Tamil Medan

Medan, kota yang saya buta sama sekali keadaannya seperti apa. Saya mengikuti program “Crossing Boundaries: Cross Culture Video-making Project for Peace” ini dengan kepala kosong dan pandangan yang sangat stereotipe -baik tentang konflik maupun tentang film dokumenter itu sendiri- secara definisi, maupun cara menikmatinya. Maklum anak muda zaman sekarang terlalu banyak dicekoki oleh film-film yang sangat didramatisir dan supernatural-maksudnya di luar batas normal, dan sulit terjadi di kehidupan nyata. Entah mengapa concept paper saya lolos. Akhirnya saya dan teman-teman wakil dari kotanya masing-masing, dipersiapkan sebelum pergi ke Medan. “Dikurung” selama 7 hari di daerah Gadog Puncak untuk Workshop Pra-produksi. Di workshop ini mata saya dibuka lebar-lebar lagi, bahwa film itu mungkin adalah karya seni terbesar yang pernah dimiliki manusia (seperti kata-kata dalam film “Janji Joni”). Bahasa visual yang sangat bermakna, simbol-simbol kecil yang mewakili hal-hal yang tak terbayangkan besarnya. Dan tentu saja tentang Medan tempat tujuan saya.

“Orang-orang keling kebanyakan berprofesi sebagai kuli kasar dan profesi bermodalkan tenaga saja di kota Medan. Hak-hak mereka pun sebagai WNI dipertanyakan atau mungkin tidak dianggap. Bahkan konon katanya ada seorang keling yang hidupnya hanya tiduran berbaring tanpa melakukan apapun selama 5 tahun!” Dengan gambaran situasi seperti itu, pandangan awal saya terhadap orang Keling adalah satu suku bangsa yang minoritas dan termarjinalkan di Medan. Kota di mana masing-masing suku bangsa memperjuangkan kekuasaan dan pengaruhnya disana, sementara orang Keling seakan-akan terjepit di tengah pertempuran ini. Bayangan di kepala saya, tentu kampung Keling sendiri akan terlihat seperti kota kaleng alien yang ada di film “District 9”.

Akhirnya saya pun berangkat ke Medan. Sesampainya disana saya dan Andang (peserta dari Jakarta) langsung dijemput oleh teman Andang yang bekerja di radio Prambors Medan. Melajulah kami ke tempat menginap yang dijanjikan, mereka bilang kamarnya bagus, double bed, TV, AC, dan kamar mandi yang ada bath tubnya. Menurut saya it’s too much. Saya sih sebenarnya sudah bersyukur kalau ada ruangan bersih kosong dengan stop kontak di dalamnya. Ketika sampai di tempatnya ternyata ibu kosnya sedang keluar sehingga kita tidak bisa masuk untuk mengecek kamar dan menaruh barang bawaan. Akhirnya kami diajak minum-minum dulu, kami mengharapkan duduk di pinggiran kaki lima dan menikmati minuman khas Medan -Andang mengharapkan tuak mungkin- . Namun ternyata kita dibawa ke Mall dan minum-minum di Black Canyon Coffee. Ummm.. oh well.

Pukul 5 kami ditelepon oleh ibu kos dan kami langsung meluncur ke tempat kos. Selain itu kami juga ada janji dengan Shelva Kumar, yaitu informan kami di Medan. Kami sepakat untuk bertemu di Sun Plaza, mal tergaul di Medan yang ternyata terletak di Kampung Keling. Setelah meletakkan barang, kami langsung ke Sun Plaza. Saat itu kami melihat, bahwa Medan tidak sesuai dengan bayangan kami. Medan sekarang telah menjelma menjadi kota metropolis, dengan banyak mal, gedung-gedung, dan ruko-ruko seperti mesin. Seperti Jakarta dan kota-kota besar lain. Kampung keling pun tidak seburuk yang saya bayangkan. Daerahnya lumayan rapi dan layak huni, biarpun masih ada orang-orang yang tinggal di hunian padat, namun saya pernah melihat yang lebih buruk di pulau Jawa dan itu bukan milik orang Keling. Bertemu dengan Shelva saya langsung menanyakan perihal keadaan orang keling yang konon kabarnya selama 5 tahun tidur terus itu. Shelva berpendapat, bahwa ia tidak pernah mendengar tentang hal seperti itu, dan menurutnya kasus itu merupakan analogi bagaimana pandangan orang-orang luar melihat ke mereka. Menurutnya orang-orang Keling itu dianggap sebagai suku yang statis. Medan itu sendiri sebenarnya sama seperti kota-kota besar lain, yakni sebuah melting pot yang besar. Namun di Medan ini masing-masing suku bangsa berusaha saling memperebutkan kekuasaan baik di bidang ekonomi politik maupun yang lainnya. Inilah Medan dimana budaya adat dan darah silsilah begitu kental sehingga menjadi basis untuk setiap pergerakan roda kekuasaan disini.

