Workshop Hari Ketujuh

P7063807

Workshop Pasca-Produksi program pembuatan video “Crossing Boundaries” saat ini telah memasuki hari ketujuh. Semangat peserta seakan tidak pernah surut, sama seperti ketika kami pertama sampai di sini. Pada tanggal 1 Juli 2010, enam peserta dan panitia berangkat bersama-sama dari kantor Interseksi pukul 14.00. Kami menempuh perjalanan dengan durasi yang tidak sebentar yakni dua jam! Untuk jarak yang tidak terlalu jauh, waktu tempuh ini terasa keterlaluan. Di mulut tol Ciawi, kami harus menunggu hingga pukul 18.00 untuk naik ke atas. Namun kami dapat memaklumi, karena pada musim liburan seperti sekarang ini, kawasan Puncak luar biasa padat. Menurut pengakuan petugas hotel, sistem buka-tutup jalan -yang biasanya hanya diberlakukan saat akhir pekan- selama liburan ini diberlakukan hampir tiap jam. Setibanya di hotel, kami disambut oleh hidangan hangat yang tersaji di meja dan kami melewati malam ini dengan saling bertukar pengalaman selama proses pengambilan gambar di daerah masing-masing. 

Pemberian materi workshop oleh fasilitator dilakukan di hari kedua. Sesi pertama diawali dengan logsheet review, peserta mempresentasikan hasil pengambilan gambarnya di lapangan, menceritakan temuan-temuan dan kesulitan yang mereka hadapi, dan mulai merencanakan draft editing. Draft editing ini berfungsi sebagai panduan untuk memilih klip video yang sesuai dengan logline dan storyline (yang telah dibuat pada workshop pra-produksi sebelum peserta berangkat ke daerah). Untuk proses penyuntingan ini, kami menggunakan komputer berbasis Macintosh dengan piranti lunak Final Cut Pro. Bagi peserta, yang 90% menggunakan komputer berbasis Mac, tentu hal ini bukan masalah dan ternyata peserta yang terbiasa menggunakan Windows pun juga tidak mengalami kendala. Sebelum mulai mengedit, peserta tentu saja diberi pembekalan teknis penggunaan program tersebut. Berbeda dengan workshop sebelumnya yang sarat dengan diskusi, kali ini workshop memang dirancang agar tiap peserta berkonsentrasi penuh dengan penyuntingan video hingga proses finishing dan mastering. 

P7063808

Di hari-hari selanjutnya, peserta mulai mengenali jam kerjanya masing-masing. Aldi dan Umar yang cenderung mengambil “shift pagi” dalam mengedit, ataupun seperti Paul, Andang dan Reza yang lebih nyaman melakukannya di malam hari. Tak jarang pula ketika peserta mulai mengelompokkan klip dalam satu timeline, menurut fasilitator rancangan film mereka menjadi terlalu deskriptif ataupun terlalu “cerewet” kepada penonton karena peserta terlalu banyak mengambil potongan wawancara, alih-alih mengungkapkannya melalui bahasa visual. Hafiz, salah seorang fasilitator workshop ini, kerap kali mengingatkan kepada peserta bahwa mereka sedang membuat film yang kaya akan bahasa visual, jadi film seharusnya dapat menangkap imajinasi penonton dan kemudian mencernanya dengan akal pikiran. Penonton jangan melulu disuapi, menurutnya. Setiap peserta mendapatkan asistensi dari kedua fasilitator, mengenai apa yang harus diperbaiki dari draft videoya. Terkadang peserta memiliki stock shot yang cukup baik, tetapi mereka tidak menggunakannya secara maksimal. Atau, ada kecenderungan peserta memasukkan semua stock shot yang mereka punya, sehingga mengaburkan benang merah cerita dari video yang mereka buat. Selain itu, penggunaan efek transisi juga masih harus dikurangi, karena menurut fasilitator penggunaannya masih kurang tepat. 

Tidak jarang pula peserta menjadi frustasi karena ia tidak berhasil menemukan cara untuk membuat videonya sesuai dengan storyline. Sebagai penghilang stres, peserta memilih menonton film atau berenang, hal yang tidak dapat dilakukan di workshop pra-produksi. Tiara, sebagai satu-satunya peserta wanita dan termuda, memilih menggambar dan membuat stempel dari karet penghapus sebagai sarana relaksasi.

P7063812

Ada sebuah pengalaman yang cukup seru berkaitan dengan musim Piala Dunia 2010. Demam bola dan wabah “nonton bareng” juga sampai di tempat kami menginap, sehingga ketika siaran pertandingan Belanda-Brazil, kegiatan dihentikan sejenak. Selain kami, di sini banyak sekali tamu asing dari Belanda yang sedang berlibur. Kami dan tamu-tamu itu menonton bola bersama. Sungguh ramai sorak-sorai para pendukung masing-masing kesebelasan. Tanpa kami sadari, melalui “nonton bareng” sebetulnya telah terjadi pertemuan dua budaya antara kami dan mereka. Ternyata, mereka sama ekspresifnya dengan penonton Indonesia ketika tim kesebelasannya melakukan kesalahan atau mencetak gol. Ada fakta menarik lainnya mengenai tamu-tamu asing itu, bahwa tidak selamanya orang Belanda akan membela kesebelasan dari negaranya sendiri, justru ada di antara mereka yang mati-matian membela Brazil. Selain itu, sepak bola berhasil membuat para peserta bertahan hingga dini hari di depan komputer untuk mengedit, seperti yang terjadi semalam ketika pertandingan Belanda-Uruguay.

Kembali ke kegiatan kami, peserta terus menerus diingatkan bahwa waktu yang mereka miliki tidak banyak, sehingga mereka harus dapat mengatur waktu dengan sebaik-baiknya. Semoga dalam tiga hari mendatang, dapat mencapai hasil yang memuaskan.

Program Officer Yayasan Interseksi
0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>