Digital, Ruang, Rupa, dan Kuasa: Cerita-cerita Ringan tentang Kamera

Mereka yang terlampau antusias cenderung hanya tertarik pada aspek-aspek yang paling bombastis dari perkembangan teknologi digital, dan dari sana berkembang sejumlah mitos yang sebagiannya bermula dari riuh rendah pemasaran (marketing hype) belaka: bahwa internet telah membuka ruang bagi demokratisasi pengetahuan karena informasi semakin mudah diakses dan setiap orang bisa menjadi penerbit gagasannya sendiri, seolah informasi saja cukup untuk membangun pengetahuan, dan kalau sudah bisa menerbitkannya sendiri gagasan itu otomatis akan dibaca dan dianggap penting oleh khalayak luas; ekonomi digital akan mengahapuskan kesenjangan, seolah-olah dunia digital tidak pernah memproduksi hierarki sosial dan ekonomisnya sendiri; buku-buku digital dalam iPad atau Kindle akan menyelematkan jutaan hektar hutan tropis, seolah-olah hutan di dunia akan habis hanya dipakai untuk mencetak buku, dan dengan menghilangkan keharusan mencetak buku pada kertas selamatlah hutan-hutan itu, dst. Ketika keajaiban semakin sering diambil oleh sain dan teknik, sebagian dari kita memang memiliki kecenderungan malang untuk melihat teknologi dari kacamata mesianisme seperti itu.

Kata “digital” mungkin lebih tepat diperlakukan sebagai sebuah metonim untuk banyak hal yang berasosiasi kepadanya. Dengan cara itu perbincangan tentang budaya digital tidak hanya terbatas pada hal-hal yang langsung berhubungan dengan perkembangan teknologi digital, secara lebih spesifik teknologi komputer–yang sering diasumsikan sebagai cikalbakal lahirnya budaya digital itu. Bahwa budaya digital tidak bisa dipisahkan dari perbincangan tentang semakin besarnya peran mesin-mesin dalam banyak kehidupan manusia, ini menunjukkan bahwa ia bukanlah sesuatu yang secara radikal sama sekali baru dibandingkan dengan yang sudah ada sebelumnya. Kalau kita mengikuti Gilles Deleuze (1977: 126-7), mesin selalu bersifat sosial sebelum ia bersifat teknis. Selalu ada mesin sosial yang memilih atau memberikan tugas kepada elemen-elemen teknis yang digunakan. Maka teknologi digital adalah produk dari budaya digital dan bukan sebaliknya.

Studi Charlie Gere memperlihatkan bahwa kata digital merujuk bukan hanya pada efek-efek dan kemungkinan-kemungkinan dari sebuah teknologi tertentu. Teknologi hanya salah satu elemen yang mendorong perkembangan budaya digital. Elemen-elemen lainnya meliputi bermacam-macam diskursus tentang informasi, praktek-praktek seni avant-garde, utopianisme budaya tanding, teori dan filsafat kritis, bahkan formasi-formasi subkultur seperti Punk. Semuanya sama-sama merupakan produk dari abstraksi paradigma, kodefikasi, pengaturan-diri, virtualisasi dan pemrograman (programming) seperti halnya komputer. Budaya digital dihasilkan dari interaksi yang rumit dan perkawinan dialektis antar elemen-elemen tersebut. Gere bahkan berargumen bahwa sejauh bahasa, tertulis atau lisan, adalah digital dalam arti ia berurusan dengan elemen-elemen diskret (discrete), maka hampir semua kebudayaan manusia pada dasarnya bisa disebut digital (Gere, 2008: 17-18).

Saya tidak berpretensi mendiskusikan perkembangan budaya digital secara mendetail. Tulisan ini akan dibatasi pada beberapa cerita kecil tentang masyarakat yang menjadi bagian dari atau menghidupkan budaya digital yang berkembang di seluruh dunia dan, dalam konteks spesifik, masyarakat Indonesia saat ini. Argumen utamanya kurang lebih adalah bahwa teknologi digital bukan hanya beroperasi di dalam ruang melainkan juga menciptakan ruangnya sendiri, sehingga ia bisa pula dilihat sebagai sebentuk kekuatan kreatif yang menetapkan jenis kuasa dan kontrol sosial baru. Konkretnya, saya hanya ingin bercerita tentang kamera sebagai salah satu artefak kultur digital, dan beberapa diskusi tentang makna dan konsekwensi sosialnya bagi masyarakat penggunanya yang paling kontemporer.

