Siklus Kehidupan Laki-laki dan Etika Komunikasi

Tertunda 30 menit dari yang dijadwalkan, penerbangan dari Bandara Soekarno Hatta (Jakarta) menuju Polonia (Medan) akhirnya take off jam 14.30. Menurut pemberitahuan awak kabin, butuh waktu 2 jam 50 menit untuk terbang dari Jakarta ke Medan. Selama penerbangan, tidur di kursi dengan merebahkan sandaran menjadi pilihan ketimbang memikirkan balasan SMS dari Bang Selwa yang tidak kunjung datang bahkan hingga pesawat landing. Di Polonia, senja mulai menyingsing saat pesawat mendarat dengan sempurna. Di terminal kedatangan, balasan SMS yang ditunggu dari bang Selwa tetap belum diterima, pikiran mulai menerjemahkan, bahwa malam ini akan menginap di Kota Medan tanpa kepastian tempat, karena hanya bang Selwa Kumar yang dihubungi untuk membantu “menyelamatkan” “kunjungan” pertama ke Kota Horas ini. Namun, di pintu kedatangan, pikiran ketidakpastian menginap di Medan hilang, bersamaan dengan munculnya seraut wajah India dengan karakter khas. Bang Selwa Kumar, ya… orang yang SMS nya ditunggu muncul di pintu kedatangan. Kedatangan itu lebih dari sekedar balasan SMS yang dituggu.

Meskipun tidur menjadi pilihan selama dalam penerbangan, lamat-lamat di seberang kursi 38 C -yang menjadi bangku penulis- terdengar diskusi panjang lebar tentang pengalama hidup antara dua orang laki-laki usia pensiun. Di kursi 38 F paling pojok, seorang perempuan paruh baya (istri laki-laki di kursi 38 E) sesekali hanya melirik perbincangan pengalaman hidup suaminya dengan orang yang baru dikenal di penerbangan. Tidak ada yang menarik dari perbincangan dua orang paruh baya itu karena tidak ada yang terlalu baru tentang pengalaman hidup mereka. Diskusi mereka antara lain mengulas tips dan trik bagaimana mendapatkan kasih sayang dari anak istri kelak jika sudah berumur tua. Oleh karena itu, tidur tetap jadi pilihan. Di sela tidur yang sesekali terbangun, sebuah statement yang dikeluarkan si bapak membuat telinga penulis terbangun. Ketertarikan itu lahir dan terus berkembang demi mendengar peribahasa yang digunakan oleh si Bapak dalam menceritakan siklus kehidupan laki-laki dengan menggunakan bahasa Minang. Bukan bahasa Minangnya yang membuat penulis jadi tertarik, tapi penggunaan bahasa dalam peribahasa yang diklaim sebagai peribahasa orang Minang yang membuat penulis semakin tertarik untuk mengikuti diskusi mereka.

Peribahasa yang digunakan si Bapak dalam menceritakan siklus kehidupan laki-laki yang diklaim sebagai peribahasa Minang sungguh belum pernah penulis dengar. Penggunaan salah satu kata yang digunakan dalam peribahasa tersebut adalah kata yang tidak pernah digunakan dan sangat dihindarkan orang Minang dalam berkomunikasi sehari-hari, apalagi berperibahasa. Sebagai orang Minangkabau yang dalam kehidupan sehari-hari bersinggungan dengan berbagai peribahasa, pantun, mamangan adat, petatah dan petitih Minang, muncul pertayaan yang mengganjal dalam hati, darimana si Bapak ini dapat peribahasa Minang tentang siklus kehidupan laki-laki yang tidak pernah penulis dengar sebelumnya. Darimana pula si Bapak ini bisa mengklaim bahwa apa yang diungkapkannya adalah peribahasa orang Minang dalam menjelaskan siklus kehidupan laki-laki?

Mendiskusikan siklus secara teoritik, akan banyak perspektif yang akan muncul. Siklus Ibnu Khaldun yang terkenal itu misalnya atau siklusnya Pitirm A. Sorokin atau siklusnya Arnold Toynbee dan banyak teori lainnya. Siklus kehidupan laki-laki yang diceritakan si Bapak sebagai peribahasa orang Minang tidaklah sama persis dengan teori siklus ketiga tokoh ini, namun paling tidak, apa yang diceritakan si Bapak sebagai siklus kehidupan laki-laki minimal termasuk kategori siklus secara konseptual. Dalam cerita yang besemangat itu, si Bapak menyampaikan siklus kehidupan laki-laki dalam bahasa Minang. Dengan mengutip bahasa minang, si Bapak mengatakan bahwa setiap laki-laki akan hidup dalam tiga zaman, zaman itu adalah pertama zaman jadi rajo (zaman jadi raja),kedua zaman jadi kudo (zaman jadi kuda) dan ketiga zaman jadi anjiang (zaman menjadi anjing). Dalam penjelasannya, si bapak mengatakan zaman jadi rajo adalah masa dimana laki-laki dielu-elukan oleh keluarga. Masa ini adalah masa usia kanak-kanak hingga remaja dimana tidak ada satupun keinginan anak dibantah oleh keluarga. Kemudian zaman jadi kudo adalah masa dimana laki-laki menjadi kuda beban dengan harus menjadi tulang punggung keluarga. Masa ini adalah masa dewasa dimana laki-laki sudah berumah tangga dan menjadi suami bagi istri dan ayah bagi anak-anaknya. Masa ini adalah masa dimana laki-laki memikul beban untuk memenuhi kebutuhan kaluarga. Kemudian yang terakhir zaman jadi anjiang adalah masa tua laki-laki dimana ia difungsikan menjadi penghuni atau penunggu rumah saat anak-anak dan cucunya keluar rumah.

