September 18, 2008/ 18:16 | Filed in:
CHRONICLES
Rini Kusnadi
Peserta Program Pelatihan Penelitian
HAM dan Diversitas Kultural Yayasan
Interseksi-HIVOS 2008
Bekerja pada Ikatan Keluarga Orang Hilang
(IKOHI), Jakarta.
-
Tulisan Rini
Sebelumnya
BUNGA DAN TEMBOK
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak kaukehendaki
tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak kaukehendaki
adanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besi
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang dirontokkan di
bumi kami sendiri
Jika kami bunga
Engkau adalah tembok
Tapi di tubuh tembok itu telah kami sebar
biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersamad
Engan keyakinan: engkau harus hancur!
Dalam keyakinan kami
Di mana pun – tirani harus tumbang!
Solo, ’87 - ‘88
Wiji
Thukul
Solo adalah kota yang aku kunjungi setelah
kota Malang, tapi bedanya kali ini aku
tidak lagi menggunakan kereta api untuk
sampai ke Solo. Dari Malang aku naik travel
ke Solo. Bapak dan Ibu Utomolah yang
berbaik hati mau memesankan travel
langganan mereka untuk ke Solo. Aku kira
perjalanan ke Solo dengan travel bisa lebih
cepat dibandingkan jika menggunakan kereta
api. Tetapi perkiraanku ternyata salah.
Travel memang menjemputku di rumah Bapak
Utomo jam Sembilan pagi, tapi setelah itu
kami berputar-putar kota Solo untuk
menjemput para penumpang yang lain. Hatiku
sedikit kesal, karna perjalanan jadi begitu
lama, tapi setelah aku pikir-pikir kembali
aku senang juga karna bisa keliling kota
Malang dengan gratis.
Aku duduk di samping pak supir travel,
sepanjang perjalanan aku hanya diam
menikmati pemandangan dan jalanan yang aku
lintasi untuk menuju kota Solo di luar
sana. Aku juga tidak banyak berbicara
kepada pak supir sepanjang dari kota Malang
menuju Solo bukan karna angkuh tapi karna
aku lebih menikmati kesendirianku ketika
itu.
Jam empat sore aku tiba di Pool travel
tersebut, Mbak Sipon (istri Wiji Thukul)
yang menjemput ku disana dengan sepeda
motornya. Mbak Pon langsung tersenyum
padaku ketika ia melihatku duduk sendiri
menunggu kedatangannya untuk menjemputku.
“Sudah lama menungguku rin” Tanya mbak pon.
“tidak mbak, baru sekitar lima belas
menit.” jawabku sambil membalas senyumnya.
setelah itu mbak Pon langsung membawaku
kerumahnya, tapi sebelum sampai kerumahnya
Mbak Pon tiba-tiba berhenti untuk makan
bakso di warung langganannya di pinggir
jalan. “kita berhenti sebentar rin, aku mau
kamu cobain bakso yang paling enak di kota
solo dan ini udah langgnanku dari dulu”
kata mbak pon. Aku menuruti permintaannya
dengan senang hati.
Mbak Sipon banyak bercerita tentang
keadaannya sekarang. “sekarang dirumah lagi
banyak jahitan seragam sekolah, aku udah
berhari-hari lembur ngerjain pesenan itu.
makanya aku cape banget sebetulnya
sekarang, tapi karna kamu mau mau dateng
jadinya aku bisa istirahat juga sekalian.”
kata mbak pon. Mbak pon terus bercerita
tentang keadaan keluarganya, teman-temannya
dan juga aktifitasnya sebagai ketua IKOHI
Jawa Tengah. Setelah makan, mbak Pon
langsung mengajakku kerumahnya yang
ternyata tidak jauh dari warung bakso
tersebut.
“Ini rumahku tapi sekarang lagi berantakan
karna banyak pesanan jahitan dan kamu bisa
menginap disini kalau mau.” kata mbak
sipon. Rumahnya mbak sipon sangat
sederhana, ada lima orang yang tinggal
dalam rumah sederhana tersebut. Mbak Sipon
sebagai kepala keluarga, ibu nya mbak Sipon
yang sudah berumur delapan puluh tahun tapi
masih sanggup mengerjakan pekerjaan rumah
tangga, Wani putri pertama mbak Pon, Fajar
putra bungsu Mbak Pon dan mbak Astin
seorang pengacara yang selama ini sudah
menjadi sahabat bagi mbak Pond an selalu
mendampingi mbak Pon ketika mbak Pon
menghadapi masalah apapun.
Keesokan paginya aku mulai menanyakan
beberapa pertanyaan untuk penelitian yang
sedang aku kerjakan, awalnya memang
berjalan dengan lancar karna mbak Pon mau
menjawab beberap pertanyaan yang aku ajukan
tapi kemudian aku melihat beliau sangat
tidak nyaman ketika menceritakan kembali
apa yang dialaminya.
Mbak Pon lebih sering termenung sambil
mengepulkan asap rokok X Mild nya ketika
mencoba menjawab pertanyaanku, sampai
akhirnya beliau berkata “Sebetulnya masih
tidak mudah bagi saya untuk menceritakan
peristiwa ini kembali meskipun peristiwa
itu sudah berlangsung sepuluh tahun yang
lalu, karna hal tersebut bagaikan membuka
lagi luka lama saya.” Aku dapat mengerti
dan menghargai sekali perasaan beliau, maka
akhirnya aku berkata kepadanya “Tidak apa
jika mbak Pon tidak ingin melanjutkan ini
kembali, saya tidak akan memaksakan mbak
Pon untuk meneruskan ini.” Mbak Pon hanya
terdiam sambil terus termenung dan pergi ke
kamar mbak Astin untuk menyendiri. Aku
membiarkan mbak Pon dalam kesendiriannya
dan tidak ingin mengganggunya untuk
sementara waktu.
Sore harinya mbak Pon sudah mau berbicara
kembali denganku, tapi aku melihat dia
sedikit menghindar untuk berbicara berdua
saja denganku. Aku berkata kepadanya “Mbak
Pon, aku kagum dengan semangat mbak Pon
menghadapi ini semua karna aku sendiripun
belum tentu bisa seperti mbak Pon jika aku
mengalami masalah yang sama.” Jawaban mbak
Pon atas komentar ku ketika itu hanya
“Rini, saya hanya ingin mencoba seperti
pohon yang semakin dia diterpa angin maka
dia akan semakin kuat. Anggap saja saat ini
saya sedang diterpa angin ribut tapi nanti
angin ini akan membuat ku bertambah kuat.”