Migrasi ke Antah Berantah dan Tragedi Melting Pot

Darmaji, adalah profil yang masih tersisa dari sejarah transmigrasi di Indonesia. Kini ia sudah berusia sangat udzur, diatas 70 tahun. Ia adalah bekas petugas dinas kesehatan yang berada di Kecamatan Sembakung. Hidup di desa ini sudah ia alami sejak tahun 1960an.

“Waktu itu saya naik kapal laut sampai ke Tarakan. Kita singgah dulu di Madura. Selebihnya naik perahu kayu yang ditumpangi beberapa orang dengan mendayung. Saya menginjak Tarakan sekitar tahun 1956”. Ujarnya, mengenang masa-masa sulit menuju Sembakung tempat terakhir dimana ia menggantungkan nasibnya. Nasib merantau ia harus lakoni untuk meraih hidup yang lebih baik. Ia sendiri adalah orang Jawa, keluarganya sebagian besar masih tinggal di Jawa Tengah. Mungkin, di masa itu Darmaji adalah satu-satunya yang memiliki semangat mengarungi lautan untuk menyongsong kehidupan yang lebih baik. Ia hanya berbekal informasi serba sedikit bahwa di Kalimantan Timur dibutuhkan beberapa orang untuk mengisi posisi-posisi di dinas-dinas pemerintahan.

Yang dialami Darmaji kemudian menjadi kegairahan bersama ketika iklan pemerintah mendorong transmigran dari Jawa untuk menjadi “manusia baru”. Sayangnya, sejarah transmigrasi di Indonesia tidak memerlukan referensi sejarah seperti kaum migran Anglo Saxon yang menghuni benua Amerika untuk memulai hidup baru. Prosesnya sungguh berlainan. Di Benua Amerika, para pendatang digenangi impian-impian baru karena pesona dan kekayaan negeri Paman Sam yang menggiurkan. Mereka hanya membutuhkan adaptasi (dalam prakteknya adalah pemusnahan) terhadap penduduk-penduduk pribumi di Benua yang dilewati sungai Amazon ini. Semangat kaum migran inilah yang menyelimuti sejarah pembentukan negara modern di Amerika. Beruntung dan tajir sebagai petani, pendulang emas, peternak, saudagar, orang-orang migran ini membentuk kelas-kelas menengah baru. Kelas inilah yang mewarnai bahkan menentukan karater negara bangsa Amerika saat ini.

Sebaliknya, hubungan antara negeri para kaum migran (terutama dari Eropa) dengan Amerika sebagai tanah harapan tidak mirip dengan relasi antara Jawa dan non Jawa. Paska penaklukan oleh Mister Columbus atas wilayah Amerika ini, orang-orang Eropa digenangi oleh semangat dua revolusi besar yang terjadi di Eropa: revolusi Inggris (revolusi industri) dan revolusi Prancis. Kekuatan revolusioner ini mendorong etos orang-orang Eropa sebagai individu dengan kekuatan egonya sebagai bangsa penakluk yang berusaha melebarkan imperiumnya di tempat lain. Progress (kemajuan) tidak semata ia bawa sebagai etos resmi untuk mengubah hidupnya, tetapi konsep “kemajuan” telah melekat sebagai semangat kolektif untuk mengubah peradaban-peradaban negeri lain menjadi peradaban yang sesuai dengan mereka. Mungkin saja, ketika peradaban baru ini dibuka, pada akhirnya adalah penindasan dan penaklukan.

Di Indonesia, kita tidak melewati proses seperti itu. Hampir seluruh wilayah Antah Berantah di negeri Transmigran adalah onak dan duri. Kaum transmigran sendiri hanya membekali diri mereka dengan cangkul dan palu. Tidak lebih dari itu, karena bisa mengubah hidup mereka sekeluarga saja, ia bayangkan itu sebagai perubahan yang sungguh besar. Tentu saja mereka berubah, karena kini mereka memiliki kebebasan untuk menguasai lahan seluas mungkin. Jadi, perubahan itu sebatas kepemilikan lahan, tidak jauh dari itu. Jangan berharap bahwa dengan menguasai puluhan hektar tanah mereka bisa menyulap lahan-lahan ini menjadi sumber-sumber ekonomi yang berharga.

Sampai puluhan tahun, teknologi mereka untuk mengais rejeki saja belum berubah. Mereka tetap menjadi petani dengan cangkulnya, tetapi petani yang selalu kesulitan mendapatkan pasar untuk mendistribusikan komoditas pertaniannya. Betapa tidak, sejauh mata memandang, kita hanya bisa melihat ladang-ladang dan hutan belantara ratusan hektar dengan sungai-sungai yang sering meluap. Desa-desa ditepi sungai tidak menunjukkan raut wajah yang berubah, kecuali semakin hilangnya rumah-rumah panjang yang dulu menjadi ciri khas desa-desa di Kalimantan Timur.

