September 15, 2008/ 19:36 | Filed in:
CHRONICLES
Romiana Manurung
Peserta Program Pelatihan Penelitian
HAM dan Diversitas Kultural Yayasan
Interseksi-HIVOS 2008
Bekerja pada Yayasan Pembela Rakyat
Pinggiran, Medan, Sumatra Utara.
Aku tidak tahu harus memulai dari mana.
Menuliskan jurnal harian yang kerap
“ditagih” pak Hikmat melalui Dina, bagiku
terasa berat sekali. Setiap kali aku
selesai menulis, aku selalu tidak puas
dengan hasil tulisanku, sehingga kuulang,
kuulang dan kuulang. Akhirnya semua
menumpuk tak satupun yang jelas.
-
Baca Juga Kronika
Terkait
Ketika Dina bertanya padaku tentang hasil
wawancaraku, aku bisa memberikan informasi
yang banyak (menurut Dina) sehingga aku
tidak perlu lagi sebenarnya mencari data
kelapangan karena hampir semua data yang
dibutuhkan sudah ada di tanganku.
Gerakan Kelompok Warga Rumah Susun (KWRS)
Amplas dalam mempertahankan hak-hak
perumahan, yang menjadi subjek
penelitianku, memang tidak asing bagiku.
Baik hubungan dengan warga di rusun secara
kelembagaan (YPRP – KWRS), secara pribadi
(beberapa kali mereka curhat tentang
masalah rumah tangganya) ataupun
perkembangan kasusnya aku sudah mulai
hapal. Karena memang selain melakukan
penelitian, sejak awal aku sudah menjadi
bagian yang ikut dalam advokasi kasus ini.
Tapi lagi-lagi untuk menuliskannya menjadi
sebuah laporan, cerita atau jurnal atau
apalah aku kerap berucap “ampun”.
Huh…!!!, kadang-kadang aku berfikir lebih
baik aku mewawancarai mereka saja terus dan
terus tapi jangan suruh aku
menulisannya.hehe.
KWRS Amplas berjuang mempertahankan rusun
agar tidak digusur oleh PD. Pembangunan
sejak akhir Februari lalu. Dalam gerakan
yang mereka lakukan, banyak sekali jawaban
atas pertanyaan-pertanyaan yang bisa
memuluskkan penelitianku. Hanya saja aku
merasa (seperti biasa) belum mendapatkan
format yang tepat untuk menuliskannya dan
membaginya pada Interseksi.
Kesulitan lain yang kuhadapi adalah pada
saat aku menulis, emosiku muncul. Aku
marah, sedih, dan ikut merasa sakit ketika
rekaman cerita warga rusun kuulang lagi.
Padahal saat workshop Agustus lalu kami
sudah diwanti-wanti agar jangan menulis
dengan “marah” dan saat itu aku yakin bahwa
aku bisa melakukannya, tapi dugaanku salah,
nyatanya aku masih belum bisa melakukannya
seobjektif mungkin.
Warga rusun Amplas, terdiri dari 2
kelompok. Kelompok pertama adalah warga
yang berjuang mempertahankan rumah susun
yang tergabung dalam KWRS Amplas dan
kelompok kedua yaitu kelompok warga yang
pro pada kebijakan yang dibuat oleh PD.
Pembangunan. Perbedaan misi kedua kelompok
ini menjadi sebuah konflik horizontal yang
terus terbangun.
Menghadapi 2 kelompok ini, aku juga bingung
harus berada pada posisi yang bagaimana.
Satu sisi aku tidak bisa melepaskan diri
sebagai pendamping dan lembagaku memberi
tugas agar aku bisa menjadi pemersatu bagi
perseteruan mereka. Aku harus bisa merubah
orientasi warga yang pro PD. Pembangunan
sehingga sadar akan hak-haknya dan ikut
sama-sama berjuang sehingga konflik yang
selama ini terbangun bisa terkikis habis.
Ketika aku melakukan wawancara pada
kelompok warga yang pro PD. Pembangunan,
aku menemukan banyak data untuk
penelitianku, dan aku juga menemukan
strategi yang dipakai PD. Pembangunan.
Disini aku mulai bingung apakah informasi
tentang strategi tersebut perlu aku sher ke
kawan-kawan KWRS, yang tentu saja jika itu
kusampaikan dapat membantu mempermudah
gerakan mereka dalam menyusun strategi
tandingan ini jika melihat kebutuhanku
sebagai pendamping, tapi kalau itu
kulakukan menurutku (sebagai peneliti)
tidak etis. Aku merasa menghianati
informanku dan sudah merusak kepercayaan
yang mereka berikan kepadaku. Aku juga
tidak mau karena informasi yang kusampaikan
kepada KWRS malah memperuncing perseteruan
mereka. Kedua kelompok ini sangat
sensitive, selalu punya padangan yang buruk
terhadap lawan-lawannya.
Kebingungan-kebingungan di atas jika terus
kubiarkan sangat kusadari dapat menghambat
dua pekerjaanku. Aku sebagai seorang
pendamping dan aku sebagai peneliti. Semua
itu tidak lain karena hanya kurekam dalam
kepalaku, kubiarkan menumpuk dan kalaupun
sudah kutuliskan lalu kusembunyikan dan
kunikmati sendiri. Tampaknya aku harus
mulai berani mengeluarkan tulisanku dari
persembunyiannya. Semoga..