Media, Isu Terorisme, Stereotipe, dan Sikap Diskriminatif

Para penstudi ilmu komunikasi dari dulu sampai sekarang berbeda pendapat mengenai kekuatan media massa dalam memengaruhi pendapat khalayak. Sebagian mengatakan sesungguhnya media itu sangat powerfull. Media tidak hanya sanggup memengaruhi opini publik, tapi juga tindakan publik. Di sisi lain, pengaruh media dikatakan terbatas, tergantung pada konteks ruang dan waktu, dan di mana media itu bekerja. Bagi mereka yang menganggap the media is powerfull, kemudian melahirkan beberapa teori komunikasi massa yang memiliki pengaruh besar terhadap masyarakat dan budaya, salah satunya yaitu Teori Peluru (Bullet Theory).

Teori Peluru adalah nama yang diberikan oleh peneliti terhadap konsepsi pertama tentang efek komunikasi massa. Ia biasa juga disebut teori jarum hipodermik (hypodermic needle theory) atau sabuk transmisi (transmision belt theory). Pada dasarnya pandangan ini naif dan simplistik, yang menganggap efek-efek pesan komunikasi massa demikian kuat dan kurang lebih bersifat universal pada seluruh audiens yang mendapat terpaan media. Menurut teori ini, media menyajikan stimulasi kuat yang secara seragam diperhatikan oleh audiens. Stimuli ini membangkitkan desakan, emosi atau proses lain yang hampir tidak terkontrol oleh audiens. Setiap audiens memberikan respon yang sama pada stimuli yang datang dari media massa. Karena teori ini mengasumsikan audiens yang tidak berdaya ditembaki oleh stimuli media massa.

Representasi yang umum dilakukan oleh media baik dalam bentuk gambar maupun teks sering kali mengandung stereotipe, yang memudahkan media untuk menciptakan hubungan instan dengan audiens. Dalam kasus terorisme, stereotipe ini sering muncul dalam sketsa pelaku. Beberapa stereotipe seperti: pelakunya miskin, pendiam dan taat beribadah (psikologis) dan berwajah dan berpenampilan tertentu (fisik). Stereotipe terhadap pelaku ini merupakan akibat dari  pemberitaan media yang cenderung lebih menyoroti profiling pelaku.  Film komedi Escape from Guantanamo Bay (2008) mempresentasikan steteotipe media Amerika terhadap sosok pelaku terorisme secara fisik yaitu bertampang Timur Tengah. Selain itu film ini juga merupakan satire (sindiran) terhadap fobia warga Amerika terhadap orang asing terutama yang bertampang Timur Tengah. Film ini juga menggambarkan penjara Guantanamo yang merupakan penjara khusus untuk orang-orang yang dicurigai sebagai teroris. Film ini menunjukkan bahwa stereotipe tentang pelaku terorisme memang sudah menjangkit warga Amerika.

Dalam esai singkat ini secara ringkas saya akan menggunakan Teori Peluru untuk mengkaji aspek komunikasi massa, Teori Kognitif (Cognitive theory) dari segi psikologis, dan film  Harold and Kumar, Escape from Guantanamo Bay (2008), untuk melihat apakah pemberitaan media Amerika terhadap pelaku terorisme menciptakan stereotipe di tengah-tengah masyarakat Amerika yang kemudian melahirkan sikap diskriminatif?

Teori Peluru merupakan teori pertama tentang pengaruh atau efek komunikasi massa terhadap khalayaknya.[1] Teori peluru ini pertama kali dikemukakan oleh Wilbur Schramm pada tahun 1950an. Isi teori ini mengatakan bahwa audiens benar-benar rentan terhadap pesan-pesan komunikasi massa. Ia menyebutkan pula bahwa apabila pesan “tepat sasaran”, ia akan mendapatkan efek yang diinginkan. Sedangkan istilah teori “jarum suntik” atau hypodermic needle theory secara harfiah berasal dari kata bahasa inggris, yaitu hypodermic berarti “di bawah kulit” dan needle bermakna “jarum”. Istilah ini mengasumsikan anggapan yang serupa dengan teori peluru, yaitu bahwa media massa menimbulkan efek yang kuat, terarah, segera dan langsung. Anggapan ini sejalan pula dengan pengertian “perangsang tanggapan” atau “stimulus-respons” yang mulai dikenal sejak penelitian ilmu jiwa pada tahun 1930-an.

