Dina Amalia Susamto
Peneliti Yayasan Interseksi
Sejak pertama aku mendengar kabar
dari Pak Hikmat, aku menggantikan beliau
untuk berangkat ke Medan menjadi supervisor
Romi, aku bahagia sekali. Ini tugas
pertamaku ke daerah dan aku merasa
beruntung mendapat kesempatan ke
lapangan—suatu hal yang jarang dilakukan
andai aku memilih bekerja di universitas.
Sebelum ke Medan aku merasa sudah tidak
enak badan. Aku juga terus berpikir,
perjalanan nanti adalah perjalanan
pertamaku menggunakan pesawat terbang, aku
takut sebenarnya. Sebuah ketakutan yang
wajar karena memori ini memang hanya diisi
oleh peristiwa kecelakaan pesawat yang
puluhan kali sudah terjadi dengan
mengenaskan. Tapi aku tidak boleh menyerah,
tidak boleh sakit, nanti tidak jadi ke
Medan!
Pesawat di Bandara berangkat pukul 11.00.
Sekujur tubuhku dibalut dingin begitu
diumumkan sebentar lagi take off.
Berkali-kali aku merasa gelisah memeriksa
seatbelt, mengencangkannya, sampai
benar-benar kencang, hingga kurasakan
perutku kejang dan mual entah oleh ikatan
yang begitu kuat atau oleh deraan rasa
cemas. Tapi kukira dua-duanya. Pesawat
mulai naik, aku tidak takut ketinggian—aku
terbiasa naik gunung—tapi dalam pesawat ini
perasaanku melayang, jantungku berdetak
sangat kencang dan aku hanya bisa berdoa.
Aku harus percaya pada pilot yang
mengendalikan pesawat, aku harus percaya
pada Lion air yang kutumpangi—meskipun
begitu buruk citra penerbangan
Indonesia—dan terlebih lagi harus percaya,
hanya Tuhan yang mempunyai nyawa. Yang
harus terjadi terjadilah! Tapi aku memohon
aku selamat tak kurang suatu apa sampai di
Medan.
Dua jam berlalu sangat lama. Aku bosan.
Hampir tidak bisa memejamkan mata.
Awan-awan yang ada di bawahku memang cukup
menghibur. Ia sempat menarik suatu
imajinasi indah tentang permadani putih
yang dapat dijadikan arena bermain
anak-anak, karena tanah di atas bumi sudah
sangat sempit. Awan-awan bisa menjadi
negeri baru tempat manusia membangun
peradaban. Tanah di bawah sana karena
sempitnya menjadi biang keributan,
perkelahian sesama dan bahkan untuk satu
kehidupan rela menghisap kehidupan yang
lain. Semua sudah digusur. Kuburan digusur.
Bagaimana kalau kuburan dipindahkan di
awan? Ohh…..aku terkesiap sendiri. Jangan
berpikir kuburan di awan. Jangan berpikir
kematian di pesawat terbang! Maka aku
melihat awan yang semula indah menjadi
sangat membosankan, menakutkan, dan warna
putihnya menyilaukan mata.
Begitu pesawat mulai turun, kembali aku
diguyur takut, tapi aku sangat berharap, di
bawah sana aku sudah melihat hijaunya hutan
yang kutebak wilayah bukit barisan.
Bagaimanapun bumi tempat kehidupan manusia.
Aku lebih suka hidup di sana, tempat penuh
pertikaian itu, tempat penderitaan itu,
dari pada hidup di angkasa di atas awan
yang semuanya putih dan membosankan.
Tepat pukul 13.00 pesawat telah
mendarat. Aku menyalakan HP, menghubungi
Romiana. Aku sms Romi, “Di Medan, aku tak
kenal siapapun. Mulai detik ini, selama di
Medan, hidupku hanya untuk melayani kamu.”
Romi membalas dengan tertawa dan
mengatakan, sebentar lagi berangkat ke
Bandara.
Dua puluh menit aku menunggu Romi di ruang
tunggu yang tak ada tempat duduknya.
Polonia hanya bandara keciln dibanding
Sukarno-Hatta. Aku menumpang duduk di depan
toko di Bandara. Berkali-kali sopir taksi
menawariku, dan selalu kujawab, “sudah ada
yang jemput.” Ada seorang sopir taksi yang
menawari tumpangan taksi dengan bahasa
Jawa. Dalam hati aku tertawa, “Pede banget
dia, tahu darimana aku bisa bahasa Jawa?”
