|  

Laporan Diskusi tentang Konflik Ambon

Pembicara: Akiko Horiba, Ph.d candidate, Sophia University, Tokyo, Japan
Moderator: Ridwan Al-Makassary
Laporan ditulis oleh Mashudi Noorsalim
Rabu, 15 Mei 2007
tell this story to a friend

Note: Klik pada masing-masing gambar untuk melihat ukuran gambar yang lebih besar.
akiko horiba
Diskusi bulanan Interseksi pada bulan Mei 2007 menghadirkan Akiko Horiba, mahasiswa doktoral dari Sophia University, Tokyo, Jepang. Dipandu oleh Ridwan Al-Makassary, diksusi menggunakan bahasa Inggris, dan berlangsung selama lebih kurang tiga jam. Ketika diskusi dilakukan, Akiko sedang melakukan penulisan mengenai konflik kekerasan di Ambon setelah penelitian lapangannya dilakukan sejak tahun 2003. Dari hasil penelurusan literatur mengenai konflik di Maluku dan Indonesia secara umum, Akiko menganggap bahwa kebanyakan penelitian tentang konflik kekerasan antar etnik di Indonesia menggunakan teori atau pendekatan yang dianggapnya masih konvensional.

sisa konflik
Paling tidak ada empat pendekatan yang biasanya digunakan baik oleh peneliti Indonesia maupun peneliti dari luar. Pertama, esensialisme, yaitu anggapan bahwa konflik disebabkan oleh adanya permusuhan antara dua kelompok (etnik) yang berbeda. Teori ini menegaskan adanya perbedaan esensial di antara tiap-tiap kelompok etnik. Biasanya, penelitian yang menggunakan pendekatan ini cenderung mencari kekuatan intrinsik dari dan kelompok-kelompok yang berbeda.

Kedua, instrumentalisme, yaitu pendekatan yang lebih melihat pada peranan elit dalam menggunakan identitas etnik untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan politik dan ekonomi. Pendekatan ini berusaha mencari aktor-aktor (elit) yang ada dibalik terjadinya suatu konflik kekerasan. Konflik, dengan demikian, dipandang sebagai produk dari konflik antar elit yang menggunakan identitas etnik untuk memobilisasi dukungan bagi kepentingannya.

thumbnail_2
Ketiga, konstruktivisme, yaitu anggapan bahwa modernitas telah merubah makna identitas dengan membawa massa ke dalam kerangka kesadaran yang lebih luas dan ekstra lokal. Hal ini membuat identitas dan komintas menjadi lebih luas dan terinstitusional. Sebagian peneliti menyebut bahwa konflik yang terjadi di beberapa negara berkembang merupakan akibat dari kolonialisme. Penelitian seperti ini biasanya berusaha menjawab pertanyaan mengapa beberapa sistem politik justru menimbulkan konflik sedangkan sistem yang lain tidak.

Keempat, institusionalisme, yaitu anggapan bahwa konflik terjadi karena tidak adanya lembaga-lembaga/institusi-institusi yang bekerja secara baik untuk mengakomodasi segala bentuk kepentingan antar elit atau kelompok.

Namun, keempat pendekatan di atas dianggap Akiko belum memuaskan, karena belum dapat menjawab pertanyaan mengapa konflik dapat meluas dalam waktu sekejap dan dalam momen tertentu. Sebagai peneliti yang dalam tiga tahun terakhir melakukan penelitian lapangan di Ambon Akiko melihat diperlukannya penjelasan yang lebih komprehensif mengapa konflik kekerasan meledak dan meluas pada tahun 1999 di Ambon, dan meluas hampir di seluruh wilayah Propinsi Maluku. Menurut Akiko, kebanyakan penelitian tentang di Ambon hanya menjelaskan bagaimana konflik terjadi, tetapi sangat sedikit yang menjelaskan mengapa konflik terjadi pada tahun 1999. Oleh karena itu, penelitiannya diarahkan untuk menjawab pertanyaan yang belum terjawab dalam penelitian-penelitian sebelumnya.

thumbnail reruntuhan
Untuk dapat menjawab pertanyaan mengapa, Akiko menggunakan berbagai pendekatan. Pertama, psychological theory of violence (teori psikologi tentang kekerasan) yang mendiskusikan teori frustasi dan agresi, teori relative deprivation, dan social identity theory. Sebagian peneliti menganggap bahwa konflik kekerasan merupakan respon dari kekecewaan (rasa kecewa atau deprivasi), baik yang absolut (alasan material) maupun yang relatif (alasan psikologis). Karena itu beberapa individu berjuang untuk membentuk identitas dirinya dan identitas kelompok.

Kedua, human security dan civil society. Perspektif ini mengarahkan penelitian untuk melihat bagaimana asosiasi antara kelompok masyarakat sipil bekerja, termasuk apakah ada perlindungan terhadap individu, kelompok atau komunitas dari ancaman dari luar. Pendekatan ini lebih menfokuskan pada kehidupan masyarakat sipil, keterlibatan masyarakat sipil dalam asosiasi formal dan informal (civic engagement), dan hubungan antar kelompok masyarakat sipil.

thumbnail peta ambon
Ketiga, social movement theory, yang berupaya untuk menjelaskan gerakan massa dalam konflik kekerasan. Terdapat beberapa teori yang digunakan yaitu collective behavior dari Durkheim, grievance and frustration model yang dikembangkan dari teori deprivasi-nya Ted Gurr, rational choice dari Olson, dan resource mobilization dari MaCarthy dan Zald. Teori-teori tersebut digunakan untuk melihat bagaimana perilaku kolektif terjadi.