Setting: Camera Obscura

Pada mulanya adalah cahaya. Selebihnya, seperti kata orang, adalah sejarah. Konon sejak lebih dari dua ribu tahun lalu telah diketahui bahwa kalau seberkas cahaya melintas melewati sebuah lubang kecil ke dalam sebuah ruang tertutup dan gelap, sebuah gambar terbalik akan muncul pada dinding di belakang lubang kecil tadi. Itulah apa yang dalam bahasa Latin disebut camera obscura (kamar gelap). Banyak pemikir besar sekelas Aristoteles, Roger Bacon sampai Kepler yang kemudian berspekulasi tentang kemungkinan menganalogikan fenomen seperti itu dengan cara berfungsinya penglihatan manusia terhadap objek-objek fisik di lingkungannya. Sebuah distingsi kemudian ditarik antara fakta bahwa sebuah gambar atau citraan bisa diproduksi dengan cara seperti itu, dan camera obscura sebagai sebuah artefak yang dibentuk secara historis (Crary, 1992). Lebih dari itu, Marx bahkan menggunakan camera obscura sebagai sebuah metafor untuk menjelaskan mekanisme kerja ideologi memanipulasi realitas, sehingga yang sampai kepada kita pada dasarnya adalah sebuah gambaran realitas yang semu (Marx, 1998:42).

Sebutan “kamar gelap” di Indonesia umumnya dipakai untuk menunjuk pada sebuah ruang yang tertutup rapat dari sinar matahari yang digunakan untuk memproses gambar tangkapan kamera menjadi foto yang tercetak di atas kertas. Dengan demikian ada distingsi antara kamera sebagai alat untuk menangkap gambar dengan “kamar gelap” sebagai ruang dalam apa gambar-gambar hasil tangkapan tersebut diolah menjadi sebuah foto. Proses yang menghasilkan film negatif dan cetak foto di atas kertas biasa disebut “cuci-cetak” foto.

Paling tidak sampai dekade 1980an, di beberapa tempat di Indonesia orang lebih banyak menggunakan kata “tustel”, yang diambil dari kata “fototustel”, untuk menyebut kamera. Sebutan “kodak” juga sangat umum dipakai untuk menunjuk kamera foto, mungkin karena kamera dan gulungan film merek “Kodak” sangat populer waktu itu, sedemikian rupa populernya sehingga sebutan tersebut tetap masih sering digunakan bahkan ketika kamera dan gulungan-film merek lain sudah jauh lebih populer pemakaiannya daripada merek “Kodak”. Generasi yang sudah membaca koran pada era 1970an dan 1980an kemungkinan masih mengingat sosok “Mat Kodak”, yang mulai dipopulerkan oleh fotografer sekaligus wartawan Ed Zoelverdi di harian Sinar Harapan tgl. 13 Oktober 1973. Kata “kodak” sebagai penyebut untuk kamera foto sama dengan “Honda” yang dipakai untuk speda motor atau “Sanyo” untuk mesin pompa air. Sebagian masyarakat berbahasa Inggris juga menggunakan ungkapan “xeroxing” untuk fotokopi dokumen (yang belakangan secara serius dicoba dihindari oleh perusahaan Xerox sendiri), atau “googling” untuk melakukan pencarian di internet. Bedanya, pada bahasa Indonesia yang terjadi adalah sebuah merek produk menjadi kata benda, sedangkan dalam bahasa Inggris ia menjadi sebuah kata kerja. Apakah ini memperlihatkan penekanan yang berbeda dalam cara masing-masing masyarakat penutur bahasa memperlakukan teknologi, saya tidak ingin membahasnya di sini.

Di desa-desa, tukang foto keliling yang biasa membawa-bawa tustel keluar masuk kampung dulu sering disebut wartawan. Sebaliknya, sebutan “wartawan” dulu juga sering dipahami sebagai pekerjaan jurufoto, mungkin karena sebagian pekerjaan wartawan memang meliputi aktivitas merekam gambar dengan kamera foto. Pemahaman asosiatif semacam ini masih juga saya jumpai sampai saat ini, ketika dekade pertama abad ke-21 sudah akan habis, pada beberapa bagian masyarakat di Jakarta. Karena sering terlihat membawa kamera dan senang memotret beberapa kejadian biasa di kampung tempat saya tinggal seperti perayaan 17 Agustus, pemungutan suara dalam Pemilu, pentas dangdut pada kenduri perkawinan, dll., sebagian tetangga mengira saya seorang wartawan atau bahkan, yang lebih aneh, seorang arsitek. Entah bagaimana mereka menarik relasi antara aktivitas memotret dengan pekerjaan menggambar rancangan bangunan. Roland Barthes mengajak kita memahami secara kritis ideologi borjuis yang ada di balik foto, dan sebuah kamera dalam sebuah lingkungan sosial tertentu ternyata juga bisa membentuk relasi dengan pemiliknya sedemikian rupa dan mendefinisikan identitas personalnya di mata orang-orang di sekelilingnya. Tapi itu sekaligus menunjukkan bahwa meskipun adopsi teknologi kamera sudah sangat luas dalam masyarakat kita sekarang, penggunaan kamera dan relasinya dengan dunia pekerjaan seseorang cenderung masih menyisakan (sedikit) misteri.