Romiana dari jauh melambai-lambaikan
tangan. Ia mengenakan kaos merah.
Sopir taksi yang sejak tadi tampaknya
menguntit Romi, menawari tumpangan. Temanku
itu menjawab tegas ala Medan, “Nggak Pak,
kami naik kereta.” Aku kira setelah ini,
kami memang harus naik kereta. Tapi aku
tertawa ketika diajak Romi ke parkir motor
dan mengatakan bahwa “kereta” di sini
berarti “motor”. Sepanjang jalan aku dan
Romi tertawa, menyebut beberapa istilah
yang di luar dugaanku. Memang aneh.
“Ini Medan, Bung!” Tiba-tiba aku seperti
diingatkan tulisan selamat datang di kota
Medan dalam Film “Nagabonar (Jadi) 2”.
Semula aku meminta Romi mengantarku ke
hotel yang terletak di kawasan yang tinggal
1 kali naik angkot ke Amplas. Tapi
perjalanan dengan kereta sudah setengah
jam. Perutku mengingatkan, aku belum makan
siang. Aku mengajak Romi makan siang
dimanapun. Setelah berputar-putar lagi kami
menemukan rumah makan padang. Perjalanan
dilanjutkan hanya setelah setengah jam kami
makan. Tapi kami tidak jadi pergi ke hotel.
Aku meminta Romi untuk bersamaku menginap
di hotel, supaya sampai larut malam pun
bisa berdiskusi. Romi sepakat sebenarnya,
hanya di rumahnya sedang tidak ada orang,
dan keponakannya menunggui rumah sendirian.
Gadis Medan itu menawarkan rumahnya sebagai
pengganti hotel. Aku setuju saja demi
kelancaran semua. Aku pikir dari pada aku
tidur di hotel sendirian, sepi, tidak tahu
tempat, lebih baik aku menginap di Romi
dengan harapan aku bisa tahu bagaimana
bahasa Batak sehari-hari. Selama kenal
Romi, aku menangkap dialek bahasa Melayu
yang diucapkan Romi, bukan Batak yang
kukenal.
Hari pertama di Medan itu, kami memutuskan
ke kantor Romi di YRPP yang ternyata berada
di daerah agak pinggiran. Tetapi sebelumnya
aku diajak mampir di Kontras Medan. Letak
YRPP yang justru bukan di pusat keramaian
membuat kantor itu menarik. Kantor YRPP
cukup besar, terdiri dari banyak ruang dan
besar-besar. Aku diperkenalkan dengan
teman-teman Romi satu-satu. Dan sampai
sekarang hanya beberapa nama saja yang
dapat aku ingat. Teman sekantor Romi banyak
sekali. Aku istirahat di kursi plastik.
Kata Romi, jam 16.00, dia ada keperluan.
Aku memilih menunggu di warnet yang
letaknya di depan dekat jalan raya—yang
ditempuh dengan jalan kaki kira-kira 300 m.
Di warnet aku membuka-buka situs
interseksi, chatting dengan beberapa teman
di Jakarta dan Bandung. Dua jam berlalu di
dunia maya tanpa terasa padahal kakiku
menginjak bumi Medan. Kalau Romi tidak
muncul lagi di hadapanku, kesadaran ruangku
benar-benar terganggu.
Kami melanjutkan perjalanan ke Rumah
Romi dengan angkot yang disebut “motor”.
Sebenarnya kata Romi bisa ditempuh dengan
satu kali angkot, tapi angkot ke Tanjung
Anom langka, terpaksa kita menempuh dua
kali moda angkutan umum. Wah, rumah Romi
jauh, kantor YRPP katanya sudah masuk
pinggiran, dan Tanjung Anom ternyata lebih
pinggir lagi. Romi mengajak berbelanja dulu
di sebuah pasar kecil untuk makan malam
sambil menunggu keponakannya menjemput
dengan “kereta”. Kami bertiga berboncengan
seperti ikan tongkol yang kecil-kecil
dijajar di atas sadel motor. Aku terkesima,
aku seperti pernah melewati tempat-tempat
ini. Jalanan memanjang dengan kanan kiri
ladang-ladang yang sepi. Aku mendongak ke
langit yang ditaburi beberapa bintang,
udara malam yang sejuk. Tak salah lagi,
perjalanan ini mengingatkanku ke tempat
kakek di pedalaman Lampung Timur—tempat
para transmigran bermukim. Kata Romi,
perumahan tempat mereka tinggal adalah
perumahan baru, maklum kalau masih sepi.
