Mandala of Difference / Mandala Perbedaan
Ismiaji
Cahyono
Kampanye ini adalah proyek untuk menanggapi berbagai persoalan
kemajemukan yang kita alami bersama dalam kehidupan kontemporer
ini. Walau sebagian besar masalah merupakan konstruksi relasi
kekuasaan, tetap saja besar pengaruhnya bagi kehidupan bersama.
Sebagai perancang grafis, saya terusik dengan masalah ini dan
mencoba merenungkannya dalam sebuah karya komunikasi visual
berwujud brosur lipat yang dapat dibuka menjadi sebuah bidang
mandala. Tahap proyek ini baru konsep, dan saya anggap sebuah
“working progress,” terbuka untuk dikembangkan, terbuka
untuk dimatangkan.
Dalam proses perancangannya, saya bereksperimen dengan [apa yang
saya anggap] unsur-unsur oposisi biner [walau itu tidak jelas,
ambivalen, dan juga problematik] yang saya temukan dipakai
repetitif oleh berbagai media massa dalam membahas persoalan
kemajemukan dan diskriminasi SARA. Dengan melihat ke dalam latar
belakang sejarah dan khasanah budaya Indonesia yang bhinneka, saya
menemukan konsep mandala tepat menyediakan ruang negosiasi,
diskusi, dan dialog berbagai oposisi kemajemukan.
Saya awali dengan istilah [kata] yang berpasangan dengan ikon yang
relevan. Kemudian lipatan dibuka, mengungkap berbagai istilah dan
ikon yang terkesan bertolak belakang. Makin dibuka makin terungkap
istilah dan ikon lain, dan ketika lanjut dibuka mengintip sebagian
mandala. Hingga akhirnya terbukalah mandala yang mengikutsertakan
semua unsur-unsur ikon/simbol yang bertolak belakang atau saling
mendukung, dicampur perpaduan permainan bidang geometri dasar
[primordial] seperti lingkaran, bujursangkar, dan segitiga, yang
memiliki simbolisasi kesempurnaan secara universal. Adapun
komposisi berbagai motif, pola, dan ornamen dari berbagai kelompok
budaya di Indonesia, termasuk warna yang saya pakai, paduan antara
warna panas, warna dingin, dan warna netral.
Semua unsur berkumpul dalam satu wadah, tidak ada kompromi bentuk,
penyesuaian dan modifikasi, semua mempertahankan bentuk aslinya
sebagai indikasi bahwa menjadi berbeda tidak berarti perlu merubah
wujud, tapi justru mengakui dirinya masing-masing khas, dan
menghargai bentuk lain yang berbeda. Semua tertata secara harmonis
dalam konfigurasi simetris, dan seimbang, sebagai tanda bahwa
kemajemukan yang harmonis sederhananya adalah saling mengakui dan
menghargai perbedaan.
Dalam proses mencapai mandala, saya sadar bahwa oposisi biner sulit
ditetapkan dan dikendalikan. Oleh karena itu sebuah komposisi indah
tercapai ketika saya secara bebas memperlakukan ikon-ikon opositif
itu apa adanya, tanpa banyak memodifikasi wujud dasarnya. Keputusan
untuk memakai ikon-ikon tradisional saya sengaja lakukan untuk
menetapkan kode-kode visual yang mudah dikenali pengamat
[masyarakat]. Karena sulit dikendalikan, saya tidak mungkin
menetapkan makna [fixed meaning], namun lewat interaksi visual,
negosiasi, dan dialog pengamat dengan permainan ikon, istilah
[kata], geometri dan warna, saya berharap makna secara bebas akan
mucul dari mandala tersebut. Lewat proses membuka lipatan, ibarat
mengungkap suatu “kebenaran” [apapun itu maksudnya],
mandala perbedaan ini saya harapkan mengundang dialog baru tentang
kemajemukan.