Ketika Bapak dan Ibu Negara “Bermain-main” Media Sosial

 

Twitter-SBYSBY dan Obama
Sejak berita akan diluncurkannya akun Twitter resmi Presiden SBY, muncul banyak pro dan kontra. Beberapa kalangan menyambut baik rencana ini, beberapa lainnya tidak hanya menanggapi nyinyir tetapi juga menganggap hal ini berlebihan dan tidak perlu. Banyak kalangan yang berkomentar soal rencana ini, mulai dari kalangan politisi sampai rakyat biasa.

Presiden sendiri beralasan bahwa peluncuran aku Twitter ini semata-mata agar ia dapat lebih dekat dengan rakyatnya. Seperti yang kita ketahui bahwa pengguna Twitter di Indonesia merupakan pengguna terbanyak kelima dan teraktif di dunia. Banyaknya orang Indonesia yang aktif menggunakan Twitter inilah yang kemudian dimanfaatkan entah oleh Presiden SBY sendiri atau penasehat politiknya untuk dapat menarik perhatian rakyat.

Tak kalah dengan suaminya, Ibu Negara Ani Yudhoyono rupanya juga memiliki sebuah akun di media sosial, yaitu Instagram. Instagram adalah sebuah aplikasi berbagi foto yang memungkinkan pengguna mengambil foto, menerapkan filter digital, dan membagikannya ke berbagai layanan jejaring sosial, termasuk milik Instagram sendiri.[1]Pihak Istana Negara membenarkan bahwa akun aniyudhoyono memang benar akun resmi milik Ibu Negara. Keberadaan akun Istragram ibu Ani ini juga tak kalah menyedot perhatian publik.

KICAUAN SBY DI TWITTER

Akun Twitter presiden SBY resmi diluncurkan pada Sabtu, 13 April 2013 di Istana Cipanas, Bogor. Sejak hari pertama akun ini aktif, tercatat followernya mencapai 500.000, dan dalam waktu kurang dari lima hari, follower terus bertambah hingga mencapai 700.000 pada Senin, 15 April 2013.

Selain memiliki banyak follower, akun Twitter SBY juga mem-follow beberapa akun pesohor negeri lainnya. Akun Twitter Wapres Boediono merupakan akun pertama yang di-follow. Beberapa artis seperti Indra Herlambang, Gading Marten dan Addie MS juga tak ketinggalan di-follow. Sesama politikus seperti Jusuf Kalla, Yusril Izha Mahendra, menantunya Annisa Pohan dan Aliya Rajasa, tak ketinggalan kedua putranya Ibaz dan Agus juga di-follow.

Keberanian SBY untuk meluncurkan akun Twitter patut diapresiasi, mengingat media sosial yang satu ini rawan dengan twit war [2]dan bullying.Sebagai kepala Negara dan juga politikus, presiden SBY tentunya memiliki banyak lawan politik yang siap menyerang kapan saja lewat akun ini, belum lagi kritik rakyat dan caci-maki dari akun Anonim.[3] Walaupun dalam biodata akun tersebut ditulis bahwa pengelolaannya dilakukan oleh staf khusus presiden, namun segala isinya tentu akan dilaporkan kepada presiden.

Sebenarnya tidak ada yang perlu diributkan apalagi sampai diperdebatkan soal peluncuran akun Twitter ini, karena di banyak Negara para kepala negaranya juga memiliki akun di Twitter dan media sosial lainnya. Jauh sebelum presiden SBY memiliki akun Twitter, presiden AS Barrack Obama, PM Malaysia Najib Razak, PM Australia Julia Gillard dan Presiden Mesir Muhammad Morsi sudah memilikinya. Alasan di balik pembuatan akun Twitter oleh para pemimpin Negara ini tentunya hampir sama. Mereka beranggapan dengan akun tersebut, mereka dapat lebih dekat dengan rakyatnya.

Menurut saya, akun Twitter kepala Negara sah saja dibuat jika penggunaannya sesuai dengan nilai-nilai kepatutan dan bermanfaat. Nilai-nilai kepatutan yang dimaksud disini adalah bahwa isi (twit) yang dirilis haruslah sebuah twit penting secara konten misalnya informasi kegiatan presiden atau pernyataan resmi. Twitter kepala Negara hendaknya tidak sekedar berisi quote-quote motivasi atau salam untuk mencari simpati apalagi keluahan dan curahan hati seperti kebanyakan Ababil masa kini. Akun Twitter kepala negara harus sama berwibawanya dengan status kepala negara itu sendiri karena ia merupakan representasi dari sosoknya. Akan sangat memalukan jika akun tersebut sampai melakukan blunder karena dapat dilihat bukan hanya oleh rakyatnya saja tetapi seluruh dunia.