Aku menghela nafas, kalau disuruh jalan
sendirian di tempat begini, naik ojegpun
aku tidak akan berani.
Di rumah Romi aku tidak bisa langsung
tidur. Kebiasaan burukku agak susah tidur
di tempat yang baru pertama kudatangi. Saat
itu kupikir waktu yang tepat mendengar
cerita-cerita Romi dari lapangan di Amplas.
Aku lebih paham situasinya ketika Romi
sudah bercerita panjang lebar. Kami
mengobrol sampai larut, jam 1 dinihari aku
baru bisa memejamkan mata.
Jam 9 pagi kami menuju YRPP. Sebelum
berangkat Romi mengajakku melihat sungai
besar di dekat perumahan mereka. Sungai itu
berbatu-batu sehingga airnya cukup jernih.
Sayang tidak ada kesempatan mandi di
sungai. Aku hanya bisa memotret-motret
dengan rasa iri. Jam 12 siang kami baru
pergi ke Amplas setelah Romi menyelesaikan
beberapa urusan di kantor. Kami ke Amplas
dengan becak motor.
Rumah Susun itu terletak tak jauh dari
terminal Amplas. Dari kejauhan aku sudah
melihat kesuramannya. Di gank menuju
perumahan tersebut, Romi bertemu dengan
warga rusun yang sedang mencuci plastik di
air selokan yang mengalir. Plastik-plastik
bekas tersebut dicuci, dikeringkan lalu
dijual. Ia bersama anak gadis melakukan
pekerjaan tersebut sebagai bagian mencari
nafkah. Aku teringat plastik-plastikku di
indekos. Aku pernah sekali bersama
teman-teman mengumpilkan plastik bekas
untuk diberi lagi ke penjual. Tapi setelah
bapak yang bertugas bersih-bersih di rumah
membuang plastik-plastik tersebut, kami
merasa pekerjaaan itu tidak berguna. Kami
tahu itu lebih bermanfaat, tapi malas
bertengkar dengan bapak yang meskipun tak
sekolah tapi pandai berargumen:
“buang saja. Dibakar. Ini sampah. Sampah
masalah nasional. Kita mengurusi sampah
sendirian.” Kami hanya menyengir, sebab
kalau kami bicara percuma, bapak tersebut
sudah tua dan tuli.
Melihat plastik-plastik ini perasaanku jadi
trenyuh antara membenarkan tindakannya
sebagai upaya mencari nafkah, mengurangi
masalah sampah dan global warming tapi
sekaligus jijik. Di kepalaku terbayang
pertanyaan darimana plastik yang dipakai
membungkus makanan kami, anak-anak kos yang
suka beli makan di warung? Jangan-jangan
plastik bekas yang dcuci di air seperti
ini. Aku memotret peristiwa ibu, anak gadis
dan plastik sampah itu dengan perasaan
miris. Aku juga memotret anak kecil yang
mandi di sumur umum yang tanpa penutup.
Romi kemudian mengajakku terus berjalan
menuju rumah susun di petak milik Ibu
Napitupulu, pemimpin KWRS Amplas.
Ada tamu lain yang sedang mengunjungi Ibu
Napitupolu. Tamu-tamu tersebut sedang
dijamu makan siang. Begitu kami datang, Ibu
Napit—begitu panggilannya—segera menyuruh
temannya mengambilkan piring. Rumah petak
di rusun itu hanya berukuran 2-x4 yang
terbagi dalam ruang depan tempat kami—para
tamu—duduk, dua kamar tidur yang tampakny
tak berjendela dan tak berfentilasi, secuil
dapur dan mungkin dibelakang ada secuil
lagi wc. Ruang tamu itu hanya cukup berisi
7 orang dalam keadaan duduk di atas karpet.
Karpet itu pun sudah sangat lusuh.