Setelah berbincang dengan Shelva, saya diajak berkeliling kampung Keling malam-malam dan ditunjukkan gambaran kegiatan dan tempat-tempat penting bagi orang Keling di daerah itu. sampai tengah malam saya diajak ke sebuah jalanan sepi, wah saya sudah takut saja. Namun ternyata saya diajak untuk bertemu temannya untuk diantarkan pulang. Hal ini sangat membuktikan, bahwa kepribadian berdasarkan warna kulit itu hanyalah omong kosong besar.

Keesokan paginya, saya pergi ke kuil untuk bertanya pada kepala kuil tentang orang keling yang tidur itu. Saat itu pandangan saya masih sangat stereotipe, sehingga pertanyaan-pertanyaan saya seakan menghakimi orang-orang Keling tersebut. Setelah selesai dari sana saya pergi menuju beberapa rumah orang Keling yang ditujukan oleh Shelva. Ketika sampai di sana, rumahnya kosong.

Sekedar informasi, di Medan ini sarana transportasi paling asyik adalah JALAN KAKI, karena angkot Medan tidak mengenal kata berhenti. Becak mesin/bentor juga asyik, tetapi karena saya tidak pandai menawar, saya sering ditipu masalah harga. Jadi marilah berjalan kaki!

Kembali lagi ke perjalanan saya, selanjutnya saya pergi ke USU untuk kembali bertemu dengan Shelva. Kami banyak berbincang di sana dan setelah melihat banyak fakta-fakta dan disodori data-data, saya malah makin bingung apa yang hendak diangkat tentang orang keling. Apakah pekerjaannya? Apakah agamanya? Apakah kebiasaannya? Apakah makanannya?

Dengan kepala pusing kami melanjutkan perjalanan pergi ke Annai Velangkanni, sebuah gereja yang dibangun oleh orang keling yang bernama Father James., yang konon katanya penuh dengan mukjizat. Arsitektur gereja ini memang terkesan ‘Tamil banget” karena berbeda dengan gereja pada umumnya dan lebih mirip dengan kuil. Penuh dengan aneka patung warna-warni, relief dengan banyak tokoh di dalamnya. Prinsip ornament is a crime tidak berlaku disini. Setelah itu dilanjutkan ke tempat pemujaan Sai Baba. Orang yang dianggap sebagai awatara Khrisna.

Keesokan harinya saya pergi ke pajak ikan lama, karena saya mendengar bahwa banyak orang Tamil yang bekerja disana, berjualan kain. Sesampainya di sana, memang terlihat banyak sekali plang-plang toko yang berbau India. Saya mendatangi salah satu toko dan berbincang-bincang dengan penjualnya. Mereka terbuka dalam berbincang-bincang, namun ketika saya mengeluarkan kamera video dan meminta ijin untuk merekam perbincangan, ia menolak untuk direkam. Tidak habis akal saya mencoba cara lain yaitu masuk toko dengan langsung menggenggam kamera, seperti kata Mas Hatta,” Lebih baik minta maaf daripada minta ijin”. Namun ternyata sambutan yang saya terima sangat dingin dan tertutup. Saya mencoba cara lain lagi dengan membawa dan merekam diam-diam wawancara di dalam toko, dan semua berjalan lancar (biarpun gambarnya tidak terkontrol) sampai saya KETAHUAN merekam. “Mampus,” begitu pikir saya.

Malamnya saya pergi ke daerah makan-makan gaul Medan yang terkenal dengan masakan-masakan Indianya. Masih dengan trauma penuh penolakan pada saat paginya, saya jadi masih ragu-ragu dalam mengeluarkan kamera dan menodongkannya ke muka orang-orang India Tamil.

“Baru pertama kali soalnya, takut ditolak,” pikiran itu terus bergelayut di kepalaku

Akhirnya saya memberanikan diri dan berusaha mewawancarai namun sambil tetap menjaga kontak mata. Apabila kita merekam dengan menggunakan handycam maka mata kita pasti menuju ke arah layar handycam, sedangkan ketika kita harus menghargai orang yang kita ajak bicara dengan melihat langsung ke arah matanya. Ternyata itulah yang seharusnya saya lakukan, bukan terus menerus melihat ke layar handycam.

Selanjutnya, semua mengalir seperti air, walaupun terkadang penuh gejolak, namun tetap bisa mengalir tenang lagi.

Orang Keling itu seperti rempah-rempah.
Mereka hangat pada siapa saja, bisa berbaur pada siapa saja dimana saja, bermacam-macam rasanya, agamanya, kebiasaannya, pekerjaannya, dan membuat sebuah masakan menjadi terasa enak biarpun tidak terlihat secara langsung.
Dalam agama nenek moyang mereka pun, mereka menganggap bahwa api adalah suatu kekuatan yang besar, sehingga mereka berusaha memasukkannya di dalam semua aspek kehidupan mereka, termasuk makanan. Panas bukan cuma di lidah. Namun di seluruh tubuh, panas yang memanaskan perut, dan menghangatkan jiwa. 
Itulah rempah-rempah. 
Itulah orang Keling Medan.

Peserta Program pelatihan Cross-Culture Video Making Project For Peace: Crossing Boundaries 2010, Yayasan Interseksi