Ungkapan lain untuk aktivitas memotret yang sering dipakai masyarakat Indonesia adalah mengabadikan. Yang diabadikan tentu saja bukan objek atau momennya melainkan kenangan orang tentang keduanya. Fotografi, kalau kita merujuk Barthes, memang telah memperkenalkan waktu sebagai pasangan sebuah peritiwa tunggal dan tidak bisa diulang. Ada kesadaran bahwa kamera bisa menjadikan sebuah momen lebih sanggup bertahan dalam waktu. Momen-momen personal atau keluarga dan pemandangan alam boleh jadi adalah favorit sebagian besar orang Indonesia untuk diabadikan melalui foto. Selain dipajang di dinding rumah, hasil foto-foto tersebut disimpan dalam album-album foto yang pada kebanyakan rumah tangga di Indonesia sering diletakkan di bawah meja di ruang tamu.

Dugaan saya, paling tidak sampai dekade 1980an berakhir, hampir tidak ada, untuk tidak menyebut tidak ada sama sekali, orang Indonesia yang senang memotret tubuhnya sendiri dalam pose telanjang dengan kamera miliknya sendiri yang terpapar ke hadapan publik. Ini tentu saja di luar foto-foto kalendar atau gambar-gambar vulgar lain yang diproduksi secara komersial. Tapi salah seorang teman saya pernah bercerita bahwa ketika ia sedang berada di dalam sebuah kawasan hutan cagar alam di Sulawesi Tengah, ia meminjamkan sebuah kamera digital kepada salah seorang warga di sana. Dengan kamera pinjaman tersebut, selain memotret hal-hal biasa, ia juga memotret penisnya sendiri, dan tertawa ketika melihat preview hasilnya. Karena letak lokasinya yang relatif terisolir di dalam hutan, dengan frekwensi interaksi dengan masyarakat di luar kawasan relatif sangat rendah, bisa diduga bahwa orang ini belum banyak terpapar dengan apa yang di wilayah-wilayah urban disebut pornografi. Tapi mengapa ia memotret alat kelaminnya sendiri? Pasti akan banyak kemungkinan jawaban, tapi saya hanya ingin mengajukan sebuah spekulasi bahwa dari cerita tersebut boleh jadi cukup aman untuk mengatakan bahwa pada mulanya tidak pernah ada yang porno sebagai sebuah kategori. Represi peradabanlah yang memproduksinya.

Bahasa sehari-hari untuk berpose di depan kamera adalah “mejeng”, yang artinya memamerkan diri. Tapi ungkapan “mejeng” mungkin tidak terlalu tepat kalau dipahami secara kaku sebagai sebentuk ekshibisionisme, karena ia lebih sering dipakai justru sebagai ungkapan untuk memperolok diri sendiri atau orang lain yang diambil gambarnya dalam konteks bersenda gurau. Ungkapan yang sama bisa dimaknai berbeda pada era Facebook sekarang, ketika orang memang memilih untuk memamerkan dirinya di hadapan orang lain. Dari foto album di ruang tamu ke galeri visual di halaman Facebook adalah sebuah lompatan dari tatapan lokal(local gaze) ke tontonan global.

Sex, Lies and Video-tape

Ketika foto-foto telanjang atau video aktivitas seksual beberapa figur publik, yang sebagiannya palsu belaka, beredar di internet, dalam sekejap peristiwa tersebut telah mendatangkan tsunami kata-kata di televisi, surat kabar, tabloid, dan gosip di warung-warung. Dalam konteks-konteks semacam itu, citra visual yang dihasilkan oleh kamera menjadi dasar atau patokan untuk menggambarkan realitas: bahwa masyarakat kontemporer kita sudah mengalami kerusakan moral karena warga sudah terpengaruh ideologi seks bebas. Maka metafornya mungkin bukan lagi camera obscura tapi camera lucida. Sekian banyak orang seperti terserang wabah hipokondriak(hypocondriac) secara visual: seolah-olah kalau banyak orang menonton foto-foto atau video-video semacam itu maka seluruh masyarakat akan sakit.

