Syurga Dunia, Short Time!

Ketika aku sebut Papua, maka pikiran kebanyakan orang akan langsung tertuju pada TPN/OPM, rambut keriting, kulit hitam dan daerah tertinggal. Paradise Island,itulah sebutan lain dari tanah yang diberkati ini, karena selain keindahan dan kemolekan burung cenderawasih (Bird of Paradise) terdapat banyak eksotisme alam lainnya, dari bawah laut di kepulauan Raja Ampat hingga ke puncak Cartenz yang hingga kini puncaknya masih tertutup es beku di Kawasan Pegunungan Jayawijaya, dari lempengan tembaga dan emas di Freeport Timika hingga berjuta-juta kubik Liquefied Natural Gas (LNG) di British Petroleum’s (BP) Teluk Bintuni. Inilah Papua, Alam penuh nikmat yang tak pernah bisa dinikmati oleh masyarakat kasta paling bawah di Papua. 

Berbagai upaya untuk bisa menikmati anugerah tanah yang diberkati ini akan selalu dicap sparatis dan makar. Sebut saja Arnold Ap, Thomas Wanggai, Theys H. Eluay, Opinus Tabuni dan terakhir Kelly Kwalik yang mati dibunuh oleh pemerintah Jakarta (Indonesia). Ini hanyalah sederet nama yang terkenang, dan masih banyak lagi, ratusan bahkan ribuan lainnya yang mati karena dicap separatis, makar dan OPM. Sejarah pahit gerakan rakyat Papua yang tertindas dan tergilas tewas hanya karena ingin mempertahankan beraneka ragam sediaan alam yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka. Stigmatisasi Separatis, Makar dan OPM yang akan selalu disematkan kepada para pejuang pembela rakyat di Papua layaknya penghargaan “bintang jasa” yang diberikan kepada para bupati dan gubernur yang senantiasa menjual dan menggadaikan nasib anak cucu dan rakyat mereka, memberi izin kepada kaum pemodal untuk mengeruk habis berkat dari tanah ini, tentunya dengan sedikit imbalan untuk sekedar bisa melakukan perjalanan happy menikmati weekend ditemani minuman dan istri-istri short time mereka di tempat-tempat yang bernama “surga dunia” Manado, Jakarta dll.

Dalam sebuah kesempatan untuk melakukan studi singkat di pertengahan tahun 2010, aku terpilih untuk tinggal beberapa saat di salah satu kota “surga dunia” bernama Jakarta. Dalam dua pekan persinggahanku, disalah satu malamnya aku berkeliling menelusuri kehidupan Jakarta, mencoba melihat dari dekat tempat yang bernama “surga dunia” yang memikat para pejabat daerah itu untuk sering bertandang ke Jakarta, tepatnya di kawasan Jakarta Barat.

Perjalananku ditemani oleh salah seorang pengojek sepeda, sebut saja Darmin (67). Ia sedikit bercerita, bahwa ia harus pulang balik dari kampung rambutan –Jakarta Timur– menuju pangkalan ngojeknya di depan museum bank Mandiri di Kota Tua, Jakarta Barat. Ia rela mejalani takdir ini demi menyekolahkan anak-anak dan mejaga agar dapur istrinya tetap mengepul setiap hari, “agar mereka tidak kelaparan karena tidak mungkin menyerahkan takdirnya kepada pemerintah sebagai wakil Tuhan yang serakah di bumi”, katanya. Pak Darmin inilah yang mengantarkan aku, menjelajah sisi kehidupan malam dari rel jembatan gantung hingga ke bawah jembatan royal, dari pijat alas tikar di taman hingga prostitusi ala short time di kawasan tersebut.

Perlahan, Pak Darmin mengayuh sepedanya hingga sampai pada satu kawasan dengan bangunan-bangunan bertingkat berhias warna-warni lampu berpenghuni perempuan-perempuan muda. Mereka tampak menunggu di pintu-pintu itu. Aku memberanikan diri memasuki salah satu pintu di antara deretan pintu-pintu yang dijaga oleh perempuan-perempuan dan para sekuriti sewaan boss mereka itu. Sesaat kemudian, di balik daun pintu itu, aku terhempas oleh suara dentuman musik. Sungguh dunia lain yang baru aku kenal karena selama ini para guru disekolahku tidak pernah menceritakan bahwa ada dunia lain seperti ini, seperti malam yang pernah kulewati ini.

Malam semakin kalut, ketika ramai orang di sekelilingku sudah tidak berpikir waras, candu musik, alkohol dan barang-barang haram lainnya mungkin telah merampas alam sadar mereka. Perlahan detak jantungku mulai normal kembali setelah gugup sesaat. Kutatap orang orang-orang di sekitarku yang hampir tak terlihat lagi karena tertutup tebalnya asap rokok. Dengan memilih tempat di salah satu sudutnya, aku berdiri menghadap meja panjang bartender, “Cocacola saja” pintaku dengan sedikit logat Papua. Tak sampai 3 menit, sebotol Cocacola bersama gelas berisikan beberapa bongkah es batu, yang mungkin saja berasal dari puncak gunung Cartenz. Ku raih botol tersebut dan menuangkan isinya ke dalam gelas itu hingga hampir saja tumpah, sementara tanganku yang satu meraih sebungkus rokok Sampoerna dari dalam saku jaketku –sebagai penyempurna perjalananku.

