Daniel Bell: Fundamentalisme Kapitalis dan Radikalisme Kultural

Bulan November tahun 1996 yang lalu, penerbit Basic Books, New York, membuat edisi spesial ulang tahun ke-20 untuk salah satu buku paling terkenal yang pernah diterbitkannya, The Cultural Contradictions of Capitalism. Penulisnya, Daniel Bell, secara khusus pula menulis 56 halaman pengantar baru untuk edisi istimewa dari karya klasiknya tersebut. Terlepas dari pelbagai kelemahan di dalamnya, selama lebih dari dua puluh tahun sejak diterbitkan tahun 1976, buku ini telah menjadi rujukan demikian banyak ilmuwan sosial di dunia dengan minat yang merentang panjang mulai dari seni sampai sosiologi, dari filsafat sosial sampai kajian-kajian postmodernisme.

Sumber: The New York Times

Sumber: The New York Times

Karya di atas memang meneguhkan posisi penulisnya sebagai salah seorang sosiolog terpenting Amerika abad 20. Dalam esaynya “The Prophet Motive“, Rick Perlstein, misalnya, menyebut Bell sebagai seorang kritikus kebudayaan terpenting pada era paska perang Dunia II, tapi sekaligus sebagai sebuah anomali dalam tradisi pemikiran liberal Amerika, terutama karena komitmennya yang begitu kukuh pada kesetaraan ekonomi dan konservatisme kultural [1].Pernyataan Perlstein tentang Bell sebagai anomali bisa dimengerti jika kita melihat tiga pendirian utama yang dipertahankannya sampai saat ini.

Pada bidang budaya, ia mengaku sebagai seorang konservatif yang sangat menjunjung tinggi tradisi. Budaya dianggapnya sebagai sebuah wilayah yang menyediakan jawaban koheren atas pelbagai kesulitan eksistensial umat manusia. Dalam konteks semacam itu tradisi menjadi sangat penting bagi vitalitas sebuah kebudayaan, sebab ia mengandung pelajaran berharga tentang bagaimana para leluhur sebuah masyarakat sanggup bertahan menghadapi kesulitan eksistensial yang sama.

Di lain pihak, Bell mengaku seorang sosialis dalam ekonomi, dalam pengertian ia meyakini bahwa kepentingan umum harus lebih diutamakan daripada kepentingan individual. Sementara untuk urusan-urusan di bidang politik, secara sadar Bell memilih posisi liberal. Artinya, ia lebih percaya bahwa individu, bukan kelompok, harus menjadi aktor utama dalam politik. Bidang ini, menurut Bell, harus secara tegas membedakan wilayah publik dan privat, sehingga tidak semua urusan dipolitisir seperti di negara-negara komunis, dan tidak pula begitu saja membiarkan segalanya berlangsung tanpa batasan seperti dalam masyarakat kapitalis tradisional yang menganut ideologi laissez-faire[2].

Daniel Bell tentu saja tidak hanya dibaca dan dikagumi di Amerika Serikat, melainkan juga di daratan Eropa. Pada naskah pidatonya yang monumental ketika menerima penghargaan Adorno Prize bulan September 1980 di kota Frankfurt, pemikir besar Eropa sekelas Jürgen Habermas, misalnya, sambil melontarkan kritik yang mendasar terhadap gagasannya tentang munculnya postmodernisme menggantikan modernisme, ia tetap menganggap Daniel Bell sebagai pemikir (neokonservatif) Amerika paling cemerlang.[3]

Menjadi terkenal di seluruh dunia pertama kali terutama melalui karyanya yang mengundang perdebatan sangat luas tentang bangkrutnya ideologi pada dekade awal 1960an, Daniel Bell adalah seorang sosiolog yang tetap produktif bahkan sampai saat ini. Awal tahun 2004 nanti, misalnya, akan terbit karya terbarunya, Information Society, yang kembali menegaskan minatnya pada pergeseran fundamen-fundamen masyarakat kontemporer.

Karangan singkat ini akan mencoba mencapai status sebagai pengantar pada khasanah pemikiran Daniel Bell dari dua jurusan. Pada jurusan yang pertama, Daniel Bell akan dilihat sebagai sosok individual dengan riwayat hidup yang cukup menarik dalam konteks sejarah perkembangan sosial masyarakat tempat hidupnya. Pada jurusan yang kedua, Daniel Bell akan dihadapi bukan sebagai sosok individual melainkan lebih sebagai serangkaian ide-ide dalam beberapa karya paling penting yang pernah ditulisnya. Kalau tesis dalam tradisi klasik sosiologi pengetahuan tentang mustahilnya memisahkan gagasan seseorang dari milieu sosialnya, seperti yang diyakini oleh Mannheim[4], itu masih bisa dipakai sebagai perangkat metodis, maka dua pendekatan tadi bisa dirangkum dalam satu kepentingan: menempatkan curriculum vitae Daniel Bell dalam konteks dinamik sejarah zamannya.