Karena seks (termasuk seks di luar nikah) pada dasarnya bukanlah hal aneh dalam masyarakat mana pun, kasus-kasus video porno tersebut jadi menggemparkan bukan karena aktivitas seksnya sendiri melainkan lebih karena apa yang semula relatif tertutup rapat di ruang-ruang privasi individu sekarang telah menjadi tontonan publik secara global. Padahal dulu, kalau pun pernah ada, gambar-gambar intimasi seseorang dengan pasangan seksualnya tentu saja tidak pernah disimpan di bawah meja di ruang tamu, seperti foto-foto yang dibuat oleh tukang foto keliling yang saya ceritakan di muka, melainkan di bilik-bilik paling rahasia masing-masing individu.

Kalau kita merujuk argumen Anthony Giddens (1992), di balik peristiwa-peristiwa di atas kita bisa melihat apa yang disebutnya transformasi keintiman (the transformation of the intimacy), yakni ketika seks bukan hanya dilihat sebagai cara untuk reproduksi biologis melainkan juga manifestasi dari gagasan tentang cinta romantik untuk pemenuhan hasrat individual. Seks bukan lagi domain yang identik dengan prilaku-prilaku di wilayah privasi individu yang hanya bisa dirasakan sebagai pengalaman-pengalaman partikular pelakunya, melainkan telah menjadi sebuah praktek yang bisa ditonton tangkapan audio-visualnya oleh pelakunya sendiri dan orang lain. Giddens menggunakan istilah “seksualitas plastik” untuk menggambarkan seks yang telah mengalami emansipasi dari reproduksi atau prokreasi dan lebih melekat pada diri individual.

Beredarnya video-video amatir berisi adegan seks warga Indonesia, dengan demikian, menjadi kasus yang secara sosiologis cukup signifikan bukan karena Indonesia merupakan wilayah yang dihuni oleh manusia-manusia berakhlak lebih mulia, seperti yang masih sering muncul dalam klaim-klaim tentang masyarakat Timur, melainkan karena seperti di banyak tempat lain di dunia, modernitas telah memungkinkan masyarakat-masyarakat di dunia mengalami emansipasi dari tabu. Runtuhnya tabu-tabu seksual merupakan bagian dari proses guncangnya sebuah mekanisme kontrol sosial tradisional. Ini berlangsung pada dua sisi sekaligus. Pada sisi yang satu, melemahnya tabu pada konteks kehidupan individu-individu yang jumlahnya semakin lama pasti akan semakin meningkat. Pada sisi yang lain, kontrol sosial justru telah diambil alih oleh teknologi. Tidakah pada dasarnya di balik kasus-kasus kontroversi foto-foto dan video tadi justru teknologilah yang mendorong orang untuk kembali menguatkan norma? Sebagian orang mempercayakan penguatan moral tersebut pada upaya-upaya usang seperti regulasi formal negara atau restriksi berdasarkan agama, tapi penegakan kembali kontrol sosial yang mengalami disintegrasi oleh teknologi lebih meyakinkan ketika dilakukan oleh teknologi sendiri.

Cam Era

Tahun 2005 Kepolisian Daerah Metro Jaya, Jakarta, mulai mewajibkan seluruh gedung perkantoran, gedung pertemuan, mall, dan tempat publik lainnya, termasuk kantor bank, untuk memasang Closed-Circuit Television(CCTV). Kewajiban ini tertuang dalam Peraturan Kapolda No. 2/2005 (Muttaqien, 2005). Petikan beritanya secara lengkap adalah sebagai berikut:

 

Mall & Bank Wajib Pasang CCTV

Sirojul Muttaqien – detikcom

Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya mewajibkan semua gedung perkantoran, gedung pertemuan, mall, dan tempat publik lainnya, termasuk kantor bank, untuk memasang CCTV. Kewajiban ini tertuang dalam Peraturan Kapolda Nomor 2 Tahun 2005.

“Bank-bank yang menyimpan uang banyak juga wajib pasang CCTV,” kata Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Firman Gani kepada wartawan usai upacara peringatan Hari Jadi ke-56 Polda Metro Jaya di Mapolda Metro Jaya, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Selasa (6/12/2005).

Firman menegaskan, selain mengeluarkan kewajiban memasang CCTV, Polda juga telah menerapkan wajib lapor yang tertuang dalam Peraturan Kapolda Nomor 1 Tahun 2005. “Hal itu dimaksudkan untuk memberikan dampak ketakutan kepada penjahat dalam melakukan aksinya karena bisa diketahui,” terangnya.

Dia menjelaskan penggunaan CCTV pada gedung-gedung tempat publik tidak hanya diperuntukkan pada aksi terorisme. Tapi juga untuk kejahatan-kejahatan konvensional lain, seperti pencurian dengan kekerasan. Kepada Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, Polda Metro Jaya juga telah meminta penambahan CCTV yang ada di tempat-tempat publik, seperti halte, stasiun, bandara, dan lainnya.

