Ingwuri Handayani
Peserta Program Pelatihan Penelitian
HAM dan Diversitas Kultural Yayasan
Interseksi-HIVOS 2008
Bekerja pada Desantara, Institute for
Cultural Studies, Depok, Jawa Barat.
“Hubungan harmonis antar-agama
selama ini sesungguhnya semu. Kerukunan
yang ada bersifat elitis, tidak
menjangkau lapisan masyarakat bawah.
Karena itu, situasi yang ada
sesungguhnya bukan lah rukun, melainkan
acuh tak acuh. Padahal masyarakat kita
sebenarnya bagaikan kawah gunung berapi
yang siap meledak”
Seorang peserta dialog MADIA-KPSM di
medan pada 15-17 Februari 2001
[#]
-
Tulisan Ingwuri
Sebelumnya
Siang begitu terik saat saya keluar dari
kantor di Depok. Sungguh tidak mudah
menaklukkan hati untuk mengajaknya keluar
di saat puasa seperti ini. Apalagi, saya
harus berganti-ganti angkot untuk sampai ke
Jati Mulya. Tetapi, ini harus dilakukan.
Sengaja saya memilih datang lagi di bulan
berkah ini, untuk melihat gerak kultural
masyarakat yang biasanya berbeda dari bulan
di lain Ramadhan.
Kedatangan kali ini, saya ingin mencatat
monografi desa di Jati Mulya. Saya, sengaja
datang tidak terlalu pagi, supaya saya tak
mengganggu aktivitas lurah dan perangkat
desa di Jati Mulya, di samping, saya juga
tidak ingin terlalu lama menunggu buka
karena kalau berangkat pagi, siang hari
akan berdampak pada kondisi fisik, terutama
melawan haus.
Waktu siang menjelang sore, juga
memungkinkan untuk berbincang dengan
perangkat, karena beberapa pekerjaan sudah
terselesaikan di waktu sebelumnya. Sayang,
saat saya sampai di sana, sekitar pukul
14.13, hanya ada tiga orang yang berada
kantor desa Jati Mulya.
Satu orang tampak sedang merapikan berkas
di agak belakang meja-meja yang lebih
banyak kosong dan dua orang lainnya sedang
mengisi blangko-blangko untuk entah, karena
saya memang tidak melihat lebih dekat
aktivitas dua staf itu.
Kedatangan saya, disambut oleh salah satu
dari dua orang yang sedang mengisi blangko
itu. Saya jelaskan tujuan saya, datang ke
kelurahan Jati Mulya. Tetapi, saya disuruh
datang esok harinya. Karena, selama
Ramadhan, perangkat desa hanya bekerja
sampai siang hari. Tetapi, selama
berbincang, saya juga meminta untuk
mencatat struktur desa dan meminta nomor
kontak Pak Jamun, yang menjadi Plt desa
saat ini, menggantikan sementara pak HM
Sulaeman, S.Sos yang sudah uzur, yang
sayangnya tidak dikasih, dan diharap untuk
bertemu langsung esok harinya saja.
Ini menuntun kesabaran yang lebih, tetapi
saya masih bertahan sekadar mencatati
nama-nama para pejabat beserta jabatannya
yang terpampang di sebelah kiri dari tempat
duduk saya. Dalam sesela saya mencatat itu,
saya juga ditanya oleh salah satu dari
orang yang lagi memasukkan blangko-blangko
itu, soal dari lembaga nana, bergerak di
bidang apa, dst. Selesai mencatat saya
sempat bertanya nomor kontak Pak Jamun,
tetapi dengan halus mereka menyuruh untuk
kembali esok lagi saja. Tetapi, saya sempat
mencatat nomor telepon kantor plus
alamatnya. Usai mencatat, saya keluar
karena tidak memungkinkan untuk menggali
informasi.
Di ruang kantor desa itu, tampak membentang
dua papan besar soal monografi desa Jati
Mulya. Karena saya baru datang sekali, dan
sepertinya diharuskan untuk bertemu dengan
Pak Jamun dulu membuat saya tak leluasa
untuk mencatat yang terpampang di papan
monografi. Saya sengaja ingin mencari data
soal demografi, karena beberapa informasi
bisa di-cross check dari sana juga.
Setidaknya, dalam pertemuan saya sebelumnya
dengan pendeta Hutajulu, pendeta mengatakan
bahwa di papan monografi desa, tidak
terdapat sama sekali jumlah warga Kristiani
di sana.
Saya memang tidak datang di awal puasa
karena salah satu pertimbangan, juga ingin
menangkap kebiasaan masyarakat yang berbeda
antara di awal dan di tengah puasa. Dugaan
saya seperti menemukan pembenaran.
Misalnya, seusai dari kelurahan, saya
berjalan ke masjid at-Taubah, yang melewati
jalan raya Jati Mulya. Saya pun
berkeinginan untuk ke masjid at taubah,
target saya, sebenarnya saya bisa berjamaah
shalat tarawih di masjid at tarik atau al
Muttaqin.