Remaja Miskin Kota New York[5]

Lahir sebagai anak dari pasangan miskin pekerja pabrik garmen di tepi Timur Manhattan, New York, tgl 10 Mei 1919, Daniel Bell adalah sosok yang, berdasarkan pengakuannya sendiri, mungkin memang sudah ditakdirkan untuk menjadi sosiolog. Di masa remaja ia hidup dalam kepapaan ekonomis ketika dunia sedang menyaksikan sebuah era paling mencekam dengan naiknya Hitler. Ia sudah bergelut dengan problem-problem sosial bahkan sejak masih muda belia. Tahun 1932, pada umur 13 tahun, misalnya, ia bergabung dengan Liga Pemuda Sosialis (Young People’s Socilist League), yang secara luas dikenal sebagai Yipsel, divisi pemuda Partai Sosialis. Tentang masa kecilnya itu Bell antara lain menulis:

…Saya tumbuh di kawasan kumuh New York. Sejauh yang saya ingat, ibu bekerja di pabrik garmen; sedangkan ayah sudah wafat ketika saya masih bayi. Di sekeliling saya melihat “Hoovervilles”, gubug-gubug reyot dekat pelabuhan East River tempat para pengangguran hidup dalam rumah-rumah darurat dan mengais-ngais tumpukan sampah mencari makanan. Di malam hari aku pergi bersama sekelompok anak-anak laki-laki lain ke pasar sayur-mayur di West Side, mencuri kentang atau tomat busuk di jalan, lantas dimakan sambil mengelilingi api unggun kecil yang kami buat di jalan dari bekas kotak-kotak kemasan di pasar. Aku hanya ingin tahu mengapa harus seperti itu. Tampaknya memang tidak terelakan bahwa aku akan menjadi seorang sosiolog.”[6]

Seperti banyak tokoh penting dalam sejarah dunia lahir dari latar belakang yang suram, kemiskinan mungkin menjadi salah satu pendorong minatnya pada teori-teori sosial termasuk teori-teori berhaluan kiri. Ia banyak menghabiskan masa remajanya di perpustakaan New York cabang Ottendorfer . Di sana ia melahap karya-karya John Dewey, Albert Hunter, atau karya babon Principles of Sociology tulisan Herbert Spencer. Pada akhir pekan ia biasa pergi ke Sekolah Minggu Sosialis, dan belajar karya Fred Henderson, Case for Socialism, dan karya Algernoon Less, The Essential Marx. Dua kali seminggu, sore hari, ia pergi keRand School of Social Science di kawasan Fifteenth Street untuk mengikuti sebuah kelompok membaca.

Selama kursus itu Bell belajar banyak tentang karya-karya Marx seperti Kapital, atau bahkan tentang Materialisme Dialektis. Di situ ia diajari membedakan antara materialisme sederhana yang hanya melihat peristiwa-peristiwa dalam kerangka sebab-akibat yang simplistis, dengan materialisme dialektis yang melihat sebab-sebab sebuah peristiwa secara lebih mendalam pada konteks sosialnya. Ia mengenang peristiwa itu dalam kalimat-kalimat berikut:

…Dalam kursus itu saya belajar bahwa materialisme biasa melihat kejadian-kejadian dalam terminologi sebab-akibat sederhana, seperti sebuah batu yang jatuh dari langkan dan menimpa kepala seseorang, sementara materialisme dialektis mencari sebab-sebab kejadian itu dalam konteks alamiah dan sosial yang lebih luas, sehingga orang akan mengerti bahwa batu itu jatuh karena telah terjadi erosi tanah, dan erosi terjadi karena eksploitasi tanah. Saya sangat terkesan. Saya berumur tiga belas tahun.”[7]

Lazimnya banyak anak muda miskin waktu itu, Bell terpikat oleh gerakan Komunis. Kemenangan Hitler, dan kehancuran gerakan Sosial Demokrat yang begitu cepat, memberi orang sebuah perasaan bahwa itu merupakan konflik terakhir, dan bahwa setiap orang harus berpihak kepada Komunis. Banyak rekan-rekan Daniel Bell yang memang lantas bergabung dengan Liga Komunis Muda, sedangkan sebagian yang lainnya, yang lebih pintar, menjadi apa yang oleh Bell disebut kaum Trotskyites. Bell sendiri terbelah di antara dua kubu ini. Sambil bekerja mendorong gerobak pakaian melintasi jalan-jalan, ia sering membagi-bagikan leaflet untuk Persatuan Perempuan Pekerja Garmen Internasional (International Ladies garment Workers Union). Waktu senggangnya sering juga dihabiskan untuk bertemu dengan beberapa tokoh pergerakan kiri dan kaum Anarkhis yang berpengaruh di New York waktu itu. Dari mereka Bell makin jauh berkenalan dengan ide-ide terpenting yang banyak menjadi inspirasi beberapa gerakan sosial di Eropa sebelum pecah Perang Dunia II.

Dedikasi untuk Masa Depan Kapitalisme

Sosok Daniel Bell dewasa pada dasarnya hidup dalam dua lingkungan utama: dunia jurnalistik ketika ia menjadi wartawan dan/atau editor untuk beberapa publikasi seperti The New Leader, Common Sense, bahkan majalah terkemuka Fortune; dan dunia akademik tempat ia mendedikasikan seluruh kapasitas intelektualnya untuk mengajar di beberapa perguruan tinggi terkenal mulai dari universitas Chicago, universitas Colombia, sampai universitas Harvard. Tidaklah mengherankan jika dua latarbelakang tersebut terlihat begitu terang pengaruhnya pada hampir semua karya yang dihasilkannya.

