Di kursi paling depan samping sopir, ada seorang ibu muda. Dari parasnya yang masih seger saya perkirakan usianya masih kepala tiga. Sementara di kursi paling belakang ada ibu tua, mungkin umurnya di atas 60-an tahun. Saya kemudian duduk di deretan bangku tengah dengan seorang bapak yang tampaknya sudah agak tua dengan rambut yang sudah penuh uban. Saya kemudian bersalaman dan berkenalan dengan bapak di samping saya, namanya Hermanus. Ia baru pensiun delapan tahun lalu sebagai PNS di Kecamatan Nosu, salah satu kecamatan di Kabupaten Mamasa yang jaraknya sekitar 60-an km dari Mamasa. Jadi sebenarnya Nosu lebih dekat ke Polman ketimbang ke Mamasa. Sebagai PNS dalam lingkup Pemda Mamasa, Pak Hermanus mengaku sangat jarang pergi ke pusat kota Mamasa. Untuk berbagai keperluan seperti belanja kebutuhan harian dan lain-lain keluarga pak Hermanus selalu ke Polman, hampir tidak pernah ke Mamasa. “Ke Mamasa itu kalau ada urusan dinas saja, itu juga sangat-sangat jarang.” ucapnya.

Tidak lama kemudian mobil berhenti karena ada penumpang baru yang naik. Dua orang penumpang baru, sepertinya seorang bapak bersama putranya. Putranya yang seumuran anak Sekolah Dasar itu minta duduk di bangku depan karena katanya sering muntah kalau duduk di bangku tengah, apalagi di bangku paling belakang. Sementara bapaknya duduk bertiga di deretan bangku tengah bersama saya dan pak Hermanus. Kami pun berkenalan dengan bapak penumpang baru itu, namanya Hasbi, seorang guru yang pernah bertugas di SMP Sumarorong tapi kini sudah pindah tugas ke salah satu sekolah di Polman. Menurut pak Hasbi, Sumarorong adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Mamasa, jaraknya sekitar 38 km sebelum masuk pusat kota Mamasa dari arah Polman.

Pak Hasbi bercerita bagaimana sulitnya menempuh perjalanan saat akan menunaikan tugas mengajar ke Sumarorong. Dia sendiri berasal dari Polman, tapi menjelang pemekaran ia ditugaskan ke SMP Sumarorong. Pada saat itu, jalan menuju Sumarorong dan Mamasa masih sangat sulit, yang ada hanya jalan setapak. Belum ada kendaraan umum yang bisa melintas, bahkan pakai motor saja sulit apalagi kalau musim hujan, sungguh perjuangan yang sangat berat. Karena itu pak Hasbi memutuskan untuk tinggal di Sumarorong dan pulang sebulan sekali ke rumahnya di Polewali.

Pak Hermanus lalu menimpali, ia tak kalah “heroik” bertutur ihwal kesulitan menempuh perjalanan antara Nosu-Polewali maupun Nosu-Mamasa pada saat ia bertugas. Ia bahkan masih sempat mengalami saat-saat dimana kuda menjadi satu-satunya pilihan alternatif berkendara. “Itu tahun 80-an akhir. Saya kira kuda menjadi alat transportasi satu-satunya yang bisa digunakan, selain jalan kaki,” ujarnya. Baru awal tahun 90-an dibuat jalan, itu pun belum ada aspalnya sama sekali. Pak sopir sesekali menimpali, mengamini cerita pak Hermanus dan pak Hasbi. Sementara dua perempuan penumpang lainnya sepertinya lelap tertidur, asyik dengan impiannya masing-masing.

Tidak lama kemudian kami memasuki perbatasan wilayah Polman dan Mamasa. Tidak ada gapura “Selamat Datang” yang biasanya menjadi pembatas suatu kota/kabupaten. Tapal batas antara Kabupaten Polman dan Kabupaten Mamasa adalah batas alamiah, yaitu sungai Mamasa yang cukup besar, saya perkirakan lebarnya sekitar 20-25 meter. Menurut pak Hermanus, hulu sungai ini berada di pegunungan Mambuliling di Kabupaten Mamasa dan hilirnya berada di Kabupaten Pinrang. Sepanjang aliran sungai ini sebagian besar menjadi garis batas antara beberapa kecamatan yang berada di wilayah Kabupaten Polman dan Kabupaten Pinrang dengan beberapa kecamatan lain yang masuk wilayah Kabupaten Mamasa.