Pada dekade 1950an, Wilbur Schramm pernah menyatakan bahwa seorang komunikator dapat menembakkan peluru komunikasi yang begitu ajaib kepada khalayak yang bersifat pasif tidak berdaya. Akan tetapi dalam karya tulisnya yang diterbitkan pada awal tahun 1970an, Schramm meminta kepada para peminatnya agar teori peluru komunikasi itu dianggap tidak ada, sebab khalayak yang menjadi sasaran media massa itu ternyata tidak pasif. Pernyataan Schramm tentang pencabutan teorinya itu didukung oleh Paul Lazarsfeld dan Raymond Bauer. Lazarsfeld mengatakan bahwa jika khalayak diterpa peluru komunikasi, mereka tidak jatuh terjerembab. Kadang-kadang peluru itu tidak menembus. Ada kalanya pula efek yang timbul berlainan dengan tujuan si penembak, yaitu media massa. Seringkali pula khalayak yang dijadikan sasaran senang untuk ditembak.

Teori Kognitif menekankan andil seperti kategorisasi, penonjolan dan skema yang kesemuanya bersifat sistematik, dan biasanya menyertai terjadinya pembentukan kesan.[2] Stereotipe dapat dibentuk melalui beberapa tahap:

  • Proses kategorisasi: orang cenderung untuk mengkategorikan orang lain ke dalam berbagi tipe. Namun sampai taraf tertentu keseluruhan pemikiran tersebut dapat bersifat penyederhanaan yang dilebih-lebihkan. Proses itu dapat mengaburkan perbedaan diantara anggota kelompok lain, karena seringkali hanya didasarkan pada isyarat yang paling jelas dan menonjol.
  • Stimulus yang menonjol: orang biasanya lebih banyak memperhatikan stimulus yang relevan dan menonjol. Sehingga perbedaan itu cenderung muncul di dalam benak mereka ketika berhadapan dengan anggota kelompok lain terutama bila mereka tampak mencolok di lingkungan. Sehingga stereotyping dan generalisasi bersifat seperti kejadian alamiah.
  • Proses skema: kecenderungan untuk berpegang teguh pada stereotipe yang kaku juga berkait erat dengan tendensi untuk mendikotomikan dan berpikir dalam pola yang kontras secara ekstrem. Tahapan akhir ini menjelaskan bahwa bila stereotipe merupakan struktur kognitif yang terdiri dari sekumpulan harapan mengenai kelompok sosial, stereotipe itu bisa dianggap sebagai skema. Informasi baru yang tidak konsisten dengan skema cenderung ditolak.

Stereotipe adalah gambaran (citra, persepsi) tentang suatu kelompok sosial dalam kognisi kelompok sosial lainnya. Biasanya ia bersifat simplisitik namun tetap punya fungsi, yakni membantu seseorang dari satu kelompok untuk mulai bersikap terhadap kelompok lainnya. Stereotipe dapat menumbuhkan prasangka yang pada gilirannya melahirkan sikap diskriminatif. Dalam kalimat lain, stereotipe adalah suatu keyakinan yang digeneralisir, dibuat mudah, disederhanakan atau dilebih-lebihkan mengenai suatu kategori atau kelompok orang tertentu. Keyakinan tersebut biasanya bersifat kaku dan diwarnai emosi, walaupun tidak jarang ia dilontarkan dalam kemasan humor. Dalam konteks komunikasi antar budaya, stereotipe juga bervariasi dalam beberapa dimensi, yaitu:

  • dimensi arah: tanggapan bersifat positif atau negatif;
  • dimensi intensitas: seberapa jauh seseorang percaya pada stereotip yang dipercayai;
  • dimensi keakuratan: seberapa tepat suatu stereotip dengan kenyataan yang biasa ditemui;
  • dimensi isi: sifat-sifat khusus yang diterapkan pada kelompok tertentu.

