Ana Westy
Peserta Program Pelatihan Penelitian
HAM dan Diversitas Kultural Yayasan
Interseksi-HIVOS 2008
Bekerja sebagai Peneliti Kebijakan
Kesehatan di Perkumpulan Inisiatif-Bandung.
-
Baca Juga Kronika
Terkait
Kota Banjar, dahulu tak pernah mengundang
minat khusus pada diri saya. Namun ketika
bekerja dan bersentuhan dengan isu
governance, Kota Banjar langsung mencuri
perhatian saya. Beberapa kali, saya pernah
melewati kota ini ketika saya sedang kuliah
kerja nyata (KKN) di salah satu desa di
pantai selatan Jawa. Waktu itu saya heran,
mengapa Kota ini terletak di tengah-tengah
Kabupaten Ciamis.
Kalau digambarkan, setelah keluar dari
wilayah Kabupaten Tasikmalaya, kita
langsung memasuki Kabupaten Ciamis.
Kemudian sekitar 20 Km melewati daerah ini,
Gerbang Kota Banjar telah terpampang di
depan mata. Dan kira-kira 10 Km melewati
Kota Banjar, kita akan wilayah memasuki
Kabupaten Ciamis kembali. Cukup
membingungkan.
Namun, rupanya Kota Banjar dahulu adalah
temasuk salah satu kecamatan di Kabupaten
Ciamis pada kurun waktu Tahun 1937-1940,
lalu berubah menjadi kewedanaan pada Tahun
1941-1992. Dari Tahun 1992 – 20 Februari
2003 Banjar merupakan Kota Administratif
dan dengan semangat otonomi daerah pada 21
Februari 2003, Banjar resmi menjadi kota.
Memasuki wilayah Kota Banjar kita disambut
oleh gerbang kota, kemudian sebuah jembatan
panjang dengan Sungai Citanduy mengalir
dibawahnya menanti untuk dilewati.
Menyeberangi jembatan, jalan protokol yang
cukup lengang ditingkahi dengan rutinitas
terminal yang tak terlalu ramai adalah
pemandangan berikutnya.
Satu hal yang menarik, sepanjang jalan di
Kota Banjar, yang terlihat hanyalah deretan
ruko dan minimnya jumlah lalu-lintas
kendaraan. Kurang dari 5 kendaraan yang
sabar menunggu lampu merah berubah hijau di
setiap perempatan. Jelas saja, penduduk
Kota Banjar ini kurang dari 200.000 jiwa.
Tak ada bangunan di Kota Banjar yang lebih
dari tiga lantai karena belum ada kebutuhan
untuk itu. Tapi ada warga juga yang
mengatakan, supaya kebersihan dan keindahan
kota tetap terjaga.
Hmm...saya langsung merasakan perbedaan
yang luar biasa dengan Kota Bandung, tempat
tinggal saya selama dua tahun terakhir ini.
Tak ada kemacetan. Tak ada riuh-bising
suara kendaraan disertai pengemudi yang
ugal-ugalan. Wah, saya benar-benar
refreshing disini. Kepenatan selama 4 jam
perjalanan juga agak berkurang ketika tiba
di Hotel Banjar Indah, satu-satunya Hotel
yang berstandar melati III di Kota Banjar
ini. Hawa sejuk yang keluar dari pendingin
udara menenangkan mood yang berantakan
karena travel yang penuh sesak dan tidak
ber-AC.
Udara sejuk di kamar hotel mengundang saya
untuk tidur siang, namun mengingat ada
tugas yang harus saya lakukan saya bergegas
keluar dari hotel dan menyewa sepeda motor
untuk melakukan observasi. Saya memilih
sepeda motor karena minimnya polusi di Kota
Banjar membebaskan mata saya melihat banyak
hal selama perjalanan. Selain itu, saya
bisa tiba-tiba menghentikan kendaraan bila
menemukan objek yang menarik untuk difoto
atau warga Kota Banjar yang bisa
diwawancara.
Dengan menjaminkan KTP kepada tukang ojek
yang mangkal di depan hotel, saya pun
bersepeda-motor-ria keliling Kota Banjar.
Perjalanan pertama saya melewati Pasar Kota
Banjar kemudian berbelok memasuki wilayah
Kecamatan Langensari. Panas matahari masih
menyengat, namun rimbunnya pepohonan di
sepanjang jalan meneduhkan orang yang lalu
lalang. Selain itu, hamparan padi yang
menghijau di sebelah kiri jalan dan Sungai
Citanduy yang bersih di sebelah kanan,
benar-benar memanjakan mata dan perasaan
saya. Tidak menyesal saya memilih Kota
Banjar sebagai lokasi penelitian.