Memasuki wilayah Kabupaten Mamasa, jalan semakin terjal berliku dengan sesekali tanjakan dan turunan yang sangat curam serta belokan yang sangat tajam. Kanan dan kiri jalan disuguhi pemandangan yang asri, hamparan hutan yang masih hijau, dan di beberapa titiknya masih diselimuti kabut putih yang tebal. Jalan yang dilalui makin lama makin sepi, hanya ada beberapa rumah saja di pinggir jalan yang dilalui. Sesekali dijumpai juga satu kelompok pemukiman kecil tapi lalu masuk lagi ke deretan hutan yang senyap. Diantara hamparan hijau hutan memang sesekali tampak juga titik-titik putih seperti seng atap rumah, tapi jumlahnya hanya sedikit saja. Pemandangan yang dominan sepanjang jalan adalah hamparan hutan pinus yang masih perawan. Sepanjang perjalanan itu pun sinyal HP saya ngedrop, tidak mendapat sinyal sama sekali.

Kurang lebih satu jam perjalanan mobil berbelok ke arah kanan, menyusuri jalan yang lebih kecil. “Nah, ini jalan menuju kampung saya, ke Nosu,” ucap pak Hermanus. Tidak lama kemudian kami sampai di sebuah pemukiman yang berada di sebuah lembah yang agak landai dengan deretan rumah khas model Toraja. Saya perkirakan, tidak lebih dari 30 rumah yang berada di wilayah pemukiman itu. Pak Hermanus berpamitan untuk turun di situ diikuti pak sopir yang juga keluar dari mobil untuk membantu menurunkan barang-barang belanjaan pak Hermanus yang lumayan banyak dari bagasi mobil.

Mobil kembali berbalik menuju jalan utama jalur poros Polman-Mamasa. Jalan poros Polman-Mamasa lebarnya kurang lebih 8-10 meter. Kualitas jalannya bervariasi. Dari perbatasan Mamasa-Polman ke arah Polman sudah bagus. Tapi dari perbatasan menuju arah Mamasa masih buruk, bahkan pada beberapa ruas masih sangat buruk. Lobang-lobang besar kanan-kiri dan tengah jalan mendominasi sepanjang perjalanan. Ada juga sebagian ruas jalan yang tak beraspal. Tidak jelas, apakah ruas jalan itu memang belum diaspal atau sudah diaspal tapi kemudian rusak total. Kami juga menyaksikan mobil alat berat pengeruk tanah yang sedang beroperasi menyingkirkan batu besar di tengah jalan. Tapi naas, alat berat itu justru terpleset terseret di tubir jurang. Pemandangan itu kami saksikan tepat di depan mobil yang kami tumpangi. Sungguh mengerikan!

Kami melanjutkan perjalanan dengan terus disuguhi pemandangan yang hampir sama dengan sebelumnya: hamparan hutan yang hijau di kanan-kiri jalan, tebing-tebing yang curam, titik-titik pemukiman yang amat minim, serta perjuangan pak sopir yang terus berkonsentrasi menghindari jalan rusak dengan lobang-lobang besar di kanan-kiri dan di tengah jalan. Berkali-kali saya melihat layar HP, namun berkali-kali juga saya kecewa karena tidak mendapatkan sinyal sedikitpun. Padahal, sejak di perbatasan Polman-Mamasa saya sedang berkomunikasi intens dengan pak Aruen Lumene, orang yang direkomendasikan pak Halilintar Latief untuk menjadi salah satu key informan, sumber informasi pertama di Kabupaten Mamasa.