Karena Romi memenyendokkan nasi ke
piringnya, mau tidak mau aku harus ikut.
Nalarku segera tahu, ini cara tamu
menghormati tuan rumah di Medan. Walaupun
perut sudah lapar, jadwal makan siang, tapi
aku tidak bisa menelan makanan yang sudah
masuk dalam mulutku. Aku hanya mengambil
nasi kira-kira tiga sendok makan di atas
piring dan mengambil lauk sambal teri, agar
beban makan cepat kuselesaikan. Tapi aku
tak bisa berbohong, makanan itu tak bisa
kutelan.
“Kenapa temennya nggak mau ngambil ayam
Rom, anggaplah rumah sendiri.” Aku
tersenyum. Untung Romi segera menjawab: “
Dina nggak makan ayam.” Padahal tentu bukan
karena aku tidak makan daging ayam, tapi
aku tidak tega memakan ayam yang disuguhkan
mereka. Makanan dengan menu ini belum tentu
dalam tiga hari atau bahkan seminggu
dimakan oleh mereka.
Sambil makan, Romi mengobrol dengan mereka.
Aku dapat melihat kecakapan Romi menggali
informasi dari warga rusun Amplas ini.
Mereka menceritakan tentang aksi yang
terakhir yang dilakukan KWRS Amplas, kisah
menginap di DPR, bagaimana diejek oleh
warga rusun lain yang tidak sepaham dengan
mereka dll. Begitu Bu Napit melihatku
selesai makan, ia bertanya layaknya tuan
rumah memperhatikan tamunya. Aku
memperkenalkan diri dari Interseksi di
Jakarta yang sedang bertugas membantu Romi
di sini. Kemudian Bu Napit mulai
menceritakan secara garis besar keadaan
warga di rusun, termasuk air bersih yang
sulit didapat sehingga kulit mereka
gatal-gatal. Tapi untuk makan dan minum
beliau mengatakan “kami beli air bersih.”
Pernyataan itu secara spontan membuatku
malu karena sempat terpikir bagaimana air
yang digunakan untuk memasak makanan yang
sedang kumakan tadi. Bu Napit juga
bercerita tentang kasus pemadaman listrik
dan bagaimana mereka memikirkan nasib
anak-anak yang terganggu belajarnya,
sehingga memutuskan untuk mulai melakukan
aksi.
Ketika obrolan semakin asyik, seorang
pemuda yang sejak tadi tidur terbangun. Dia
mulai ikut mengobrol. Dia memperkenalkan
diri sebagai mahasiswa USU semester akhir
yang terlibat dalam aksi di KWRS Amplas.
Begitu ia tahu aku dari Jakarta, ia
mengambil alih juru cerita. Ia banyak
bicara tentang penggusuran-penggusuran,
managemen aksi, bagaimana mendidik kader di
KWRS Amplas, bagaimana membuat kader tidak
bergantung pada gerakan mahasiswa dll.
Ketika aku dan pemuda itu asyik mengobrol,
Romi sedang bicara dengan Namboru, tetangga
bu Napit, sehingga tak ada pilihan lain
bagi Bu Napit selain mendengar aku dan
pemuda itu bicara. Pemuda itu semakin lama
semakin latah menggunakan bahasa-bahasa
kampus. Aku mulai tidak enak dengan Bu
Napit yang merasa dibicarakan tapi tiak
diberi ruang lagi untuk mengekspresikan
dirinya sendiri. Aku menangkap gelagat
sedikit kecemburuan. Aku kembali bertanya
pada Bu Napit seputar pengalamannnya
sebagai pemimpin aksi, dan beliau menjawab
dengan antusias, berkali-kali memuji pemuda
yang duduk di hadapannya, kalau tidak
karena mahasiswa ini, teman-teman YRPP,
kami tak bisa jalan, kata beliau.
Kami hampir melampaui jam 14.00 siang,
ketika akhirnya Romi mengajakku
mengundurkan diri. Rencana kami berikutnya
mengunjungi Ibu yang tinggalnya masih di
rusun tetapi mengambil sikap bersebrangan
dengan Ibu Napit. Sayang, yang dituju tidak
ada di rumah, sehingga kami mengunjungi ibu
yang lain yang menurut Romi “bersaudara”
dengan Pemuda Pancasila. Dari ibu tersebut
Romi dapat mengetahui bagaimana orang-orang
tertentu di rusun Amplas sebagian disogok
oleh PD Pembangunan.
