Pengembangan Pariwisata Mamasa*)

PENDAHULUAN

Kegiatan Public Hearing yang dilakukan oleh The Interseksi Foundation, bertujuan untuk menyampaikan dan mendiskusikan hasil penelitian mereka, serta membuka ruang partisipasi publik dan menjaring suara warga masyarakat guna mendapatkan masukan (feedback) sebagai dasar untuk merumuskan dan mengusulkan alternatif kebijakan, dalam rangka menjadikan warga masyarakat sebagai aktor utama Pembangunan Pariwisata di Kabupaten Mamasa.

Penulis mendapat kehormatan menjadi salah satu pembicara pada acara ini. Dan sebagai praktisi dan pelaku Pariwisata pada masa lampau, Penulis akan lebih banyak berbicara dari sisi pengalaman praktis, bukan berdasarkan teori-teori akademik sebagaimana lazimnya sebagai seorang yang berlatar-belakang akademisi. Penulis berharap, pendekatan ini akan memberi manfaat kepada para peserta Public Hearing dan The Interseksi Foundation, dengan pertimbangan bahwa pendekatan akademik Ilmiah akan disampaikan oleh Pembicara lain, sehingga apa yang diharapkan penggagas pertemuan ini dapat tercapai.

MAMASA PADA MASA LAMPAU DAN SEKARANG

Zaman Kolonial Belanda

Mr. Schwarsen adalah mantan Kontroleur Mamasa, dan pernah menjadi orang nomor satu di Onderafdeling boven Binuang en Pitu Ulunna Salu di Zaman penjajahan Belanda. Mr.Schwarsen diwawancara Arianus Mandadung di Toraja (1979), dan menjelaskan bahwa pada zaman pemerintahan Kolonial Belanda, ada 5 tempat di Pulau Sulawesi yang ditetapkan sebagai tempat peristirahatan, yaitu : (1) Tomohon dekat danau Tondano dengan keindahan alam dan air panas alamnya di Sulawesi Utara, (2) Makula’ di Makale Tana Toraja dengan permandian air panas alamnya, (3) Malino dengan udaranya yang sejuk serta pemandangan pegunungan yang indah, (4) Soppeng dengan udara sejuk dan permandian alamnya, dan (5) Mamasa ditetapkan sebagai tempat peristirahatan yang penting dan dikenal sebagai kota sejuk dan kota bunga dengan permandian air panas dan pemandangan alamnya yang mempesona.

Zaman Orde Baru

Menjelang Konprensi PATA (Pasific Asia Travel Association) di Jakarta dan Bali tahun 1974, Panitia Penyelanggara melakukan kunjungan ke daerah-daerah potensial di bidang pariwisata, dan tiba di Mamasa tanggal 31 Juni – 01 Juli 1973, dan memberi julukan Mamasa sebagai The Smiling Mountain of Mamasa, artinya “Senyuman Pegunungan Mamasa”.

Selanjutnya, berdasarkan Rencana Induk Pengembangan (RIP) Pariwisata Daerah Tkt.I Propinsi Sulawesi Selatan, menetapkan 5 Daerah Tujuan Wisata (DTW), yaitu: DTW Makassar dengan nilai 28 (ranking I), DTW Entalu dengan nilai 26,5 (ranking II), DTW Mapol dengan nilai 21,5 (ranking III), DTW Sinbu dengan nilai 16,5, DTW Bosowa dengan nilai 13,5, dan DTW Bapapinsid dengan nilai 11,5. Mamasa ditetapkan sebagai pusat pengembangan DTW Mapol, (Majene, Polewali Mamasa) karena memiliki potensi objek dan atraksi wisata yang menarik.

Zaman Orde Reformasi

Sejak Mamasa dimekarkan menjadi salah satu kabupaten dan bergabung dengan propinsi Sulawesi Barat, lagi-lagi Mamasa ditetapkan sebagai destinasi unggulan Sulawesi Barat. Kebijakan Pemerintah Propinsi Sulawesi Barat, telah menetapkan 18 pola perjalanan wisata (travel pattern) Propinsi Sulbar, yang diberi kode PPSB 01 – PPSB 18, dan 13 diantara PPSB tersebut berada di Kab. Mamasa. Ini berarti Kab. Mamasa sebagai destinasi unggulan Propinsi Sulbar. Bahkan Dinas Pariwisata Sulbar memberi nama yang cukup menarik terhadap beberapa pola perjalanan wisata tersebut, seperti : Night Mamasa smiling higland tour, Night higland paradise Sambabo waterfall tour, Night lovely forest and waterfals adventure trekking tour, dan sebagainya.