Siklus kehidupan laki-laki yang diceritakan si Bapak, dalam gurindam Minangkabau dituturkan oleh Yus Dt. Parpatiah dalam sebuah rekaman yang diberinnya judul dengan Ratok Mak Enggi (Ratapan Mak Enggi). Dalam rekaman itu, Dt. Parpatiah mengatakan bahwa setiap laki-laki akan menjalani kehidupan pada tiga zaman. Pertama zaman Kudo Pacu (zaman kuda pacuan), kedua zaman jawi pambajak (zaman sapi pembajak sawah) dan ketiga zaman kuciang tuo (zaman kucing tua). Tidak jauh berbeda dengan apa yang disampaikan oleh si Bapak di pesawat, zaman kudo pacu merupakan zaman dimana laki-laki dielu-elukan oleh keluarga. Masa ini boleh dikatakan sebagai masa emasnya laki-laki, dimana ia menjadi pujaan dan dilayani bagai seorang pangeran. Zaman jawi pambajak adalah masa dimana si laki-laki menjadi tulang punggung untuk keluarga, anak dan istri. Hari-hari disibukkan dengan pekerjaan yang silih berganti, tanpa henti. Kehidupan berputar dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya. Zaman kuciang tuo adalah masa dimana laki-laki tidak lagi punya taring untuk menangkap tikus. Artinya, zaman dimana laki-laki tidak lagi punya tenaga untuk melakukan pekerjaan-pekerjaannya sebagai laki-laki karena faktor usia. Zaman inilah dimana laki-laki lebih banyak menjadi penunggu rumah.

Tentang apa yang disebutkan oleh si Bapak di pesawat selama penerbangan, penulis bukan tidak sepakat tentang siklus kehidupan laki-laki itu. Yang membuat penulis tidak sepakat dan merasa terusik bukanlah siklus itu, tetapi penggunaan kata anjiang (anjing) yang digunakan oleh si Bapak dalam menjelaskan siklus ketiga. Sebagai orang Minang penulis merasa ada sesuatu yang janggal dengan penggunaan kata-kata itu dalam bahasa Minang. Sepanjang yang penulis pahami dalam kehidupan sehari-hari, dalam tutur bahasa orang Minang, penggunaan kata “anjiang” –seperti disinggung di atas- adalah kata yang sangat dihindari dalam berkomunikasi. Penggunaan kata ini sangat dihindari karena dalam pemaknaan kata anjiang dalam komunikasi minang dimaknai dengan konotasi negatif. Kata anjiang dalam komunikasi minang hanya digunakan dalam dua hal: pertama, untuk menyebut binatang yang bernama anjing itu sendiri dan kedua, digunakan untuk meluapkan rasa marah dan emosi yang tinggi. Dengan demikian, tentu sangat tidak tepat, dalam sebuah peribahasa kata itu digunakan. Dan tentu ini menjadi pertanyaan besar bagi penulis sebagai orang Minang.

Mengingat ini adalah peribahasa yang keliru dan juga tidak ada dalam “kamus” Minang karena tidak sesuai dengan etika komunikasi orang Minang, penulis ingin meluruskan ungkapan ini. Dengan sangat hati-hati, penulis mencari celah untuk masuk dalam diskusi hangat dua orang paruh baya itu. Saat yang tepat itu muncul, dan penulis mencoba meluruskan bahwa tidak ada dalan tutur bahasa orang Minangkabau kata-kata anjiang digunakan untuk peribahasa, mamangan, petatah dan petitih. Kata itu berkonotasi negatif, sehingga sangat dihindari dalam berkomunikasi. Dan si Bapak menyebutkan, “itu kata teman saya yang orang Minang, saya hanya mengutip, dan itu saya pikir ada benarnya.” Ooowh, begitukah? ternyata ini statement pribadi. Jika ungkapan itu adalah statement pribadi, perlu diklarifikasi bahwa ini bukanlah peribahasa orang Minang, tapi hanya pernyataan pribadi. Kemudian kalau memang ini adalah statement pribadi temannya si Bapak, pertanyaannya kemudian adalah sebegitu marahkah teman si Bapak ini dengan masa tuanya? Entahlah… (fd)

Peneliti dalam Program Riset “Kota-Kota di Sumatra Awal Abad 21”, The Interseksi Foundation