Titik Keramaian di Kota Baubau

bau_kalpataru

Pagi hari di Kota Baubau, saya terbangun oleh suara pluit kapal yang berada di pelabuhan. Saat saya membuka jendela, pemandangan yang terlihat adalah pohon, pelabuhan dan pulau-pulau di sebrang Pulau Buton. Panorama yang indah di waktu tersebut membangkitkan semangat saya untuk segera bergegas. Hari ini saya berniat untuk pergi ke Pasar Wameo. Ketika saya sampai di lokasi pukul 08.45 WITA, kondisinya sangat ramai. Para pedagang terlihat menjajakan dagangan mereka. Ada yang menawarkan sayur-mayur dan juga ikan. Asisten saya meletakkan motornya di belakang Pasar Wameo. Di tempat tersebut, para pedagang yang tidak mendapatkan ruko di dalam berdagang di luar. Mereka ditempatkan di sebuah bangunan kayu yang memanjang.

Saya berhenti sebentar untuk mencicipi kelapa muda pada salah satu pedagang. Penjual kelapa muda tampak berjualan bersebelahan. Saya pun mencoba menanyakan kepada penjual berapa banyak kelapa muda yang ia bawa tiap harinya. Pedagang tersebut bernama Ibu Suli. Ia mengatakan bahwa tiap hari ia membawa 100- 200 butir kelapa muda. Ibu Suli berasal dari Pasar Wajo. Ia mengatakan bahwa para pedagang kelapa muda umumnya datang dari Pasar Wajo. Mereka ke Pasar Wameo dengan menyewa angkutan umum. Ibu Suli juga menjelaskan bahwa kelapa mudanya selalu habis terjual. Satu kelapa muda dihargai Rp. 5000,- . Ibu Suli juga telah memiliki pelanggan di pasar tersebut.

Saat saya masuk ke dalam bangunan pasar, penjual yang ada di dalam didominasi oleh pedagang ikan dan sejenisnya. Di dalam pasar ternyata tidak cukup bersih karena beberapa sudut tergenang air. Saya tertarik mendengar beberapa pedagang yang menjual ikannya dengan suara yang lantang dan mengatakan bahwa ikannya murah. Saya kemudian menghampiri penjual tersebut. Mereka meletakkan ikannya di lantai. Ada beberapa jenis ikan yang ditawarkan. Mulai dari ikan kakap, bubara, bolu, cakalang dan ruma-ruma. Satu ikan bubara dengan panjang sekitar 70 cm dihargai Rp. 70.000,-. Ikan ruma-ruma memiliki harga yang paling murah yaitu mulai Rp. 10.000,-. Ketika saya tanya ikan ini berasal dari mana, salah satu pedagang menjelaskan bahwa ikannya berasal dari Bone-bone atau dari Pulau Makassar. Pagi hari, ikan datang dibawa oleh para nelayan dan para penjual ini membelinya dari mereka. Selain itu, adapula sotong dan beberapa lobster. Lobster ini dijual dengan harga sebesar Rp. 200.000,-. Jumlah penjual lobster tidak banyak karena memang tidak mudah untuk mendapatkan lobster. Oleh karena itu, harga satu ekor lobster sangat mahal.

down_town_bau

Di Pasar Wameo ini terkenal pula para pedagang yang menjual baju bekas atau yang dikenal sebagai rombengan. Ketika saya memasuki area penjual baju bekas tercium aroma tidak sedap dari baju-baju yang sepertinya sudah lama tertumpuk dan tidak tercuci. Menurut asisten saya, tempat itu menjadi salah satu lokasi favorit warga Kota Baubau untuk membeli pakaian. Memang hampir di setiap tempat dagang terlihat dikunjungi oleh konsumen. Saya mendengar mereka saling tawar menawar harga. Berdasarkan perbincangan yang saya dengar antara penjual dan pembeli, harga baju yang dijual mulai dari Rp. 15.000,- hingga Rp. 30.000,-, sedangkan untuk pakaian pesta bisa mencapai Rp. 50.000,- per potong.

Jenis pakaian yang dijual pun lengkap yaitu mulai dari pakaian dalam, bawahan dan atasan, jaket, sepatu, dan tas. Selain itu, adapula pedagang yang menjual seprai dan tirai. Pasar baju bekas ini buka setiap hari mulai dari jam 08.00 hingga 16.00 WITA. Biasanya pasar ramai pada akhir pekan dan juga menjelang lebaran. Di pasar tersebut tidak semua pakaian yang dijual adalah bekas. Adapula penjual yang menjajakan pakaian baru. Tentu harganya lebih mahal dibandingkan dengan baju bekas. Baju baru tersebut dijual mulai harga Rp. 50.000,-. Berdasarkan perbincangan dengan salah satu pedagang, baju bekas yang diperjualbelikan di pasar itu berasal dari Malaysia dan Jawa.