Beberapa karyanya yang paling banyak didiskusikan bisa dilihat sebagai sebuah paduan terbaik dari dua bakat terkuatnya: seorang wartawan yang sanggup bergelut dengan beragam isu sosial paling mutakhir, dan seorang akademisi yang terbiasa mengerjakan detail, berdialog dengan khasanah kepustakaan yang demikian luas, dan memproduksi teori. Karena itu pula, gaya bahasanya merupakan kombinasi antara cara deskripsi yang demikian deras mengalir seperti dalam bahasa jurnalisme, tapi sekaligus penuh ambisi teoritis yang justru sering mengakibatkannya terjebak ke dalam obskurantisme yang lazim dialami oleh para ilmuwan sosial dengan minat yang begitu banyak seperti dirinya.

Lepas dari kenangan masa kanak-kanak dan remaja di bawah utopia sosialisme bahkan komunisme, Daniel Bell dewasa adalah sosok yang mendedikasikan sebagian besar karirnya untuk masa depan kapitalisme. Esainya Twelve Modes of Forecastingdalam publikasi jurnal Daedalus awal 1964, menegaskan pergeseran keberpihakan ideologisnya dari sosialisme menjadi pendukung kapitalisme sepenuhnya. Jurnal Daedalus sendiri diterbitkan oleh sebuah lembaga prestisius di Amerika Serikat, yakni The American Academy for Arts and Sciences. Lembaga inilah yang lantas menunjuknya sebagai ketua Commission on the Year 2000, yang antara lain bertugas merancang strategi masa depan Amerika menghadapi pergantian milenium pada abad 21 ini.

Keterlibatannya dalam lembaga yang ditugaskan untuk memprediksikan nasib masa depan masyarakat kapitalis, pengalamannya sebagai wartawan majalah ekonomi kapitalis terkemuka sekelas Fortune, dan keping biografis masa kecilnya di tengah para penganut Anarkhisme dan Komunisme, berikut kekecewaannya pada beberapa gerakan dan dogma Sosialisme, itu membantu kita memahami pretensi-pretensi spesifik dari karya-karya teoritis yang telah dipublikasikannya. Diakui atau tidak, tulisan-tulisan terpentingnya memang merefleksikan sebuah pilihan sikap yang dibentuk oleh pertemuannya dengan sejarah Amerika yang begitu penuh guncangan.

Intensi Teoritis, dan Tiga Fase Pemikiran

Intensi teoritis Daniel Bell terlihat dari bagaimana ia menganalisa realitas sosial masyarakat kontemporer dalam cara yang berbeda dengan perspektif dominan pada zamannya. Secara spesifik, dalam beberapa karya utamanya, ia memang mengalamatkan karyanya sekaligus sebagai sebuah kritik pada Marxisme dan Fungsionalisme. Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa di luar perbedaan mendasar yang paling sering dibahas, dua paradigma besar ini sama-sama melihat masyarakat sebagai sebuah sistem yang utuh (relasi produksi dalam Marxisme, dan nilai dominan dalam fungsionalisme Parsonian), dan dilandasi oleh sebuah prinsip utama yang akan mereproduksi dirinya melalui institusi-institusi dominan.

Sambil melontarkan kritik pada basis-basis asumsi dua paradigma tersebut, dalam dua karya terpentingnya, The Coming of Post-Industrial Society, dan The Cultural Contradictions of Capitalism, secara konsisten Bell mengasumsikan masyarakat kontemporer bukan sebagai sebuah kesatuan yang utuh, melainkan meliputi tiga wilayah yang disjungtif dengan prinsip aksial yang sama sekali berlainan bahkan bertolak belakang satu dengan lainnya. Ketiganya adalah wilayah politik yang dilandasi prinsip aksial berupa persamaan dan legitimasi, wilayah struktur sosial tekno-ekonomik dengan prinsip aksial rasionalitas fungsional, dan wilayah budaya yang berbasis prinsip aksial kebebasan ekspresi dan realisasi diri (self-realization) atau pemuasan diri (self gratification).[8]

Di lain pihak, meskipun masih bisa diperdebatkan, tapi secara garis besar, didasarkan pada pretensi-pretensi dalam karya-karya utamanya, pemikiran Daniel Bell bisa dipilah menjadi tiga periode yang, mungkin sebuah kebetulan, terwakili oleh tiga karyanya yang paling penting. Untuk kepentingan karangan ini, saya akan menyebut fase-fase pemikiran Daniel Bell tersebut masing-masing dengan sebutan “fase ideologis”, “fase optimisme”, dan fase titik balik “pesimisme” terhadap dinamik masyarakat kapitalis.