Di tepi-tepi sungai, orang-orang selalu mengingat datangnya banjirkap. Banjir-banjir sungai karena musim pasang disertai gelontoran ratusan bahkan jutaan kayu yang mengapung menutupi seluruh permukaan air sungai. Banjirkap ini, sudah menjadi sejarah perluasan tebang hutan di Kalimantan Timur. Orang-orang di Kalimantan Timur, sebagian mengingat asal usul banjirkap ini dengan baik. Peristiwa ini diawali oleh kedatangan para investor Jepang yang diberi keleluasaan mencari gelontoran kayu-kayu eksotik khas Kalimantan untuk diolah. Karena permintaan yang besar dari pihak eksportir Jepang, kayu-kayu ini harus diceburkan ke sungai sampai menuju hilir-hilir yang bisa dilewati oleh truk-truk pengangkut kayu.

Begitulah kondisinya. Ketimpangan terjadi diantara perusahaan-perusahaan besar dengan nasib perantau dari Jawa. Kecuali menjadi buruh perusahaan-perusahaan itu, menjadi petani ditengah lautan hutan belukar Kalimantan Timur tidak bisa disetarakan dengan ikhtiar perusahaan-perusahaan raksasa yang memiliki kemampuan memotong-motong kayu dari hutan tropis ini dalam jumlah jutaan meter kubik. Dengan modal besar dan ijin usaha dari Departemen Kehutanan, perusahaan-perusahaan ini memiliki kapasitas produksi menebang kayu dalam jumlah besar.

Di Sembakung dan di kecamatan-kecamatan lain, kayu ulin, merupakan komoditas yang menggiurkan. Dua puluh tahun yang lalu, kayu-kayu ini mudah diperoleh, diperjualbelikan dan apalagi dijadikan bahan bangunan bagi rumah-rumah penduduk yang membutuhkan. Sekarang, bahkan sepuluh tahun yang lalu, kayu-kayu ini tidak boleh dijual sembarangan. Kelangkaan ini akibat penggundulan berlebihan terhadap hutan-hutan di Kalimantan Timur. Dari beberapa sumber, diperkirakan lahan hutan di Kalimantan Timur hilang sekitar 350.000-500.000 hektar tiap tahun. Bisa dibayangkan kekuatan modal dan teknologi yang mampu menggerus hutan-hitan di Kalimantan ini.

Sebaliknya, petani-petani transmigran, tidak memiliki hak untuk menjadi produsen kayu di daerah ini. Mereka tidak memiliki ijin dan memiliki kewenangan terbatas dengan ratusan hektar hutan dan tanah belukar yang disediakan negara.

Jangankan pasar, fasilitas publik yang mereka perlukan saja sangat minimal. Transportasi darat tetap saja menyusahkan. Transportasi air, dari zaman kolonial Belanda sampai hari ini tidak berubah. Namun, di tengah situasi serba sulit ini, perusahaan-perusahaan besar memiliki privelege-privelege untuk membuka lahan dengan kekuatan mesin besar dan buruh-buruh yang sudah disiapkan – tidak lupa adalah surat sakti untuk mensahkan pendudukan mereka di areal tertentu.

Di Desa Atap, salah satu dari Kecamatan Sembakung, transportasi publik paling modern menuju Tarakan adalah kapal Boat bermuatan 20 orang. Perahu ini sayangnya tidak melaju tiap hari. Jika tidak didapatkan transportasi ini, orang-orang harus meregoh sekitar satu juta untuk menyewa Boat ke Tarakan-Sembakung.

Bisa dibayangkan jika seseorang dari Sembakung pergi ke Tarakan membawa hasil pertaniannya, biaya transportasinya sungguh sangat besar. Padahal satu-satunya kota teramai adalah Tarakan. Di Sembakung, hasil-hasil padi setempat bisa disimpan untuk beberapa bulan lamanya. Mereka juga bisa mengolah kayu, menanam sayuran dan peternakan. Akan tetapi, lahan-lahan di Sembakung yang bisa dimanfaatkan sesuka pemiliknya tidak didukung oleh fasilitas publik yang memberi kemudahan penduduk disini menjual produk-produknya. “Disini orang-orang memiliki uang, tapi untuk apa uang itu, belanja saja sulit harus pergi Tarakan”, kata ibu Rini, istri kepala desa Atap.

Kemudahan? Mungkin istilah ini terlalu dilebih-lebihkan untuk menjustifikasi “kemalasan” penduduk asli Sembakung. Faktanya, etos dikalangan orang-orang asli (sering disebut sebagai Dayak Agabak dan Dayak Tidung) disini terasa senjang dibandingkan misalnya dengan penduduk-penduduk pendatang. Semisal orang Jawa dan Bugis Makassar yang menguasai sektor perdagangan. Kedua etnis pendatang ini memiliki kisah sendiri dalam mengais hidup di Sembakung.