Kami menyelesaikan wawancara itu jam
tigaan. Perutku sudah perih. Aku dan Romi
mencari tempat makan. Tetapi kami tidak
memutuskan makan di terminal Amplas,
sehingga kami menahan diri lagi makan siang
sampai di kantor YRPP jam 16.00. Sore kami
melanjutkan perjalanan ke toko buku di
seputar USU. Jalanan begitu macet. Aku dan
Romi sudah tidak bisa mengobrol lagi karena
lelah. Toh pada akhirnya buku yang kami
cari tidak ditemukan. Magrib baru kami
memutuskan pulang ke Tanjung Anom. Jam 8.30
malam, di rumah Romi langsung membuka
laptop yang tadi siang sempat dipinjam dari
temannya. Ia mulai menulis jurnal harian
hasil wawancara lapangan, hasil
pertengkaran dengan PD Pembangunan, dan
begitu banyak peristiwa yang sejak dulu
hanya terpendam dalam ingatan. Jam 22.00.
aku sudah terlelap. Pukul 23.00 aku
dibangunkan Romi. Antara sadar dan tidak
aku menjawab pertanyaan Romi tentang
bagaimana menulis laporan, dan jatuh
tertidur lagi. Kata Romi ia baru tertidur
pukul 01.00 dini hari.
Tanggal 29, hari terakhirku di Medan. Aku
dan Romi berangkat pagi-pagi, laptop harus
sudah berpindah pada peminjam lain. Romi
sendiri ada pekerjaan mengantar surat.
Keponakan Romi yang kemarin menjemput, hari
itu sekolah pagi. Kereta Romi karena baru
belum dipasang plat polisi, jadi kami harus
berbesar hati untuk jalan kaki menyusuri
ladang jambu dan kakao. Di tengah jalan
kadang kami bertemu dengan segerombolan
sapi, atau ibu-ibu yang mencari kayu bakar.
Langkah kaki kami yang pendek-pendek
ditambah kebiasaan bercanda membuat
perjalanan kami agak lama tapi cukup
menyenangkan. Kami tiba di kantor YRPP jam
9.30. Romi langsung meneruskan ketikan yang
semalam. Kami berdiskusi lagi, memberi
gambaran tentang pembuatan laporan baik
jurnal harian maupun penulisan laporan
akhir. Kami bekerja sampai jam 13.00.
Mencari oleh-oleh adalah tugas berikutnya.
Kami berputar-putar dari pasar ke pasar,
masuk mall hanya numpang mendinginkan badan
setelah kepanasan. Akhirnya aku menemukan
ide untuk memberi kenang-kenangan pada
Romi. Pot bunga. Ibunya sangat menyukai
tanaman. Aku sendiri cukup membeli
selendang ulos untuk wisuda yang harganya
hanya Rp.50.000-an, itupun kata Romi bisa
ditawar, beli kue buat Interseksi dan
teman-teman sekos. Jam 15.30, Romi
mengantarku ke Bandara. Pesawat harusnya
berangkat jam 17.45, tapi entah mengapa
semua begitu lama, bahkan ketika aku sudah
berada di dalam Lion Ai. Di bawah terdengar
suara barang-barang yang sedang dimasukkan
dalam bagasi pesawat. Tiba-tiba aroma
durian tercium, aku langsung tahu barang
apa yang dimasukkan dalam bagasi. Aku
teringat cerita Romi tentang kecelakaan
pesawat Mandala yang membawa gubernur Sumut
kala itu karena terlalu banyak membawa
durian. Aku mulai deg-degan. Ketika pesawat
akhirnya take off, aku hanya berharap
selamat sampai di Jakarta, sampai di kos
dan besok bertemu teman-teman lagi. Aku
melihat ke jendela, melihat tanah yang jauh
di bawah sana. “Ini Medan, Bung!” Aku
teringat pesawat mandala itu lagi,
membayangkan ketika sedang naik begini
kecelakaan itu terjadi. Tak tahan dengan
imajinasiku sendiri, akhirnya aku
memejamkan mata. Tuhan, aku hanya imgin
selamat sampai Jakarta.