Fase (Akhir) Ideologis

Fase ideologis berlangsung ketika Daniel Bell mencurahkan pikirannya pada upaya-upaya yang bisa dikaitkan dengan semangat anti-Komunisme di Amerika sejak Perang Dunia Kedua berakhir. Dengan kalimat lain, pada fase ini energi intelektualnya dikerahkan bukan saja untuk menghadapi Marxisme sebagai gagasan intelektual/akademis, melainkan dan terutama sebagai sebuah ideologi politik vis à vis liberalisme. Sebagai bagian dari kelompok liberal Amerika yang terkemuka pada dekade 1950an, Daniel Bell dipengaruhi oleh identifikasi kelompok tersebut dengan semangat New Deal dan penerimaannya atas politik anti-Komunis dalam tahun-tahun perang dingin. Bersama-sama Richard Hofstadter, dan Seymour Martin Lipset, untuk menyebut contoh termudah, ia menjadi kontributor The New American Right yang mencoba mempromosikan argumen-argumen rasional tentang pertumbuhan negara sekular modern.[9]

Salah satu ciri pemikiran kelompok ini adalah penolakan mereka pada protes-protes berbasis massa yang dianggapnya irasional, dan mendorong mereka untuk makin percaya pada kelompok-kelompok kepentingan politik, pada birokrasi-birokrasi publik dan privat, dan pada elit berpendidikan yang mengatur keduanya. Pada institusi-institusi inilah mereka berharap masyarakat Amerika bisa menemukan perlindungan dari bahaya gerakan massa. [10] Tonggak periode ini adalah karyanya yang sekarang sudah menjadi klasik, yakni sebuah kumpulan esai yang diberi tajuk, The End of IdeologyOn the Exhaustion of Political Ideas in the Fifties, yang terbit pertama kali tahun 1960.[11]

Terlepas dari kekuatan argumen-argumen yang dibangun dalam The End of Ideology, satu kepentingan ideologis tetap tersembunyi di baliknya: bahwa sosialisme dan komunisme sudah tidak lagi relevan dibandingkan dengan liberalisme. Hal ini tergambar jelas dari usahanya untuk meyakinkan bagaimana tesa-tesa Marxian terbukti tidak akurat menjelaskan perkembangan mutakhir dalam masyarakat kontemporer. Dari telaahnya atas kegagalan sosialisme di Amerika Serikat sampai deskripsinya yang sangat hidup tentang beban psikologis yang diderita rata-rata kaum pekerja Amerika, Bell percaya bahwa masa bagi solusi-solusi ideologis telah berakhir.

Bell menerangkan masyarakat Amerika Serikat dengan mencoba ke luar dari kerangka pemikiran yang biasa dipakai untuk menjelaskan masyarakat Eropa. Menurutnya, realitas Amerika menjadi kabur karena upaya-upaya untuk memahaminya dilakukan atas dasar-dasar pemahaman ilmuwan sosial tentang masyarakat lama di Eropa. Perbedaan prinsipil antara masyarakat lama Eropa dengan masyarakat baru Amerika di mata Daniel Bell terletak pada sikap masing-masing masyarakat yang sangat berbeda terhadap perubahan sosial. Amerika Serikat mungkin bisa dianggap merupakan masyarakat pertama yang secara “built-in” memiliki prinsip perubahan sosial yang berjalan konstan, sementara pada masyarakat lama Eropa perubahan dianggap sebagai sesuatu yang bersifat eksternal dan koersif yang terjadi pada insititusi-institusi yang diasumsikan permanen. Dalam kerangka itu pula Bell secara tegas menolak model-model penjelasan Marxisme yang sepenuhnya didasarkan pada analisa tentang masyarakat lama di Eropa.

Argumen Bell tentang bangkrutnya ideologi ditopang oleh fakta bahwa, paling tidak sejak akhir dekade 1950an, berbeda dari dekade-dekade sebelumnya, masyarakat AS ditandai oleh runtuhnya harapan atau disilusi pada gerakan massa yang terjadi pada dekade awal abad 20, yakni pada revolusi Bolshevik dengan utopia masyarakat sosialis tanpa kelas yang diproyeksikan oleh Marxisme. Makin turunnya jumlah anggota serikat pekerja, meningkatnya otomasi pekerjaan, dan munculnya komunikasi massa elektronik, mendorong berlangsugnya fragmentasi sosial yang terus, diversifikasi dan konlik-konflik baru.

Apa yang bisa disebut “kaum progresif” perkotaan, yang pernah mendorong beberapa perubahan di AS, itu telah lenyap, dan mengakibatkan jalan ke luar melalui garis politik tradisional jadi tidak realistik. Marxisme-Leninisme yang menjadi tumpuan ideologi telah mengalami kemunduran. Karena konflik kelas dan problema sistemik yang lebih luas telah berhasil dipecahkan, analisa-analisa sosial yang didasarkan pada relasi kelas sosial tidak lagi memiliki landasan objektif. Secara keseluruhan, Bell melihat bahwa pada masyarakat kontemporer orang terbukti semakin enggan menerima seruan utopis a la Komunisme.

Tesis tentang berakhirnya ideologi juga perlu dilihat dalam konteks dinamik perkembangan kapitalisme yang terus bergerak meninggalkan pola dan prinsip-prinsip kapitalisme klasik. Kalau Marxisme bisa menjelaskan secara cukup memuaskan potensi-potensi struktural bagi kehancuran kapitalisme klasik yang dominan sampai awal abad 20, terdapat kesangsian tentang apakah penjelasan yang sama masih bisa dipakai untuk konteks kapitalisme paska Perang Dunia kedua yang sukses memutasikan dirinya menjadi sebuah sistem yang responsif terhadap perubahan masyarakat. Sebagian ilmuwan sosial di Amerika cenderung memperlakukan keberhasilan tersebut menjadi sesuatu yang hampir menjadi mitos baru. Mitos bahwa konsep semacam negara kesejahteraan (welfare state), misalnya, dikembangkan dengan mengakomodasi gagasan sosialisme ke dalam sistem pemerintahan negara-negara industri kapitalis.