HASIL JEPRETAN IBU ANI DI INSTRAGRAM

Sama halnya dengan Twitter, keberadaan Instagram saat ini juga sangat popular bahkan sampai di kalangan beberapa pemimpin negara. Tercatat PM Rusia Dmitry Medveded dan pemimpin spiritual Iran Ayatollah Khamenei juga memiliki akun di Instagram. Instagram dari kedua pemimpin negara tersebut kebanyakan berisi foto-foto kegiatan meraka. Hampir sama dengan kedua pemimpin tersebut, akun Instagram Ani Yudhoyono juga berisi foto-foto kegiatannya, disamping banyak juga foto-foto hasil jepretan ibu negara yang dikenal gemar fotografi tersebut.

Keberadaan akun Instagram yang berisi foto-foto hasil jepretan ibu Ani yang menurut saya bagus secara estetika fotografi ini, rupanya menimbulkan tidak hanya pujian tetapi juga cacian. Beberapa orang meng-klik tombol dengan simbol hati yang menujukkan orang tersebut suka (like) pada foto-foto Ani Yudhoyono. Beberapa lainnya memberikan komentar sinis dan nyinyir di kolom komentar terhadap foto-fotonya. Komentar-komentar miring tersebut kebanyakan berisi ketidakpercayaan mereka jika foto-foto tersebut asli hasil jepretan ibu negara. Belum lagi foto profile ibu negara yang menunjukkan gambar sedang membawa tripod dan kamera berlensa tele yang jelas mahal harganya dianggap sebagai bentuk pamer.

Bagi saya, soal kebenaran asli atau tidaknya foto-foto tersebut hasil jepretan Ani Yudhoyono tidaklah penting. Sejauh foto-foto tersebut bermanfaat apalagi sebagai sarana informasi dan promosi sah-sah saja. Dari beberapa foto yang sudah diunggah di akun tersebut, terdapat foto kegiatan saat ia sedang menemani tamu negara. Ini dapat dimanfaatkan sebagai sarana informasi kepada masyarakat tentang tugas dan tanggung jawab sebagai ibu negara. Selain foto-foto kegiatan, terdapat banyak foto-foto landscape keindahan, kekayaan flora dan fauna Indonesia. Hal tersebut tentunya merupakan sebuah sarana promosi yang bisa dimanfaatkan untuk pariwisata dan investasi di Indonesia, karena akun resmi seorang ibu negara tentunya memiliki nilai jual lebih dibandingkan akun-akun lainnya.

Kesimpulannya, bagi saya kepemilikan akun di media sosial oleh para pemimpin negara bukanlah hal yang tabu. Jika terbukti manfaatnya lebih banyak dan dikelola dengan baik, hal tersebut sah saja untuk dilakukan. Hal yang perlu dicatat adalah jangan sampai kepemilikan akun di media sosial justru menjadi bumerang bagi negara. Tidak menutup kemungkinan akan terjadi ketegangan atau kesalahpahaman dari kicauan atau isi akun tersebut baik yang terjadi karena kesalahan pengelolaan maupun pembajakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab seperti yang pernah dialami akun Twitter presiden Venezuela.

Kematangan dan kecerdasan dari para staf khusus pengelola akun-akun di media sosial kepala Negara sangat diperlukan. Apalagi untuk menyikapi kritik-kritik maupun cacian yang dialamatkan kepada akun tersebut. Diperlukan persiapan yang matang sebelum seorang kepala negara memutuskan untuk “bermain-main” dengan media sosial. Akhir kata, selamat datang di dunia maya bapak dan ibu Negara RI!

References and Footnotes

  1. Frommer, Dan (1 November 2010). "Here's How To Use Instagram". Business Insider.
  2. Istilah untuk adu argumen di Twitter
  3. Akun Twitter dengan nama samaran yang biasanya digunakan untuk tujuan politis, provokatif dan kontroversial
Peneliti The Interseksi Foundation, Jakarta