Namun kurang dari satu jam kemudian sudah tampak lagi “tanda-tanda kehidupan”. Kami memasuki daerah yang agak landai dan datar dengan beberapa rumah yang makin lama makin banyak hingga kami sampai di wilayah Kecamatan Messawa. Pak sopir menghentikan mobil di depan rumah makan dekat Puskesmas Messawa dan kami semua turun untuk istirahat sekalian ngopi dan makan. Menurut pak sopir, jarak dari Kecamatan Messawa ke pusat kota Mamasa masih sekitar 50-an km lagi atau kurang lebih dua jam perjalanan. Kecamatan Messawa belum terlalu ramai, namun tampak lumayan meriah karena di kanan-kiri jalan banyak dijumpai umbul-umbul dan bendera partai. Hampir semua bendera partai tampak berkibar-kibar di sepanjang jalan. Tak ketinggalan juga wajah-wajah para caleg yang narsis dan sumringah bertebaran dalam bentuk baliho, spanduk, pamflet, dan ragam stiker yang tertempel di tembok dan pohon-pohon di pinggir jalan. Inilah kemeriahan kecil pertama yang dijumpai setelah berjam-jam disuguhi kesunyian perjalanan sejak perbatasan Polman-Mamasa. Namun yang membuat saya bernafas lega adalah deringan bunyi HP saya yang berarti di wilayah ini sudah ada sinyal masuk. Benar saja, beberapa notifikasi SMS dan panggilan muncul terbaca di HP saya. Sejumlah SMS masuk, termasuk informasi dari pak Aruen Lumene yang paling saya tunggu-tunggu. “Bapak nanti bilang sama pak sopir minta turun di jembatan Balla Pena, sekitar 12 km sebelum masuk kota Mamasa. Nanti saya akan jemput bapak di Balla.” demikian salah satu SMS dari pak Aruen Lumene.

Saya menunjukkan SMS itu kepada pak sopir dan pak sopir sepertinya sudah cukup hapal dengan daerah itu. Demikian juga ibu muda, penumpang perempuan di samping pak sopir juga sudah cukup familiar dengan tempat yang saya tunjukkan di SMS itu. “Iya, nanti saya kasih tunjuk kalau sudah dekat ke Balla.” kata ibu muda yang ternyata salah seorang PNS di Pemda Mamasa. Ia baru pulang mengikuti pelatihan kedinasan dan lokakarya di Mamuju. Kurang-lebih setengah jam kami istirahat di Messawa untuk makan-minum dan buang hajat ke toilet. Setelah itu kami melanjutkan lagi perjalanan. Saya juga sempatkan membalas SMS sekaligus mengabarkan kepada pak Aruen Lumene bahwa saya sudah sampai di Messawa. Namun SMS saya berkali-kali gagal terkirim dan SMS berikutnya tertunda (pending). Tampaknya, beberapa kilometer setelah Messawa sinyal HP mati lagi dan mobil yang kami tumpangi sudah mulai menderu menapaki liku-liku tanjakan dan turunan dengan pemandangan serupa sebelumnya, hamparan hutan nan perawan.

Namun kurang dari satu jam kemudian sudah tampak lagi “tanda-tanda kehidupan”, kali ini memasuki daerah yang tampaknya lebih ramai dari sebelumnya. Umbul-umbul, baliho, dan bendera partai juga sepertinya lebih meriah. “Ini sudah masuk daerah saya, Kecamatan Sumarorong.” ujar pak Hasbi. Menurut pak Hasbi, Sumarorong merupakan kecamatan paling ramai kedua di Kabupaten Mamasa setelah Kecamatan Mamasa. Jaraknya sekitar 38 km dari pusat kota Mamasa. Memasuki wilayah Kecamatan Sumarorong jalan memang tampak cukup ramai. Ada pasar, pertokoan, dan sejumlah kantor pemerintahan seperti kantor kecamatan, kantor polisi sektor (polsek), dan sejumlah kantor dinas lainnya seperti Puskesmas, Dinas Pendidikan, dan beberapa bangunan sekolah. Di wilayah Sumarorong ini, pemerintah juga sudah membangun bandara perintis untuk rute penerbangan Makassar-Mamasa. Bahkan, penerbangan uji coba Mamasa-Makassar pun sudah dilakukan akhir bulan lalu, tapi operasionalisasi sesungguhnya masih terus terkendala dan belum terrealisasi sampai sekarang. “Ini seperti proyek mercusuar, hanya proyek politik untuk kepentingan kampanye saja.” ujar pak Hasbi sebelum berpamitan dan turun di Sumarorong.