POTENSI OBJEK DAN ATRAKSI WISATA MAMASA

Uraian di atas, memperlihatkan bahwa dari tiga dekade pemerintahan, yaitu zaman penjajahan Belanda, zaman pemerintahan Orde Baru, dan zaman Orde Reformasi, Mamasa selalu mendapat tempat terhormat sebagai destinasi unggulan. Hal ini beralasan karena Mamasa memiliki potensi objek dan atraksi wisata yang banyak dan menarik. Tetapi sejauh itu pula, potensi objek dan atraksi wisata yang ada tetaplah menjadi potensi, dan hingga pada saat ini belum mampu memberikan kontribusi yang berarti untuk kehidupan masyarakat. Berdasarkan impentarisasi yang dilakukan oleh Arianus Mandadung (2002 – 2014), di Mamasa terdapat 130 objek dan atraksi wisata yang menarik, terdiri atas :

1 Kelompok sumber air panas alam 16 buah
2 Kelompok air terjun alam untuk rekreasi 20 buah
3 Kelompok panorama alam yang menarik 5 buah
4 Kelompok gua alam, sungai bawah tanah dan monumen 6 buah
5 Kelompok hutan wisata flora dan fauna untuk trekking 5 buah
6 Kelompok wisata tirta arung jeram (rafting) 3 buah
7 Kelompok pendakian gunung dan perkemahan wisata 5 buah
8 Kelompok perkampungan rumah adat/tradisional 42 buah
9 Kelompok kuburan tradisional 12 buah
10 Kelompok batu bermitos 4 buah
11 Kelompok tenunan tradiisional 3 buah
12 Kelompok sanggar tari dan musik tradisional 9 buah
Jumlah 130 buah

Impentarisasi objek dan atraksi wisata tersebut di atas, berdasarkan survey yang dilakukan secara individu, dan bukan satu-satunya sumber informasi. Penulis yakin, pihak lainpun telah melakukan hal yang sama termasuk Dinas Pariwisata Kabupaten Mamasa, dan wajar saja jika terjadi perbedaan secara kuantitatif mengingat cara pandang yang berbeda terhadap sumber daya alam yang menarik, serta kriteria yang dipakai untuk meihat suatu objek. Secara umum, objek dan atraksi wisata tersebut di atas, dapat dikelompokkan menjadi :

  1. Objek wisata alam:
    • Pemandangan alam
    • Hutan tropis
    • Air terjun
    • Air panas
  2. Objek wisata budaya:
    • Rumah tradisional/kampung tradisional
    • Atraksi budaya
    • Arsitektur kuburan
  3. Minat khusus:
    • Rafting
    • Trekking
    • Wisata keagamaan

PEMBANGUNAN PARIWISATA MAMASA

Pembangunan Pariwisata Mamasa Pada Masa Lampau

Sejak proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia daerah ini belum mampu berbicara banyak di bidang pariwisata. Zaman pemerintahan Orde Lama, pembangunan di bidang pariwisata memang masih sangat terbatas. Namun di era pemerintahan Orde Baru, pembangunan di bidang pariwisata merupakan salah satu prioritas utama Pemerintah, dan mampu menduduki peringkat ketiga pemasok devisa negara. Walaupun secara Nasional dan secara Regional Sulawesi Selatan pembangunan pariwisata digalakkan, namun nasib Mamasa belumlah cerah seperti daerah tujuan wisata lainnya. Hal ini terutama disebabkan oleh terbatasnya imprastruktur jalanan, sehingga para pelaku pariwisata utamanya biro perjalanan wisata, sangat sulit untuk menjual paket tour untuk Mamasa, utamanya untuk paket regular tour. Kalaupun ada, hanya terbatas pada paket wisata minat khusus (Special Interest), seperti paket trakking yang banyak diminati wisatawan mancanegara di era tahun 1990-an.