Review atas beberapa pendekatan yang banyak digunakan dalam berbagai analisa konflik tersebut dilanjutkan dengan paparan tentang pengalamannya sendiri selama melakukan penelitian lapangan di beberapa wilayah di Maluku. Akiko kemudian menelusuri konteks latar belakang kasus konflik di Ambon. Ia mencoba melihat faktor warisan kolonial dan berangsungnya perubahan sosial di lokasi tersebut. Beberapa fakta yang ditemukannya adalah sebagai berikut:

  • Segregasi antara Muslim dan Kristen. Kalau kelompok muslim tinggal di wilayah Leihitu, kelompok Kristen tinggal di wilayah Leitimor.
  • Sistem negeri dan nama keluarga. Di Ambon, nama keluarga bisa sekaligus menunjukkan asal negerinya. Lebih dari itu, asal-usul negeri juga bisa mengindentifikasi agama apa yang dianutnya.
  • Perbedaan posisi pastor dan imam. Meskipun raja merupakan pemimpin lokal, tapi dalam masyarakat Kristen Ambon posisi pastor lebih kuat daripada raja. Sebaliknya, dalam masyarakat Muslim, seorang raja sekaligus merupakan seorang imam.
  • Perubahan sosial di Ambon antara lain terjadi akibat mulai makin meningkatnya jumlah imigran Muslim di kota tersebut sejak tahun 1970an.

Kalau pada masa sebelum konflik warga Muslim dan Kristen bisa hidup rukun bersama, ketegangan di antara dua kelompok tersebut mulai muncul ke permukaan sejak tahun 1980an, ketika identitas keagamaan mulai menguat. Rivalitas Muslim dan Kristen tidak bisa dielakkan akibat perubahan sosial semacam ini. Kondisi ini terus memburuk ketika pada masing-masing kelompok tersebut berkembang sejenis psikologi massa yang menempatkan kelompok lain sebagai musuh. Pada kelompok Kristen berkembang pemaknaan diri bahwa mereka merupakan korban, tapi di sisi lain juga mereka merasa bangga dan mengklaim sebagai komunitas Kristen pertama di Indonesia sambil sekaligus merasa terancam oleh proses Islamisasi di Indonesia. Sebaliknya, pada kelompok Muslim juga berkembang sikap psikologis yang menempatkan kelompoknya sebagai korban, melihat kondisi di Ambon sebagai ketidakadilan bagi mereka, dan merasa terancam oleh proses Kristenisasi di Maluku. Pada yang sama mereka juga mengembangkan sikap bangganya sebagai komunitas Muslim yang memiliki peran sejarah melawan gerakan separatis Republik Maluku Selatan. Mekanisme psikologis ini disebut Akiko sebagai "framing", atau sebut saja proses identifikasi diri melalui proses penemuan "other".

Pada level yang lain, demarkasi simbolik tampak jelas dalam atribut-atribut yang dipakai oleh dua komunitas ini: kelompok Kristen mengenakan ikat kepala merah, sedangkan kelompok Islam memilih ikat kepala warna putih; di wilayah Kristen banyak dipasang gambar-gambar Yesus dan salib berukuran besar, sedangkan di wilayah Muslim banyak dipakai kata-kata berbahasa Arab dan penggunaan busana yang dianggap mencerminkan identitas Islam.

Pertanyaan tentang bagaimana konflik bisa melibatkan banyak orang dijelaskan Akiko melalui analisanya tentang struktur mobilisasi massa di Ambon. Menurutnya, mobilisasi massa pada kelompok Kristen didasarkan pada struktur gereja, sehingga cenderung lebih terorganisir dengan baik dan mudah dikendalikan oleh pemimpinnya. Kelompok ini memiliki jaringan cukup kuat baik pada level nasional maupun internasional. Salah satunya adalah komunitas Kristen Maluku di Belanda. Di lain pihak, struktur mobilisasi massa pada kelompok Islam lebih didasarkan pada struktur jaringan negeri. Tidaklah mengherankan jika mereka cenderung tidak terorganisir rapih, dan meliputi banyak sekali kelompok-kelompok kecil informal. Akibatnya, berbeda dengan massa Kristen, massa Muslim cenderung sulit dikendalikan karena tidak ada satu kepemimpinan yang terpusat. Hanya solidaritas dan komitmen Islam yang menyatukan mereka. Kelompok Muslim juga didukung oleh jaringan nasional (Laskar Jihad) dan internasional. Salah satunya adalah komunitas Muslim Ambon di Belanda.

Tidak terelakan bahwa diskusi kali ini juga sedikit banyak bersifat restropektif terhadap beberapa kejadian konflik yang sudah terjadi beberapa tahun silam. Salah satu konklusi yang disampaikan Akiko adalah bahwa sampai saat ini, meskipun konflik besar tidak lagi terjadi, wilayah Ambon dan sekitarnya tetap berada dalam kondisi rawan konflik.