Dikatakan dia, Peraturan Kapolda Nomor 1 Tahun 2005 sudah diterapkan bagi yang tidak memiliki identitas, dan sudah dilakukan upaya hukum berupa pemanggilan dan peringatan.

Sedangkan untuk Peraturan Kapolda Nomor 2 Tahun 2005, Firman akan segera memanggil seluruh pengelola tempat tersebut untuk diberikan masukan bagaimana memasang CCTV, kegunaan, dan bagaimana memberikan laporan bila ada kejahatan. (san)

Pada halaman lain situs tersebut juga diberitakan tentang desakan kepada gubernur Jakarta untuk menambah jumlah kamera CCTV di beberapa tempat yang dianggap rawan keamananannya. Disebutkan pula bahwa sebagian besar hotel dan mall di Jakarta telah dipasangi CCTV, tapi untuk perempatan jalan dan terminal baru terpasang sekitar 50 buah kamera di seluruh Jakarta. Jumlah ini tentu saja masih terlampau kecil jika dibandingkan dengan puluhan juta kamera pengintai/pengawas yang sudah terpasang di negara-negara lain seperti Amerika Serikat (AS) atau Inggirs. Tapi kalau berita di atas bisa dijadikan sebagai sebuah indikasi, cukup aman untuk menduga bahwa dalam waktu dekat Jakarta akan menjadi tempat yang tidak pernah tidur: mata-mata kamera, sebagian besarnya tersembunyi di tempat-tempat tertentu, akan terus menyala mengawasi tingkah laku warganya setiap saat.

Proliferasi peran dan makna sosial kamera dalam dan ramifikasinya bagi masyarakat kontemporer telah mengantarkan kita ke dalam apa yang belakangan disebut sebagai zaman kamera (the Cam Era). Inilah era ketika representasi berlangsung secara terus menerus tanpa putus (an endless representation) (Koskela, 2003)Setiap hari semakin banyak aktivitas yang dikonversikan menjadi data digital melalui kamera. Kebutuhan warga masyarakat-masyarakat modern akan rasa aman telah pula melahirkan pasar yang sangat besar untuk produk-produk kamera digital. Sebuah laporan yang disusun pada bulan Januari 2003 oleh J.P. Freeman, sebuah firma riset pasar keamanan di Newtoen, CT, 26 juta kamera pengintai (surveillance cameras) telah terpasang di seluruh dunia, dan lebih dari 11 juta di antaranya dipasang di AS. Sementara di London, sebuah kota yang secara sangat ketat terus-menerus dimonitor, seorang kriminolog dari Hull University memperkirakan bahwa rata-rata orang di sana direkam oleh lebih dari 300 buah kamera setiap hari. Belanja terbesar untuk teknologi surveillancetentu saja dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat (AS), bahkan jauh sebelum terjadi katastrofi akibat peledakan menara kembar World Trade Center di New York, 11 September 2001 yang lalu.

Di Jakarta, sejak beberapa tahun belakangan kita bisa melihat tawaran pemasangan kamera CCTV untuk rumah-rumah tinggal penduduk, dari perumaham super elit sampai ke kampung-kampung yang padat dan pengap. Setiap kali menjelang lebaran Idul Fitri, ketika sebagian warga Jakarta menjalakankan ritus mudik tahunan ke kampung halamannya masing-masing, misalnya, iklan-iklan pemasangan kamera pengintai itu bisa ditemui terpasang pada tembok bangunan, tiang-tiang listrik bahkan pada batang-batang pohon di banyak ruas jalan di Jakarta. Tingginya angka kriminalitas jelas menjadi salah satu pendorong munculnya tawaran jasa seperti itu. Tapi fenomen tersebut juga merefleksikan banyak hal yang berubah dalam masyarakat kita oleh kehadiran teknologi kamera (digital), terutama dalam cara bagaimana masyarakat kita menerjemahkan dan memahami konsep tentang pengawasan sosial. Ruang, seperti diungkapkan Foucault, sangat krusial dalam menjelaskan relasi-relasi kuasa sosial. Tapi kuasa juga menciptakan sejenis ruang partikularnya sendiri (Koskela, 2003).