Pembangunan Pariwisata Mamasa Masa Kini

Berbicara tentang pembangunan Pariwisata Mamasa pada masa kini, pertanyaan yang timbul adalah hendak dimulai dari mana? Kenyataan di lapangan, sejak Kabupaten Mamasa dimekarkan melalui Undang-Undang Nomor No. 11 Tahun 2002 atau sudah berusia 13 tahun, ternyata potensi objek dan atraksi wisata di Kabupaten ini, tetap menjadi potensi yang tidur dan belum memberikan kontribusi yang berarti bagi masyarakat. Pada hal Undang-undang No.32 tahun 2003 tentang Otonomi Daerah setiap daerah di Indonesia berupaya memperoleh Pendapatan Asli Daerah (PAD). Salah satu upaya untuk memperoleh pemasukan pendapatan tersebut dengan menggalakkan kegiatan pariwisata yang ada di daerah. (termasuk Mamasa). Hal ini juga sejalan dengan bunyi pasal 3 ayat d Undang-undang No.9 tahun 1990 tentang Kepariwisataan, yaitu meningkatkan pendapatan nasional dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Berdasarkan kenyataan ini, hendaknya stakeholder kepariwisataan yang ada di Mamasa berpikir ulang untuk menata pembangunan kepariwisatan di Mamasa, sehingga amanat undang-undang yang berhubungan dengan kepariwisataan dapat dilaksanakan dengan baik.

Kendala yang dihadapi

Kendala utama yang dihadapi untuk membangun pariwisata di Mamasa, adalah terbatasnya imprastruktur jalanan. Sejak pemerintahan Orde Baru hingga pada saat ini, jalan poros Polewali Mamasa sebagai urat nadi perekonomian dan jalur wisata kondisinya sangat jelek. Begitupun halnya jalan Srategis Nasional Salubatu – Mamasa, dan Mamasa – Toraja walaupun sudah dirintis, tapi kondisinya juga tidak lebih baik dari jalan poros polewali Mamasa. Sehingga harapan para praktisi wisata untuk menjual paket tour yang sudah ditetapkan Pemerintah Propinsi Sulbar, masih jauh. Pemerintah Propinsi Sulbar telah menetapkan Mamasa sebagai destinasi unggulan, dan pola perjalanan wisata Sulbar yang dikemas dalam bentuk Travel Pattern, dan siap dijual tapi apa daya, semuanya belum dapat berbuah manis akibat dari imprastruktur jalan yang sangat jelek. Bandara Sumarorong sebagai bandara perintis, telah dibangun dengan maksud untuk memperpendek jarak para wisatawan secara regional dari Makassar, Toraja, dan Mamuju. Bandara ini telah berfungsi tapi jalan arteri sebagai jalur wisatawan ke tempat objek dan atraksi wisata kondisinya masih sangat jelek, sehingga wisatawan enggan membeli paket tour yang ditawarkan. Oleh sebab itu, tidaklah berlebihan kalau Penulis berpendapat bahwa :

“ BAGAIMANAPUN BAGUSNYA PROGRAM YANG DISUSUN, ATAU DIKEMAS DALAM BENTUK TRAVEL PATTERN YANG EXELLEN, TAPI IMPRASTRUKTUR SEPERTI SEKARANG, SEMUANYA AKAN SIA-SIA.” Dan “WALAUPUN SETAHUN KITA SEMINAR DI SINI, KALAU IMPRASTRUKTUR TIDAK DIPERBAIKI, JUGA TIDAK ADA GUNANYA” .

Strategi Pengembangan

Pemerintah Propinsi Sulawesi Barat telah menetapkan Mamasa sebagai destinasi unggulan. Juga telah menetapkan 18 pola perjalanan wisata (travel pattern) Propinsi Sulbar, yang diberi kode PPSB 01 – PPSB 18, dan 13 diantara PPSB tersebut berada di Kab. Mamasa. Oleh sebab itu, untuk menunjang program tersebut tidak ada pilihan lain, selain dari pada memperbaiki imprastruktur jalanan agar pola perjalanan yang sudah disusun itu, dapat tercapai.