Potensi konflik kelas yang muncul dari ketidaksimetrisan relasi produksi dalam industri kapitalis direduksi dengan bukan saja mengundang campur tangan negara dalam kehidupan ekonomi, melainkan terutama melalui perbaikan tingkat penghasilan kaum buruh sehingga kesejahteraan secara relatif lebih merata. Kaum buruh, dengan demikian, nyaris tidak menemukan alasan ekonomis untuk beramai-ramai memberontak atas ketidakadilan struktural yang menimpanya, karena kapitalisme berhasil mengaburkan penderitaan mereka dengan iming-iming pelbagi perbaikan standar kesejahteraan hidup. Penting dicatat di sini bahwa itu semua tidak berarti ketidakadilan struktural dan eksploitasi buruh telah lenyap dalam kapitalisme mutakhir, melainkan bahwa kapitalisme berhasil melakukan surogat atas kesadaran kaum pekerja dengan mengaburkan ketidakadilan tersebut.

Fase Optimis Post-Industrialisme

Periode kedua adalah masa ketika ia begitu optimis melihat arah perkembangan masa depan kapitalisme di negeri-negeri Barat, atau paling tidak di Amerika Serikat. Melanjutkan serangannya terhadap Marxisme, pada fase ini Daniel Bell sampai pada konklusi bahwa problem konflik kelas dalam masyarakat kapitalis sudah berakhir sepenuhnya. Fase ini ditandai oleh terbitnya buku The Comming of Post-Industrial Society, A Venture in Social Forecasting, yang terbit pertama kali tahun 1973.[12]

Porkas optimistik Daniel Bell tentang datangnya sebuah bentuk masyarakat baru, masyarakat paska industrial, itu ditekankan pada pergeseran dimensi-dimensi ekonomi dan struktur sosial masyarakat kapitalis mutakhir. Pada masyarakat baru ini Bell melihat bahwa yang dominan dalam sistem produksi adalah ilmu pengetahuan dan teknologi. Fokus utamanya adalah sentralitas pengetahuan teoritis di atas apa teknologi, pertumbuhan ekonomi, dan stratifikasi masyarakat dibentuk. Bentuk ekonomi telah bergeser dari ekonomi yang berbasis pada barang menjadi ekonomi jasa. Aktor utamanya adalah insinyur dan ekonom, dan satu prinsip yang menyatukan keduanya yakni efisiensi. Merujuk pada Castells,[13] secara garis besar, tesis dan prediksi teori postindustrialisme bisa dirangkum sebagai berikut:

  1. Sumber produktivitas dan pertumbuhan terletak pada upaya-upaya untuk menghasilkan ilmu pengetahuan, yang diperluas ke dalam wilayah-wilayah aktivitas ekonomi melalui pemrosesan informasi.
  2. Aktivitas ekonomi akan bergeser dari produksi barang-barang menjadi pelayanan jasa. Merosotnya lapangan pekerjaan di lapangan pertanian akan diikuti oleh menurunnya pekerjaan-pekerjaan manufaktur, sehingga menguntungkan pekerjaan-pekerjaan layanan jasa yang pada akhirnya akan membentuk proporsi lapangan kerja yang sangat besar. Semakin berkembang sebuah ekonomi, semakin lapangan pekerjaan dan produksinya difokuskan pada layanan jasa.
  3. Ekonomi baru akan meningkatkan arti penting pekerjaan-pekerjaan yang aktivitasnya lebih banyak berisi muatan informasi dan pengetahuan. Pekerjaan-pekerjaan manajerial, profesional, dan teknis akan tumbuh lebih pesar daripada posisi pekerjaan lain dan akan membentuk inti struktur sosial baru.

Ditempatkan pada konteks riwayat perkembangan pemikiran Daniel Bell, karya ini jelas merupakan produk dari upaya panjangnya meletakkan dasar-dasar teoritis bagi perkembangan masa depan kapitalisme, yang telah ia rintis sejak secara formal diangkat menjadi ketua Komisi untuk Tahun 2000. Karya ini juga bisa dilihat sebagai sebuah lintasan sinambung keyakinannya tentang telah habisnya potensi ideologi untuk menyihir dan menyergap kesadaran orang banyak sehingga, paling tidak sampai saat itu, Daniel Bell secara sangat optimistik percaya bahwa potensi struktural kehancuran sistem ekonomi kapitalisme juga secara selamat sentausa bisa dilampaui. Konsekwensinya, paling tidak menurut Daniel Bell, ketegangan dalam masyarakat kontemporer berlangsung bukan antara kapitalisme dan sosialisme (yang telah mati atau telah diinkorporasikan ke dalam mekanisme indusri kapitalis), melainkan antara apa yang ia sebut dengan istilah economizing dan socializing.