Setelah saya selesai berjalan-jalan ke Pasar Wameo, saya pun mulai berkeliling. Sekitar 1,5 km dari Pasar Wameo, terdapat Umna Wolio Plaza. Umna Plaza dibuka pada pukul 08.00 sampai 20.00 WITA. Di tempat tersebut, para pedagang menjual mainan anak-anak, pakaian, sandal, sepatu dan aksesoris perempuan maupun laki-laki. Umna Plaza ini memiliki 4 lantai yang dikelola oleh pihak swasta. Lantai 1 terisi penuh, lantai 2 terisi sebagian dengan pedagang pakaian yang menjual secara grosiran, lantai 3 tidak terisi dan lantai 4 dipergunakan untuk tempat billiard. Setelah berkeliling di Umna Wolio Plaza, saya mencoba menghampiri salah satu pedagang dan mengobrol. Saya berbincang dengan pedagang pakaian wanita. Ia bernama Pak Asman. Pak Asman bercerita bahwa ia telah berdagang di tempat ini selama 5 tahun. Pak Asman menuturkan bahwa berjualan di Plaza tidak terlalu ramai. Pengunjung Plaza hanya ramai pada saat tertentu misalnya pada saat menjelang lebaran. Pak Asman menambahkan memang harga di sini lebih mahal dibanding baju-baju yang dijual di Pasar. Pak Asman menyebutkan bahwa harga sepotong baju yang dijual dihargai Rp. 70.000,-. Harga pakaian yang dijual lebih mahal dibandingkan di tempat lain disebabkan oleh biaya sewa ruko yang mahal. Ukuran ruko Pak Asman sekitar 2 x 3 meter persegi, ia membayar ruko itu dengan biaya Rp. 15.000.000,- per tahun. Pak Asman menjelaskan bahwa hasil penjualan yang ia terima di Plaza masih jauh dari apa yang diharapkannya. Oleh karena itu, Pak Asman membuka tempat berjualan lainnya di pasar La Elangi untuk menambah pemasukannya.

Selain itu, adapula Pasar La Elangi terletak sekitar 1 km dari Umna Plaza. Pasar La Elangi berbentuk persegi empat dan tidak bertingkat. Di Pasar La Elangi ruko-ruko dibangun berdekatan satu sama lain. Ruang untuk para konsumen berkeliling juga cukup sempit. Berdasarkan pengamatan saya, pasar ini lebih ramai oleh konsumen apabila dibandingkan dengan Umna Plaza. Barang-barang yang diperjual-belikan di pasar tersebut juga tidak jauh berbeda dengan yang terdapat di Umna Plaza. Pedagang menawarkan pakaian, berbagai macam aksesoris, sandal, sepatu, dan barang elektronik.

Harga yang ditetapkan oleh para penjual memang lebih murah dibandingkan di Umna Plaza. Contohnya adalah pakaian wanita yang di Pasar La Elangi dibandrol sekitar Rp. 40.000,- hingga Rp. 60.000,- sedangkan di Umna Plaza bisa sekitar Rp. 700.000,- hingga Rp 100.000,- . Untuk sewa ruko di Pasar La Elangi dengan ukuran 4 x 4 meter persegi, pedagang mengeluarkan biaya sekitar Rp. 15.000.000,- per tahun. Selain dengan sistem kontrak, pedagang juga ada yang membeli ruko yang disediakan. Salah satunya adalah Pak Sadam. Pak Sadam membeli tempat di Pasar La Elangi dengan ukuran 4 x 4 meter persegi pada tahun 2004 seharga Rp. 40.000.000,- . Awalnya Pak Sadam berdagang di Pasar Sentral, akan tetapi pada waktu itu pasar tersebut terbakar, sehingga Pak Sadam pindah ke La Elangi.