Ditemani oleh adik perempuan yang saya
bonceng di belakang, observasi ini jadi
penuh canda-tawa. Orang-orang Kota Banjar
yang ”sadar-kamera” ketika diambil
gambarnya, Bahasa Sunda saya yang
”pletak-pletuk” yang sering ditertawakan
oleh warga, disertai keramahan yang jarang
saya temui di Kota Bandung. Bermotor dengan
kecepatan 30 km/perjam, saya sempat disalib
oleh becak yang mengangkut puluhan ekor
ayam serta seorang pengendara motor yang
membonceng seekor kambing yang terlihat
pasrah tubuhnya dilintangkan di jok motor.
Sungguh...pengalaman yang tak kan saya
temui di Kota Bandung.
Mengarah ke Kecamatan Pataruman, saya juga
menjumpai berbagai pemandangan. Ada seorang
ibu yang sibuk mengarit rumput untuk pakan
ternak, ada seorang bapak yang menggendong
putrinya yang masih balita sambil
bersepeda, ada bocah-bocah yang mencari
remis di sungai. Saya bingung, sepanjang
perjalanan masih banyak suasana pedesaan
yang melekat namun Banjar disebut Kota.
Daripada bingung, saya memutuskan untuk
beristirahat di pinggir Sungai Citanduy.
Memarkir motor, kemudian duduk di sebelah
Ibu Romlah yang sedang beristirahat dari
aktivitasnya mengarit rumput dan mentraktir
si ibu jajan bakso. Saya langsung tak tahan
menanyakan perihal puskesmas gratis di Kota
Banjar ini.
”Saya biasa berobat ke puskesmas pembantu
(pustu). Karena itu yang paling dekat dari
rumah saya dan tidak pake ongkos. Saya
sekeluarga berobat ke pustu kalo sakit,
tinggal bawa KTP dan KK aja. Gratis, gak
perlu bayar. Alhamdulillah, selama ini
cocok terus dengan obat puskesmas.
Seumur-umur belum pernah ke dokter, gak
berani. Takut mahal. Saya dan suami cuma
buruh tani.”
Petikan wawancara saya dengan Ibu tersebut
juga serupa dengan pernyataan yang
dikemukakan oleh warga yang lain. Umumnya
warga di pedesaan, memanfaatkan dengan baik
puskesmas pembantu yang ada di desanya.
Bila penyakit mereka tak kunjung sembuh
atau bertambah parah, mereka berobat ke
puskesmas yang ada di wilayah kecamatan
yang juga gratis bagi seluruh penduduk atau
rumah sakit daerah dengan kelas 3 yang
gratis bagi penduduk miskin.
Perjalanan pun saya lanjutkan ke Kecamatan
Banjar. Di kecamatan ini karakteristik
perkotaan sangat menonjol. Disana saya
menjumpai Kader Desa yang aktif dan sangat
baik memperlakukan kami. Ia menyuguhi kami
panganan khas Banjar dan berbagai cerita.
Ini salah satu cerita Ibu Santi yang
membuat saya terkesan.
”Saya ketemu Bu Walikota sudah empat kali.
Beliau orangnya ramah dan baik. Setiap
tahun, beliau datang ke desa kami
memberikan bantuan untuk PAUD (Pendidikan
Anak Usia Dini). Saya pingin Pak Wali dan
Bu Wali terpilih lagi karena enak, berobat
gratis, anak saya yang sekolah di SMP juga
gratis. Menurut saya, cuman orang yang gak
punya hati yang gak milih Pak Wali lagi.”
Selama kepemimpinan Walikota Banjar yang
notabene merupakan walikota pertama yang
dipilih secara langsung oleh rakyat ini,
jarang terdengar nada sumbang dalam 5 tahun
usia jabatan beliau. Kebijakan yang pro
rakyat yang digulirkan oleh Herman Sutrisno
seperti Pendidikan dan Kesehatan Gratis
serta yang paling fantastis adalah ADD
(Alokasi Dana Desa) sebesar 1 Milyar untuk
24 desa/kelurahan setiap tahunnya adalah
terobosan yang dilakukan beliau selama
menjadi walikota. Upayanya untuk membangun
dan meningkatkan kesejahteraan warga Kota
Banjar, beliau lakoni dengan serius.