Economizing lebih kurang bisa dipahami sebagai sebuah moda pemikiran yang menghasilkan mekanisme tentang alokasi-alokasi rasional yang bisa membuka peluang terbaik untuk meningkatkan produksi. Di lain pihak, socializing bisa dilihat sebagai politik penetapan pertimbangan nilai dan kriteria sosial yang lebih luas ke dalam setiap perhitungan rasional tentang bukan hanya produksi ekonomis melainkan kehidupan masyarakat secara lebih luas.[14]

Dalam pengantar untuk edisi cetakan tahun 1999, Daniel Bell mempertegas konsepnya dengan menjelaskan bahwa post-industrial society menunjuk pada bentuk-bentuk masyarakat kita saat ini, dalam apa orang bekerja pada bidang-bidang yang sama sekali tidak berhubungan dengan menumbuhkan makanan atau membuat barang-barang. Dalam kerja sehari-hari saat ini, manusia tidak lagi berhadapan dengan alam, melainkan sesama manusia. Masyarakat post-industrial, dengan demikian, adalah sebuah permainan antar orang. Terminologi realitas sekarang hanya mengacu terutama pada dunia sosial, bukan alam atau benda, hanya manusia yang mengalaminya melalui kesadaran imbal-balik antara dirinya dan orang lain.[15]

Fase Pesimisme

Kalau paduan antara perkembangan politik, dan struktur sosial tekno-eknomik telah mengakibatkan ideologi sosialisme, dan ketimpangan relasi produksi ekonomi tidak lagi bisa dianggap sebagai ancaman struktural yang bisa menyebabkan krisis dan kejatuhan kapitalisme mutakhir, Daniel Bell melihat wilayah budayalah yang menjadi satu-satunya ancaman serius bagi kelas sosial penopang utama kapitalisme yakni kelas borjuis. Inilah titik balik sikapnya dari optimisme yang begitu besar ketika ia melontarkan gagasan tentang masyarakat post-industrial, menjadi cenderung pesimistik ketika ia menghadapi perkembangan di wilayah kultural. Tonggak titik balik ini adalah publikasi karyanya yang paling banyak dibaca, The Cultural Contradictions of Capitalism, yang terbit pertama kali tahun 1976.[16]

Dalam karyanya ini, Bell secara sangat cerdas memperlihatkan bagaimana benturan prinsip-prinsip aksial dari dua wilayah yang berbeda, dan bukan pertentangan kelas sosial, mendorong munculnya krisis peradaban dalam masyarakat Barat kontemporer. Kalau ketegangan kelas sosial masyarakat kapitalis (klasik) bisa dianggap sebagai bentuk kontradiksi sosial, pertentangan antara prinsip-prinsip aksial wilayah-wilayah kehidupan masyarakat kontemporer disebut Bell dengan ungkapan kontradiksi-kontradiksi kultural kapitalisme (mutakhir). Ketegangan berlangsung dalam dua bentuk. Pertama, antara wilayah politik yang secara formal percaya pada persamaan dan partisipasi, dan wilayah struktur sosial tekno-ekonomik yang cenderung bersifat hierarkis-birokratis. Dalam ketegangan itulah, filsafat liberalisme yang menjadi sumber legitimasi kapitalisme dan politik demokrasi liberal memperlihatkan paradoksnya.

Bentuk ketegangan berikutnya, dan ini yang menjadi pusat perhatian Daniel Bell dalam The Cultural Contradicitions of Capitalism, adalah kontradiksi antara struktur sosial tekno-ekonomik dengan wilayah budaya. Kalau tatanan tekno-ekonomik dibangun di atas dasar kepercayaan pada perhitungan-perhitungan rasional, budaya Barat modern menurut Bell justru ditopang oleh logika-logika anti-rasio. Secara singkat bisa dikatakan bahwa kalau fundamen ekonomi kapitalisme adalah Puritanisme dan asketisme, di wilayah budaya fundamennya adalah hedonisme dan anti-nomianisme. Bagi Daniel Bell, yang mencirikan masyarakat Barat kontemporer bukan lagi problem struktural kontradiksi kelas sosial, melainkan kontradiksi antara fundamentalisme kapitalisme dan tumbuhnya radikalisme kultural yang menganggu kemapanan tatanan sosial ciptaan kelas borjuis kapitalis itu. Ketegangan inilah yang dipercaya Bell membungkus bentuk-bentuk konflik laten dalam masyarakat modern yang secara umum biasa dipahami dalam terma-terma ideologis sebagai problem alienasi, depersonalisasi, atau ancaman terhadap otoritas.

Pusat perhatian Bell kali ini adalah munculnya gerakan-gerakan kultural radikal yang lebih dikenal sebagai modernisme, dan berlanjut dengan gerakan postmodernisme sejak dekade 1960an. Penting dicatat bahwa, meskipun dalam beberapa hal memiliki relasi yang cukup kuat tapi, modernisme dan postmodernisme dalam konteks ini bukanlah sebuah sistem filsafat melainkan sebuah paradigma gerakan kebudayaan. Pada level sosial, Bell melihat tujuan modernisme adalah untuk epater le bourgeoise, mengejutkan, mengguncang kaum borjuis. Postmodernisme mengusung semangat ini ke tingkat yang jauh lebih radikal, ketika batas antara seni dan kehidupan sudah dihapuskan sepenuhnya. Meskipun pada awalnya ia hanya merupakan bentuk gerakan yang menolak kemapanan selera estetik kelas borjuis yang dangkal, tapi konsekwensi yang dihasilkannya terus melebar ke ranah-ranah kehidupan yang lain. Secara termatik, modernisme bahkan bisa dipahami sebagai satu bentuk kegusaran terhadap seluruh tatanan rasional yang merupakan puncak pencapaian masyarakat borjuis.