Persis di depan Pasar La Elangi terdapat pertokoan yang menjual berbagai macam barang seperti, sembako, bahan bangunan, elektronik, dan toko roti. Mayoritas pedagang yang berjualan di wilayah tersebut adalah Etnis Cina. Pedagang, yang merupakan Etnis Cina, yang saya ajak untuk bercakap-cakap adalah Pak Steven. Pak Steven menjual berbagai macam suku cadang kendaraan bermotor dan juga memiliki bengkel kecil di depan tokonya. Pak Steven telah berdagang selama 3 tahun. Pak Steven mempunyai total 8 karyawan yang semuanya merupakan orang Buton. Alasan Pak Steven menggeluti dunia usaha karena seluruh keluarganya merupakan wirausaha.

Orang tua Pak Steven adalah pedagang sembako, sedangkan kakaknya penjual bahan bangunan. Menurutnya peluang usaha di Kota Baubau cukup menjanjikan, apalagi selama ia berusaha tidak pernah ada hambatan yang berarti. Pak Steven juga mengatakan bahwa di kota Baubau cukup aman. Lebih lanjut lagi Pak Steven menceritakan bahwa toleransi beragama warga Kota Baubau pada saat perayaan agama sangat baik. Contohnya, ketika ia merayakan hari natal tidak pernah ada kerusuhan yang terjadi. Pak Steven menuturkan bahwa perayaaan hari besar agama berjalan baik di Kota Baubau. Selain Etnis Cina, adapula Etnis Toraja, Bugis, dan Orang Buton yang berdagang di pertokoan tersebut.

Adapula Pasar Karya Nugraha yang jaraknya sekitar 1,5 km dari Pasar La Elangi. Pasar Karya Nugraha ini dikelola oleh pihak swasta. Pasar Karya Nugraha dibangun sekitar tahun 2000-an. Sebelum Pasar Karya Nugraha dibangun, para pedagang berjualan di sekitar tanggul yang letaknya dekat kawasan pasar sentral lama. Di tanggul tersebut, para pedagang membuka dagangannya dengan beralaskan terpal dan adapula yang memiliki bangunan dari kayu dengan luas 1 x 1 meter persegi. Keberadaan pasar dekat tanggul tersebut dinilai oleh pemerintah tidak teratur. Oleh karena itu, didirikan bangunan yang difungsikan untuk pembenahan pasar di wilayah tanggul tersebut. Berdasarkan informasi dari beberapa pedagang di Pasar Karya Nugraha, yang sebelumnya berjualan di dekat tanggul, mereka menyatakan bahwa kepindahan dilakukan dengan suka rela. Mereka merasa senang disediakan tempat yang lebih layak untuk mereka berdagang.

Salah satu pedagang yang pindah ke Pasar Karya Nugraha adalah Ibu Via. Ia menjelaskan bahwa awalnya ia berdagang di dekat tanggul karena pada waktu itu ia belum mempunyai tempat berjualan di pasar. Alasan Ibu Via berdagang di dekat tanggul karena pada saat itu ia tidak tahu pekerjaan apa yang ingin dilakukannya. Ibu Via adalah salah seorang pengungsi Ambon yang datang ke Kota Baubau akibat kerusuhan yang terjadi di sana. Saat tiba di Kota Baubau pada pada tahun 1999, ia tidak memiliki pekerjaan dan hanya membawa sisa tabungannya. Ketika di Ambon, Ibu Via sehari-hari berjualan ikan di pasar. Berbekal pengalaman berdagang ikan tersebut, membuat Ibu Via mencoba untuk kembali memperoleh pendapatan dengan menjajakan ikan di daerah tanggul tersebut. Saat berdagang di Pasar Karya Nugraha, Ibu Via membayar tempat dengan harga sebesar Rp 200.000,- per bulan dengan ukuran 2 x 2 meter persegi.

Pasar Karya Nugraha mulai buka pukul 07.00 hingga 16.00 WITA. Di pasar tersebut tersedia berbagai kebutuhan pangan mulai dari sayur-mayur, ikan, ayam, dan bermacam-macam bumbu masak. Pedagang keliling ataupun penjual sayur-mayur yang berjualan di depan Pasar Sentral Lama, mereka memasok barang dagangannya dari pasar tersebut atau melalui Pasar Wameo. Di pagi hari sampai siang hari, kawasan ini menjadi salah satu titik kepadatan lalu lintas warga. Beberapa angkutan umum dan kendaraan bermotor terlihat ramai berlalu lalang di kawasan tersebut. Orang-orang terlihat sibuk dengan barang-barang yang dibelinya. Selain itu, di depan Pasar Karya Nugraha masih terdapat para pedagang yang menjual barang dagangannya di sebuah bangunan kayu dengan ukuran 1 x 1 meter persegi yang dibangun oleh mereka sendiri.