Dampaknya, menurut Data BAPPEDA, IPM Kota
Banjar selalu diatas rata-rata Propinsi
Jawa Barat. Dan saya merasakan sendiri
selama berkeliling Kota Banjar, jalan yang
saya lewati bahkan sampai desa yang di
pelosok pun mulus dengan aspal yang hot-mix
dan sedikitnya jumlah rumah tidak layak
huni.
Pengorbanan beliau juga menjadi apresiasi
terbesar warga Kota Banjar. Contohnya pada
tahun pertama beliau memimpin, pembiayaan
program puskesmas gratis belum masuk dalam
APBD Kota Banjar karena keterbatasan
anggaran. Namun, janji beliau bila terpilih
menjadi walikota akan menggratiskan
kesehatan tetap beliau penuhi. Beliau
merelakan tunjangannya selama setahun
sejumlah 80 juta rupiah digunakan untuk
pembiayaan puskesmas gratis. Pantaslah,
banyak warga yang simpatik dan loyal
terhadap beliau. Dan ia memperoleh semua
itu dengan apa yang seharusnya dilakukan
oleh pemimpin, bukan dengan politik uang.
Tetapi, perjalanan dr. Herman Sutrisno
selama menjadi walikota bukannya mulus
begitu saja. Ia terbuka terhadap segala
kritik yang ditunjukkan kepadanya seterbuka
ABPD Kota Banjar yang diekspos melalui
www.banjar-jabar.go.id. Perjalanan saya ke
Kecamatan Purwaharja menunjukkan ada juga
warga yang tidak puas terhadap kebijakan
Walikota. Misalnya, sejumlah dokter atau
tokoh masyarakat yang mengeluhkan puskesmas
gratis tidak menjawab permasalahan
kesehatan di Kota Banjar. Atau nilai ADD
yang dianggap terlalu besar. Namun, wilayah
Kota Banjar yang tidak luas, membuat
Walikota bisa merespon dengan cepat segala
keluhan warga. Seperti pernyataan Pak Momon
berikut ini.
”Waktu itu saya nganter saudara saya yang
tukang ojek, dia kena tabrak lari. Saya
bawa ke RSUD Banjar, tapi ama pegawai di
UGD-nya dibiarin aja karena harus ngurus
administrasi dulu. Saya marah sama
pegawainya, saudara saya ini udah sekarat.
Kenapa gak ditolong dulu, administrasi
belakangan. Apa karna kita keliatan gak
punya duit. Karna kita miskin. Abis itu,
saya langsung ke rumah Pak Wali, saya
sampein ke asisten dan pamong prajanya
kejadian yang saya alami. Gak ada dua jam
saudara saya diurus ama pihak rumah sakit
dan besok baru saya urus administrasinya.”
Sejak otonomi daerah bergulir cerita kepala
daerah yang dekat dengan rakyat dan
memiliki kebijakan pro rakyat sudah jarang
kita dengar. Namun, Kota Banjar dengan
Walikota dr. Herman Sutrisno ini
menumbuhkan harapan akan ada lagi pemimpin
semacam itu.
Nah, ketika pemerintah daerah sudah pro
rakyat, kebanyakan orang berpendapat peran
masyarakat sipil dalam setiap aspek
pembangunan sudah tak diperlukan lagi.
Padahal pandangan ini justru bahaya karena
akan menimbulkan oligarki di eksekutif dan
legislatif. Tadinya saya juga berpikir
demikian. Kondisi politik Kota Banjar
cenderung adem ayem dan jarang menghiasi
pemberitaan media cetak Jawa Barat.
Tetapi setelah hampir seminggu di Kota
Banjar, saya menemui jawabannya. Di Kota
Banjar, peran masyarakat sipil kentara
sekali terasa di banyak aspek. Justru
mereka adalah penentu keberhasilan segala
kebijakan yang digulirkan oleh pemerintah
daerah. Tanpa peran masyarakat, kebijakan
Pemerintah Kota Banjar hanya akan sebatas
wacana. Saya menemui ada banyak forum warga
atau forum masyarakat seperti Forum
Masyarakat Peduli Kesehatan (FMPK) untuk
isu kesehatan, Forum Peduli Banjar Sehat
(FPBS) untuk isu kebersihan dan tata ruang
kota, LSM Gempur, Forum Sarjana Pendamping
untuk pengalokasian ADD, serta Forum Desa
Siaga dan Kader Desa Siaga untuk isu
pemberdayaan perempuan dan anak.
Pak Rowi salah satu pengurus FPBS
mengungkapkan kepada saya tentang
pengalamannya dalam berinteraksi dengan
pemerintah daerah dan masyarakat.