Tesis Bell ini juga menggaris bawahi kekeliruan asumsi tentang hegemoni kultural dalam terminologi Gramscian. Kalau teori Gramscian tentang hegemoni kebudayaan menunjuk budaya hegemonik merupakan budaya kelas dominan, realitas masyarakat Amerika justru memperlihatkan hal yang bertolak belakang sama sekali. Budaya dominan di Amerika bukanlah budaya kelas yang berkuasa atau borjuis, melainkan justru satu bentuk budaya yang justru menjadi musuhnya, yakni modernisme dan postmodernisme.[17]

Secara historis, modernisme dan kapitalisme pada dasarnya adalah dua kekuatan yang bergerak dalam derap yang sama dalam memajukan peradaban Barat modern. Keduanya dihidupkan oleh individu-individu yang tegar dan bebas. Benturan terjadi ketika prinsip-prinsip aksial dalam kerja ekonomi kapitalis dalam perkembangannya menghasilkan seperangkat norma dan nilai yang tidak kompatibel dengan hasrat kebebasan tanpa batas di wilayah kerja-kerja kultural. Sikap-sikap khas kaum borjuis tentang kalkulasi dan kekangan metodis, itu berbenturan secara tajam dengan pencarian-pencarian implusif atas sensasi dan kepuasan yang menjadi khas dalam gerakan-gerakan seni mulai dari Romantisisme, terus merasuk ke dalam modernisme, dan postmodernisme. Radikal dalam ekonomi, kaum borjuis menjadi sangat konservatif dalam selera budayanya. Kekakuan memegang etika menghasilkan selera estetika yang juga kaku dan dangkal. Sebaliknya, radikal dalam ekspresi-ekspresi simbolik, para seniman modernis kemudian tumbuh dalam kebencian yang sangat besar pada kehidupan dan selera kaum borjuis.

Kajian Daniel Bell tentang dinamik masyarakat kapitalisme mutakhir ini menjadi menarik karena ia secara cukup meyakinkan bisa menunjukkan bagaimana budaya tampil mengambil alih politik dalam mendorong pelbagai perubahan sosial. Tentang bagaimana kontradiksi-kontradiksi kultural itu berlangsung pada level yang sangat kompleks, sehingga intensi teoritisnya untuk menolak tesis-tesis Fungsionalisme dan Marxisme tentang masyarakat sebagai sebuah sistem yang utuh, itu mampu dikerjakannya dengan baik. Analisanya tentang kontradiksi yang muncul di dalam wilayah stuktur sosial tekno-eknomik, misalnya, memperlihatkan bagaimana impulsa-impulsa dari wilayah budaya mendorong lahirnya beberapa perubahan radikal dalam cara bagaimana pengusaha-pengusaha kapitalis borjuis, sambil tetap memelihara kebenciannya pada para seniman modernis, secara besar-besaran memproduksi barang dan jasa yang justru ditujukan untuk memenuhi hasrat akan kepuasan serentak, dan gaya hidup hedonis yang dibencinya itu.

Cukup mengherankan bagaimana orang yang semula melihat Amerika Serikat sebagai masyarakat pertama yang secara “bulit-in” menganut prinsip perubahan sebagai keniscayaan, itu tiba-tiba berubah menjadi cenderung menolak perubahan. Ungkapan terkenal “straight by day swinger by night”, dipakai Bell bukan saja untuk menggambarkan inkonsistensi sikap para pengusaha borjuis terhadap desakan perubahan dari wilayah budaya, melainkan juga dipakainya untuk menggambarkan sesuatu yang lebih serius: terancamnya etos Puritanisme dan asketisme oleh hedonisme.[18] Persis inilah pangkal kekecewaan sekaligus pesimisme Daniel Bell atas prospek masa depan masyarakat kapitalis. Ketika sosialisme, paling tidak di mata Bell sendiri, semakin kehilangan relevansi, masyarakat kapitalis mutakhir menghadapi ancaman baru yang tidak kalah serius dibandingkan konflik kelas, karena yang diguncang justru fundamen konstitutif terpenting peradaban borjuis modern. Sikap dan posisi teoritis yang sama tetap ia pertahankan ketika ia menghadapi fenomen postmodernisme, yang dianggapnya sebagai salah satu puncak serangan terhadap keunggulan rasionalitas Barat.

Tapi dari sisi yang berbeda, dan ini yang sama sekali tidak pernah disadari oleh Daniel Bell, kenyataan seperti itu juga bisa dilihat sebagai bukti lain tentang bagaimana kapitalisme bisa melakukan apa saja untuk mempertahankan stabilitasnya. Untuk alasan yang sama, para kapitalis fundamentalis bukan hanya bisa memproduksi produk-produk untuk kesenangan hedonistis, melainkan bahkan mengobarkan peperangan, dan membunuh ribuan manusia di seluruh dunia sambil tetap berdalih mempromosikan demokrasi dan hak asasi manusia.