Setelah saya selesai berkeliling di Pasar Karya Nugraha, saya menuju ke Pelabuhan. Pertama-tama saya mengunjungi Dermaga Jembatan Batu. Untuk masuk ke dermaga dengan menggunakan sepeda motor, kami dikenakan biaya tiket masuk seharga Rp. 1.000,-. Di dermaga tersebut, tersandar kapal kayu yang mengantar penumpang ke pulau-pulau di seberang Pulau Buton. Rute kapal-kapal tersebut adalah Baubau-Wara, Baubau-Wadiawero, Baubau-Mawasangka, Baubau-Binongko, Baubau-Talaga, Baubau-Siompu, dan Baubau-Pulau Makassar. Kapal ini dapat mengangkut sekitar 10-30 penumpang. Ukuran kapal yang memiliki rute Baubau-Pulau Makassar lebih kecil dibandingkan kapal dengan rute yang lain. Kapal tersebut hanya bisa mengangkut 10-15 orang dan mengangkut satu buah motor. Biaya menyebrang ke Pulau Makassar juga terjangkau. Penumpang cukup membayar sebesar Rp. 4.000.- per orang untuk sekali perjalanan.

Pusat keramaian juga terdapat di Bukit Wantiro. Menurut salah satu informan, Pak La Ode Munafi, pembangunan Bukit Wantiro dalam rangka pembenahan kota menyambut acara Seminar Naskah Nasional yang dilaksanakan di Kota Baubau tahun 2012. Ia menuturkan bahwa saat kedatangan tamu asing, pemerintah menginginkan mereka mendapatkan kesan menawan saat datang ke Kota Baubau. Tidak hanya itu saja, sejalan dengan semboyan kota Baubau SEMERBAK (Sejahtera, Menawan, Ramah, Bagus dan Membawa Kenangan), para peserta seminar tersebut diharapkan membawa kenangan yang manis ketika mereka telah meninggalkan Kota Baubau. Oleh karena itu, kawasan Bukit Wantiro dipercantik dengan dibuatkan pagar dan lampu taman yang menghiasi wilayah tersebut. Di Pelataran Bukit Wantiro juga terdapat tulisan Baubau dengan ukuran yang besar pada sebuah tembok. Pada sore hari pelataran Bukit Wantiro ramai dikunjungi orang-orang yang ingin mengambil gambar terbenamnya matahari atapun sekadar memotret tulisan Baubau tersebut.

Pembangunan pelataran Bukit Wantiro juga membuka lapangan pekerjaan bagi warga di Kelurahan Kadalo Moko. Di lokasi tersebut, pemerintah menyediakan tempat, meja dan tempat duduk untuk para pedagang berjualan. Selain itu, pemerintah juga memberikan fasilitas gudang agar para pedagang dapat menyimpan barang dagangan mereka. Di tempat itu, para pedagang mayoritas menjual makanan ringan seperti pisang goreng dan mie instan serta aneka minuman. Berdasarkan pengamatan saya, terdapat puluhan pedagang yang berjualan. Mereka mulai membuka warungnya pukul 15.00 WITA. Warung para penjual itu beratap terpal dan ada sebuah meja yang menopang etalasenya.

Saya mencoba bertanya kepada salah satu pedagang yang bernama Ibu Evi. Ia bercerita bahwa awalnya ia berdagang di Bukit Wantiro karena ditawari oleh Pak Lurah. Ibu Evi yang mendengar tawaran tersebut menerima dengan senang hati. Apalagi Ibu Evi tidak memiliki kesibukan selain mengurus rumah. Ibu Evi mulai mempersiapkan dagangannya sejak pagi hari. Di pagi hari, ia mulai berbelanja ke pasar dan membeli pisang, ubi dan kebutuhan lain untuk berjualan. Pada sore hari, Ibu Evi pergi ke Wantiro untuk membuka warungnya. Penghasilan yang diperoleh Ibu Evi sekitar Rp 200.000,- per hari jika Bukit Wantiro sedang ramai dikunjungi. Saat hujan mengguyur, bukit wantiro sepi pengunjung. Pada saat tersebut, Ibu Evi hanya mendapat uang sekitar Rp. 30.000 – Rp 50.000 . Dari hasil berjualan itulah, Ibu Evi bisa menyekolahkan anaknya yang duduk di bangku sekolah menengah pertama dan di perguruan tinggi.

Junior Researcher, Program Officer, the Interseksi Foundation