Sutadi Sudah Tak di Sini

Pagi itu, matahari dengan gagahnya bertengger, seolah-olah ingin menunjukkan kepada dunia bahwa dialah yang paling super, yang siap membakar siapa saja yang berani menghalangnya. Jam di salah satu sudut dinding rumah itu menunjukkan pukul 08.15 ketika kupaksa mata ini terbuka, aku terpaksa harus egois untuk tak menuruti kemauannya setelah semalaman ku ajak memelototi layar kaca televisi, menyaksikan team dari berbagai belahan bumi berkompetisi menunjukkan bahwa negara mereka-lah yang paling jago soal bermain bola kaki.

Setelah beberapa saat aku bersiap, metromini 62 menjemputku, membawaku meninggalkan balai berhias patung jenderal Sudirman menuju sebuah terminal yang diambil dari salah satu nama daerah di Kepulauan Nusa Tenggara Timur, Manggarai. Dengan membeli tiket Rp. 3.500,- aku berniat untuk berdesak-desakan dengan para penumpang busway, salah satu alat transportasi umum yang terbilang megah di ibukota Jakarta. Aku menjadi manusia asing dalam sorotan mata orang-orang yang duduk berderet dihadapanku. Kuperhatikan, antara mereka, satu dan yang lainnya juga saling terasing, tak ada percakapan, obrolan bahkan gurauan.

Aku hampir jatuh dibuatnya, busway yang kutumpangi tiba-tiba memaksakan diri untuk berhenti ketika beberapa mobil dan motor membelah “jalan khusus” miliknya. Aku merasa kikuk, karena hampir semua mata dihadapanku kembali menatap aku, kini jauh lebih tajam sorot mata itu. Entah karena kejadian tadi atau karena hal lain. Mungkin saja karena rambutku yang keriting dan kulitku yang hitam menjadi hal yang menarik bagi mata mereka atau barangkali menjadi hal yang lucu pikirku.

Dalam perjalanan yang disesaki oleh orang-orang terasing tersebut, sempat kutunjuk seorang anak muda dengan sebuah kaki kamera (tripod) yang masih terbungkus dalam sarungnya, aku merasa jengkel ketika melihatnya berpura-pura tidur setelah seorang ibu paruh baya yang sedang hamil tua naik dari salah satu shelter (tempat pemberhentian busway) di daerah Harmoni. Dengan terpaksa dan sejuta omelan yang tampak dari tatapan matanya, anak muda itu berdiri dan memberi kesempatan pada ibu hamil tersebut untuk duduk. Tapi aku mulai kembali berpikir, apa aku salah ya ? Ini Jakarta Bung bukan Medan atau Papua. Mungkinkah ini salah satu perilaku manusia modern sekarang ini? Mungkinkah ini sudah menjadi sikap orang Jakarta dalam interaksi sosial di lingkungannya, sikap individualis pragmatis…atau apa ya?

Sementara aku masih berpikir, busway yang kutumpangi telah tiba di terminal terakhir di daerah Jakarta Barat, tepatnya di daerah Kota Tua. Aku bergegas menuju sebuah halte di seberang jalan (halte Museum Bank Indonesia), duduk sebentar sembari memperhatikan beberapa pengamen yang baru turun dari sebuah bus sembari menghitung hasil kerja “halal” mereka.

Ada yang aneh….pikirku. Tempat ini kini disesaki angkot, bajay dan bus kota bernomor 02. Berbeda dari 3 tahun yang lalu, dimana aku menemukan deretan ojek sepeda yang mangkal di sini. Aku mendekati beberapa pengamen tersebut, bertanya kepada salah seorang dari mereka tapi mereka membisu dan malah menunjuk seseorang yang sedang berdiri di samping pedagang asongan dekat halte itu. Mungkin boss mereka tanyaku dalam hati.