Di jalan sepanjang jalan raya Jati Mulya,
begitu banyak orang yang berkumpul-kumpul
di siang menjelang sore yang masih tersisa
terik itu. Dan, saya melihat, sejak di
depan al rumah sakit bersalin al-Multazam,
orang-orang yang berkerumun di depan
pertigaan yang tampak tak terlalu beda
dengan hari di luar puasa, beberapa dari
mereka terlihat merokok.
Pemandangan yang sama juga sekali dua kali
saya lihat di pinggir-pinggir jalan di
jalan raya Jati Mulya. Orang begitu juga di
warung di sebelah warteg, di depan
orang-orang yang ngobrol di samping masjid,
sementara, masjid sendiri, hanya berisi
satu orang yang sedang mengaji, satu orang
tertidur dan satu orang keluar. Saya ke
situ pengen shalat Ashar oh iya nafas
kultural saya memilih saya untuk kembali ke
situ.
Dari At-taubah, saya ke jalan Melati Ujung
setelah ‘Asyar, di Attaubah lebih banyak
jemaahnya, mulai tak tertarik melihat desa,
inginnya setelah wirid, tidur, tetapi tak
memungkinkan. Saya agak curiga dengan
bisik-bisik pak Ibrahim dengan kakek-kakek
di sebelahnya, karena tampaknya, ia
sesekali melihat ke saya. Mungkin ia cerita
soal aktivitas saya ke kakek di sebelahnya
itu. Waktu itu, hampir iqomah, seorang
muadzin sudah maju ke depan, ketika dua
orang itu masih bisik-bisik saya maju ke
depan, setelah shalat selesai, dugaan saya
tak meleset-meleset amat, ia yang bernama
Harinto itu, 76 th itu, tiba-tiba mendekat,
mengajak bercerita banyak hal, termasuk
tanya tujuan ke situ. Ada beberapa hal yang
membuat saya memilih untuk tak mengumbar
tujuan saya juga tiba-tiba tak berminat
untuk mampir ke rumah bapak bercucu tiga
belas dan sudah memiliki buyut tujuh itu.
Tak berhenti di situ, ketika saya hendak
beranjak, seorang bapak-bapak menyapa, mau
melanjutkan lagi?” iya pak. Ia masih
bertanya kemana? Ke raumha pak Syamsul,
saya lebih banyak menggiring bicara soal
lain karena saya merasa ada yang tak nyaman
saya jug beranggapan tujuan saya belum
selesai, maka, saya pun pamit, saya memang
pengen ke tempat pak Syamsul terlalu saya
melewatkan sosis bandeng kalau mampir ke
Jati Mulya.
Eit, tetapi, tunggu, saya tadi sempat
mengamati bagaimana orang-orang di dua pos
tukang ojek dengan wajah-wajah yang memucat
seperti menahan haus dan lapar, ada yang
duduk-duduk dan ada yang tidur dan
kayaknya, mungkin tidak banyak yang bisa
dituliskan kepergian ke Bekasi ini tetapi
belum usai saya dapat bersua dengan Mas
Anton.
Anton, pemuda usia 34 yang masih lajang. Ia
dulu pernah bekerja menjadi wartawan
ayah-bunda selama dua tahun. Tetapi, sejak
ia punya usaha sosis bandeng dengan
kakaknya, ia memilih berhenti. Hampir pukul
setengah lima saat ia menyapa saya dan
kemudian kita berbincang hingga malam.
Semula, saya ingin melakukan shalat tarawih
di masjid al muttaqin, tetapi, karena saya
asyik mewawancarai Anton, harapan untuk
shalat tarawih, harus diganti di lain hari.
Ia, sebelum wawancara meminta kartu nama
saya. Karena, ia harus mengetahui siapa
yang mewawancarainya dan ia tak ingin latar
usahanya disebut-sebut. Ia hanya ingin
disebut sebagai warga biasa.
Saya sengaja tidak langsung mewawancarai
supaya suasananya lebih nyaman. Sampai,
setelah saya diajak berbuka, barulah saya
mengeluarkan rekaman saya dan ia mulai
bercerita. Bahwa, selama ia tinggal di
perumahan itu, ia pernah melihat adanya
orang-orang yang ke gereja. Karena ke
gereja itulah mengapa kemudian, warga
khawatir gereja mau dipakai lagi.
Tetapi, ia juga dikasih pesan oleh pak RT
nya untuk tidak ikut-ikut soal penutupan
gereja ini. Menurut informasi yang ia
dapat, orang-orang menolak gereja karena di
tempat itu tidak ada umat kristennya. Dan
kalau ada, kenapa malah beribadah di luar.
Satu lagi, gereja tidak memiliki izin.
Kalau seandainya gereja memiliki izin,
tentu tidak akan ditutup oleh warga,
katanya.
[#]Meretas Horizon
Dialog: Catatan dari Empat
Daerah, Trisno S. Sutanto dan
Martin L. Sinaga (editor), diterbitkan
kerjasama The Asia Foudation, ISAI,
Madia, cet. I Desember 2001, Hal. 90