”Kita tetap mengawasi pembangunan dan
pemerintah khususnya. Itu harus karena
masalah selalu ada. Kemarin ada warga yang
melaporkan penyelewengan ADD yang dilakukan
oleh kepala desa kepada walikota. Kami
memfasilitasi permasalahan tersebut. Atau
ada juga yang melapor kepada kami bahwa
jalan desa tidak sesuai bestek dan dana
tidak turun-turun. Itu juga kita laporkan
ke walikota dan beliau langsung datang ke
lokasi dan menegur kontraktor serta Dinas
PU. Banjar ini kotanya kecil, jadi gak bisa
macam-macam. Kalo ada sesuatu cepat
ketahuan.”
Hal ini menunjukkan geliat demokrasi tetap
bergaung meski pemerintahan Kota Banjar
telah menjelma sebagai
good
governance. Sekelumit pengalaman
penelitian saya di Kota Banjar ini
benar-benar menggugah saya untuk
bersemangat dalam melakukan advokasi
sehingga suatu hari kondisi Kabupaten
Bandung bisa seperti Kota Banjar.
Terciptanya masyarakat madani dan
pemerintahan yang pro rakyat tentu mimpi
yang tidak terlalu muluk untuk dikejar.
Lebih dari seminggu saya di Kota Banjar,
pengalaman dan wawasan tentang banyak hal
bertambah. Bersantai di lobi hotel sambil
menunggu travel yang akan membawa saya
kembali ke Bandung, saya tersentak membaca
sebuah berita yang tercetak di Harian
Pikiran Rakyat. Judulnya ”Demokrasi
Terancam Mati di Kota Banjar”. Berita itu
berkata dr. Herman Sutrisno dipastikan
menang mutlak dalam Pilkada dan calon
walikota lain yang mengikuti Pilkada hanya
sekedar penghias semata.
Sambil tercenung, saya mendengar pemilik
hotel dan temannya membicarakan tentang
berita yang baru saya baca.
”Naha kieu, nyak. Padahal dr. Herman teh,
kan gak mau nyalon lagi. Tos cukup ceunah.
Ingin memberi kesempatan kepada yang lain,
khususnya anak muda.” kata si Pemilik
Hotel.
”Iyah, tadinya begitu. Tapi karena banyak
yang mendesak dan pingin beliau naik lagi.
Akhirnya beliau nyalon lagi, ujar
temannya.”
Sesungguhnya saya gemas membaca berita
tersebut. Seakan kesan bahwa totalitarian
atau kediktatoran Walikota Banjarlah yang
menyebabkan demokrasi di Kota Banjar
dianggap hampir mati. Memang, teori berkata
bahwa demokrasi idealnya berdampingan
dengan kesejahteraan. Namun, bila demokrasi
dipahami sekedar prosedural saja jelas
sebuah pemikiran yang sempit. Mas Hikmat
dan Mbak Irine dari Yayasan Interseksi
mengatakan hal tersebut kepada saya. Dan
pertemuan saya dengan dr. Herman Sutrisno
menegaskan bahwa ia sesungguhnya memang
tidak ingin mencalonkan diri sebagai
walikota untuk periode kedua.
Saya khawatir orang yang menuliskan berita
tersebut kurang memiliki informasi bahwa
banyak daerah lain di Indonesia yang
mengalami situasi seperti halnya Kota
Banjar saat ini. Daerah dengan pemimpin dan
kebijakan yang pro rakyat. Kabupaten
Jembrana, Kabupaten Musi Banyuasin,
Kabupaten Solok, Kabupaten Gowa, adalah
beberapa contohnya.
Karena memahami konteks demokrasi yang
sesungguhnya adalah bagaimana ketika tesis
bahwa demokrasi berdampingan dengan
kesejahteraan itu diejawantahkan. Ketika
warga terlibat dalam perencanaan... ketika
banyak forum warga dan kelompok masyarakat
yang mengawasi pembangunan, ketika rakyat
mendapat jaminan kesehatan dan pendidikan,
dan ketika pengentasan kemiskinan dimulai
dari desa.
Catatan: NKKBS (Norma
Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera)
adalah konsep yang pernah dipakai
pemerintah Orde Baru dalam kampanye
Keluarga Berencana. Pemerintah kota Banjar
memanfaatkan istilah yang sudah cukup lama
dikenal ini, dan mengubah sedikit artinya
untuk kepentingan kebijakan kesehatan yang
dijalankannya saat ini.