Ruang urban (urban space) sekarang sudah beraduk dengan ruang cyber (cyberspace). Tukang-tukang foto keliling yang keluar masuk kampung sekarang sudah digantikan oleh Google, yang mengirim sejumlah armada mobil berkamera ke sembarang tempat dari New York sampai ke Antartika, dan dari sana langsung mengirimkannya melalui satelit ke seluruh dunia dalam internet. Google menyebut fasilitas yang disediakannya itu Street View, yang sekarang sudah banyak terpasang pada komputer personal dan telepon-telepon genggam cerdas. Dalam Washington Ideas Forum yang berlangsung tgl. 30 September – 1 Oktober 2010 yang lalu, CEO Google, Eric Schmidt, membuat beberapa pernyataan menarik tentang masa depan teknologi dalam kehidupan manusia. Salah satu kalimatnya berbunyi:

With your permission you give us more information about you, about your friends, and we can improve the quality of our searches. We don’t need you to type at all. We know where you are. We know where you’ve been. We can more or less now what you’re thinking about (Thompson, 2010).

Schmidt seperti sedang memaklumkan sebuah masa depan yang sebagian besarnya bertumpu pada peran mesin dalam mengambilalih peran manusia. Dengan data tentang apa yang kita cari melalui mesin pencari yang dibuatnya, tentang buku apa yang Anda beli, tentang film yang anda tonton, tentang lokasi dan peristiwa sehari-hari yang tertangkap kamera Street View, rumah sakit yang anda rujuk, restoran sampai tujuan-tujuan wisata Anda, Google jauh lebih tahu secara detail tentang kebiasan hidup kita sehari-hari daripada apa yang kita tahu tentang Google bahkan mungkin tentang diri kita sendiri. Beberapa hari sebelumnya, tgl. 18 september 2010, dalam konferensi TechCrunch Disrupt ia menawarkan visi yang sama dalam kalimat-kalimat berikut:

It’s a future where you don’t forget anything…In this new future you’re never lost…We will know your position down to the foot and down to the inch over time…Your car will drive itself, it’s a bug that cars were invented before computers…you’re never lonely…you’re never bored…you’re never out of ideas (Boster, 2010).

Ratusan juta manusia setiap hari menggunakan beberapa layanan Google untuk satu dan lain perkara dalam hidupnya sehari-hari. Sementara itu, ada lebih dari 150 juta data pemilik kartu kredit aktif pelanggan iTunesStore dan AppStore yang disimpan oleh Apple Inc, dan data personal sekitar 500 juta pengguna yang saat ini dimiliki oleh Facebook. Ketiganya tidak mengurung Anda dalam sebuah ruang dan mengawasi Anda dari sebuah menara pengintai, tapi mereka mengunci Anda dengan produk-produknya. Google dan Facebook bahkan menyediakan seluruh layanannya secara gratis.

Kamera-kamera pengawas yang dipasang oleh negara, dan bentuk-bentuk kontrol yang dilakukan perusahan-perusahaan tersebut terhadap konsumennya merupakan terjemahan mutahir dari sistem pengawasan panopticon yang digagas oleh filsuf utilitarian Inggris, Jeremy Bentham, dan lantas ditafsirkan oleh Foucault: bahwa kekuasaan harus tampak nyata tapi tidak bisa diverifikasi (visible and unverifiable). Kuasa harus tampak nyata dalam arti bahwa para tahanan secara konstan melihat atau menyadari ada tangan kuasa yang senantiasa memantau aktivitas mereka. Kuasa harus tidak bisa diverifikasi dalam arti bahwa para tahanan harus tidak pernah tahu kapan persisnya mereka sedang diawasi. Ketika orang mulai merasakan hidup hariannya belum lengkap karena belum memperbaharui statusnya atau menengok status orang lain di halaman Facebook, misalnya, tidakah itu bisa dilihat sebagai semacam internalisasi sebuah disiplin dan praktek “saling-mengawasi” antar sesama warga Facebook?

Kalau Bentham dan lantas Foucault (1995) melihat konteks historis pengawasan dalam bentuk konkret bangunan-bangunan fisikal seperti penjara, barak militer, atau rumah sakit bahkan sekolah, sekarang kita hidup di zaman ketika data tidak harus memiliki hubungan spesifik dengan tempat fisikal. Telah terjadi proses pemisahan (decoupling) antara data tentang sesuatu dengan tempat aktualnya, karena segalanya senantiasa bergerak. Kalau data tentang para penghuni penjara adalah data tentang orang-orang yang tidak bergerak meninggalkan sebuah tempat fisikal tertentu, data tentang konsumen sebuah kedai kopi dan aktivitas online-nya, misalnya, jelas merupakan data tentang orang-orang yang selalu berpindah-pindah tempat. Karena itu teknologi pengawasan harus bisa secara terus-menerus merepresentasikan objek yang terus bergerak tersebut. Yang diawasi bukan fisik individu tapi tapak-tapak kaki digitalnya yang ditinggalkan setiap terjadi transaksi online dengan kartu kredit, pencarian melalui mesin pencari, dan kebiasaan berselancar di internet.