Secara lokal, Pemerintah dan masyarakat di Kabupaten Mamasa harus mempersiapkan diri, utamanya menata objek dan atraksi wisata yang ada, sehingga memenuhi harapan wisatawan, yaitu objek dan atraksi wisata, diarahkan untuk memenuhi : (1) Something to see , (2) Something to do, dan (3) Something to buy. Agar pembangunan objek dan atraksi wisata tetap berkelanjutan (sustainable), strategi pengembangan yang harus diperhatikan adalah :

  1. Potensi wisata alam dan budaya dikembangkan dan dipromosi secara bertahap (jangan diobral).
  2. Dipesfikasi Objek dan Atraksi Wisata
  3. Harus ada ciri khas (Apa yang kita miliki, jangan sama persis dengan milik orang lain).
  4. Berupaya mengembalikan masa lampau Mamasa sebagai kota sejuk dan kota bunga agar Mamasa dapat dikenang. Untuk itu, pelestarian lingkungan hidup harus diperhatikan, serta menata kembali kota Mamasa dengan menanam bunga sebagai ciri khas kota Mamasa.

Peran Masyarakat Dalam Pembangunan Pariwisata Mamasa

Pasal 30 Undang-undang Nomor 9 tahun 1990 tentang Kepariwisataan, menjelaskan bahwa peran serta masyarakat dalam membangun kepariwisataan adalah : (1) Masyarakat memiliki kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperan serta dalam penyelenggaraan kepariwisataan, (2) Dalam rangka proses pengambilan keputusan, Pemerintah dapat mengikutsertakan masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) melalui penyampaian saran, pendapat, dan pertimbangan.

Berdasarkan pasal 7 Undang-undang nomor 9 tahun 1990 tersebut, menjelaskan berbagai jenis usaha pariwisata yang dapat dikembangkan oleh masyarakat, yaitu : (1) Usaha jasa pariwisata, (2) Pengusahaan objek dan daya tarik wisata, dan (3) Usaha sarana wisata. Ketiga jenis usaha tersebut dijabarkan lebih lanjut dalam pasal 8 sampai dengan pasal 29 yang lebih diperinci berdasarkan jenis usaha pariwisata yang dapat dilakukan oleh masyarakat. Oleh sebab itu, jika pariwisata dapat berjalan di suatu daerah, akan membuka kesempatan kerja dan kesempatan berusaha yang seluas-luasnya bagi masyarakat.

PENUTUP

Dari penjelasan ini, sangat jelas peranan masing-masing pihak, yaitu Pemerintah memperbaiki imprastrukur dan suprastruktur, yang pada gilirannya akan memberi dampak yang luas bagi kehidupan masyarakat, termasuk peluang berusaha di bidang pariwisata, serta bersama-sama masyarakat mempersiapkan objek dan atraksi wisata dan mengembalikan wajah kota Mamasa sebagai kota bunga. Dengan demikian, akan terbuka peluang bagi masyarakat untuk berusaha, termasuk usaha di bidang industri pariwisata. Jika kondisi ini tercipta, harapan untuk menjadikan masyarakat menjadi aktor utama dalam pembangunan pariwisata dapat tercapai.

DAFTAR RUJUKAN

Anonim. 1998. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1990 Tentang Kepariwisataan. Jakarta : Sekretariat Kabinet RI

_______ 2011. Travel Pattern of West Sulawesi Province, the new Tourist Destination of Indonesia. Mamuju : Dinas Pemuda Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Sulawesi Barat.

Hadinoto. 1975. Rencana Induk Pengembangan (RIP) Pariwisata Daerah Tk.I Propinsi Sulawesi Selatan. Makassar : Dinas Pariwisata Propinsi Sul-Sel.

Mandadung, Arianus, 1999. Mamasa Dalam Lintasan Sejarah, Bidaya, Pariwisata, Seri A, Makassar : Pustaka Pribadi

__________. 2003. 55 Tahun Perjuangan Rakyat Kabupaten Mamasa. Mamasa : Bappeda Kab. Mamasa

__________ 2014. Potensi Wisata Kabupaten Mamasa dari Masa ke Masa. Makassar: Pustaka Pribadi

Sharpley, Richard. 2009. Tourism Development and the Environment : Beyond Sustainability. London : Earthscan

*) Makalah disampaikan pada Public Hearing The Interseksi Foundation Jakarta di depan jajaran Pemkab dan Masyarakat Kabupaten Mamasa tanggal 25 Februari 2015 di Mamasa

Intelektual Mamasa, Pengajar di Universitas Negeri Makassar