Kegigihan etnis pendatang ini bahkan direspon sebagai upaya otokritik oleh elite-elite Dayak Tidung sendiri. Misalnya, Bu Rini, istri kepala Desa Atap ini kerap merasa geram lantaran “kemalasan” saudara-saudaranya. Toh kita tidak cukup meneladani kegigihan orang-orang pendatang ini sembari mengacuhkan kekurangan-kekurangan yang pada dasarnya bersifat struktural. Orang Bugis misalnya, jaringan-jaringan yang sudah tersusun rapi dalam menguasai sektor pedagang dan transportasi memudahkan masuknya barang-barang yang mereka kirim dari Tarakan menuju desa-desa pedalaman di Sembakung. Jaringang-jaringan etnis ini nampaknya menjadi cara berjejaring paling jitu untuk menguasai sektor-sektor usaha tertentu. Kemahiran orang-orang Bugis Makassar disini terasah dalam menjalankan roda perniagaan mereka. Transportasi air, pedagang kelontong, nelayan, dan beberapa bagian di sektor birokrasi ditempati oleh kelompok-kelompok Bugis-Makassar.

Sayang, pengelompokan etnis ini mudah dijadikan sumbu untuk membakar konflik. Beberapa tahun yang lalu, Tarakan nyaris menjadi medan konflik Jilid ke-2 setelah kasus Dayak-Madura di Pontianak. Bermula dari soal persaingan bisnis antar orang dan beberapa kelompok, peristiwa ini sempat menyatukan sentimen orang-orang Dayak di Tarakan yang sesungguhnya dalam kehidupan sehari-hari saja mereka susah diintegrasikan. Termasuk di Sembakung, jika konflik dari Tarakan ini benar-benar meletus, penyisiran terhadap etnis-etnis tertentu sungguh susah untuk dihentikan.

Beruntunglah, konflik itu tidak terjadi lantaran kesigapan sebagian elite-elite tertentu dalam memediasi ketegangan itu. Namun, satu hal menarik dari peristiwa ini adalah perkara relasi antar etnis yang sekarang ini relevan kembali untuk didiskusikan. Saya kira di Tarakan, relasi antar kelompok dari latar belakang etnis yang beragam semakin mengental. Di negeri paling terpencil saja, semisal Sembakung, golongan-golongan penduduk sudah semakin ditempati dari latar belakang etnis yang beragam. Diskursus etnisitas menjadi penting mengingat tarikan di medan persaingan ekonomi pasar kerapkali harus menggunakan kekuatan etnisitas (tidak jarang juga agama) untuk membangun kontestasi antar kelompok. Sentimen etnis dan etnisitas benar-benar menjadi entitas sosial berupa kelompok yang solid ketika kita sadar bahwa disana tengah terjadi persaingan ekonomi politik yang begitu sengit.

Sebaliknya, yang nampak tidak jelas adalah pengelompokan Jawa yang memiliki langgam “adem ayem”. Paling tidak, saya temukan profil seperti ini di desa-desa Sembakung. Sebut saja Mbokde, sosok ibu-ibu berusia lima puluhan yang setia menjalani profesi sebagai pedagang keliling. Mbok de adalah sosok orang Jawa yang harus berjuang sendiri, meniti karir dari bawah untuk menjadi pedagang dengan pelanggan dan jaringan yang meluas. Pedagang-pedagang Jawa yang menguasai sektor komoditas pertanian seperti sayur-sayuran terutama adalah petani yang memiliki lahan untuk ditanan dengan komoditas yang bisa dilempar ke pasar. Selanjutnya, mereka tidak mungkin berharap pada kelompok lain yang pergi sendiri ke ladang-ladang mereka sebagai distributor yang siap menampung hasil panennya. Mereka sendirilah penjual yang mesti berkeliling dari satu desa ke desa lain untuk menjajakan dagangannya.

Kebebasan mengais rejeki memang terasa luas bagi pendatang-pendatang baru di Kalimantan Timur. Tapi, tanpa jejaring dan modal yang kuat, kebebasan itu tentu tidak mudah tersalurkan sebagai kekuatan untuk menghimpun sumber-sumber ekonomi. Mereka harus mengubur impian menjadi kaum kelas menengah baru. Bahkan menjadi tuan di negeri sendiri sungguh sangat mustahil. Wilayah-wilayah di luar Jawa sebenarnya adalah mutiara Khatulistiwa yang sesungguhnya. Namun, mutiara itu tidak pernah dirasakan dan dijemput sebagai sumber kemakmuran oleh kaum Transmigran.

Luar Jawa tetap saja dunia periferal yang menjadi ladang eksploitasi kaum pemodal. Ironisnya, para pemodal ini jarang mengalami fase sejarah migrasi ala Darmaji. Darmaji tetaplah merasa mapan sebagai pegawai negeri, meskipun terbentang luas kesempatan baginya untuk mengolah sawah, ladang sesuai kemampuannya. Kukira, Darmaji adalah tragedi. Meskipun lepuh keringatnya saat mendayung Sembakung dengan menerjang sungai sepanjang 300 Km masih ia ingat sampai hari ini, ingatan itu tetap saja masa senja yang belum bisa ia hapuskan dalam perjalanan hidupnya. Berharap pada uang pensiun sekitar satu juta, ia hidup hanya dengan mengandalkan cocok tanam di kebun yang hasilnya tidak seberapa.

Anggota Tim Supervisi Penelitian Hak Minoritas dan Multikulturalisme Tahap 3. Peneliti Yayasan Interseksi