Warkop, Warung Kaum Politikus

Zaman kejayaan warung internet (warnet) sepertinya telah berakhir. Kini, warnet digantikan dengan warung kopi (warkop). Sama-sama warung, namun satu untuk bursa pengetahuan dan satu untuk bursa kepentingan.

Di warkoplah segala macam kepentingan dikonsolidasikan. Warkop sekarang menjadi “kantor” para politikus, pengamat politik, maupun pemerhati politik. Melalui politik, segala kepentingan terkonsolidasikan. Di warnet, segala keingintahuan dapat terjawab. Pengetahuan apapun dicari, akan didapat jawabannya di warnet, hanya dengan memandangi layar komputer.

Saban ke Maros, saya menyempatkan waktu mampir di Warkop Buana, Turikale. Tempatnya bersih, tak bising, sejuk, dan asap rokok tak memenuhi ruangan. Harga kopinya murah, enak, dan ada roti merek Buana yang dulu terkenal sebelum J.CO, BreadTalk, dan Holland berekspansi di Makassar. Warkop Buana serasa menjadi tempat yang wajib disinggahi. Selain karena kopinya, suasana tempatnya, dari sini banyak informasi soal Maros dapat diperoleh. Saya bisa nguping omongan orang di meja sebelah maupun bertemu dengan teman yang menjadi informan.

Di warkop, memang banyak kalangan berinteraksi. Warkop pun ibarat kantor kedua bagi orang kantoran, ruang tamu kedua bagi yang telah memiliki rumah, dan pasar bagi para makelar. Dari merekalah saya mendapatkan pula informasi pelengkap. Informasi  primer tentu dari hasil observasi. Tahun dan bulan ini adalah tahun dan bulan pemilu. Omongan di warkop pun banyak terkait dengan pemilu. Mereka yang ngomong adalah politikus, maupun pihak lain yang dekat dengan penguasa maupun sumber kekuasaan. Dari mulut mereka,  keluar asap tebal dan omongan politik. Asap rokok melengkapi. Mulut mereka terlihat lancar ngomong soal politik. Tidak kalah dengan pengamat atau pakar politik yang kerap nongol di layar televisi. Omongannya terkadang meyakinkan, walaupun kadang pula tak berdasar, yang jelas ngomong soal politik.

Di warkop itu, berbagai prediksi soal pemilu dikeluarkan. Prediksi itu lebih seru jika para “komentator” baru saja membuka lembaran koran berisi ulasan soal hasil pemilu. Ada yang sudah memastikan bahwa Partai Amanat Nasional akan menjadi partai pemenang pemilu di Maros karena Bupati Maros, Hatta Rahman menjabat Ketua DPD Partai Amanat Nasional. Partai ini disebut berhasil menumbangkan dominasi Partai Golkar yang telah menghegemoni sejak Orde Baru. Dari prediksi kemenangan itu, tergambar pula, siapa akan menduduki kursi ketua DPRD dan bagaimana komposisi legislator. Jika ketua DPRD berasal dari partai yang sama dengan bupati, kebijakan bupati akan berjalan mulus. Selama empat tahun menjabat, Bupati Hatta Rahman harus berhadapan dengan ketua DPRD dari Partai Golkar. Hasil pemilu legislatif akan mempengaruhi konstalasi dalam pemilihan bupati dan wakil bupati yang akan berlangsung, tahun depan. Hatta Rahman akan mencalonkan diri kembali untuk periode kedua.

Perbincangan politik di warung kopi di Maros terkadang menarik karena aktual. Hal itu mungkin dipengaruhi dari letak geografis Maros dengan Makassar. Makassar telah menjadi pusat konsolidasi politik dan demokrasi di kawasan Indonesia bagian timur. Dinamika politik di Makassar itulah cerminan dinamika politik di kawasan Indonesia bagian timur. Warung politik juga menjadi elemen dari dinamika politik di Makassar. Di warung kopi pula para politikus kerap menggelar rapat strategi pemenangan partai. Saya juga berasumsi, warung kopi juga menjadi tempat awal mula politik transaksional, sebab di sinilah politikus dengan berbagai kalangan berinteraksi.

Nongkrong di warkop serasa membuat betah ketimbang di Perpustakaan Daerah Maros yang bersebelahan dengan rumah dinas bupati yang begitu megah. Perpustakaan Maros tak dapat dijadikan tumpuan untuk studi pustaka pada penelitian ini. Koleksi buku sangat minim. Asumsi saya, hanya ada 1.000-an buku. Suatu hari, saya mampir untuk mencari sebuah buku berisi sejarah Maros dan biografi kepala daerah, namun setelah menyelisik susunan buku, sejarah dan biografi itu tak ada.

Mungkin terkait itu akan diperoleh jika nongkrong di warung kopi sambil browsing di internet. Mayoritas warung kopi, termasuk Buana telah dilengkapi jaringan internet nirkabel sebagai fasilitas utama. Warung kopi pada realitasnya bukan sekadar warung penjual kopi, namun juga warung penjual jaringan internet. Hampir mirip dengan warung internet. Dulu, tak semua warung internet menjual kopi. ***

Peserta Program Pelatihan Penelitian Kelas 2013/2014, dan anggota tim peneliti Kota-kota di Sulawesi, Yayasan Interseksi