Untuk kedua kalinya, aku hampir mampus dibuatnya ketika seorang perempuan tiba-tiba memelukku dari arah belakang tempat aku duduk. Hangat kurasakan memang, tapi aku masih takut, bergegas aku berontak dan melepasakan pelukan hangat itu. Ah… sial apa aku hari ini, bisikku dalam hati. “Maaf, boleh kutemenin mas…” ucap perempuan tadi seraya memohon pengampunan. “Maaf, aku tak butuh…..aku sudah ditemani rokok dan coca-cola ini” jawabku sekenanya saja dan ia pun bergegas pergi, seolah-olah sudah tak berdosa lagi kepadaku.

Malam semakin panas ketika pendingin ruangan tak mampu membendung panasnya nafsu liar para pengunjung yang sudah semakin kesetanan. Hampir saja aku tak berani untuk tengok kanan-kiri karena aku takut dikira melihat aksi bejat mereka. Aku hanya terpekur, seakan-akan hanyut oleh suasana musik yang semakin keras sembari menahan perasaan ingin segera menghabiskan segelas Cocacola yang baru kuminum sedikit itu, dan kembali ke rumah untuk menanti aktivitas di hari berikutnya. Kuarahkan wajahku ke layar tipis televisi bermerk Sony –-aku ingat persis karena mereknya sama dengan merk kamera yang kugunakan selama sekolah singkat tersebut– yang menempel di dinding di atas kepala para bartender tersebut. Tampak dua team negara benua amerika sedang bertanding dalam ajang piala dunia tahun 2010 ini.

Sementara aku menyaksikan serunya pertandingan itu, datang seorang lelaki paruh baya memintaku menunduk, mendekatkan telingaku “mau kencan Mas, short time sejam, ada kamar di atas sudah disiapkan, putih bersih mulus dan sehat, pintar main lagi anaknya. Ayoo mas… hanya tiga ratus ribu kurang goceng (lima ribu). Rugi lho mas kalau gak nyoba”, bisiknya di telinga dengan suara keras untuk mengimbangi kerasnya suara music.

Aku semakin terkejut, dia menarikku ke bagian belakang dan menunjukkan sebuah ruang kaca di mana di dalam ruang itu terdapat sekitar sepuluh gadis dengan pakaian serba minim dan sexy. “Tinggal pilih mau yang mana, mas?”. Kutarik sebatang rokok dari bungkusnya dan membakarnya segera, itulah gerakan refleks yang menandakan aku sedang gugup, ya….aku hafal dengan gerakan-gerakan ini. Aku segera kembali ke mejaku, tapi pria tadi terus mengikutiku, “orang Irian kalau ke sini biasanya cari seperti ini Mas, apalagi kalau pejabat, mereka bisa minta 2-3 gadis, Mas” katanya sambil terus membujuk aku.

Aku segera menghabiskan minumanku, tak mau berlama-lama lagi karena aku juga takut terbujuk oleh rayunya. Buru-buru aku meminta bill, membayarnya dan kemudian bergegas keluar dari kehidupan malam itu, dunia lain nan penuh dengan “ke-asing-an” yang akan segera lenyap tak diketahui oleh siapapun di siang harinya. Jujur ini adalah pengalaman pertama, di mana aku berada di antara orang-orang yang dalam sadar mereka pura-pura tidak sadar, sibuk hanya dengan kebebasan dan kesenangan semata.

Aku terus berpikir dalam perjalanan pulang, menuju sebuah hotel kecil yang kusewa di kawasan Jakarta Barat. Waktu menunjukkan pukul 3.15 pagi ketika aku menggedor pintu besi hotel itu. Seorang lelaki datang membukakan pintu. Kuambil segera kunci kamarku seolah-olah ingin segera bersembunyi karena bayangan pengalaman itu terus mengejarku. Aku tak bisa langsung tidur karena masih berkelahi dengan pikiran-pikiran liar yang tak logis. Pintu kamarku berbunyi, ada yang mengetuk. Aku segera membuka pintu dengan cemas, ada apa lagi pikirku. “Maaf pak, butuh temen nggak?? Kalau mau aku punya jaringan, anak rumahan, bisa ditelepon untuk datang. Di jamin nggak rugi pak, cantik dan sehat” kata lelaki penjaga hotel tersebut.

“Gila” teriakku dalam hati, aku kembali menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat. Kubasuh lagi wajahku dengan air Aqua dingin –hampir menjadi gumpalan es– yang baru kuambil dari kulkas bekas penuh karat di kamar itu. Aku berharap dengan ini bisa menghilangkan bayangan itu. Beberapa pertanyaan mengalir di pikiranku bak’ newsticker yang jalan di layar kaca Metro TV. Inikah Jakarta…?? ibukota yang dibenci oleh rakyat Papua karena dianggap sebagai penyebab segala soal di Papua, tetapi tetap menjadi tempat yang sering dikunjungi oleh para pejabat daerah, terutama dari Papua? Pantas saja mereka tak betah berlama-lama tinggal di Papua untuk mengurusi rakyatnya karena lebih senang hidup di Jakarta nan menggiurkan, sembari menawarkan jualan “kandungan tembaga, emas, nikel dan LNG di wilayah kekuasaanya” kepada tangan-tangan “asing” yang berkantor di Jakarta untuk kesenangan pribadi. Mereka bahkan mungkin juga lupa anak dan istri karena begitu banyak istri-istri short time yang tersedia di kota ini.

Peserta Program pelatihan Cross-Culture Video Making Project For Peace: Crossing Boundaries 2010, Yayasan Interseksi