“Pangkalan Ojek Sepeda yang dulunya disini kemana ya Bang?” tanyaku kepada Jammed. Jammed adalah nama panggilan dari boss beberapa pengamen di pangkalan tersebut. Dia yang memberitahuku bahwa pangakalan tersebut sudah tak ada karena dilarang, “mungkin dilarang dari pihak Museum karena menggangu pemandangan” katanya.

Setelah mendapat jawaban tersebut, aku berpikir “harus kemana aku mencari Pak Sutadi ?” seorang tua dengan profesi pengojek sepeda sejak tahun 1985. Pak Sutadi yang pernah kujumpai pada tahun 2007 tersebut kiranya sepadan dengan Guruku Oemar Bakri, hanya saja ia berada disisi lain dari mata uang logam itu, sebagai ayah dari anak-anaknya yang mejadi murid Oemar Bakri. Ia masih saja tetap harus berjuang dan kerja keras untuk bisa mengubah nasib keluarganya tapi juga nasib bangsa ini. Bukankah anak-anaknya yang sementara sekolah juga tercatat sebagai asset bangsa ini kedepan??

Aku mulai menelusuri sudut demi sudut kota itu. Beberapa tempat kudatangi. Dari pangkalan ojek sepeda hingga stasiun kereta, dari klenteng hingga gereja, dari pasar kolong jembatan hingga ke mall mewah nan megah, dari Sunda Kelapa hingga ke Tanjung Periuk, dari sungai-sungai yang beraroma “aneh” hingga jalan-jalan macet, bising dan beraroma gas knalpot, namun tak kutemukan juga Pak Sutadi.

Bukan Taji atau Muji yang kucari. Nama-nama tersebut nempel diingatanku karena sering dilontarkan oleh para pengojek sepeda yang kutemui. Bahkan ada diantara puluhan pengojek sepeda itu memaksakan bahwa haruslah Taji atau Muji yang aku cari…tapi itu tak mungkin kilahku.

Pencarianku selama 12 hari itu tak membuahkan hasil. Namun aku tetap yakin dan percaya bahwa masih banyak Sutadi-Sutadi lain, entah itu Taji, Muji atau Supadi yang bertahan hidup di Jakarta dengan berbekal sepeda onthel, menghidupi keluarga mereka, berjuang agar dapur istri-istri mereka tetap mengepul tiap hari, mencari lebih dari itu untuk menyekolahkan anak-anak mereka walaupun sulit rasanya karena biaya sekolah semakin hari “bukan hanya” semakin “mencekik leher” mereka tetapi juga “makin mendekati satelit palapa tingkatannya”.

Mereka tetap bersikeras untuk berjuang dan tak mau nasib mereka terulang kepada anak-anak mereka, gagal menjadi anggota ABRI. Mereka lebih memilih menjadi “Gajah Mada” dengan “sumpah Palapa gaya minimalis di era millenium” yang terkadang rela tak makan demi menyekolahkan anak-anak dengan harapan bisa merubah takdir keluarga mereka, bisa mengenyam sekolah walaupun dengan biaya setinggi satelit palapa. Ini realita, bukan omong kosiong atau OVJ yang dikarang-karang agar laku dan seolah-olah disett agar tampak lucu.

Pak Sutadi, Taji, Muji atau Supadi, aku harus segera pulang karena waktu yang membuatku bertahan dalam pencarian telah usai. Walau tak menemukan sosokmu yang nyata tapi aku telah menemukan bayanganmu dari mereka yang berjuang, bekerja keras dan berniat tulus untuk masa depan mereka yang lebih baik walau kadang terpaksa tak bisa terwujud. Aku menemukan niatmu pada mereka para pemulung, pedagang asongan, penjaga parkir, pesulap, pengamen yang terlahir bukan untuk hidup di jalanan tapi hidup telah menyeret mereka ke jalan-jalan di Ibukota Jakarta dan pada setiap mereka yang memiliki niatan sepertimu, Pak Sutadi.

Peserta Program pelatihan Cross-Culture Video Making Project For Peace: Crossing Boundaries 2010, Yayasan Interseksi