Salah satu kelemahan mendasar pemikiran Daniel Bell adalah karena ia cenderung tidak pernah menempatkan riwayat keberhasilan Amerika Serikat dalam konteks historis dunia yang lebih luas. Penekanannya pada keunikan masyarakat AS, itu telah mengakibatkan ia tidak memperhitungkan ongkos-ongkos kemiskinan yang harus ditanggung oleh masyarakat-masyarakat di belahan dunia yang lain. Maka meskipun ia memiliki pengetahuan yang luas tentang bentuk-bentuk ekspresi simbolik di hampir seluruh benua di dunia, tapi ia tidak cukup memiliki kepedulian pada keperihan eksistensial yang diderita oleh bangsa-bangsa di luar Amerika.

Di mata Daniel Bell, keberhasilan AS seolah sepenuhnya bersumber dari keunikan sejarahnya sendiri, tanpa pernah dilihat sebagai salah satu puncak dari, meminjam ungkapan Peter L. Berger, piramida kurban manusia[19] di seluruh dunia yang menyangganya terus-menerus. Karena itu pula setiap gagasan yang memiliki potensi menggugat ke dalam, seperti postmodernisme, itu senantiasa dihadapinya dengan penuh kecemasan, seperti para konservatif politik AS sekarang begitu cemas menghadapi isu terorisme. Ratapannya tentang deklinasi peradaban Barat modern akibat desakan budaya modernisme dan postmodernisme, dengan demikian, benar-benar merupakan cermin dari keterikatannya yang begitu kuat pada nostalgia kaum borjuis, sebuah kelas sosial yang sebenarnya tidak selalu disukainya.

Jakarta, 6 April 2003

References and Footnotes

  1. Rick Perlstein, "The Prophet Motive, Daniel Bell's Take on Capitalism 20 Years Later", MSN Network, 26 November 1996, http://slate.msn.com/id/3123/
  2. Daniel Bell, “Modernism and Capitalism” dalam E. Kurzweil dan W. Philips (eds), Writers and Politics, London, 1983. Keterangan yang sama ditulisnya kembali dalam kata pengantar untuk bukunya, The Cultural Contradictions of Capitalism, (New York: Basic Books, 1976), hlm., xv-xviii.
  3. Periksa pidatonya Habermas yang kemudian dimuat sebagai esay dengan judul "Modernity--An Incomplete Project", dalam Hal Foster (ed), Postmodern Culture, Pluto Press, London and Sydney, 1985, hlm., 6.
  4. Periksa Karl Mannheim, Ideology and Utopia, An Introduction to the Sociology of Knowledge, A Harvest Books, New York, 1964.
  5. Bagian ini didasarkan pada nukilan dari karya Daniel Bell, First Love and Early Sorrows yang dimuat pada situs http://www.pbs.org/arguing/nyintellectuals_bell_2.html, dan buku The Study of the Future, yang ditulis oleh Edward Cornish dengan anggota dan staf The World Future Society, diterbitkan oleh World Future Society, Washington D.C., 1977, hlm. 163-67.
  6. Lihat cuplikan karya Daniel Bell, First Love and Early Sorrows, pada http://www.pbs.org/arguing/nyintellectuals_bell_2.html.
  7. Lihat dalam ibid.
  8. Daniel Bell, The Cultural Contradictions of Capitalism (New York: Basic Books, cetakan kedua, 1978, hlm.,10-13 ). Untuk ulasan tentang posisi teoritis pemikiran Daniel Bell, lihat, misalnya, Barry Smart, “Modernitty, Postmodernity, and the Present”, Juga lihat esai Bryan S. Turner, “Periodization and Politics in Postmodernism”, keduanya dalam Bryan S. Turner (ed), Theories of Modernity and Postmodernity (London: Sage, 1990).
  9. Lihat Athan Theoharis, “The Politics of Scholarship: Liberals, Anti-Communism, and McCarthyism”, http://www.english.upenn.edu/~afilreis/50s/theoharis.html.
  10. ibid.
  11. Periksa Daniel Bell, The End of Ideology, On the Exhaustion of Political Ideas in the Fifties (New York: Free Press, 1960).
  12. Daniel Bell, The Comming of Post-Industrial Society, A Venture of Social Forecasting (New York: Penguin Books, 1973).
  13. Manuel Castels, The Information Age: Economy, Society and Culture, Volume I, The Rise of the Network Society (Massachusetts: Blackwell, cetakan ke-9, 1999, hlm., 203-4).
  14. Daniel Bell, Op.cit., 1973, hlm., 42-43,
  15. Lihat Michael Lind, “Why Daniel Bell Keeps Getting It Right”, Los Angeles Times, 15 Agustus 1999. Artikel ini dimuat kembali pada situs New America Foundation,http://www.newamerica.net/index.cfm?pg=article&pubID=346.
  16. Daniel Bell, Op..Cit., 1978.
  17. Daniel Bell, Op.cit., 1978, hlm., xxiii.
  18. Istilah ini diplesetkan oleh Featherstone menjadi “Puritan by day playboy by night”. Lihat Mike Featherstone, Consumer Culture & Postmodernism, (London: Sage, 1991, hlm., 21)
  19. Lihat Peter L. Berger, Piramida Kurban Manusia, terjemahan A. Rahman Tolleng, (Jakarta: LP3ES, 1982).
Pendiri, Peneliti Senior The Interseksi Foundation, Jakarta