Dari arah Sumarorong mobil terus menderu menuju pusat kota Mamasa. Sesekali masih dijumpai tanjakan, turunan dan tikungan tajam tapi tidak se-ekstrim sebelumnya. Rumah-rumah yang terlewati juga sudah lumayan banyak. Sekitar setengah jam kemudian mobil berbelok ke arah kiri masuk ke wilayah pasar Malabo yang lumayan ramai. Menurut ibu muda yang duduk di samping pak sopir, Pasar Malabo masuk wilayah Kecamatan Tanduk Kalua, salah satu kecamatan yang jaraknya sekitar 20 km sebelum pusat kota Mamasa. “Bapak segera saja ngontak teman yang akan menjemput, biar dia juga siap-siap, paling sekitar 20 menit lagi kita akan sampai di Balla.” kata ibu muda itu mengingatkan saya.

Dari pasar Malabo mobil kembali berbalik menuju ruas jalan utama poros Polman-Mamasa ke arah pusat kota Mamasa. Namun kemudian hujan lebat tiba-tiba mengguyur, padahal sebentar lagi saya akan segera sampai tujuan dan turun dari mobil. Beberapa saat kemudian mobil berhenti di Balla dan saya turun disambut hujan yang sangat deras. Pak Aruen Lumene yang sudah menunggu sejak tadi kemudian mengajak saya berteduh di sebuah pos ronda di pinggir jalan. Cukup lama juga menununggu hujan reda, mungkin lebih dari setengah jam. Bukan hanya saya dan pak Aruen yang berteduh di pos ronda, tapi ada sejumlah orang. Dua perempuan yang masih pakai baju Dinas Kesehatan dan tiga orang pengojek yang memang biasa mangkal di situ.

Setelah hujan agak reda, saya dan pak Aruen beringsut meninggalkan pos ronda menuju Batarirak, salah satu dusun yang terletak di Desa Balla Satanetean di wilayah Kecamatan Balla. Untuk menuju Dusun Batarirak, dari jalur utama jalan poros Mamasa belok ke kiri ke jalan yang lebih kecil dan terus menyusuri jalan desa yang sebagian besar belum diaspal. Jarak dari pinggir jalan utama poros Mamasa ke dusun Batarirak mungkin tidak sampai 6 km, tapi karena kondisi jalan yang buruk, motor tidak bisa melaju kencang sehingga dibutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk sampai di situ. Mengendarai motor harus super hati-hati karena kondisi jalan yang sangat licin dengan lobang dan genangan air yang nyaris memenuhi seluruh badan jalan.

Perjuangan yang lumayan berat menyusuri jalanan yang amat buruk itu sedikit terobati dengan pemandangan nan asri, hamparan hijau perbukitan di kanan-kiri jalan yang sangat menawan. Setelah menyusuri perbukitan dengan suguhan panorama alam yang menakjubkan itu akhirnya saya sampai di dusun Batarirak yang eksotik. Pemukiman ini didominasi rumah-rumah adat model Toraja yang apik. Keluarga besar bapak Deppauta dan ibu Langi Kaimpun –orang tuanya pak Aruen Lumene– menerima saya dengan hangat. Mereka semua dan bahkan warga dusun Batarirak umumnya sangat kenal dengan pak Halilintar Latief, dosen UNM yang merekomendasikan saya datang ke Batarirak. “Pak Halil itu sering ke sini, beliau itu sudah menjadi bagian dari keluarga besar kami.” ujar pak Thomas, salah satu saudara kandung pak Deppauta menjelaskan kepada saya.

Associate Researcher, the Interseksi Foundation