Dulu orang membayangkan dan mengasosiasikan pengawasan sebagai manifestasi dari kontrol otoritarian sebuah rezim kekuasaan totaliter. Rujukan paling terkenal tentang itu tentu saja adalah sosok BigBrother yang diciptakan George Orwell dalam novel distopian 1984, yang mendepiksikan sebuah kuasa yangomnipresent sekaligus omniscient, ada di mana-mana dan tahu segala, karena ia secara konstan melakukan pengawasan total terhadap seluruh warga. Pengawasan dalam konteks kontrol Big Brother melahirkan kondisi tidak aman bagi rakyat yang diawasi tapi menciptakan rasa aman bagi kekuasaan yang melakukannya. Sekarang pengawasan yang mahateliti tentang subjek-subjek individu manusia modern justru lahir dari kebutuhan subjeknya sendiri akan sebuah rasa aman yang makin langka. Ketika ledakan demi ledakan bom membetot nyali penduduk berbagai kota di dunia, banyak orang yang sekarang mulai bertanya apakah Big Brother hanya satu-satunya harapan bagi kita untuk melawan Bin Laden (Manjoo, 2002).

Pengawasan yang semula identik dengan rezim-rezim kuasa opresif totalitarian kemudian ditengok ulang dan mulai dipertimbangkan sebagai alternatif solusi untuk menjamin rasa aman warga negara. Asumsinya sederhana, bahwa kalau pemerintah memiliki akses untuk mengetahui apa pun yang dilakukan oleh orang atau sejumlah orang dalam radius pengaruh kekuasaannya, baik dia warga negara atau warga negara asing, ia bisa melakukan antisipasi dini dan mencegah kemungkinan terjadinya ancaman yang membahayakan kehidupan warga. Banyak orang mulai berputar keyakinan bahwa cara terbaik untuk menjamin keamanan individu bukan dengan menghindari pengawasan melainkan justru menghadirkannya secara eksesif bahkan terhadap dirinya sendiri.

Pengawasan sekarang tidak lagi diterapkan pada tubuh biologis seperti di penjara panopticon melainkan terhadap representasi datanya. David Lyon (2001:2) memberi batasan mutakhir tentang pengawasan sebagai segala bentuk pengumpulan dan pengolahan data personal, baik yang bisa diidentifikasi maupun yang tidak, untuk maksud mempengaruhi atau mengatur mereka yang datanya telah berhasil dikumpulkan. Ia menyebut model pengawasan ini superpanopticon. Tidak ada batas antara tahanan dan pengawas, karena yang diawasi bukan tahanan melainkan justru orang yang ingin mengamankan dirinya. Dalam “Surveillance Nation”, Farmer dan Mann (2003) menyatakan bahwa teknologi baru seperti kamera Web (Webcam), perangkat pelacak, dan berbagai database yang saling terhubung satu dengan lainnya, itu memungkinkan pengawasan semakin ketat, terintegrasi sepenuhnya ke dalam jaringan, sehingga ruang-ruang publik yang selama ini tidak pernah dimonitor sebenarnya sudah tidak ada lagi. Sebuah pertanyaan yang kemudian diajukan Farmer dan Mann adalah, apakah kita siap menghadapi berbagai konsekwensi dari jaringan mata-mata tersebut, yang justru tanpa sengaja kita bangun. Sejarawan Mark Poster (2002) menggunakan istitlah dataveillance untuk mendepiksikan pergeseran dalam moda dan metode pengawasan dengan pemanfaatan teknik pengumpulan data personal digital melalui berbagai sistem pencatatan sosial.

Sosok Big Brother pada era digital sekarang tidak harus hanya berupa representasi rezim kuasa negara totaliter, melainkan juga firma-firma komersial yang beberapa di antaranya menyediakan layanan gratis bagi konsumennya. Paradoksnya adalah sementara perkembangan teknologi digital, dalam satu dan lain cara, telah membantu semangat perlawanan terhadap kuasa rezim-rezim totaliter di banyak negara, dengan tingkat keberhasilan yang bervariasi, pada saat yang sama ia menciptakan ruang bagi beroperasinya kontrol-kontrol eksesif oleh firma-firma komersial terhadap warga masyarakat dunia. Dengan demikian, argumen bahwa internet, misalnya, bisa menjadi ruang publik karena ia terbebas dari intervensi (negara) jelas sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Bukan hanya karena kuasa negara malah diundang untuk melakukan intervensi demi menjamin rasa aman, melainkan juga karena kuasa dalam datasphere sekarang adalah domain yang diperebutkan oleh negara dan firma-firma kapitalis raksasa seperti Google, Facebook dan Apple, Inc. Ketika ada orang mempersoalkan data personal pengguna internet yang dimiliki Google, Erich Schmidt menjawab dengan pertanyaan retoris, “apakah Anda ingin mempercayakannya kepada pemerintah?”