Gordon Allport menyatakan bahwa pembentukan stereotipe yang disederhanakan besifat fungsional dalam arti memudahkan proses pengambilan keputusan.[3] Teori kognitif menegaskan kaitan antara stereotipe dan memori seseorang. Maka sewaktu seseorang menjelajah memorinya, ia akhirnya hanya akan menemukan bukti bahwa orang lain memang seperti apa yang ia katakan. Karena media massa melaporkan dunia secara selektif, sudah tentu media massa mempengaruhi pembentukan citra tentang lingkungan sosial. Bahkan karena adanya distorsi, media massa juga dapat memberikan citra dunia yang keliru. Citra adalah gambaran tentang realitas dan tidak harus selalu sesuai dengan realitas yang sebenarnya. Citra adalah dunia menurut persepsi kita. Media massa ikut berpengaruh dalam pembentukan citra ini.

Dari dua teori dan contoh kasus yang sudah dipaparkan diatas, analisis dan kesimpulan yang didapat adalah sebagai berikut: media sebagai sumber  dari berbagai macam informasi mentransfer pesan kepada audiens melalui berbagai alat seperti radio, surat kabar maupun TV dari berbagai kanal. Dalam kasus pelaku terorisme, media mentransfer pesan pada audiens yang mencitrakan pelaku terorisme bertampang dan beratribut khas Timur Tengah. Media secara terus menerus menstimulasi audiens dengan gambar-gambar dan narasi-narasi yang sama.

Kalau kita kembali merujuk Teori Peluru, stimulasi ini  membangkitkan desakan, emosi atau proses lain yang tidak terkontrol oleh audiens. Setiap audiens kemudian akan memberikan respon yang sama pada stimuli yang datang dari media massa. Pandangan proses satu arah memperlihatkan gambaran yang sederhana di mana audiens berada pada posisi sebagai penerima pesan yang bersikap pasif. Pada akhirnya hal ini menyebabkan munculnya stereotipe, yaitu suatu keyakinan yang digeneralisir, dibuat mudah, disederhanakan atau dilebih-lebihkan mengenai suatu kategori atau kelompok orang tertentu. Keyakinan tersebut biasanya bersifat kaku dan diwarnai emosi, dalam hal ini emosi terhadap pelaku terorisme. Lebih lanjut, stereotipe yang muncul dapat menumbuhkan prasangka yang pada gilirannya melahirkan sikap diskriminatif.

Dalam kasus pemberitaan media terhadap pelaku terorisme di Amerika, steteotipe yang timbuhl jelas bahwa pelaku adalah orang Arab (bertampang Timur Tengah). Akibat dari stereotipe ini yang kemudian terjadi adalah diskriminasi. Dalam film Escape from Guantanamo Bay sikap diskriminatif sebagai akibat dari stereotipe terlihat dalam adegan saat Kumar menjalani pemeriksaan di Bandara. Harold yang bertampang oriental-Asia tidak diperiksa berlebihan dan tidak menerima tatapan curiga dari petugasnya, sedangkan Kumar yang bertampang Timur Tengah diperiksa lebih lama dengan tatapan penuh curiga.

Sikap diskriminatif juga terlihat dalam adegan di dalam pesawat, saat seorang penumpang sangat histeris melihat bong (alat menghisap ganja) yang dibawa Kumar. Ia mengira alat itu adalah detektor bom. Saat satu orang itu histeris, penumpang lain ikut menjadi histeris. Praduga bahwa alat tersebut adalah detektor bom timbul karena Kumar yang membawanya, Kumar yang bertampang Timur Tengah. Praduga-praduga serupa di Amerika sering diarahkan pada orang-orang bertampang Timur Tengah. Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa telah muncul stereotipe yang sangat kuat di tengah masyarakat Amerika terhadap pelaku terorisme yang disebabkan oleh pemberitaan media Amerika yang pada akhirnya memicu sikap diskriminatif.

References and Footnotes

  1. W. J. Severin, and J.W. Tankard, Communication Theories -- Origins, Methods and Uses. New York: Hastings House, (1979)
  2. David Krech and Richard S. Crutchfield, Theory and Problems of Social Psychology (New York: McGraw-Hill Book Co., 1948).
  3. Gordon W. Allport, "Prejudice: A Problem in Psychological and Social Causation", Journal of Social IssuesVolume 6, Issue S4, pages 4–23, December 1950
Peneliti The Interseksi Foundation, Jakarta