September 12, 2008/ 18:03 | Filed in:
CHRONICLES
Hilma Safitri
Peserta Program Pelatihan Penelitian
HAM dan Diversitas Kultural Yayasan
Interseksi-HIVOS 2008
Bekerja sebagai Peneliti pada AKATIGA,
Bandung.
Kedatangan saya ke FPPB – Batang, pertama
kali hanya dengan bekal bahwa saya pernah
berkenalan dengan Mas Handoko, yang
kebetulan pernah saya undang untuk menjadi
salah satu pengajar tamu pada Sekolah
Politik Reforma Agraria angkatan I, diawal
tahun 2007. Kedatanganku ke FPPB juga dalam
rangka mengantar seorang teman – kandidat
Ph.D dari Toronto University, Toronto
Canada – meminta aku untuk menemani di awal
studi lapangannya di tempat yang sama.
Kedua hal tersebut yang membuatku kemudian
berkeinginan untuk mengkaji lebih jauh
tentang FPPB. Jadi, FPPB adalah organisasi
tani di Jawa Tengah yang ‘baru’ aku
datangi. Jika sebelumnya pernah ‘bertemu’
dengan teman-teman FPPB, tentunya bukan
untuk konteks kajian atau studi. Jadi,
kedua hal tersebut merupakan alasan bagi
saya untuk dapat mempelajari (kembali)
organisasi tani lain yang ada di Indonesia,
selain Serikat Petani Pasundan (SPP) dan
Serikat Tani Bengkulu (STAB). Demikianlah,
dalam konteks mempelajari seluk beluk
organisasi, bagi saya, FPPB adalah
organisasi tani ketiga yang saya pelajari.
-
Baca Juga
Walaupun ketiga organisasi yang sudah dan
sedang saya pelajari adalah Organisasi
Tani, masing-masing memiliki ciri khasnya
masing-masing. Salah satunya adalah
bagaimana mereka melakukan upaya
pendokumentasian seluruh korespondensi
surat-menyurat antara organisasi dengan
jaringan atau dengan pihak-pihak terkait
didalam penyelesaian kasus (seperti
Kepolisian, departemen terkait, institusi
pengadilan dsb.). FPPB termasuk organisasi
yang baik didalam memperlakukan
berkas-berkas surat menyurat, mereka
melakukan filing yang baik, sehingga bagi
siapapun yang akan mengaksesnya dengan
mudah kemudian mengerti apa yang sedang
terjadi di FPPB. Saya termasuk salah satu
yang betul-betul mendapatkan manfaat dari
upaya baik mereka, karena saya kemudian
mengandalkan dokumen-dokumen tersebut
sebagai awalan diskusi dengan seluruh
personil FPPB.
Bagi saya, yang terpenting adalah
dokumen-dokumen itu telah membantu saya di
tahap awal karena saya termasuk orang yang
tidak berbahasa Jawa, sementara bahasa
sehari-hari mereka adalah bahasa Jawa.
Didalam situasi baru saling mengenal,
sangat sungkan bagi saya untuk meminta
mereka berkomunikasi dengan bahasa
Indonesia, apalagi jika meminta seseorang
untuk secara langsung mengulang apa yang
mereka katakan dalam Bahasa Indonesia.
Sebagai ‘pendatang’ baru, saya haruslah
menjaga sikap dan harus berupaya masuk ke
kehidupan mereka sebisa-bisanya. Di
tengah-tengah sedang berpikir keras untuk
mengingat kata demi kata dalam Bahasa Jawa,
ketika saya memasuki
ruangan
computer – begitu mereka menyebut
salah satu ruangan di rumah tua yang
dijadikan sekretariat FPPB – saya sangat
gembira karena saya melihat barisan map
yang bertuliskan nama kasus yang ada di
FPPB atau nama OTL anggota FPPB. Segera
saya bertanya kepada seseorang yang
mengurus surat-menyurat tersebut, “Apakah
saya boleh melihat dokumen-dokumen didalam
map ini??”, secara spontan pula dia
menjawab “silahkan.. ga usah sungkan..”.
Sesuai dengan kegemaranku, mulailah saya
membuka satu persatu map yang berbaris
dengan rapih di rak yang ada di ruang
computer tersebut. Memang nasib sedang
berpihak padaku, karena dengan membuka satu
persatu seluruh map yang ada, maka saya
dengan mudah mendapatkan gambaran awal
tentang organisasi ini. Mereka begitu baik
menyimpan seluruh dokumen organisasi sejak
organisasi ini berdiri pada tahun 2000.
Begitu juga dengan dokumen-dokumen yang
berisi catatan diskusi di kampong-kampung
yang ditulis dengan tulisan tangan.
Kurang lebih 1 minggu, saya membongkar
dokumen-dokumen arsip mereka, sehingga
akhirnya saya berhasil melakukan
rekonstruksi beberapa kasus/konflik tanah
yang dialami oleh 5 anggota FPPB. Selain
itu, saya juga berhasil merekonstruksi
berbagai perubahan dari waktu ke waktu,
sehingga saya dapat memahami dengan baik
bagaimana FPPB dikatakan telah ‘berhasil’
membangun strategi perjuangan sehingga
dapat mendudukan kadernya menjadi kepala
desa, hal ini pula yang kemudian FPPB
sangat identik dengan semboyan “Dari
Gerakan Sosial Menuju Gerakan Politik”.
Kembali ke soal bagaimana proses
dokumentasi yang baik, setidaknya telah
membantu saya di awal proses penelitian
lapangan ini – khususnya dalam persoalan
bahasa - tetapi dalam konteks penelitian
yang lebih luas, dokumen yang sifatnya
official seperti dokumen yang ada di FPPB
dapat dijadikan data yang valid. Namun
demikian, sepanjang pengalaman saya, banyak
juga hal-hal yang tidak tercover didalam
dokumen organisasi tersebut. Salah satunya
adalah tidak tergambar sama sekali didalam
dokumen yang saya pelajari, bahwa banyak
pihak-pihak diluar organisasi tani yang
membantu atau menjadi motor gerakan FPPB.
Hal ini hanya bias didapatkan dengan cara
melihat langsung kerja keseharian mereka,
atau melakukan wawancara mendalam untuk
mengetahui siapa-siapa saja pihak yang
terlibat di masa lalu dan tidak terlibat
lagi di masa sekarang, dan mengapa.
Tentunya banyak hal yang tidak terinci
didalam dokumen, dan harus ditanyakan
langsung, misalnya tentang strategi yang
sedang berjalan, kenapa strategi bias
berubah-ubah setiap saat, dan saat kapan
strategi bias berubah dan untuk tujuan apa,
dan terakhir yang selalu ingin saya
tanyakan, apakah perubahan strategi yang
dilakukan setiap saat akan mempengaruhi
target besar perjuangan?