Dalam salah satu agama besar, ada konsepsi tentang ketaatan paling puncak dalam bentuk rasa takut kepada Tuhan. Konsepsi itu kira-kira berbunyi, “takutlah engkau kepada Ia, seolah-olah engkau dapat melihat Ia. Maka sekalipun engkau tidak dapat melihat Ia, (tapi) Ia tetap melihat engkau”. Kalau kuasa tuhan adalah kuasa paling mutlak, konsepsi ini menyiratkan metode pengawasan terus-menerus sebagai cara untuk memelihara ketaatan dan menerapkan disiplin. Dalam konteks perbincangan kita tentang teknologi dan budaya digital, bisakah penyebut “Ia” diganti Google, Apple, Inc., atau Facebook? Tidakah kalau begitu (kepercayaan kepada) teknologi memang memiliki kecenderungan yang mirip dengan agama? Tidak ada yang secara radikal benar-benar baru memang.

Jakarta, 3 November 2010

Rujukan

Boster, Bianca. “Eric Schmidt Dreams Of A Future Where You’re Never Lonely, Bored, Or Out Of Ideas“. The Huffinton Post 28/9/2010 http://www.huffingtonpost.com/2010/09/28/eric-schmidt-techcrunch-disrupt_n_742034.html (diakses tgl. 1 Oktober 2010).
Crary, Jonathan. Techniques of the Observer: On Vision and Modernity in the 19th Century. New York: The MIT Press, 1992.
Deleuze, Gilles, dan Claire Parnet. Dialogues. London, 1997.
Farmer, Dan, Charles C. Mann, “Surveillance Nation”. An MIT Enterprise Technology Review, April (2003): 1, 5-6. Versi digitalnya tersedia bagi pelanggan teregistrasi pada situs An MIT Enterprise<http://www.technologyreview.com/articles/farmer0403.asp> (diakses tgl. 5 Oktober 2010).
Fortt, John. ” Top 5 moments from Eric Schmidt’s talk in Abu Dhabi”. Fortune, 11 Maret 2010 <http://tech.fortune.cnn.com/2010/03/11/top-five-moments-from-eric-schmidts-talk-in-abu-dhabi/> (diakses tgl.  12 september 2010).
Foucault, Michel. Discipline & Punish. The Birth of the Prison. Diterjemahkan dari bahasa Prancis oleh Alan Sheridan. New York: Vintage Book Second Edition, 1995.
______________ Power. Essential Works of Foucault 1954-1984. Volume Three. Disunting oleh James D. Faubion. Diterjemahkan oleh Robert Hurly and Others. London: Penguin Books, 1994.
Gere, Charlie. Digital Culture. Expanded Second Edition. London: Reaktion Books, 2008.
Koskela, Hille. “‘Cam Era’—the Contemporary Urban Panopticon”. Surveillance & Society 1(3): 292-313.
Lyon, David. Surveillance Society. Monitoring Everyday Life. Buckingham, dan Philadelphia: Open University Press, 2001.
Marx, Karl, with Friedrich Angels. The German Ideology. New York: Promotheus Books, 1998.
Manjoo, Farhad. “Is Big Brother Our Only Hope Against Bin Laden”. Salon.comhttp://www.salon.com/tech/feature/2002/12/03/tia/index_np.html (diakses tgl. 10 Oktober 2010).
Poster, Mark. The Second Media Age. Cambridge: Polity Press, 1995a
Muttaqien, Sirojul. “Mall Bank Wajib Pasang CCTV”, dalam Portal Berita Detik.com http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2005/bulan/12/tgl/06/time/154935/idnews/493273/idkanal/10(diakses tgl. 17 Desember 2005).
Thompson, Derek. “Google’s CEO: ‘The Laws Are Written by Lobyists'”. Dalam The Atlantic, 1/10/2010http://www.theatlantic.com/technology/archive/2010/10/googles-ceo-the-laws-are-written-by-lobbyists/63908/ (diakses tgl. 1 Oktober 2010).
Zoelverdi, Ed. “Mengapa Mat Kodak?”. Pada blog pribadi Ed Zoelverdi http://edzoelverdi.com/mengapa-mat-kodak/ (diakses tgl. 22 Oktober 2010). http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/…d/tahun/2005/bulan/12/tgl/16/time/144045/idnews/500227/idkanal10, (diakses tgl. 17 Desember 2005).

Pendiri, Peneliti Senior The Interseksi Foundation, Jakarta